My Secret Life

My Secret Life
Bab 163: Cinta dan Luka


__ADS_3

"Siapa pemilik hatimu?" tanya tuan Luxifer menatap Vans.


Setiap kata dari Vans, sama seperti ucapannya bertahun-tahun lalu. Seperti dirinya saat jatuh cinta pada Naura, dan semua menjadi indah tanpa memiliki. Vans tersenyum dan memeluk erat file di pelukannya. "Dia jantung dari orang-orang terkasihnya. Semua orang akan jatuh cinta dengan kenakalan dan kebaikannya. Memilikinya adalah sebuah anugrah."


"Jika ada wanita seperti itu, maka wanita itu adalah Asfa." sahut seseorang yang membuat Vans dan tuan Luxifer mengalihkan pandangan ke arah pintu masuk.


Kedatangan nenek Ara, membuat Luxifer bangun dari posisi duduknya. Vans ikut bangun dan berdiri disamping tuan Luxifer. Nenek Ara berhenti di depan kedua pria beda usia. Sejenak netra matanya menatap cucu perempuannya. Asfa masih menikmati menjadi putri tidur. "Apa aku benar? Jika salah, kenalkan aku pada wanita yang kamu cintai Dokter Vans Al Burhan."


Satu penyebutan nama lengkap, membuat Vans mengubah ekspresi santainya menjadi ekspresi serius. Hanya sesaat dan Vans kembali bersikap biasa. Nenek Ara tersenyum melihat cara anak muda di depannya. Sungguh pengendalian emosi yang baik. Sementara itu tuan Luxifer tengah berfikir. "Bukankah Vans Al Burhan, cucu Tuan Burhan di negara L. Apa itu artinya?"


"Benar tuan. Tapi saya hanya mirip namanya saja. Dan menjadi dokter dengan bantuan beasiswa. Jika benar saya cucu pengusaha nomer dua, kenapa pakaian saya seperti anak desa." tutur Vans mencoba mengalihkan fokus utama dari identitas aslinya.


Tidak ada tatapan menyelidik dari Tuan Luxifer. Pria kekar itu memilih tidak berkomentar. Sedangkan nenek Ara menatap Vans dengan intens. "Nak, istirahatlah di kamar bawah. Malam ini biar kami yang jaga Queen."


"Baik. Boleh tahu dimana kamarnya? Rumah ini sangat besar." tanya Vans dan mengambil tas ranselnya dari pojokan.


Tuan Luxifer bersiap untuk mengantarkan Vans ke kamar bawah dan berjalan terlebih dulu. Sementara nenek Ara menghentikan langkah Vans. "Cinta ada untuk menguatkan. Semoga mata ku tidak salah. Cinta di mata mu terlalu besar. Kuharap, suatu saat nanti cinta milikmu memberikan setetes kebahagiaan untuk cucuku Asfa."


Vans mengangguk dan kembali berjalan meninggalkan kamar, menyusul langkah tuan Luxifer yang semakin menjauh. Nenek Ara tersenyum dan sudut matanya meneteskan air mata. Ditengah banyaknya jebakan dan niat buruk para lawan, masih ada yang bertahan dan memberikan cinta yang tulus.


"Maafkan nenek. Nenek mengikat mu pada hubungan janji bukan hati. Nenek bahkan tidak tahu, apa kamu mencintai suamimu atau tidak. Meskipun, kamu telah melakukan kewajiban sebagai seorang istri. Bangunlah nak, sudah cukup tidurmu." Nenek Ara duduk di samping ranjang Asfa sembari mengusap rambut cucunya.

__ADS_1


Setiap kata dan setiap rasa, terdengar dalam diam. Tidak ada niat untuknya membuka mata. Saat ini, biarlah semua orang sibuk dengan dirinya. Dan rencananya akan berjalan dengan baik. Meninggalkan kamar Asfa. Di kamar lain seorang pria tak mampu memejamkan mata. Sudah mencoba banyak hal, akan tetapi tidak satupun berhasil.


Seharian meluapkan amarah dan kesendirian dengan berbagai jenis olahraga. Dan kini rembulan datang, waktu semakin malam. Tetap saja matanya terbuka lebar. Tangannya terulur mengambil satu bingkai foto pernikahan dengan dekorasi yang mewah. "Belum genap tiga hari. Tapi rasanya seperti tiga abad. Dimana kamu, kenapa tidak ada kabar. Aku merindukanmu Asfa. Apa ini maksud ucapanmu?"


Ingatan Abhi kembali pada satu ucapan Asfa setelah penyatuan keduanya di malam pertama. Dengan jelas Asfa mengatakan, *Ini malam kita. Maka mari kita nikmati malam ini. Lupakan esok hari. Cukup biarkan malam ini menjadi penyatuan kita*. Satu ucapan dari Asfa memiliki arti, pergi tanpa pamit. Meskipun, ada note kecil di atas nakas. Ya hanya note yang membuat Abhi paham, jika istrinya harus pergi karena emergency pekerjaan.


Dari semua kenangan. Banyak sekali yang membuat pertanyaan demi pertanyaan menumpuk. Bukannya terjawab, semakin kesini justru pertanyaan tentang kehidupan sang istri semakin rumit. "Asfa apa kamu baik-baik saja? Kenapa aku gelisah? Atau ku telfon saja dokter Al. Tapi, aku tidak punya nomornya. Ampuun Abhi, kamu ini kenapa jadi error ya? Sepertinya aku harus kembali bekerja."


Tangan Abhi meletakkan kembali foto pernikahannya dan menyambar ponselnya. Sebuah nomor dihubungi dan nada tersambung terdengar. Panggilan dijawab setelah dering ketiga. "Kirimkan semua laporan ke e-mail ku! Aku siap bekerja. Dan ya, kabari papa dan bunda agar tidak khawatir. Aku akan segera pulang."


[Santai bos. Selama masa jaminan, maka semua sudah diatur. Aku akan kirimkan beberapa laporan yang harus diperiksa hari ini. ] - jawab dari seberang dan mematikan telepon.


"Siapa bos dan siapa asisten ya? Semakin lama, justru semakin berani satu anak ini. Ternyata pengaruh istriku lebih besar. Abhi semangat, luluhkan hati istri kecilmu. Atau semua orang melupakanmu." ucap Abhi menyemangati dirinya sendiri.


Kacang mentah harus diolah agar menjadi makanan yang lezat. Sedangkan Abhi harus ditempa lebih keras, sikapnya tegas saat bekerja dulu. Tapi sekarang, sikapnya tenggelam dalam ketegasan sang istri. Seperti bumi dan langit. Jika Asfa masih memakai identitas lama, sudah pasti Abhi terlihat menonjol dari semua sisi. Tapi tidak saat Asfa menjadi dirinya sendiri. Seperti sebuah timbangan yang tiba-tiba memiliki tambahan beban, tanpa diminta.


Tangan pria itu merogoh saku celananya. Getaran ponsel, membuat pria itu sejenak mengalihkan fokusnya. Dengan menggeser slide hijau. Panggilan tersambung. Sebuah perintah dari sang penelpon, membuat pria itu berfikir sejenak dan mengerti apa keinginan sang penelpon. "Done."


Panggilan terputus dan pria itu meninggalkan ruangan kerja milik bosnya. Tak lupa mengunci ruangannya kembali, setelah dirinya keluar.


Prook!

__ADS_1


Prook!


Prook!


Tiga tepuk tangannya, membuat para penjaga didalam berkumpul disatu ruangan. semua berdiri didepan pria berjas. "Kalian siapkan heli dan pastikan perjalanan kali ini AMAN! Pergilah."


"Siap duke." ucap para penjaga serempak dan membubarkan diri.


Pria itu memilih berjalan menuju tempatnya istirahat, hari yang melelahkan. Berbeda dengan kemarahan seorang wanita didalam kamar mewahnya. Dengan pakaian malam yang indah, tubuhnya terbalut sangat pas. Wajah dirias sedemikian rupa, niat hatinya ingin mempertahankan rumah tangga nya. Akan tetapi, matanya harus melihat kegilaan sang suami mencumbu wanita lain.


Tangannya menyingkirkan semua alat make up diatas meja riasnya.


Praang...


Pyaar...


Botol-botol parfum kaca dengan semua perlengkapan untuk perawatan tubuh, kini berhamburan di lantai. Matanya menatap cermin, satu usapan kasar tisu menghapus warna merah di bibirnya. Wajahnya tak lagi cantik, tapi sendu. Tidak ada mata penuh cinta. Matanya menjadi api kebencian. "Kamu yang memulai. Jangan salahkan aku. Aku bukan sampah. Aku istrimu. Dan obsesi mu untuk wanita lain, menjadi alasan kebencian ku menyusup relung hatiku."


"Pernahkah kamu memandangku dengan penuh cinta selama ini? Tidak. Pernahkah kamu memberikan senyuman tulus selain sandiwara? Tidak. Semua melihat pernikahan kita baik dan harmonis. Tapi siapa yang melihat luka didalam kamar ini dan hatiku? Aku menerima semua perlakuanmu selama ini. Tapi tidak dengan obsesi cintamu."


Dengan sadar wanita itu merobek lingerie merah terang yang menutupi tubuhnya. Kini terlihat beberapa bekas luka didada dan juga beberapa tempat tersembunyi. Setiap luka di tubuhnya memiliki cerita pahit. Dan selama bertahun-tahun, dirinya bertahan demi keutuhan keluarganya.

__ADS_1


"Aku akan menghubungi seseorang. Dia yang bisa memahami deritaku."


__ADS_2