My Secret Life

My Secret Life
Bab 234: SIAPA BOS MU?


__ADS_3

"Tuan, tawanan siuman. Lihatlah!" lapor si pengawas, membuat seorang pria yang berbaring di sofa putih membuka matanya, lalu bangun seraya meregangkan persendian leher.


"Berikan makanan dan minuman terlezat untuk hidangan pembuka!" titah pria itu dengan tangan menutup mulut yang menguap.


"Siap, Tuan." jawab si Pengawas beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan meninggalkan ruangan operasi sistem.


Kepergian si pengawas, membuat Justin bangun dari tempatnya menikmati mimpi indah. Lalu melangkahkan kaki mendekati meja dimana ada laptop yang menyala. Hanya berjalan sepuluh langkah hingga tangannya menggeser kursi. Kemudian duduk dengan satu tumpuan tangan.


"Huft, enak sekali hidupmu. Bahkan setelah semua kejahatan yang kamu lakukan demi menghancurkan hidup Queen, masih saja diberi kesempatan bernafas. Aku tidak sabar menyayat daging kolotnya, belati ku tidak akan kecewa merasakan....,"


Ceklek!


Pintu terbuka tanpa ada peringatan, membuat Justin menghentikan racauannya. Tatapan mata menyipit menatap makhluk yang kini berdiri di ambang pintu dengan mata tegas. Kedua tangan bersembunyi di balik saku celana dan ekspresi dingin membekukan suasana.


"Tuan besar, Anda kemari?" Justin bangun, lalu membungkukkan setengah badan sebagai salam penghormatan.


Tap!


Tap!

__ADS_1


Tap!


"Siapa bos mu?" Tuan Luxifer menghampiri tangan kanannya dan berhenti di depan pria itu menyisakan jarak dua meter.


Justin menegakkan tubuhnya seraya memberikan senyuman tulus. "Queen Asfa Luxifer, Tuan Besar Luxifer, Tuan Muda Alvaro Caesar."


Tuan Luxifer mengeluarkan kedua tangannya, lalu bertepuk tangan tiga kali. "Wah, kedudukan putri ku lebih utama. Apa kamu tahu konsekuensinya?"


"Tuan tahu benar. Tanggung jawab ku adalah melindungi Queen dan membantu setiap pekerjaannya. Bagiku Queen adalah bos terbaik, kepercayaan, kejujuran, rencananya, semua hal yang ada pada Nona Angel tidak bisa diragukan lagi." Justin mengalihkan tatapan mata menuju laptop yang masih menyala menampilkan sebuah ruangan yang berisi seorang tawanan. "Termasuk memberikan waktu pada musuh untuk bernafas."


Tatapan Tuan Luxifer mengikuti kemana arah Justin mengalihkan perhatian. Sontak bola mata membesar begitu melihat seorang pria tengah menikmati rasa frustasi akibat dikurung di dalam sebuah ruangan sempit.


"Hmmm. Kenapa kamu tidak berkata terus terang?" Tuan Luxifer melirik ke arah Justin, sedangkan yang ditatap menghela nafas panjang.


"Tuan, putri Anda sangat istimewa. Satu perintahnya sudah cukup membius seluruh Mafia Phoenix. Sementara aku hanya satu orang, bagaimana caraku membantah Queen?" tanya balik Justin, sontak menjadikan Tuan Luxifer menepuk pundaknya dengan kekehan kecil.


"Haduh malah diketawain." protes Justin santai.


"Tetaplah setia pada putriku! Aku bahagia dan tenang karena kamu selalu mendukung Asfa tanpa pernah mengeluh." ucap Tuan Luxifer setelah menghentikan tawanya.

__ADS_1


Justin mengangguk paham, ''Queen memang putri kesayangan Anda, dan juga pemimpin idaman semua orang di bawah naungan Mafia Phoenix, tapi bagiku Asfa adalah adik termanis di seluruh dunia. Jangan khawatir, aku siap mengorbankan nyawaku demi keselamatan adikku tersayang."


"Aku tahu itu, kapan si perebut hati datang memberikan hukuman untuk tawanan?" tanya Tuan Luxifer mengalihkan topik pembicaraan mereka.


Justin melirik ke sudut laptop dimana tertera angka jam sembilan pagi. "Sembilan jam dari sekarang. Jika telat, mungkin lima belas jam dari sekarang."


"Apa Asfa mengatakan hukuman untuk tawanannya kali ini?" tanya Tuan Luxifer.


"Tidak, Queen hanya ingin tawanan tetap bernafas. Apa Tuan mau memulai pemanasan?" tanya balik Justin dengan smirk yang mengubah ekspresi wajahnya menjadi lebih sangar.


"Why not, apa hidangan sudah disiapkan?" Tuan Luxifer melepaskan dua kancing kemejanya lalu menggulung lengan baju hingga sampai siku.


Uluran tangan Justin diikuti lirikan mata Tuan Luxifer, dimana dari layar laptop terlihat pintu besi terbuka, lalu seorang bodyguard berjalan masuk dengan lambaian tangan. Dua bodyguard lain masuk ke ruangan sempit itu dengan mendorong meja troli yang di atasnya ada beberapa tudung saji stainless.


"Apa kalian menyiapkan sarapan untuk tawanan?" Tuan Luxifer menaikkan satu alisnya ketika tudung saji di atas meja troli masih tertutup sempurna.


Tanpa menjawab, Justin mengambil ponselnya dari saku celana, lalu menghubungi sebuah nomor yang ternyata tersambung pada earphones ketiga bodyguard di ruangan sang tawanan. "Buka hidangan pagi!"


Beberapa saat tertegun dengan apa yang tersaji, smirk Tuan Luxifer terkembang sempurna. "Perfect."

__ADS_1


__ADS_2