
Abhi mengernyit dengan ucapan Rhey yang ambigu. Berawal dari Ceta, peliharaan milik Asfa dan berakhir ke dirinya yang dianggap kelinci. Memang dari sisi mana seorang Abhi menjadi kelinci? Telinga masih normal, tubuh kekar dan menjadi seorang presdir. Makanan dan minumannya pun masih sama seperti manusia lainnya. Tanpa Abhi sadari jika setiap pergerakan diawasi oleh pemilik Villa.
"Nenek bisa lihat! Bagaimana cara dia melindungi Asfa? Apakah ini yang nenek harapkan?" cecar Alvaro dengan kesal.
Nenek Ara memijat pelipisnya. Abhi terlalu jauh dari jangkauan Asfa. Bagaimana Abhi akan mendapatkan Asfa, jika sikapnya hampir 50 persen tak menyatu dengan ketegasan Asfa. "Biarkan selama tiga hari dia bebas. Kamu bisa mengajarinya dengan caramu!"
Alvaro mengangguk dengan usul neneknya. Keduanya kembali memperhatikan bagaimana cara Abhi merawat Ceta, berbeda dengan Rania yang harus terpenjara di ruangan IT. Tapi wajah gadis itu justru berbinar seperti bintang berkelip dimalam hari. "Finally aku belajar lebih banyak."
"Selesaikan tugas ini dalam satu jam!" tukas seorang wanita dengan paras sangar, satu goresan panjang ada di pipi kiri wanita itu.
Rania sejenak merasa kasihan. Tapi tatapan tajam justru menjadi balasannya. "Jangan kasihani aku! Aku tidak butuh dikasihani."
"Maaf. Biar aku kerjakan." cicit Rania dengan perasaan bersalah.
Rania sibuk dengan angka dan huruf. Berbeda dengan Asfa yang kini justru tengah memandangi pasien disamping tempat duduknya. Jika boleh memilih, pasti akan lebih baik berkata jujur. "Duke, tugasmu fokus pada rumah sakit utama dan kesembuhan tante Aliska. Pastikan tante Aliska tidak kabur lagi! Dan selidiki siapa yang membantunya kabur."
"Siap Queen." jawab Dominic tanpa mengalihkan fokusnya menyetir.
Seorang pasien dengan gangguan trauma berat, tidak akan menemukan tempat dengan benar. Tante Aliska selama hampir lima belas tahun mengalami gangguan jiwa, hingga pengobatan mulai bekerja dan mengurangi halusinasi ibunda Rania setelah kedatangan dokter spesialis. Tapi kondisi yang membaik bukan berarti keadaannya stabil. Karena kenyataannya tante Aliska masih bergantung pada obat-obatan.
Dan untuk datang ke perusahaan RA company, sungguh itu diluar nalar. Terlebih Perusahaan RA company baru berdiri beberapa tahun, harusnya tante Aliska berkunjung ke perusahaan Aranda. Yang pasti memori tante Aliska masih tersisa jika menyangkut perusahaan Aranda.
Tapi siapa yang bermain di balik kembalinya tante Aliska? Itulah yang menjadi pertanyaan Asfa, seseorang tengah bermain dibelakangnya. Dan itu menjadi masalah yang harus segera diselesaikan, sebelum semuanya terlanjur menjadi bencana.
Perjalanan selama satu jam lebih. Hingga mobil memasuki halaman sebuah rumah sederhana dengan taman bunga bermekaran. Asfa segera membantu Dominic untuk membawa pasien masuk kedalam rumah itu, suasana yang hening dengan jarangnya penduduk sungguh membuat kedamaian tersendiri. "Duke, jemput dia. Aku sudah kirim share lock."
__ADS_1
"Okay queen." jawab Dominic dan kembali memasuki mobil meninggalkan rumah sederhana itu.
Asfa membawa kursi roda pasien masuk kedalam rumah, rumah sangat terawat. Karena itu salah satu rumah untuk istirahat anak buahnya, ketika melakukan patroli di wilayah terdekat. Asfa membawa pasien ke salah satu kamar untuk dibaringkan, tentu saja pasien dalam pengaruh obat tidur. "Istirahatlah malam ini akan jadi malam mu."
Menunggu waktu berlalu. Asfa memilih melakukan pekerjaan daring, memeriksa semua laporan perusahaan dan cabang perusahaan. Ditambah laporan dari mafia Phoenix. Semua menjadi seperti daftar bahan makanan, mata Asfa hanya tertuju pada layar ponsel. Scroll atas ke bawah, geser kesamping selama hampir tiga jam. Tangannya terasa kaku, diletakkannya ponsel pintar miliknya diatas meja. Secangkir kopi pun tandas tak bersisa didepan Asfa. "Inilah hasilnya jika terlalu lama libur."
"Sebaiknya ka Varo yang memimpin perusahaan Aranda. Tapi bagaimana membujuknya ya? Huuft kenapa lebih rumit membujuk kakak ku, dibandingkan rumus peretasan." desah Asfa memejamkan matanya.
Tubuhnya terlalu lelah untuk menambah beban fikiran saat ini, perlahan kesadaran Asfa semakin tenggelam. Menjemput mimpi yang sempat terputus.
Mata terasa sangat berat, tapi tangan terasa ada yang menyentuh lengannya. Perlahan Asfa membuka mata dengan malas. "Eeuum. Sudah lama?"
"Baru queen, maaf membangunkan anda. Apa tugasku?" tanya seorang wanita dengan pakaian yang jauh berbeda dari penampilan sebelumnya.
Asfa menunjuk satu kamar dengan jarinya. "Periksa keadaan pasien. Dan ya, malam ini buatlah pasien menjadi segar. Keahlian meriasmu semakin terlatih bukan, dokter Hanna?"
Mata Asfa melirik jam di dinding. Masih pukul 5 sore, artinya masih ada waktu 2 jam lagi. Rasa lelah membuat matanya sayu, tapi langkah kakinya memilih bersiap di kamar lain. Tidak mungkin dirinya berpakaian yang sama untuk acara malam ini.
Satu jam membuat Asfa keluar dari kamar dengan penampilan yang lebih anggun, gaun hitam berenda dengan lengan tiga perempat menjadi pilihannya. Tak lupa topeng hitam menutupi wajahnya. Dokter Hanna terlihat sudah duduk di ruang tamu dan berbincang dengan Dominic, Asfa membiarkan itu dan beralih ke kamar tempat pasien berada.
Seorang wanita dengan rambut terurai, gaun panjang menjuntai warna merah maroon dengan lengan panjang brukat sempurna melekat di tubuh pasien. Riasan yang menutupi wajah pucat pasien sungguh patut di acungi jempol. "Bagaimana perasaan mu?"
Pasien mengalihkan tatapan kosong ke arah Asfa. Terpancar rasa kagum dimata pasien ketika menatap Asfa, tapi Asfa memilih mengabaikan hal itu. Dan duduk di samping pasien dengan santainya.
"Nikmatilah malam ini. Lepaskan semua bebanmu, obat terbaik adalah bersama orang-orang terkasih. Jadi tersenyumlah. Karena senyuman mu juga alasan dia bahagia." tutur Asfa dengan lembut.
__ADS_1
"Tapi bagaimana jika setelah operasi aku tidak selamat?" tanya pasien dengan wajah khawatir.
Asfa terdiam sejenak. Dengan satu gerakan, kini tangan Asfa menggenggam tangan pasien. "Maka buatlah malam ini tak terlupakan. Aku bukan Tuhan. Aku hanya berusaha, tapi ku harap keputusan mu lebih bijak. Karena kini alasan dia lebih banyak untuk terjatuh."
"Maafkan aku. Seharusnya aku yang menjadi pembimbing, tapi semua berbalik. Kamu dewasa terlalu cepat, tapi sungguh dia beruntung memiliki putri seperti mu. Terimakasih telah memberikan kesempatan untuk mengenalmu, nak." tutur pasien dengan senyuman tulus.
Asfa mengangguk. "Ayo kita pergi. Jangan sampai penjara terbuka."
"Hehehe kamu ini. Bagaimana penjara terbuka jika sipirnya saja bebas tugas." canda pasien dengan menggandeng tangan Asfa meninggalkan kamar.
Asfa merasa lega ketika wanita di sampingnya sudah lebih tenang. "Biar ku gantikan tugasnya. Supaya penjara tetap terkunci."
"Queen." panggil Dominic dan Hanna bersamaan.
"Duke, antar kami ke Villa Delima. Dokter Hanna, kamu ikut kami!" titah Asfa dan langsung disambut dengan tindakan Dominic.
Tangan pria itu membukakan pintu untuk semua wanita agar keluar dari rumah. Berbeda dengan pintu masuk ke mobil, dimana Dominic hanya membukakan pintu untuk Asfa dan pasien. Sedangkan Hanna duduk di kursi depan, mobil meninggalkan rumah sederhana itu. Menyusuri jalanan di tengah kumandang Adzan. Lampu pinggir jalan dan pertokoan sudah menyala, kerlap kerlip di luar tak membuat percakapan didalam mobil terhenti.
Asfa masih sibuk melakukan pekerjaan daring, pasien memilih menyandarkan kepalanya ke belakang. Dominic dan Hanna sepakat untuk fokus menatap jalanan malam. Berbeda dengan satu sosok pria kekar, penampilan pria itu sungguh sudah maksimal. Dengan celana biru tua, kemeja biru muda ditambah sweater biru navy, rambut di tata rapi dan senyuman yang tak lekang oleh waktu.
Setelah berjam-jam membuat jamuan special. Waktu masih saja berputar dengan lambat. Ingin rasanya mempercepat waktu, berulang kali melihat isi pesan dari ponselnya.
Hufft. Kenapa disaat seperti ini justru kamu tidak ada di rumah! Kamu kemana? Bagaimana jika keduluan putri ku! Kenapa aku jadi gugup.~ batinnya dengan mondar-mandir seperti setrikaan.
Ting.. Tong…
__ADS_1
Suara bel, membuat detak jantungnya meloncat. Seperti ada yang mengejutkan dirinya. Melalui interkom, ternyata hanya seorang satpam penghantar bucket bunga pesanannya. Pintu dibuka. "Dari toko bunga Mekar?"
"Bukan pak. Ini dari...." tukas pak satpam dengan serius.