
Sedangkan di dalam ruangan kerja nya Asfa tengah duduk menikmati kopi hitam buatannya dan melihat langit dari tempat nya duduk, hingga getaran benda pipih di atas meja mengalihkan perhatian nya. Setelah membuka password benda pipih, dengan santai mencari sumber getaran dan sebuah pesan dengan nomer baru langsung di buka oleh nya.
"Good job." gumam Asfa dengan senyuman manis yang tulus sembari menyeruput kopi nya.
Setelah kopi nya habis, dengan santai nya kini langkah kaki meninggalkan ruang kerja nya dengan penampilan yang masih sama seperti kedatangan nya, setelah lift terbuka langkah nya mendekati mobil sport milik nya. Tapi ada seseorang yang tengah duduk di atas kap depan mobil nya dengan santai nya sembari meneguk minuman kaleng, mata nya menyambut kedatangan pemilik mobil yang kini menjadi tempat duduk nya.
"Mau?" tawar orang itu dengan melemparkan satu kaleng minuman bersoda ke Asfa dan langsung di tangkap oleh gadis itu dengan sigap.
"What happens? " tanya Asfa dan melewati orang itu dengan membuka pintu mobil nya.
Tanpa menunggu disuruh masuk, orang itu sudah ikut masuk dan tetap meminum minuman nya dengan tenang tanpa menjawab pertanyaan Asfa. Gadis itu terlihat tetap tenang dan tidak masalah dengan sikap orang di sebelah nya, tanpa menunggu lagi mobil di lajukan dan meninggalkan gedung pencakar langit milik nya. Kini tujuan nya sedikit melenceng dari jadwal yang sudah di rencana kan , tapi apa boleh buat, orang di samping nya masih dalam mode diam dan berpesta dengan minuman bersoda yang baru saja di buka lagi.
Mobil melaju di atas jalanan beraspal yang mulus namun terlihat wilayah yang di tuju adalah pinggiran kota, perjalanan hampir lima belas menit tapi masih hanya ada kesunyian. Sudah dua kaleng minuman bersoda yang di habiskan orang di samping nya namun masih enggan me mulai pembicaraan dan justru melihat pepohonan di pinggir jalan yang seperti nya lebih menarik perhatiannya.
Ciiit... Dug... Auw..
"Queen! What you do? " ucap orang itu dengan kesal karena mobil tiba-tiba berhenti dan kepala nya membentur dashboard meskipun tidak keras tapi cukup sakit.
"What?! " ucap Asfa dengan melepaskan topeng dan kini satu alis kanan nya terangkat dan menatap tajam orang yang baru saja bicara kesal dengan nya.
"Peace." ucap lirih orang itu dengan dua jari di angkat.
Tentu saja tidak akan berguna jika mendebat queen nya, terlebih memang dirinya yang salah karena ucapan nya tidak di jaga. Tapi kebiasaan nya yang membuat bibir nya susah di rem yah apa boleh buat, dengan segala kesadaran meminta damai adalah yang terbaik.
"What happens? " tanya Asfa tanpa mengalihkan pandangan tajam nya ke arah orang di depan nya.
"Sistem perusahaan tuan besar mengalami masalah, aku sudah berusaha yang terbaik tapi sulit untuk ku melakukan sendiri." ucap orang itu dengan wajah yang sudah serius.
Wajah serius yang membuat wajah imut nya berganti dengan garis alis terangkat dengan aura yang keluar dari dalam dirinya, Asfa tetap diam dan menunggu kelanjutan niat orang di depan nya.
"Bisakah bantu aku, anggap saja sebagai pembelajaran baru mu." ucap orang itu lagi dan kali ini dengan dua tangan di tangkupkan di depan dada.
Tanpa menjawab, topeng kembali di kenakan dan mesin mobil kembali di nyalakan, kali ini laju kendaraan lebih cepat dari sebelum nya dengan berputar arah menuju ke tempat yang menjadi tujuan dadakan nya.
"Queen! Are you Crazy? Don't like fast Furious baby." seru orang itu sembari berpegangan pada kursi nya, jalanan yang berlalu bagaikan angin membuat detak jantung nya berpacu cepat.
"Shut up!" jawab Asfa tanpa mengurangi kecepatan nya.
Mobil melaju hingga sebuah bangunan pencakar langit tunggal mulai terlihat yang ada di kawasan sebuah perumahan kelas menengah dan atas, perumahan itu terlihat tidak memiliki kehidupan di saat siang hari membuat Asfa bebas melajukan mobilnya. Hingga memasuki halaman gedung tujuan nya baru lah mobil itu sedikit mengurangi dan berhenti tepat di post keamanan, beberapa pengawal mulai berlari dan mengepung mobil sports yang datang tanpa kartu identitas.
"Singkirkan senjata kalian! " perintah seseorang yang baru saja keluar dari salah satu pintu mobil sports itu.
Semua terlihat menunduk dan menurunkan senjata laras panjang yang mereka todongkan, hingga pintu satu nya lagi terbuka dan seorang gadis dengan topeng keluar dari kursi pengemudi. Melihat sekilas saja mereka kini sudah paham jika itu putri tuan besar mereka, aduh apa hukuman apa yang pantas jika menghadang pewaris tunggal perusahaan Luxifer dengan senjata seperti itu.
"Pergi lah! " perintah Asfa dengan melambaikan tangan dan para pengawal membungkuk dan kembali ke tempat berjaga.
__ADS_1
Dipandangi nya bangunan yang hanya lima belas lantai di depan nya, memang papa nya tidak ingin memperluas apa lagi menambah kantor tambahan untuk perusahaan nya. Tentu ini kontrak dengan perusahaan nya yang memiliki lima gedung pencakar langit dan menguasai satu kawasan tanpa menyisakan secuil wilayah pun, tapi bisnis tetap lah bisnis karena seberapa besar tempat bekerja tidak akan mempengaruhi hasil nya.
"Come, follow me." ajak orang yang meminta bantuannya.
Terlihat banyak karyawan yang memandang ke arah pintu utama, seperti kedatangan seorang artis saja membuat para karyawan berhenti bekerja dan sibuk bergosip dengan kedatangan orang penting di depan mereka. Terlihat kaum hawa menatap dengan tatapan memuja ke arah pria di samping Asfa dan kaum adam memperhatikan gadis bertopeng yang sangat asing dengan aura yang mampu membuat semua karyawan terpaku.
"Queen." panggil pria itu yang menyadari aura gadis di samping nya sudah dingin melebihi AC.
"Hmm." jawab Asfa dengan ber jalan di depan dan menuju ke lift khusus pemimpin.
"Maaf anda di larang masuk." cegah seorang pengawal dengan merentangkan tangan kanan nya.
Langkah Asfa terhenti begitu juga dengan pria yang ada di belakang nya, di pandangi nya seorang pengawal dengan karakter sama seperti bodyguard nya. Cukup mengesankan jika seorang pengawal berani menghentikan siapapun yang tidak dikenalnya, sebuah tanggungjawab dari pekerjaan nya yang memang mengharuskan bersikap dan bertindak dengan waspada.
"Saya ingin bertemu dengan tuan Luxifer, apa bisa? " tanya Asfa dengan mengangkat tangan nya agar pria di belakang nya diam.
"Maaf, silahkan anda membuat janji dan tunggu di sana." jawab pengawal itu dengan ramah.
" Baik lah, tapi jika anda mengizinkan saya, maka saya akan memberikan cek senilai satu milyar. Bisa saya menemui tuan besar sekarang? " ucap Asfa dengan mengambil buku cek di tas putih nya.
"Bagaimana? " tanya Asfa dengan mengulurkan cek yang tertera jelas nominal besar nya.
Cukup menggiurkan, karena sebagai pengawal di naungan Luxifer pun memiliki gaji lumayan tapi jika hanya dengan mengizinkan seseorang masuk ke perusahaan dan naik menemui tuan besar bisa mendapatkan satu milyar kapan lagi. Tapi tangan pengawal itu dengan tegas menolak dan itu membuat Asfa tersenyum di balik topeng nya, kini tangan nya beralih ke pengawal satu nya lagi yang sedari tadi hanya menyimak namun ada gerakan yang membuat Asfa ingin mengeluarkan jiwa -jiwa tak berakhlak dari pengawal itu.
"Bagaimana dengan mu? " tanya Asfa dengan suara yang sedikit di tekankan.
Baru tangan nya akan menyentuh tombol lift tapi sebuah tangan sudah menarik tangan nya dengan cengkraman yang kuat, kini pandangan nya beralih ke depan nya dimana seorang pria dengan wajah memerah sudah menatap nya dengan mata imut nya. Sedangkan gadis bertopeng sudah berdiri di tengah ruangan dan menyedekapkan kedua tangan nya, pria itu menarik pengawal yang menerima cek dan melemparkan tepat bersujud di bawah kali queen nya.
Bruuug....
Proook... proook.. proook...
Tiga tepukan tangan membuat ruangan hening menjadi ada suara, yah para karyawan tidak ada yang beranjak dari tempat nya karena pesona dua makhluk yang memasuki gedung itu. Dengan susah payah pengawal itu bangun dan kini berdiri menatap gadis bertopeng di depan nya dengan tatapan sengit dan tangan kekar itu siap untuk melayang bertemu topeng yang menutupi wajah yang membuat nya dipermalukan.
Plaaak, Duug, Bruug...
"Aarrrrggh." seru pengawal itu yang justru kena tamparan terlebih dahulu dan pukulan telak di perutnya di tambah bantingan yang keras membuat nya tubuh nya kembali mencium lantai.
"Don't touch me! " ucap Asfa dengan mengeluarkan suara intimidasi nya.
"Queen! " panggil seseorang yang langung membuat semua karyawan menunduk.
"Hay dad, miss you." ucap Asfa dengan suara yang lebih tinggi agar semua orang mendengar dan tahu siapa dirinya.
"What happened? " tanya tuan besar yang melihat pengawal lift sudah ngeri-ngeri sedap dengan ntah tulang mana yang patah meskipun tidak ada darah yang mengalir.
__ADS_1
"Forget it, can we go." ajak Asfa yang bergelayutan manja di lengan papa nya.
"Diego, urus dia." perintah tuan besar dan membuat pria yang tengah bersembunyi itu harus menghela nafas dan keluar dari persembunyian nya.
"Hurry up! " ucap Asfa menambahkan dan membawa papa nya menuju lift, membiarkan dua pria mengurus satu bibit pengkhianat.
"Kamu, ikut ke atas! " perintah Asfa yang membuat bodyguard itu langsung kaku.
"Masuk! " ucap tuan besar dan membuat pengawal yang menolak cek ikut se lift dengan pemimpin nya.
Bukan hanya senang dengan keadaan nya saat ini, tapi justru kedekatan nya karena satu lift bersama pemimpin mampu membuat detak jantung nya berpacu cepat meskipun baru saja mengalami skot jantung akibat pembantaian teman kerja nya. Hanya membutuhkan waktu beberapa menit untuk mencapai ke lantai teratas dimana ruangan presdir berada, tidak ada meja di dekat ruangan presdir karena papa nya tidak menyukai seketraris dan lebih memilih seorang bodyguard yang multi talented seperti Justin, Dominic terlebih Diego yang menjadi bayangan nya.
"Hey, masuk! " ucap Asfa dengan nada biasa yang membuat pengawal itu menggaruk kepala nya dan terpaksa mengikuti langkah di depan nya.
Sungguh ruangan yang sangat sederhana meskipun ukuran nya cukup luas, dari semua barang terlihat hanya satu lukisan besar di belakang kursi kebesaraan yang nampak mencolok. Lukisan sebuah keluarga yang tengah menghadap cahaya matahari terbenam disebuah bukit, dari sosok pria terbesar sudah bisa dipastikan jika itu tuan Luxifer dan pasti di sebelah nya itu istri nya, di tambah di tengah nya ada sosok makhluk yang usia nya mungkin masih anak-anak.
"Ekhem! " dehem tuan besar membuat pengawal itu menunduk karena merasa bersalah.
"Pa, sampai kapan papa tidak mau mengubah sistem ini? " tanya Asfa mengalihkan perhatian sang papa.
"Queen!" cegah tuan besar untuk melanjutkan pembahasan masalah perusahaan di depan seorang pengawal.
"Kirim dia ke mansion pa, sikap ok tapi other thing, I don't know." ucap Asfa tanpa menatap pengawal itu yang sebenarnya melotot karena sindiran nya.
"Reasons? " tanya tuan besar memperhatikan pengawal di depan pintu yang masih menunduk dan semakin menunduk.
"Him can take responsibility, believe me dad. But.. " jawab Asfa dan ber jalan mendekati pengawal itu dengan langkah nya yang ringan.
Dengan jarak satu meter kurang, tangan nya terangkat dan mencengkram dagu pengawal itu tanpa kekuatan, membuat wajah pengawal itu terangkat dengan mata yang terkejut. Ingin protes tapi kesadaran masih bersama nya dan ingatan nya membuat bibir nya kelu, wajah yang masih bertopeng seakan menatap nya dengan tajam membuat bulu-bulu halus di kulit nya berdiri.
"Pandangan mu selalu jatuh. Seorang bodyguard tidak pantas menunduk kecuali kesalahan alasan nya! " ucap Asfa dengan suara intimidasi.
Wajah pengawal itu terasa akan menunduk lagi membuat Asfa mencengkram dagu itu dengan kekuatan nya, terlihat wajah itu menahan rasa sakit namun bibir nya tetap diam dan tatapan nya masih terlihat lemah. Tuan besar yang memahami apa maksud putri nya kini ber jalan mendekati putri nya dan mengangguk sebagai tanda setuju, dengan persetujuan itu tangan nya di tarik kembali dan membalikkan badan nya.
"Jangan tundukkan kepala mu! Atau." ucap tuan besar yang harus menahan sikap dingin nya karena pria di depan nya sangat lah lemah.
Tok... Tok... Tok...
"Tuan." panggil seseorang yang langsung masuk setelah mengetuk pintu.
"Keluar lah! " perintah tuan besar dengan isyarat tangan nya untuk pengawal itu meninggalkan ruangan kerja nya.
Ceklek...
Begitu pintu tertutup, sebuah suara yang cukup menusuk membuat ruangan itu menjadi panas dingin dan tidak ada langkah kaki yang terdengar lagi. Hingga topeng itu terlepas dari wajah nya dan kini tubuh nya berbalik menghadap ke pintu masuk yang sudah tertutup rapat.
__ADS_1
"Tetap di sana!"