My Secret Life

My Secret Life
Bab 196: Percayalah! - Hipotermia


__ADS_3

Vans tersenyum tipis, ternyata waktu mengubah banyak hal dari diri gadis itu. Kini bukan kenakalan dengan raut wajah nakal seperti anak remaja. Akan tetapi sikap gadis itu sudah lebih dewasa. Perlahan tapi pasti. Sikapnya mengingatkan dirinya akan peri kecilnya, meskipun hanya satu persen saja.


Lihatlah peri kecilku, bagaimana sosokmu menjadi inspirasi untuk kakak iparmu. Kuharap kamu berjuang di alam sana, kembalilah pada kami. Baby, putri rajamu yang menjadi semangat hidup baru dunia kecilmu menanti mommy terhebatnya. Do'aku akan selalu menyertaimu, disetiap langkah dan perjuangan hidupmu. Peri kecilku.~ batin Vans.


Varo melangkahkan kaki, berjalan mendekati Asfa. Tatapan mata sendu dengan guratan wajah merindu dalam kesedihan terlihat jelas. Mata yang terbiasa tegas, tajam dan siap menerkam berubah menjadi mata seorang kakak penuh cinta serta penyesalan.


Langkah Varo terhenti, dan lunglai kebawah berlutut di samping brankar. Tangannya terangkat menggenggam tangan kanan Asfa. Rasa sesak di dada semakin tak terbendung. Tanpa sadar lelehan cairan bening terjun tanpa permisi. Tidak ada kata yang keluar dari bibirnya. Tatapan mata semakin lama semakin tenggelam dalam emosi di dalam hati seorang Varo.


Air mata yang mengalir membasahi pipi dan terjatuh ke lantai, membuat Vans menghampiri Varo kemudian memegang bahu pria itu dengan perasaan. "Kita harus kuat demi Asfa. Jangan biarkan rasa takut dan bersalah kita, menjadi pemicu Asfa tak ingin bertahan hidup."


"Kenapa selalu dia yang menderita? Kenapa bukan aku saja?....."


Rania berjalan cepat lalu menghamburkan diri memeluk tubuh suaminya. "Jangan lanjutkan! Apa gunanya doa kita, jika kita menyalahkan takdir. Percayalah, Queen bukan wanita lemah. Aku percaya padanya, meski maut berulang kali menyentuh detak jantungnya. Queen akan kembali demi kita, perjalanan hidup seorang queen masih panjang."


"Rania benar. Kita harus percaya pada perjuangan seorang Queen selama ini. Sebaiknya, kita lakukan pengobatan untuk baby terlebih dahulu. Kondisinya juga tidak terlalu baik...."


Rania melepaskan pelukannya dari sang suami, lalu mendongak menatap Vans yang berdiri di belakang Varo. "Apa maksudmu? Apa yang terjadi pada baby?"


"Baby terkontaminasi dengan racun dari dalam tubuh Queen. Kamu tahu apa artinya itu." jawab Vans dengan suara berat.


Rania menurunkan pandangan beralih menatap mata suaminya. Tapi, tatapan Varo masih berkaca-kaca dengan lelehan air mata dalam diam. Bibirnya terkunci rapat seakan tak ingin membenarkan jawaban Vans.


"Hubby?" Rania menangkup wajah Varo dengan tatapan mendalam, membuat Varo membalas tatapan sang istri.


Mata tajam berubah menjadi sendu dengan luka mendalam, membuat Rania ikut trenyuh memasuki emosi milik suaminya. Tak ada kata lagi yang mampu keluar dari bibirnya selain merengkuh tubuh Varo ke dalam dekapan. Membiarkan pria yang selalu di panggil hubby selama beberapa bulan terakhir, menghilangkan beban hati dan juga memberikan ketenangan.


Keheningan melanda ruangan operasi, membuat pikiran masing-masing berjalan tanpa arah. Sementara di luar rumah sakit tengah terjadi keributan kecil. Beberapa suster pria dan wanita bersama beberapa pengunjung rumah sakit berdebat tentang seorang pria yang mengalami demam tinggi.


"Sudahlah, kita bawa masuk. Semakin lama berdebat, keadaannya semakin memburuk." tukas suster wanita berhijab menengahi keributan di taman rumah sakit.

__ADS_1


"Nil, ayo bantu aku angkat pria ini!" ajak suster pria dengan name tag Bayu.


Niles yang dari awal hanya mengamati bergegas mendekati pria yang meringkuk kedinginan dengan racauan tidak jelas. Sebagai seorang suster tentu memiliki bekal ilmu medis. Niles memeriksa denyut nadi dan juga menyentuh leher pria di depannya.


"Ayo, Bay! Pria ini mengalami hipotermia." ucap Niles dan mencoba mengangkat tubuh pria itu agar berubah posisi.


Bayu ikut membantu Niles, keduanya bekerja sama menggotong tubuh pria dengan suhu yang dingin dan menggigil kedinginan. Racauan yang tidak jelas tak mengusik kedua suster pria itu.


"Kalian bubar lah! Kami akan membawa pria ini ke dalam melakukan pengobatan. Terima kasih atas laporannya." Suster berhijab menangkupkan kedua tangan dan memberikan jalan pada kedua rekannya untuk melewati kerumunan.


Orang-orang yang berkerumun membubarkan diri, membiarkan petugas rumah sakit melakukan tugas mereka. Niles dan Bayu sedikit kesulitan memapah pria yang ternyata beban tubuhnya sangatlah berat. Maklum saja, karena dua suster pria itu hanyalah keturunan lokal yang memiliki tubuh kurus tanpa otot yang menonjol. Sedangkan yang dipapah memiliki postur tubuh kekar, tinggi, serta berbadan proporsional bak atlet binaragawan.


"Duduk kan pasien ke brankar itu saja, baru kita dorong ke dalam," saran Bayu menunjuk brankar di sisi kanan di depan sana.


"Okay, Mila pergilah kabari dokter Cleo terlebih dahulu! Kita akan bawa pasien keruangan A61." ucap Niles.


Mila si suster berhijab itu berjalan meninggalkan kedua rekannya. Langkah kakinya semakin cepat dan menghilang di balik pintu utama rumah sakit. Sedangkan Bayu dan Niles tengah bermain bahasa isyarat mata untuk memindahkan tubuh pria yang mereka papah berpindah ke atas brankar.


"Tiga...."


"Dua...."


"Satuu..."


Brug!


Hap!


Niles mengusap dada dengan helaan nafas lega setelah menahan kepala pasiennya yang hampir saja membentur dinding di sisi lain brankar.

__ADS_1


"Lain kali, pelan-pelan saja Bay." cetus Niles sambil merebahkan kepala pasien ke brankar.


Bayu tak menjawab, bibir pria itu sedikit maju dengan mata memutar malas.


"Ayo dorong! Aku akan menjaga tubuhnya agar tidak terjatuh, di dalam kondisinya saat ini. Aku khawatir pasien mengalami kejang-kejang hebat." jelas Niles, membuat Bayu mengangguk tanda setuju.


Keduanya bekerja sama membawa brankar dengan pasien hipotermia menuju pintu utama rumah sakit. Suara decitan roda terdengar mengusik keheningan malam tak berbintang. Waktu yang semakin larut, membuat situasi rumah sakit sepi. Hanya beberapa orang yang terlihat duduk di kursi menunggu. Sisanya hanya pasien di dalam ruangan, suster dan dokter yang bertugas.


Ruangan A61 dimana ruangan itu memiliki fasilitas yang cukup memadai meski hanya ruangan kelas menengah. Pasien dimasukkan ke ruangan. Tidak perlu menunggu lama. Seorang dokter wanita dengan rambut pendek menyusul masuk ke dalam kamar A61.


Wanita berjas putih itu memasang stetoskop ke telinganya lalu memeriksa denyut jantung pasiennya. Tak lupa memeriksa denyut nadi, suhu tubuh, dan juga memeriksa mata pasien.


"Niles, buka pakaian pasien dan kamu Bayu ambil pakaian rumah sakit serta tiga selimut rumah sakit! Ganti pakaian pasien, aku akan segera kembali." perintah Dokter Cleo dengan tegas.


"Siap, dok." jawab kedua suster pria itu serempak.


Dokter Cleo memilih keluar bersama Bayu, meski memiliki tujuan berbeda. Tetap saja tugas menggantikan pakaian sudah diserahkan pada kedua suster pria yang membawa pasien dengan wajah yang sangat familiar.


Tadi aku melihatnya di rumah sakit, tapi dia dimana sekarang? Apa mungkin di ruangan khusus.~batin Dokter Cleo.


Dokter Cleo menyusuri beberapa lorong hingga menemukan ruangan khusus. Ruangan dimana memiliki jendela kaca sepanjang enam meter. Setengah bagian kaca bawah adalah kaca gelap, sementara bagian setengah yang atas berkaca jernih. Wanita itu berjinjit untuk melihat dari jendela keadaan di dalam ruangan khusus.


Tatapan mata memindai setiap sudut ruangan khusus dan berhenti pada sosok yang berdiri angkuh dengan kedua tangan di depan dada. Pria dingin yang semakin tampan di usia tuanya.


Ceklek!


Cleo masuk ke dalam ruangan khusus, tak lupa menutup pintunya kembali. Langkah kakinya berjalan menghampiri pria angkuh di dalam ruangan khusus.


"Tuan, saya ingin...."

__ADS_1


__ADS_2