
"Kalian ini bodoh, atau polos?" tanya Asfa dengan sindiran pedas.
Varo hanya bisa menggelengkan kepala dengan langkah kaki mendekati sang adik yang berdiri menatap bangunan di depan mata. Jatuhnya para preman, membuat satu rintangan tersingkirkan. Kini waktunya menemui rintangan kedua. Ntah apa yang disiapkan para pemberontak.
"Ka, jalur depan pasti sudah di aktifkan semua perangkatnya. Kita hanya bisa melewati jalur atas. Apa kakak siap?" tanya Asfa dengan menjelaskan situasi saat ini.
Varo berpikir sejenak. Jalur atas? Artinya bukan berpijak pada tanah. Jadi bagaimana cara untuk masuk ke markas? Keheningan sang kakak, membuat Asfa menyadari sesuatu. Tanpa menjelaskan, wanita itu berjalan menuju sisi kanan markas. Dimana dinding tembok setinggi tiga meter ada di depannya. Sementara itu di sekeliling markas juga berdiri pohon-pohon yang rindang dengan dedaunan yang rimbun.
"Queen, jangan bilang...," Varo berusaha mencerna apa yang akan adiknya lakukan, hingga ucapannya terhenti.
Wanita yang kini sudah memanjat salah satu pohon setinggi tujuh meter. Benar-benar melakukan semua itu tanpa berpikir panjang. Kegesitan jelas masih ia miliki. Melihat itu, Varo juga ikut menyusul memanjat pohon yang sama. Setiap pergerakan selalu diperhitungkan, hingga keduanya berhenti di dua cabang pohon bersebelahan.
Isyarat jari Asfa, membuat Varo mengangguk. Ketika jari mulai menghitung tiga, dua, satu. Keduanya serempak melompat ke atap dinding bersama-sama dengan pendaratan yang mulus.
"Ka, arah tiga. Masuklah lewat jalur bunga matahari!" titah Asfa dengan langkah kaki tegap, lalu melompat ke bawah, sedangkan Varo memilih berlari kecil di atas dinding sebelum akhirnya melompat di balkon dengan dinding simbol bunga matahari.
Keduanya berpisah. Varo melakukan penyerangan dengan jalur yang di minta sang adik. Sementara Asfa harus dikepung beberapa preman begitu langkah kakinya menginjak tanah berdebu. Senyuman devil tersungging sempurna. Aura intimidasi semakin terasa dengan tangannya siap bertempur.
"Maju!" titah Asfa melambaikan tangan kanannya, membuat para preman saling pandang dan menganggukkan kepala.
Pertempuran tidak bisa dihindari. Serangan dari lima preman yang mengepung begitu cepat dibasmi. Satu preman yang menyerang bagian depan, dengan sigap Asfa memutar tubuh mengubah pukulan itu mengenai lawannya. Para preman bukannya menyentuh tubuh queen, tetapi justru membuat rekan kerjanya babak belur.
__ADS_1
Tiga menit berlalu dengan hasil kelima preman tumbang terkapar di tanah, sedangkan Asfa bergegas memasuki markas. Suasana bangunan terlalu sunyi dan itu bukan hal baik. Pasti ada sesuatu yang telah terjadi. Benar saja, di saat langkah kaki berhenti. Tiba-tiba saja sorot lampu tertuju padanya. Sontak ia mengangkat kedua tangan untuk menutupi cahaya lampu yang menyilang mata.
"Apa kabar menantuku tersayang?" tanya seseorang yang berjalan memasuki ruangan yang dulunya ruang tamu, tetapi kini berubah menjadi ruangan kosong.
Suara itu sangat familiar. Cahaya yang masih terarah padanya, membuat Asfa memejamkan mata. Kemudian menurunkan kedua tangannya, "I'm fine."
"Wah, di saat situasi seburuk ini, menantuku masih santai," kata pria dengan langkah kaki semakin dekat, tapi ada suara decit yang mengiringi langkah pria itu dan jelas itu berasal dari sebuah benda yang didorong.
Ketika langkah kaki tak lagi terdengar, begitu juga dengan decit yang ikut berhenti. Apapun yang ada di depannya. Pasti ada nyawa yang terancam.
"Apa kamu, tidak mau melihat pria yang selama ini menjadi pujangga malam?" tanya suara itu memancing emosi Asfa.
Jawaban mantan menantunya seperti pisau yang menyayat jantung. Jika bukan karena ayah gadis itu, pasti kehidupan seorang Mahendra sempurna menikmati surga dunia. Sayangnya semua menjadi berantakan karena orang yang ia cintai justru mencintai pria bernama Luxifer.
Setiap kali melihat wajah keluarga Luxifer. Darahnya mendidih, ingin sekali langsung membinasakan setiap raga yang memiliki darah musuh. Tetapi disaat kebenaran menantunya terungkap. Niat balas dendam di hati berubah menjadi rasa frustasi, hingga ia memutuskan memberikan hukuman terberat dengan memisahkan orang terkasih dari keturunan Luxifer.
"Tuan Mahendra, Aku tidak akan bertanya apapun padamu. Jadi, apa kamu punya pertanyaan untukku?" tanya Asfa dengan membuka kelopak matanya.
Benar sesusai firasatnya. Di depan sana Mahendra tengah menyandera Abhi yang duduk di kursi roda dengan tubuh terikat tali dan mulut di lakban. Pemandangan yang seharusnya tidak pernah terjadi. Namun, takdir berkata lain. Semua sudah terjadi, dan kini waktunya untuk menyelesaikan seluruh permasalahan.
"Dunia bisnis, dunia gelap, dan dunia mafia hanya menyebut satu nama *Queen*. Hari ini akan ku buat, kebanggaan semua orang dengan mengalahkan keturunan musuh bebuyutan ku," Mahendra tersenyum puas, padahal rencananya saja belum dijalankan, Abhi yang mendengar ucapan sang papa penuh dendam dan kebencian mulai memberontak.
__ADS_1
Bugh!
Mahendra memukul leher Abhi begitu keras, hingga putranya itu langsung tak sadarkan diri. Asfa yang melihat mencoba menahan diri. Bukan karena ia takut mati, tetapi saat ini masih ada nyawa yang harus diselamatkan. Ia sudah melihat Abhi, tapi dimana Justin berada? Asisten sekaligus keluarga yang selalu mendukungnya. Satu saja salah langkah, maka dua nyawa bisa melayang.
"Apa maumu?" tanya Asfa to the poin.
Mahendra mendorong kursi roda Abhi menuju sisi kiri, untung saja kursi itu tidak sampai membentur dinding. Meskipun perlakuannya terhadap sang putra kelewat batas. Tetap saja ia masih memiliki sisa kasih sayang. Apapun yang dilakukan sang mantan papa mertua, Asfa diam tanpa berkomentar.
"Ketidakadilan terjadi di depanmu, dan kamu diam saja?" tanya Mahendra mengolok-olok mantan menantunya.
Asfa menaikkan satu alisnya dengan senyuman tipis, "Dia putramu, apa aku harus ingatkan. Disini penjahatnya itu KAMU, bukan AKU."
"HAHAHAHA, benarkah? Dasar bocah ingusan...," kata Mahendra dengan kepalan tangan bersiap maju menyerang Asfa.
Sebelum niat hatinya tersampaikan. Suara tepuk tangan dari belakang menghentikan pergerakannya. Langkah kaki yang perlahan terkena pantulan sinar lampu, membuat Asfa memejamkan mata sekali lagi. Ia ingin mengenali musuh tanpa harus melihat wajahnya terlebih dulu.
Bruug!
Sesuatu dilempar begitu saja tepat di depan Asfa. Aroma anyir darah jelas tercium begitu tajam. Siapapun yang terluka kini ada di dekatnya. Pejaman mata masih enggan ia hentikan, hingga suara yang menggema di ruangan itu menjelaskan siapa musuh keduanya.
"Suara itu...,"
__ADS_1