My Secret Life

My Secret Life
Bab 66: Peduli


__ADS_3

Tiiiiiin....


Suara klakson itu membuyarkan pandangan mendamba Rania dan bergegas memasuki mobil sport merah yang terlihat sangat mengkilap, baru kali ini dirinya memasuki sebuah mobil yang hanya cukup untuk dua orang saja. Sedangkan queen memilih berkonsentrasi memacu kendaraan nya dan membiarkan gadis di samping nya travelling di dalam fikiran nya itu, waktu yang sudah mengakhiri makan siang membuat perasaan tak tenang menghampiri nya.


"Seharusnya menggunakan heli saja, astaga Asfa ayolah naikkan kecepatan mobilnya." batin queen dengan monolog tak karuan.


Mobil yang melaju semakin cepat membuat Rania berseru seperti anak kecil dan itu hanya membuat Asfa geleng-geleng kepala dengan tingkah remaja yang baru memiliki KTP, perjalanan yang seharusnya membutuhkan waktu satu jam setengah menuju mansion nya berhasil terpangkas lima puluh menit. Sebuah gerbang langsung terbuka begitu plat nomer mobil terdeteksi dan para bodyguard yang menjaga gerbang hanya menunduk hormat membiarkan mobil sport merah memasuki halaman mansion.


"Turun!" perintah Asfa dan langsung di lakukan oleh Rania.


Terlihat gadis itu menatap bangunan di depannya, tidak semegah mansion tempat tinggalnya selama sebulan terakhir tapi bangunan di depannya juga tak kalah mewah. Terlihat dari banyak nya kaca besar yang terpasang menjadi dinding, sedangkan Asfa harus bersabar melihat tingkah remaja itu dan meninggalkan nya di halaman depan.


"Bunda titip anak baru di depan mansion." ucap Asfa menekan satu nomer melalui jam di tangannya yang tersambung ke earphones di telinga nya.


Langkahnya memasuki sebuah kamar bawah, setelah pintu terbuka terlihat pria itu tengah bersandar dengan mata yang masih diperban. Tapi telinga nya bisa mendengar suara sepatu dengan hak tak seberapa, suara yang di hasilkan terbilang cukup pelan tapi langkahnya pasti.


"Apa yang terjadi?" tanya pria itu dengan menghirup aroma buah strawberry yang semakin mendekat.


"Don't many give me questions, wait little time. You will know everything." jawab Asfa melepaskan topengnya dan meletakkan nya di atas sebuah meja rias.


"Apakah perasaan ku saja,seperti nya sosok manis polos istriku berganti dengan aura yang berbeda? Apa yang tidak bisa ku lihat tapi aku bisa merasakannya." ucap Abhi dengan menghela nafas.


Bukannya menjawab tapi tangan mungil itu justru melepaskan alas kaki nya dan mendekati suaminya, dengan sebuah alat kecil yang kini ada di genggaman tangannya. Tanpa permisi , tangan mungil itu kembali memeriksa keadaan suaminya dan memastikan analisi untuk yang terakhir kalinya dan lihat lah pria itu diam dengan sendirinya.


"Bersiaplah, malam ini operasi kedua mu." ucap Asfa setelah setengah jam melakukan pemeriksaan dan beberapa terapi.


"Operasi apa lagi? Bukankah hanya di butuhkan terapi? " hanya Abhi.


"Apa dengan melihat sudah cukup bagi mu?Tidakkah kamu ingin berjalan lagi? " tanya balik Asfa dengan duduk di sebelah suaminya dan gadis itu menghadap ke arah Abhi.


"Kedua nya penting untuk ku, lakukan apapun yang menurutmu baik untuk ku. Aku percaya kamu istriku." ucap Abhi tanpa keraguan.


"Hmm." jawab Asfa.


"Bisakah bertemu papa dan bunda? Aku merindukan mereka." tanya Abhi dengan nada yang sendu.


Tanpa menjawab , tangan mungil itu mengambil benda pipih yang tergeletak di atas nakas dan itu adalah ponsel suaminya. Ponsel yang tidak di lengkapi keamanan apapun, sungguh ceroboh bagi seorang pemimpin perusahaan. Mencari nomer tujuan dan mendial nya, sebelum panggilan di mulai terlebih dahulu ponsel itu disambungkan ke earphones di telinga Asfa dan melakukan panggilan suara.


"Bicaralah dengan mereka, aku harus memeriksa pekerjaan ku." ucap Asfa memasangkan earphones ke telinga Abhi dan meletakkan benda pipih itu di atas nakas.

__ADS_1


"Tidak bisakah tetap disini?" tanya Abhi sembari menunggu telepon tersambung.


"Aku ingin memeriksa team dokter, jadi tenangkan dirimu." jawab Asfa melepaskan tangan nya yang di pegang Abhi.


Hanya pasrah tapi setidaknya istrinya itu selalu melakukan permintaan nya tanpa keluhan dan kini sambungan telepon terdengar tersambung dan ada suara dari seberang. Terdengar suara bunda nya yang langsung mengucapkan kata rindu untuk nya dan di sambung dengan suara papa nya dengan antusiasnya. Asfa yang memang belum menutup pintu melihat perubahan wajah suaminya, terlihat ada kebahagiaan di dalam suara dan ekpresi bibir pria itu.


"I hope everything will be fine." batin Asfa dan menutup pintu dengan pelan.


Langkahnya menuju ke sebuah ruangan yang akan menjadi tempat operasi nanti malam, pintu itu hanya menggunakan card access tapi tidak berlaku untuk Asfa karena setiap pintu yang memiliki password maka dengan retina biru mata nya itu semua akan terbuka dengan sendirinya. Ruangan yang besar dengan alat-alat yang sudah tertata sesuai tempat nya, obat-obatan dengan beberapa hasil penelitiannya juga berjajar di satu lemari kaca khusus.


"Ada perlu apa anda ke ruangan ini? " tanya seseorang yang baru saja memasuki ruangan itu.


"Nothing." jawab Asfa dan memilih untuk keluar.


"Apa sih yang hebat dari nya? Wajah nya saja sangat polos dan terlihat lemah. Aal kenapa kamu berubah." gumam orang itu dan ikut keluar dari ruangan operasi.


Terlihat seorang remaja tengah sibuk bermain air di pinggir kolam renang dengan kaki nya dan ada senandung yang terlihat menggerakkan bibir remaja itu, rambut panjangnya hanya sepinggang tapi berwarna hitam legam dan angin menerbangkan sedikit membuat helaian rambut itu menutupi wajah nya.


"Mau ke mall? " tanya seseorang dari arah belakang.


"Maauuu." jawab remaja itu tapi tindakannya terbilang ceroboh dan tubuhnya tidak bisa seimbang hingga saat kedua kaki nya sudah bediri di pinggir kolam renang akhirnya terjatuh tanpa persiapan.


"Astaga, ayo naik." ajak orang yang tadi bertanya dengan mengulurkan tangannya.


Dengan senang hati remaja itu mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan penolongnya, mata biru itu selalu membuat nya terpesona. Bahkan bulu mata lentik itu semakin menambah keindahan mata mungil yang mungkin mendapatkan pembagian terakhir di dalam alam lain, menyadari remaja itu menatap nya tanpa berkedip sedikit pun membuat kulitnya merinding.


"Jaga pandanganmu! " ucap Asfa dengan melepaskan tangannya setelah remaja itu keluar dari kolam renang.


Tidak mempedulikan pandangan aneh remaja itu, Asfa berjalan memasuki mansion dan memberikan perintah pada seseorang untuk menyiapkan kebutuhan remaja itu selama tinggal di dalam mansion nya, sedangkan remaja itu hanya seperti ekor yang mengikuti kepala nya melangkah.


"Doc, dia akan sekamar dengan mu. Untuk beberapa hari ke depan, Rania ikuti apapun perintah docter Bia." ucap Asfa dan melangkah kan kaki kembali namun terdengar langkah yang masih mengikuti nya.


Dengan berbalik dan alis yang di naik kan, di pandangnya remaja yang ternyata tidak mau jauh dengan nya itu. Terlihat jelas mata hazelnut itu memelas seakan tidak ingin berpisah dari nya, dan mata itu berhasil menarik sedikit rasa peduli di dalam hati Asfa.


"Pergilah dengan docter Bia, setelah pekerjaan ku selesai, kita bisa pergi ke mall." ucap Asfa dengan lembut.


Ntah apa yang membuat nya bersikap lebih lunak dengan remaja itu, sesaat sebuah bayangan menghampirinya dan itu mencubit sudut hati nya. Bayangan itu membuat hati nya lebih dingin tapi remaja di depannya adalah gadis yang berbeda dan tidak seharusnya menyamakan setiap orang dengan tabiat yang sama.


"Queen.Aku ingin bersamamu." cicit remaja itu dengan menautkan kedua tangannya di depan dada, terlihat tangan itu saling meremas.

__ADS_1


"Kembali lah ke mansion papa jika kamu membantahku! " ucap tegas Asfa dan berjalan meninggalkan remaja serta docter Bia yang hanya diam menyaksikan drama itu.


"Hiks.. hiks.. hiks." isakan Rania yang langsung di sambut sebuah pelukan hangat docter Bia.


"Ikutlah dengan ku dan dengarkan queen, queen sudah cukup banyak memiliki masalah. Jangan kita menambah beban tanggungjawab nya.Ayo." ajak docter Bia mengajak remaja itu menuju kamar nya.


"Cih sikapnya itu membuat ku semakin yakin pasti gadis itu pemimpin yang angkuh dan sombong." ucap seseorang yang ada di sudut dengan gelas di tangannya.


"Seperti nya ada yang bosan hidup, jaga lidahmu jika masih ingin bisa berbicara. " sindir orang lain yang langsung melengos pergi dengan gelengan kepala nya.


Bukannya menciut tapi wajah nya semakin masam mendengarkan sindiran seorang bodyguard yang sudah pergi berlalu menuju ntah kemana, hingga waktu menjelang malam terlihat penjagaan lebih di perketat. Beberapa orang dengan jas putihnya memasuki satu kamar bawah yang sudah terbuka, dan terlihat dua makhluk yang saling berpegangan tangan.


"Sudah waktu nya, kami akan membawa pasien." ucap wanita dengan rambut yang terlihat menjadi satu.


"Lakukan saja dok." jawab Asfa dan melepaskan pegangan tangannya.


"Kamu mau kemana? " tanya Abhi yang heran dengan sikap istrinya dimana sering menghilang tanpa kabar.


"Relax! I am always in your side." jawab Asfa dan mengangguk sebagai isyarat mengizinkan para docter membawa suaminya ke ruangan operasi.


Kepergian para docter dan suaminya membuat gadis itu melangkahkan kaki nya meninggalkan kamar bawah dan kembali ke kamar nya, sejenak menatap pantulan tubuhnya yang sudah berganti pakaian. Pakaian yang selama ini hanya tersimpan di tempat yang aman dan harum, jas putihnya dengan gelar yang bisa membuat orang lain tahu kegeniusan nya. Tidak ada keraguan di dalam dirinya tapi dengan menunjukkan wujud aslinya, sudah pasti akan ada akibatnya dan mungkin akan menciptakan masalah baru.


Sedangkan di ruangan operasi tengah terjadi perdebatan lirih namun masih terdengar di telinga Abhi, terdengar para dokter seperti mencemaskan sesuatu dan ntah kenapa hati nya akan lebih tenang ketika ada istrinya di sisihnya.


"Dimana dokter utamanya? Apa operasi tidak jadi malam ini? " ucap wanita dengan rambut terikat nya.


"Dia akan datang di saat waktunya bukan sebelum ataupun sesudah." jawab pria yang baru masuk ke ruangan operasi.


"Aal." ucap ke empat docter dengan serempak menatap pria yang kini sudah menunjukkan profesinya.


Jas putihnya semakin membuat pria itu bersinar dengan ketampanan yang tak kalah dengan pasien mereka kali ini, pria itu mendekati team nya dengan tenang seakan kedatangan dokter utama yang di tunggu tidak mempengaruhinya. Tapi wajah tegang jelas terlihat dari team nya, tentu saja mereka tegang karena operasi malam ini mereka hanya menjadi assistant dokter utama.


Dokter yang ntah siapa dan seperti apa tapi menurut mereka pasti lah dokter itu genius karena ke empat makhluk itu pun merasakan migran setelah melihat berkas kasus pasien kali ini. Jadi tidak mungkin salah satu di antara ke empat makhluk itu melakukan operasi tapi seperti nya wajah pemimpin mereka santai seperti menikmati pantai.


"Apa ada masalah? " tanya Abhi yang merasakan ketegangan dari atmosphere sekilingnya.


"Ayo mulai operasi nya." ucap seseorang dengan suara berat yang memasuki ruangan dan menutup ruangan langsung.


Semua menatap ke arah pintu masuk dan melihat rambut tergulung ke atas dan jas putih lengan panjang membalut tubuh mungil dan lihat lah sepatu sneakers boots hitam yang membuat sosok itu terlihat lebih tinggi. Tapi jantung para makhluk siap terlepas dari tempat nya begitu sosok itu berbalik dan tatapan mata tajam dengan wajah dingin kecuali Alvaro yang justru tersenyum dengan sangat manis.

__ADS_1


__ADS_2