
Tok.. tok.. tok..
Kaca mobil belakang terbuka kembali, wajah yang seperti dikenali Abhi. Wajah oriental dengan paras bule namun datar dan pakaian casual membukakan pintu mobil.
"Pergilah! Dari sini tanggungjawab ku."
"No! I will stay here.(Tidak! Aku akan tetap disini.)" tukas Zain.
"As you wish!(Sesuai keinginan kamu!)" cetus Justin dan memberikan kode pada Abhi untuk turun dari mobil.
"Gunakan ini!" perintah Justin.
Mata Abhi melotot melihat kursi roda di samping Justin. "Apa maksud semua ini?"
"Siapa yang meminta queen untuk berhenti sandiwara?" sindir Justin dan menggeser posisi kursi roda agar Abhi mau duduk manis.
Tentu saja sebagai assisten tetap. Justin tahu dengan perjanjian Asfa dan Abhi, karena itu juga menyangkut keberlangsungan dua perusahaan sekaligus. Terlebih sekarang tugasnya berpindah tempat.
Seperti sebuah alarm pengingat saja. Justin membuat Abhi bungkam, Zain yang mendengar perdebatan itu justru terkekeh geli. Bayangkan saja, Abhi baru bisa berjalan lagi tapi harus diam layaknya patung.
Zain membiarkan Justin membawa Abhi ke dalam lift khusus pemimpin, niat hati ingin ikut turun namun netra matanya menangkap satu sosok di sudut parkiran. Sosok yang amat dikenalinya.
"Mau apa dia disini? Bukankah bocah itu selalu sibuk dengan melukis." gumam Zain.
Ponsel pintar yang selalu stand by, membuat Zain mendial nomer adiknya. Lovely incess Zaza.
Tuut.. tuut.. tuut..
"Ish adik tak berakhlak! Telefon ku malah di rejeck!" geram Zain memaki ponsel pintar dengan serius.
"Ekhem!"
Zain menolehkan wajah. Sosok yang tadi di lihat kini ada di depan wajahnya dan tersenyum sumingrah. "Apa?"
"Astaaga drakula! Masih saja jadi kulkas. Ayolah kita ngopi bersama," ajak seorang pemuda dengan pakaian simpel ala anak muda.
Zain melirik ke layar ponsel. "Sepuluh menit."
"Pelit amat! Ayolah jangan pelit waktu." gerutu pemuda itu.
"Yes or no?"
Brrreemm.. brrreemm..
Suara motor sport memasuki parkiran khusus dan membuat Zain melirik kearah spion mobil. Motor sport hitam dengan kecepatan normal berhenti tepat di seberang.
"Queen." gumam Zain.
"Hallo drakula!" tegur pemuda itu dengan mengibaskan tangan kanan didepan wajah Zain.
Zain membuka pintu mobil. Kaki jenjangnya seakan siap berlari. Tanpa mempedulikan pemuda di samping mobilnya. "Aku hubungi kamu nanti."
__ADS_1
"Busyet! Drakula kenapa tuh? Sabar Azam, kamu tahu kan kalau drakula kulkas over action," gerutu Azam Khan dengan mengelus dada karena tingkah Zain yang memburu sosok ntah siapa.
Lift masih terbuka dan tertutup begitu Zain memasuki lift. Dalam diam lift menuju tempat tujuan, seakan udara tak berpihak pada siapapun. "Queen."
Hanya hening tanpa jawaban, sungguh diam adalah musuh utama Zain. Diam dengan orang lain masih it's okay. Tapi diam dengan pujaan hati, sungguh tak sanggup hatinya.
Tiiing...
"Bawa lainnya ke ruangan rapat!" perintah Asfa.
Bibir cembetut yang membuat banyak mata terpesona, justru tak dipedulikan Zain. Meskipun perintah Asfa tidak pernah dibantah, tapi hati dan fikiran tidak bisa fokus jika pujaan hati tengah mengabaikan keberadaannya.
Kepergian Zain, membuat Asfa melangkahkan kaki ke ruangan khusus. Dimana ruangan itu digunakan untuk menjadi pusat control seluruh gedung ABF Company.
*Accepted code. Welcome Queen.* (Kode diterima. Selamat datang Queen.) ~ suara mesin pemindai password.
Pintu yang tertutup sebuah lukisan mawar merah terbuka secara perlahan, seorang pria beruban masih duduk terpaku di depan beberapa layar virtual. Dengan santai Asfa melangkahkan kaki dan masuk mengunjungi tawanan pribadinya. "Hai paman? Apa kabarmu hari ini?"
"Sehat. Apa hukuman ku sudah selesai?" tanya Diego dengan ketus.
Asfa melepaskan helm fullface dan jacket hitamnya, menghampiri bayangan tuan Luxifer. "Hari terakhir! Ayo bekerjasama."
Kata bekerjasama sangatlah menarik perhatian ku tapi aku masih mengingat kejadian kemarin. ~ batin Diego dan semakin membuat mimik wajah kesal.
Melihat ekspresi Diego yang masih sana jutek membuat Asfa terkekeh geli. "Hehehe paman jangan cemberut. Aku bukan papa, so. Don't test my patience.(Hehehe paman jangan cemberut. Aku bukan papa, jadi. Jangan uji kesabaran ku.)"
"I know Queen Asfa Luxifer. (Aku tahu Queen Asfa Luxifer.)" tukas Diego membuang nafas kasar.
Triiing...
"Apa ini sulit?" tanya Asfa setelah suara login sistem selesai.
Diego menatap Asfa yang masih saja mengamati setiap CCTV di ABF Company. Wajah manis mungil dengan gaya pakaian anak muda. Tapi siapa sangka di balik wajah polos itu, justru tersimpan kegeniusan dan jiwa pemimpin sejati. "Aku harap Naura melihat pertumbuhan mu."
"Biarkan mama tenang. Jangan bicara seperti ini di depan papa! Aku tidak ingin mendengar keraguan papa lagi." tegas Asfa menatap Diego dengan tatapan dalam tanpa ketajaman.
Mata biru jernih Asfa memancarkan ketulusan, kasih sayang tanpa kebohongan. Mata yang selalu tajam dan tegas terlihat sendu meskipun hanya sesaat. Asfa memalingkan wajahnya, Diego bangun dan memberikan pelukan hangat sama seperti seorang ayah untuk putrinya.
"Tenanglah. Kamu Xifer kami, ingat. Xifer." bisik Diego.
Asfa merasakan kehangatan sama dari Diego, meskipun Diego bayangan tuan besar. Tetap saja Diego menjadi assisten pribadinya, tapi Asfa menempatkan Diego di tempat khusus. Dan menjadikan pria uban itu ayah angkat.
"Rapat segera dimulai. Pergilah, Nak." tukas Diego.
"Kirim video Azam ke ponsel ku!" perintah Asfa dan mengambil topeng hitam di dalam peti kaca.
Diego mengangguk dan membiarkan Asfa pergi. Jemarinya mulai melakukan perintah nona muda Asfa, sedangkan diruangan meeting terlihat di penuhi wajah ketegangan.
"Welcome to Mister Damond, Mister Asley and Miss Riska.(Selamat datang Tuan Damond, Tuan Asley dan Nona Riska.)" sambut Justin dengan cool.
"Where Queen?(Dimana Queen?)" tanya Miss Riska.
__ADS_1
Justin paham kenapa klien menanyakan keberadaan Asfa. Tapi tidak dengan Abhi. "Queen?"
"Queen will come late.( Queen akan datang terlambat.)" ucap Justin dan menutupi suara gumaman Abhi.
"Okay duke. Than now?(Baiklah duke. Lalu sekarang?)" cetus Mr. Asley.
Ceklek...
Suara pintu terbuka. Membuat semua orang di dalam ruangan meeting mengalihkan padangan serempak. Hingga mata orang yang baru masuk terlihat serba salah.
"Sorry. Aku salah masuk."
Berbeda dengan Zain. Tatapan mata Zain tak lepas dari orang yang baru masuk. Posisi Zain sangatlah aneh, dengan berdiri di sudut ruangan dan dapat dipastikan seperti patung pajangan.
Ku harap ini hanya perasaanku saja. Semoga.~ batin Zain dan tetap diam di tempat.
...~~~~~...
.
.
. Hay readers 👋
. othoor harap kalian sehat dan selalu bahagia 🤲
.
.
. Othoor udh ajuin Crazy Up. Tapi ntah masuk atau gknya kurang paham.
. Tapi kali ini othoor mau bilang.
. Proses revisi masih berlanjut, hanya saja slow ya.
. Kelas plus PR nya harus sesuai jadwal. Tapi tenang othoor selalu up. 🤭🥰
.
.
. Btw soal pic. Baik itu Babang Abhi, Babang Zain, Babang Alvaro dan semua boy di Novel My Secret Life. Udah tetap ya visualnya.
. PR ku justru visualnya Queen Asfa Luxifer (Gada yang cocok dengan imaginasi ku 🤦♀️)
. Othoor gak mau pindah ke lain hati.. 🤭
(Azam Khan 👇)
__ADS_1