
Suara langkah kaki terdengar melangkahkan kaki menjauhi tempat peristirahatan, Asfa menunggu hingga pintu terbuka dan tertutup lagi terdengar memasuki gendang telinganya. Perlahan Asfa membuka mata dan kembali bangun dengan perlahan. Varo dengan sigap membantu sang adik untuk menyandarkan tubuh lemah tak berdaya ke sandaran tempat tidur. "Apa ini tidak terlalu cepat?"
Senyuman manis di bibir adiknya, sudah menjelaskan apa jawaban dari pertanyaannya. "Baiklah, bisa jelaskan kenapa dokter Vans harus stay di rumah ini?"
"Karena aku...."
Satu jemari Asfa diletakkan di bibir, membuat Vans menghentikan ucapannya. Sementara Varo memahami, apapun yang Asfa pikirkan pasti tidak untuk diumbar-umbar. "Mau lagi atau sudah lebih baik?"
"Enough. Now tell me what happened? (Cukup. Sekarang katakan apa yang terjadi?)" Asfa menatap ke depan dan siap mendengarkan.
Varo membenarkan posisi duduk dan menatap Asfa, kini keduanya berhadapan. Tangan Alvaro memeriksa kening, dan leher sang adik. Asfa hanya membiarkan kakaknya melakukan semua itu tanpa mengeluh. "Sudah? Bisa kakak jelaskan?"
"Tidak ada yang perlu aku jelaskan. Ingat, tugasmu hanya istirahat dan memulihkan keadaan. Bukan memikirkan pekerjaan, apalagi masalah keluarga. Paham Queen Asfa Luxifer!" ucap Varo tegas dengan nada intimidasi.
Senyuman manis di bibir Asfa, membuat Varo paham. Percuma intimidasi dari dirinya tidak akan berlaku, mana mungkin Asfa mau memikirkan diri sendiri. Jika bisa, sudah pasti sejak lama adiknya itu jadi orang egois. Sementara Vans hanya menjadi pengamat, melihat Asfa kembali sadar sudah cukup.
"Aku harus bangun atau?" tanya Asfa sekali lagi.
"Tempat ini menjadi tempat teraman untuk melakukan diskusi, jadi kakak memanggil Justin, Dominic dan Diego untuk rapat di kamar ini. Siapa sangka, kamu justru terbatuk dan membuat…."
"Ekhem!" dehem Asfa menghentikan ucapan Varo, Varo sadar keceplosan sesuatu dan meringis.
Dengan satu lirikan, mata Asfa dan Vans bertemu. Dari ekspresi wajah Vans, sudah jelas pria itu bertanya apa yang kamu sembunyikan. Asfa kembali menatap sang kakak. "Its ok, sekarang aku ingin istirahat. Pergilah temui Rania, dia juga berhak atas waktu kakak. Sampaikan pada papa, aku ingin sendiri dan makan malam bisa bersama."
__ADS_1
"Doll, kamu mengusir kakak?" tanya Varo dengan nada tidak suka.
Tangan Asfa meraih tangan Varo, memberikan usapan lembut. "Kakak sekarang menjadi seorang suami, jangan bedakan kasih sayang kakak kepadaku dan pada istri kakak. Aku bisa memahami keadaan, tetapi Rania masih labil ka. Jangan samakan kami ka, aku baik dan lihat ada dokter Vans yang menjaga ku. Jangan ragukan pria satu ini, kakak bisa kalah jika bertarung. Bukan begitu dokter Vans?"
"Benarkah? Baiklah, ayo buktikan." cetus Varo menatap Vans dengan satu alis terangkat.
Vans hanya menggelengkan kepala mendengar ucapan Asfa yang seperti api dinyalakan. "Maaf, saya tidak bisa bertarung. Maksud Queen, sepertinya berbeda. Bukan begitu Queen?"
Varo beralih menatap sang adik yang masih saja tersenyum manis. "Ka, i'am okay. Aku hanya ingin istirahat dan ini kesempatan kakak untuk bersama Rania, setelah aku bangun. Aku tidak akan biarkan kakak jauh dari ku."
"Huuft, aku rasa ini pengusiran secara halus. Baiklah, jaga dirimu dan istirahat. Vans jaga Queen, dan segera hubungi aku jika terjadi sesuatu!" Varo bangun dari ranjang dan berdiri setelah memberikan usapan di kepala Asfa.
Vans mengangguk dan membiarkan Varo berjalan meninggalkan ranjang menuju pintu, sikap Vans masih datar, sopan dan polos hingga pintu dibuka Varo dan tertutup lagi. Asfa yang memejamkan mata masih diam tanpa kata, membiarkan Vans memulai pembicaraan.
Sudah hampir lima menit dan masih tidak ada tanya, yang terdengar hanya deru nafas keduanya. Asfa membuka mata dan tatapan matanya bertemu dengan netra Vans, hanya mata yang saling berkomunikasi. Vans berjalan mendekati Asfa dan duduk di depan Asfa. "Apa kamu ingin diam? Dimana peri kecilku yang ceria?"
"Bukankah kamu tidak peduli lagi denganku? Kenapa mencari sosok yang…."
Tangan Vans spontan membungkam bibir Asfa, gelengan kepala Vans dan mata sendu menatap Asfa. "Jangan bicara sesuka hatimu! Dimana letak kesalahan ku? Sehingga kamu berspekulasi seperti ini?"
Mata Asfa melirik ke bawah, Vans melepaskan tangan kanannya dari bibir Asfa. "Sorry. Are you okay? Mau minum atau sesuatu?"
"Relax, kenapa kamu menemui dengan cara tidak baik? Apa itu cara keluarga Burhan? Membius anak orang dan…."
__ADS_1
"Aku hanya tidak ingin kamu menghentikan kepergianku, aku datang untuk melihat keadaan mu. Bukankah sudah lama kita tidak bertemu?" sela Vans.
"Sorry peri kecilku, aku tahu kamu tidak lagi sendiri. Aku hanya ingin menghargai hubunganmu, memang benar aku melakukan kesalahan. Akan tetapi percayalah, aku tidak melakukan lebih dari batasan. Aku hanya ingin memandangmu sama seperti biasa dan untuk itu, aku menggunakan cara tidak baik. Maafkan aku peri kecilku." Vans memegang kedua telinga dengan puppy eyes-nya menatap Asfa.
Asfa mendengarkan tanpa menyela dan membiarkan Vans menjelaskan keadaan yang sebenarnya, sebelum memutuskan akan melakukan apa untuk pria satu itu. Semua penjelasan Vans cukup masuk akal, tetapi tetap saja itu bukan hal benar. "Hmmm. Apa alasanmu disini saat ini juga sama?"
"Aku tidak ingin kamu terluka, aku ingin menjagamu. Jangan hentikan aku, kamu tahu aku tidak menggunakan kekuasaan untuk masuk kedalam duniamu…."
"Come on Ka Vans, jika bukan kekuasaan lalu apa? Jangan memberikan alasan yang kakak tahu, aku paham jalan kita mendapatkan sesuatu." Asfa menyela ucapan Vans dengan sindiran.
Vans menggaruk kepala yang tidak gatal, dengan senyuman nakal di bibir. Ini yang disukai Vans dari Asfa, peri kecilnya tidak mudah terkecoh apalagi dibohongi. Terlebih ketika itu menyangkut orang-orang di circle kehidupannya, sudah pasti setiap karakter dan tindakan akan selalu diamati dengan baik.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuat kamu masuk rumah sakit." Vans memegang tangan kiri Asfa dan menunduk.
"Sudahlah ka, aku tahu kamu hanya khawatir dan merindukanku. Sekarang bagaimana dengan bisnis dan keadaan keluarga?" Asfa mengalihkan topic agar Vans tidak merasa bersalah lagi.
Pertanyaan Asfa, membuat Vans menatap peri kecil di hadapannya. Hanya sesaat, sebelum membuang muka menatap deretan kaca menuju balkon dengan tirai menjuntai. Reaksi Vans, membuat Asfa menghela nafas. Sudah pasti ada yang tidak beres. Tangan Asfa terulur dan menarik tangan Vans untuk diusap. "Apakah sesulit itu? Apa aku tidak berhak lagi untuk tahu?"
"Aku hanya…"
Ceklek…
Suara pintu terbuka, membuat Vans dan Asfa saling pandang. Langkah kaki yang mendekat tak mengubah kedekatan Vans dan Asfa, hingga mata seseorang yang memandang kedekatan itu menaikkan satu alisnya. "Apa kalian pasangan?"
__ADS_1
Vans menarik tangannya dan berdiri di sisi ranjang, kini tatapan tajam terarah menatap Vans. Sementara Asfa menatap lembut ke arah sosok yang baru saja datang. "Aku ingin pelukan, bisakah aku dapatkan?"