My Secret Life

My Secret Life
Bab 174: Ikatan Batin


__ADS_3

Abhi mendial nomor sang bunda, nada sambung panggilan terdengar. Namun, berulang kali di coba tidak ada yang menjawab. Semakin di coba, perasaan Abhi semakin tak menentu. Entah kenapa kini pikiran dan hatinya terpecah menjadi dua bagian. Wajah cemas Abhi terlihat jelas, bahkan kedatangan Leo tak dihiraukan.


Leo menatap Abhi dengan heran, kenapa bosnya itu terlihat gelisah dan ponsel berulang kali diletakkan di telinga. Sudah hampir tiga menit, tapi Abhi masih terlihat sibuk sendiri dengan ponsel di tangan.


"Bos?"


Abhi mengalihkan fokus dan menatap Leo, sebelum beranjak bangun mata birunya melirik Aliska. Nafas yang teratur dengan mata terpejam. "Syukurlah sudah tertidur."


Perlahan Abhi melepaskan tangan Aliska, dan berjalan menghampiri Leo dengan isyarat tangan agar keluar dari kamar. Keduanya meninggalkan kamar yang ditempati Aliska. Pintu ditutup dengan pelan. Leo menunggu Abhi bicara setelah berdiri di depan kamar.


"Aku akan pulang, jaga wanita itu. Entah kenapa hatiku gelisah, mana kunci mobilnya?" ucap Abhi mengulurkan tangan.


"Biar aku saja yang ke rumah bos, kalau wanita itu bangun trus ngamuk. Aku tidak berani….. " ujar Leo.


"Bukan waktunya untuk berdebat! Aku harus pulang. Kabari aku jika wanita itu mengamuk." tukas Abhi.


Leo memberikan kunci mobil. "Baiklah. Hati-hati dijalan bos. Jangan ngebut."


Abhi menerima kunci dan berjalan meninggalkan Leo tanpa memberikan jawaban, Leo bergegas mengambil ponsel dan mendial sebuah nomor. Sambungan telepon tersambung, dan seseorang terdengar berdehem. "Kirim orang ke rumah kediaman Bagaskara, Abhi pulang tanpa pengawal."


Begitu panggilan berakhir Leo menjauhkan ponsel dari telinganya, mau mengeluh juga percuma. Sebagai seorang asisten dua orang sekaligus, rasa nano-nano menjadi makanan sehari-hari. Sembari menjaga wanita di dalam kamar, Leo memilih masuk ke kamar sebelah dan menyalakan layar komputer untuk melakukan pekerjaannya.


Sementara Abhi baru saja masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin mobil dan memulai perjalanannya. Hati dan pikiran tak lagi sinkron, hanya ada kecemasan. Earphones di telinga menyala, dan ponsel masih berusaha melakukan panggilan. Sudah dua puluh kali panggilan dilakukan, tetapi tidak satupun panggilan dijawab sang bunda. Laju mobil semakin cepat membelah jalanan kota, tidak peduli dengan umpatan para pengguna jalan lainnya.


"Ayolah, kenapa lambat sekali." gumam Abhi.


Di persimpangan terjadi kecelakaan lalu lintas, membuat Abhi harus menurunkan laju mobil dan berhenti di ruas jalan karena kemacetan yang terjadi. Abhi membunyikan klakson beberapa kali, membuat seorang petugas polisi menghampiri mobil Abhi.

__ADS_1


Tok!


Tok!


Tok!


Abhi menurunkan kaca jendela, dan kepala pria anggota polisi menunduk. "Apa kamu tidak melihat ada kecelakaan di depan? Untuk apa klakson berulang kali."


"Sudah?" Abhi menatap polisi dengan nama Wiryo.


"Kamu ini berani dengan petugas negara? Sepertinya aku harus memberikan hukuman…."


"Apa aku menabrak orang? Atau aku melakukan pelanggaran lain? Akan aku ingatkan apa gunanya seorang petugas negara, atau harus aku panggil komandan Hisyam?" sela Abhi.


Abhi mengambil ponsel dan mengubah nomor tujuan, nama Pak Hisyam tertera di layar dan sengaja Abhi perlihatkan pada Wiryo. Wajah Wiryo terlihat pucat, dan gugup. Panggilan tersambung dan suara seorang pria terdengar menyapa Abhi dengan sopan. "Selamat sore Tuan Abhi. Ada yang bisa kubantu."


"Terima kasih tuan, saya akan meninjau kasus itu." jawab komandan Hisyam.


Abhi menutup panggilan, dan meletakkan ponsel ke tempat semula. Wiryo menunduk, dan wajahnya masih pucat. "Sebagai aparat jangan bertindak sesuka hati, jika ingin memberikan hukuman lakukan dengan benar. Pergilah!"


"Maafkan saya tuan, saya permisi. Di depan ada gang dan tembus ke jalan sisi selatan, anda bisa melewati jalan itu." jelas Wiryo.


Abhi mengangguk dan kembali menutup kaca mobil, Wiryo membantu membukakan jalan agar mobil Abhi bisa mencapai gang yang dimaksud olehnya. Satu suara klakson terdengar, Wiryo melambaikan tangan dan kembali bertugas. Abhi melewati gang yang cukup untuk satu mobil dan sisa ruas jalan untuk pejalan kaki, laju mobil terlalu pelan.


Di tempat lain, aliran darah segar masih mengalir di sudut bibir seorang wanita. Tidak ada angin ataupun hujan, tiba-tiba saja sang suami datang dan mendobrak pintu. Memberikan penyiksaan yang tidak tahu apa alasan di balik tindakan kasarnya itu. Wajah penuh amarah yang nampak jelas, dengan deru nafas cepat. Tangan kekar pria yang berkacak pinggang di depan wanita itu, masih terasa tertinggal di pipi sang wanita.


"Apa salahku mas?" tanya sang istri menatap nanar suaminya.

__ADS_1


Pria itu mengalihkan tangan dan berjongkok, mencengkeram dagu sang istri dengan tatapan jijik. "Kamu penyebab cintaku melarikan diri, jangan kamu pikir aku bod0h. Wanita seperti mu tidak pantas menjadi nyonya besar! Ck. Seharusnya aku singkirkan kamu sejak lama," Pria itu melepaskan cengkraman tangan dan kembali berdiri.


Tatapan mata nanar wanita itu berubah menjadi luka dan sendu, ucapan yang selalu sama dari bibir sang suami semakin menghujam jantung tanpa ampun. Setelah semua yang dikorbankan, tetap saja di mata sang suami tidak ada artinya. Semua sia-sia dan hubungan yang terjadi selama bertahun-tahun hanyalah sebuah topeng belaka. Demi reputasi keluarga.


"Ceraikan aku!" ucap wanita itu dengan mengusap darah di sudut bibirnya.


Bagaikan bensin di siramkan ke api. Permintaan sang istri semakin mendidihkan amarah di hatinya. Tangan itu kembali melayang dan memberikan stempel kemarahan.


Plak!


Plak!


Bruuug!


Wanita itu tersungkur dan mencium lantai dingin dengan pipi memanas. Sakit dan perih fisiknya menusuk hingga ke dalam hati. Tidak ada lagi tempat untuk cinta dan rasa hormat untuk sang suami. Kini semua berakhir, bukan air mata yang turun menetes. Senyuman di bibir menahan tekanan batin, seakan menjadi pelipur lara. Langkah kaki pria dengan status suaminya itu menjauh menuju pintu.


"Kamu adalah tamengku. Jangan berpikir akan lepas dari ku, sampai aku mendapatkan yang ku mau. Kamu tetap menjadi tawanan ku. Ingatlah ini Aliya." Pria itu keluar dengan membanting pintu.


Braaak


Suara keras itu menyadarkan Aliya, tubuhnya terasa remuk redam. Tidak ada lagi yang tersisa, penyiksaan bahkan semakin sering dilakukan Mahendra. Rasa sakit tidak lagi dirasakan, sayup-sayup terdengar suara klakson mobil. Ada rasa rindu yang melanda, pasti itu putranya.


Susah payah Aliya bangun dan menyandarkan tubuhnya agar bisa menetralkan perasaan dan juga rasa sakit yang semakin terasa menjalar di dalam tubuh. Perlahan Aliya menahan tubuh dan berdiri, tidak peduli rasa ngilu akibat luka di pagi hari dan tamparan keras di sore hari.


Aku harus kuat demi putraku, hingga aku bertemu dia. Hanya dia yang bisa membantu ku, Aliska sudah kabur dan pasti mas Mahendra melampiaskan amarahnya padaku.~batin Aliya membuka lemari dan mengambil pakaian tertutup.


Sepuluh menit kemudian, suara ketukan pintu terdengar dan wajah tampan dengan mata biru menyembul melihat ke dalam kamar. Langkah kaki yang terdengar masuk dan berhenti dibelakang seorang wanita tengah menghadap jendela. Pelukan kerinduan dengan senyuman manis terbit di bibir keduanya. "Ingat bunda, Nak?"

__ADS_1


__ADS_2