
"Shut up!" Asfa menekan suaranya agar tidak keras. "Wina ada bersama rekanku. Mobil kalian ada di luar sana, tapi aku mau kamu balik ke truk! Tunggu sepuluh menit nyalakan mesin, lalu putar arah. Jangan pedulikan apapun! Tabrak gerbang, lalu lompat lah dari pintu sisi lain. Nyawamu di tanganmu."
"Apa maksudmu? Dimana Wina?" tanya Dirga khawatir.
"Duke, Ready!" ucap Asfa tanpa peduli pertanyaan pria di sampingnya.
Bukannya mengikuti perintah Asfa. Dirga justru masih stay menunggu jawaban atas pertanyaannya. Hingga pintu ruangan besi terbuka. Lalu seorang pria keluar dan terkejut dengan keadaan di luar bangunan markas.
"Apa yang terjadi?!" serunya menggema.
Sabar, Asfa. Kasih pelajaran Dirga nanti saja. Now just focus!~batin Asfa memejamkan matanya sesaat.
Fokusnya kembali lagi, dan kali ini lebih meningkatkan kewaspadaan. Setelah memperhitungkan langkahnya. Suara dari seberang terdengar hitungan mundur, dan itu dari pasukannya. Itu berarti markas mafia Dark Cobra sudah dikepung.
"Listen me! Kamu sayang nyawamu 'kan? Ikuti jalan lurus ke sana, tunggulah di ujung! Saat mendengar suara tembakan beruntun. Jangan coba-coba keluar dari tempat persembunyianmu!" jelas Asfa, dan berlalu menyingkir sebelum mendapatkan bantahan dari Dirga.
Tindakan Asfa, membuat Dirga melongo tidak percaya.
"Apa dia baru saja memberikan perintah pada komandan detective seperti ku? Aish yang benar saja." racau Dirga dengan telunjuk jari menunjuk ke wajahnya sendiri.
Asfa masih melakukan langkah mengendap-endap untuk mencapai titik lain. Tanpa peduli pada Clovis yang kini sibuk menyebarkan seluruh pasukan untuk kembali bersiaga. Tubuh mungilnya mampu menyesuaikan di manapun tempat persembunyian hingga dari balik sebuah kotak kayu setinggi satu meter setengah. Asfa memperhatikan situasi di depannya.
"Bawa pasukan yang terluka ke ruangan bawah tanah! CEPATLAH!" seru Clovis dengan tangan mengepal.
Langkah pria itu berjalan mundur, tanpa sadar terhenti akibat ada kotak kayu di belakangnya. Kesempatan itu tidak di sia-siakan Asfa. Pistol yang menyembul di saku celana Clovis menjadi targetnya.
__ADS_1
Asfa keluar dari persembunyian dengan salto sehingga kakinya menghantam pundak Clovis, tangannya tak luput ikut menyambar pistol pria itu, lalu di todongkan tepat di kepalanya. Senyuman manis tersungging di bibir seorang Queen. "Bangun!"
"Siapa kamu? HAH!" seru Clovis nyalang.
Asfa mengoper pistol ke tangan kiri nya, lalu mengangkat tangan kanannya agar para preman berhenti di tempat. "Satu langkah kaki kalian, satu tembakan menjadi hadiahku."
Clovis tak mengindahkan peringatan wanita di depannya, "SERANG!"
Door!
"Aaarrggghhh..... KAU!"
"Shuuut .Apa kalian ini TULI? MUNDUR!" Queen memberikan perintah dengan aura intimidasi nya, membuat suasana menjadi tegang.
Queen yang benar-benar menembakkan satu peluru tepat di kaki kanan Clovis karena pasukan preman melangkahkan kaki mereka setelah mendapatkan perintah sang pemimpin. Tanpa rasa takut, wanita itu berjalan mendekati Clovis yang terbaring dengan memegang satu lutut berdarah yang pastinya disertai rasa sakit luar biasa.
"Aku tidak tahu." jawab Clovis memutuskan kontak mata.
Queen memainkan pistolnya seraya menyunggingkan smirk dengan tatapan tajam. "Tidak tahu, ya? Apa kabar dengan istri kedua mu? Haruskah aku kirimkan jiwanya ke surga sebelum jiwamu?"
Seorang pemimpin mafia mana mungkin tidak tahu kelemahan para musuhnya. Bahkan setiap pion pun harus dimasukkan list agar setiap rencana tidak sia-sia. Prinsip seorang Queen Asfa selalu rumit, dan tidak ada yang bisa menebaknya.
Pernyataan Queen, membuat mata Clovis membulat sempurna. Tatapan pria itu mendelik tajam, tapi tak memberikan efek apapun bagi seorang queen. "Matamu bisa lari, jika melotot. Katakan, dimana KONTRAK LAKNAT itu disimpan?"
"Di dalam markas, tapi hanya bos yang tahu tempat penyimpanannya." jawab Clovis jujur.
__ADS_1
Queen menepuk pundak Clovis, tekanan dari setiap tepukan jelas tak ada bedanya dari setoran pria. Rasa penasarannya seketika merayap masuk ke dalam hatinya. "Siapa kamu?"
"Who i'am?" tanya balik Queen dengan mengedikkan bahu. "Aku kasih kalian satu kesempatan untuk selamat. Masuklah ke dalam truk itu, dan diamlah! Jika tidak mau, pilihan kedua tetaplah disini dan coba sekuat tenaga kalian untuk menghentikan aku."
Dua pilihan, satu berdiam diri dan satunya melawan. Apa keuntungan dari tiap-tiap pilihan itu? Jika pada akhirnya tiada juga. Queen menyadari dilema Clovis sebagai pemimpin harus memberikan keputusan yang tepat.
"Hubungi istrimu! Temukan jawaban akan dilema mu. Sementara itu, singkirkan semua pasukan mu dari hadapanku! Satu perintah ku, semua END." jelas Queen tanpa ekspresi.
"Minggir! Biarkan dia lewat!" seru Clovis membuat semua pasukan preman membuka jalan agar wanita penakluk pemimpin mereka bisa lewat.
Wajah cemas Clovis tak bisa di pungkiri. Rasa sakit di kakinya tak lagi dirasakan, dan bergegas mengambil ponselnya untuk menghubungi sang istri. Sambungan telepon langsung terjawab. Bukan hanya suara istrinya saja, tapi ada suara orang lain dari seberang. "Tenang, istriku. Aku akan menyelamatkan mu. Jaga dirimu."
"Kalian semua dengarkan aku. Kumpulkan semua pasukan!" seru Clovis setelah mengakhiri panggilan singkatnya.
Suara langkah kaki saling berebut, perlahan merapat hanya dengan kode siulan yang saling bersahut-sahutan. Hitungan lima menit, seluruh pasukan preman sudah berkumpul di depan Clovis yang kini duduk di atas kotak kayu seraya menekan lukanya agar tidak mengeluarkan darah lebih banyak.
"Semua pasukan sudah berkumpul, Bang." lapor salah satu preman yang paling tua.
Clovis menarik nafas dalam, bukannya ingin melepaskan tanggung jawab. Akan tetapi situasi kali ini, tidak seperti biasanya. Seorang musuh mudah di lumpuhkan jika hanya menggunakan otot, tapi tidak dengan musuh yang menggunakan otak dan otot bersamaan.
"Lex, kamu setir mobil truk itu, dan lainnya cepat masuk ke dalam bagian belakang truk!" titah Clovis, membuat para pasukan preman saling pandang.
"Bang, kita dibayar untuk bekerja. Bukannya melarikan diri....,"
"Siapapun yang STAY, silahkan." Clovis berdiri dengan satu kaki sebagai tumpuan tubuhnya. "Jika wanita itu bisa menahan istriku. Maka kemungkinan besar salah satu keluarga kalian juga ditahan. Apa sekarang kalian paham, apa maksudku?"
__ADS_1
Kejujuran Clovis membungkam pasukannya, tanpa membantah lagi. Satu persatu pasukan itu membubarkan diri untuk masuk ke dalam truk yang ternyata tidak ada muatan apapun. Sementara di dalam markas Agen J baru saja berhasil membujuk Tuan Mahendra untuk meninggalkan markas bersamanya melalui pintu lain yang hanya diketahui pria paruh baya itu, sedangkan Wina ditinggalkan dalam keadaan terikat di kursi menunggu kehancuran markas Dark Mafia.
S!al kenapa aku harus percaya mereka? Lagian apa pengaruh topeng itu? Mana pria model hanya membuatku jadi umpan. Aaahhh s!al benar-benar s!al. ~ batin Wina seraya berusaha melepaskan talinya.