
Terlihat kerumunan itu kecewa dan mundur teratur dengan wajah memelas, tapi itu tidak berpengaruh bagi queen dan memilih bersiap meninggalkan tempat balapan.
"Boleh berteman? " ucap pemuda yang masih menyodorkan kunci motor nya.
"Hmm." ucap queen dan melajukan motor nya dengan kecepatan tertinggi, membiarkan tangan pemuda itu terabaikan dengan rasa penasaran nya.
Kepergian queen membuat sebuah hati terpaku pada penolakan halus itu namun terlihat samar sebuah senyuman lesung di pipi pemuda itu terbit, meskipun hanya sesaat dan membuat pemuda itu meninggalkan balapan tanpa sepatah kata pun. Bahkan para peserta pembalap lain yang datang akhir hanya bisa bersyukur karena malam ini mereka tidak kehilangan motor mereka meskipun mengalami kekalahan dalam balapan.
Terlihat pintu gerbang terbuka dan seseorang tengah berdiri di depan pintu mansion utama dengan menyedekapkan kedua tangannya di dada, wajah nya jangan di tanya lagi. Wajah nya itu hanya terpatri dengan mata tajam nya yang siap meloncat menerkam mangsanya dari jarak jauh, bukan nya takut tapi terlihat gadis yang baru saja turun dari motor sports nya berjalan dengan santai melepaskan helm dan juga topeng di wajahnya.
" Apa jam malam berlaku hari ini? " tanya gadis itu dengan membuka resleting jaket kulitnya.
"Darimana? " tanya pria itu dengan menahan emosinya.
"Balapan." jawab gadis itu dan tetap berdiri di depan pria yang kini menggantikan tanggungjawab papa nya.
"Tell honestly doll! " ucap pria itu dan kali ini lebih di tekankan.
"Lalu apa guna nya mereka? Don't make drama with me, I know everything." jawab gadis itu dan menyingkirkan pria di depannya untuk memasuki mansion.
"Queen Asfa Luxifer! " seru pria itu dengan nada tinggi membuat para bodyguard menatap ke arah pintu masuk.
Dengan seruan itu membuat langkah Asfa berhenti dan berbalik ke arah pria yang memanggil nama lengkap nya, diam dan hening dengan tatapan penuh arti. Langkah pria itu mendekati nya dengan pasti, jarak yang hanya dua meter membuat tiga langkah jenjang nya berhenti tepat di depan Asfa.
"Hhaah, you know everything, right? Than what you do my doll? " ucap pria itu dengan memegang kedua bahu Asfa.
Tatapan nya bukanlah kemarahan tapi penuh ke khawatiran, meskipun begitu bukan berarti semua harus di laporkan bukan. Bahkan Bukankah sudah cukup dirinya membiarkan di awasi dan dibuntuti oleh anak buah kakak nya itu, belum lagi anak buah papa nya yang lebih setia mengawasi nya.
__ADS_1
Terkekang? bagi dirinya itu bukanlah masalah tapi ada hal yang tidak harus di jelaskan dan selama dirinya masih sanggup ber tanggungjawab pasti nya dirinya akan menghadapi masalah nya dengan caranya sendiri. Bahkan papa nya tidak pernah memanggil nama lengkap nya meskipun banyak keputusan yang di buat tanpa berdiskusi terlebih dahulu, tapi sekali lagi dirinya memahami betapa kakak nya menyanyangi nya.
Greeb...
"Relax ka, I just do little work. Don't worry." ucap lembut Asfa dengan memeluk tubuh kekar Alvaro.
"Don't again go without tell me hmm." ucap Alvaro mengusap kepala adiknya.
Aroma parfum yang berbeda dan aroma kali ini lebih mirip dengan parfum miliknya, artinya adiknya menutupi identitas nya selama melakukan pekerjaan. Cukup melegakan mengetahui hal itu, setelah berpelukan beberapa saat akhirnya kedua nya kembali ber baikan tanpa kata panjang kali lebar.
"Salah satu assistant mu datang dan menunggu seperti orang tidak waras." ucap Alvaro dengan menyiapkan makan malam di pantry.
"Hmm.Biarkan saja." jawab Asfa dan menikmati pemandangan di depannya.
Pemandangan yang banyak wanita ingin kan, melihat seorang pria dengan tubuh atletis dengan kemeja terbuka dua kancing atas dan sibuk bermain pisau di atas sayuran dan bahan dapur lain nya. Yah itu lah sisi lain kakak nya yang penyayang, setelah melampiaskan amarah nya maka pria itu akan meminta maaf dengan membuat kan sebuah masakan istimewa.
"Ayolah itu terlalu sedikit, tambah lagi sayur jesim nya. Jangan gagang nya ka, aku mau daunnya itu." ucap Asfa memperhatikan seberapa banyak sayuran jesim yang di potong Alvaro.
"Daging nya yang banyak ya ka, dan juga harus seperti biasa rasa nya." ucap Asfa dengan mata berbinar.
Diletakkan nya pisau di tangannya dan dengan cekatan satu buah apel di ambil dari keranjang buah, dicuci dan di sodorkan ke arah adiknya. Setelah adiknya menerima, kini satu jari telunjuk Alvaro di letakkan di bibir nya dan adiknya mengerti isyarat itu meminta nya untuk diam dan menonton saja sembari me makan apel merah di tangannya.
Hampir tiga puluh menit akhirnya aroma lezat memenuhi pantry dan terlihat celemek hitam itu terpisah dari tubuh kekar Alvaro, di ambil nya dua mangkok besar dan dengan cekatan tangan nya meracik dengan tampilan yang lebih menggugah selera siapa pun.
"Ready, Ayo makan." ucap Alvaro dan meletakkan nampan berisi dua mangkok besar mie ayam ala dirinya di atas meja makan.
Karena tidak mendengar reaksi, kini pandangan mata nya menatap adiknya dan wajah itu terlihat jelas lelah dan pucat. Ada rasa bersalah di dalam hati nya karena tadi membuat gadis itu semakin tertekan, tapi melihat kelopak mata yang tertutup membuat Alvaro tidak tega membangun kan adiknya.
__ADS_1
"Mau di bawa kemana ka? " tanya Asfa yang sekilas melihat kakak nya hendak mengambil kembali nampan di depannya.
"Kakak fikir kamu tidur, Ayo makan dan istirahat setelah ini." ucap Alvaro dan mengambil garpu dan juga sendok untuk adiknya.
"Makan bersama ka, ayo." ajak Asfa dan me mulai makan nya dengan mencampur seluruh isi mangkok dengan rata.
Melihat lahap nya Asfa memakan masakan sederhana nya sungguh membuat senyuman terbaik dari seorang Alvaro terbit tanpa menunggu satu detik, senyuman itu terkembang selama senyuman adiknya terlihat memenuhi hati nya. Senyuman yang mampu mengobati rasa rindu nya kepada mama tercinta nya, senyuman yang bisa mewakili kebahagiaan sejati di dalam hidup nya yang tidak lah sempurna.
"Hallo, kalau kakak tidak mau, buat aku saja semuanya. " ucap Asfa dan hendak mengambil mangkok besar milik Alvaro namun di cegah langsung oleh pria itu.
"Tidak baik terlalu banyak makan mie, habis kan itu dulu. Esok kakak bisa memasak untuk mu lagi tapi itu sudah cukup untuk malam ini." jawab Alvaro dan mulai memakan mie ayam nya.
"Huft okay. " ucap Asfa dan kembali fokus memakan mie ayam nya dengan nikmat.
Hanya semangkok besar mie ayam dengan banyak daging dan daun jesim sudah membangkitkan semangat dan senyuman di wajah Asfa, maka kedua pria di dalam hidup nya sudah di pasti kan bisa membuat menu special satu itu. Memang coklat dan es krim juga favorite gadis itu tapi yang lebih favorite adalah mie ayam ala chef keluarga Luxifer dan itu terbukti dengan hasil akhirnya, dimana Asfa selalu kembali ceria dengan makanan satu itu.
"Istirahat, good night sweet dreams my doll." ucap Alvaro setelah melihat Asfa selesai memakan mie ayam dan meminum air putihnya.
Cup...
Satu kecupan di pipi Alvaro dengan pergi nya langkah tak terdengar, karena sepatu sneakers hitam gadis nya tergeletak di bawah kursi tempat nya duduk tadi. Kebiasaan yang selalu membuat Alvaro geleng-geleng kepala, rumah sebesar apapun tidak akan membuat gadis itu menggunakan alas kaki jika bukan untuk pekerjaan apapun yang memang di perlukan menggunakan alas kaki sebagai penunjang penampilan.
Dengan santai di ambil nya sepatu sneakers hitam yang sebenarnya itu sepatu sneakers cowok bukan cewek, selain sikapnya yang dingin tentu saja adiknya itu lebih menyukai penampilan seperti seorang pria dengan styles wow. Bahkan sebagai seorang pria pun, dirinya masih ketinggalan jaman karena adiknya lebih tahu style pria cool di banding kan dirinya yang lebih sering menggunakan kemeja dengan jeans atau celana olahraga dan pakaian paling rapi hanya lah saat pergi ke perusahaan.
Di sebuah kamar yang dapat melihat ruangan makan dengan jelas, terdapat sepasang mata yang membuat cairan bening mengalir begitu saja. Ada rasa sesak di dalam hati nya dan itu tidak bisa di atasi oleh nya, meskipun fikiran nya berusaha positive tapi hati nya tetap tertusuk jarum berulang kali.
"Hey apa yang terjadi? " tanya orang di belakang nya yang melihat kelakuan sepasang mata dengan pintu terbuka lima centimeter.
__ADS_1
Brak...
"Bukan apa-apa." jawab nya dan menutup pintu.