
Aku rasa sudah waktunya untuk membuat guncangan. Cinta sudah ditanganku dan harta ku sudah lebih dari cukup. Akhirnya semua impianku akan tercapai. Dan target utama ku adalah kamu pria brengsek! Luxifer.~ batin Mahendra dengan mengepalkan tangan hingga kukunya memutih.
Seakan merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi, Luxifer terbangun dengan perasaan tak karuan. Mimpi buruk yang datang, menimbulkan rasa cemas. Apapun yang akan terjadi, mungkin lebih buruk dari sebelumnya. Tatapan matanya tertuju pada Asfa yang terbaring dan masih setia menjadi putri tidur. "Sebaiknya aku memulai rencana ku."
Tanpa melihat waktu, Luxifer berjalan meninggalkan kamar sang putri dan kepergiannya, membuat mata terpejam terbuka. Asfa terbangun dan perlahan melepaskan alat bantu pernafasan yang menutup hidungnya. Dengan meregangkan tangan dan kepala, Asfa menghentikan beberapa peralatan medis yang menjadi sumber kehidupannya. Infus ditangan juga dicabut dengan paksa. Wajah pucat dengan tubuh lemas dipaksa untuk bangun dan berjalan mendekati sebuah lukisan.
Sebuah lukisan tebing dengan lautan yang luas, lukisan dimana hewan kesayangannya berada. Asfa menggeser lukisan ke samping kanan dan sebuah papan kode akses masuk terlihat. Beberapa nomor ditekan dan terdengar sebuah gesekan yang cukup keras, Asfa membenarkan posisi lukisan dan berjalan memasuki kamar mandinya. Di dalam kamar mandi, bathup sudah berdiri dan menunjukkan sebuah ruangan menjorok ke bawah.
Dengan langkah gontai dan tangan merapat di dinding, Asfa berjalan mendekati jalan bawah tanah yang menjadi salah satu tempat rahasia. Langkah demi langkah, hingga lampu di ujung tangga terlihat. Sebuah lukisan yang sama terpasang samping lampu. Sekali lagi Asfa menggeser lukisan dan memasukkan password, suara benda bergeser kembali terdengar dan cahaya dari atas hilang.
Tangan Asfa masih merapat di dinding dan itu menjadi tempat sandaran, sungguh tubuhnya masih tak kuat untuk berjalan. Namun, tidak ada waktu lagi untuk menunggu esok. Membiarkan semua orang tahu dirinya koma adalah jalan yang terbaik. Semakin memasuki lorong bawah tanah, lampu semakin terlihat banyak yang menyala. Dari beberapa ruangan, Asfa menuju satu ruangan kaca dengan fasilitas medis yang lengkap.
Ceklek
"Kenapa harus seperti ini? Apa tidak ada cara lain?" sambut seorang pria dengan jas putih yang menyongsong Asfa dan segera memapah tubuh lemah pasiennya.
Hening…..
__ADS_1
"Mau pilih yang mana?" tanya dokter dengan wajah dingin.
Asfa menggigit bibir bawahnya. Setelah perjuangan dari kamar ke lantai bawah, tenaganya terkuras banyak. "Apa bisa sekali pakai dosis yang level lima? Jika bisa, itu saja."
"Are you crazy?! Ini bukan obat sembarangan, apa kamu lupa dengan hasil penelitian? My doll, aku setuju denganmu bukan berarti, aku menuruti kegilaan mu." tukas Alvaro dengan wajah memerah.
Asfa menghela nafas, bagaimana membuat kakaknya paham. Saat ini bukan waktunya berdebat, apalagi memikirkan resiko dari tindakannya. "Ka! Tidak ada jalan lain, bukankah kita seharusnya bersyukur. Lihatlah aku masih bernafas, akan tetapi keadaan tidak bisa diajak kompromi. Jika kakak mau, baiklah aku akan hidup tenang tanpa semua tanggung jawab seperti saat ini. Tapi, biarkan aku menyelesaikan tanggung jawab ku terlebih dahulu."
"Tanggungjawab mana? Perusahaan? Mafia? Hubunganmu? Apa kamu tahu, setiap tindakanmu seperti skakmat. Kakak tahu selama ini selalu menghindari tanggung jawab, tapi sekarang kakak siap bertanggung jawab. Bisakah kita hadapi setiap masalah bersama?" Alvaro menggenggam tangan Asfa dengan tatapan memelas.
Asfa menghela nafas, percuma berdebat ketika dirinya tak sanggup menyelesaikan segalanya seorang diri dan lebih baik sementara mengalah. "Baiklah berikan sesuai dengan dosisnya. Selama aku terbaring, kakak tahu harus berbuat apa."
"Diego pasti bisa mengatasinya. Minta Diego untuk melakukan rapat dengan Justin dan juga Dominic, bawa Abhi kembali ke rumahnya. Biarkan suami ku sibuk dengan pekerjaan, sisanya kakak tahu harus berbuat apa." jawab Asfa dan memejamkan mata, sesuatu menusuk tangannya.
Alvaro menekan bekas suntikan dengan kapas. "Sudah. Istirahat lah, kakak akan memindahkan mu setelah satu jam. Jangan pikirkan apapun lagi saat ini. Get well soon my doll."
Cup
__ADS_1
Satu kecupan kening dengan kasih sayang, Alvaro menyelimuti tubuh Asfa dan membiarkan adiknya terlelap setelah penyuntikan penawar racun merah delima. Sembari menunggu Asfa, Alvaro masih meracik beberapa bahan untuk cadangan obat. Beruntung dirinya menyadari pergerakan adiknya, jika tidak sudah pasti Asfa melakukan semuanya sendirian.
Aku harus lebih waspada. Doll bukan singa yang bisa ditaklukkan, sebaiknya aku terima saran nenek. Perusahaan biar Rania dan nenek yang mengurus, sementara itu aku akan stay menjadi bayangan adikku. Ma, do'akan Varo agar kali ini tidak gagal lagi menjadi seorang kakak yang bertanggung jawab.~batin Alvaro sesekali melirik kearah Asfa.
Waktu berlalu dengan cepat, mata Alvaro masih terjaga dan sebentar lagi pagi akan tiba. Melihat Asfa masih terpengaruh obat penawar, dengan pelan Varo menggendong Asfa dan berjalan meninggalkan ruangan bawah tanah. Tentu saja melalui jalur dimana Asfa datang. Sementara di tempat lain, seorang wanita masih enggan membuka mata meskipun alarm berbunyi dengan nyaring.
"Eeuugghh. Malasnya, sudah berhari-hari percuma aku bekerja. Kapan aku bertemu pangeran ku? Rasanya aku hidupku mati rasa tanpa gairah. Bolos saja hari ini, nanti gampang cari alasannya." racau wanita di balik selimut dan kembali memejamkan mata.
Mata berat dan niat kuat, membuat wanita itu kembali berlabuh dalam mimpi. Waktu berlalu dengan cepat, dan sering ponsel berulang kali terdengar. Sekali, dua kali hingga tiga kali masih diabaikan. Barulah panggilan tiada henti mengusik ketenangan mimpi indahnya. Tangannya meraba atas nakas tanpa melihat, benda kotak pipih di ambil dan mengintip sedikit dari balik selimut. Dengan menggeser icon hijau dan menempelkan ponselnya di telinga, sontak jiwanya terbangun dengan teriakan delapan oktaf dari seberang.
"Baik. Saya akan datang satu jam lagi." jawab wanita itu dengan gugup.
Tanpa mempedulikan jawaban dari seberang, wanita itu menutup telepon. "Situ bukan bos! Kenapa buat hidupku ribet? Awas aja kalau aku jadi nyonya besar, kamu yang pertama kali aku tendang."
Dengan muka masam dan bibir mengerucut, wanita itu beranjak dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi. Tanpa mempedulikan waktu, wanita itu memanjakan diri dengan busa. Di tempat lain sebuah kehebohan tengah terjadi, dengan pendaratan sebuah heli di halaman. Para karyawan yang sudah mulai melakukan aktivitas berhenti dan menanti siapa yang datang dengan kendaraan wow itu.
Heli masih menyala dengan baling-baling berputar, pintu terbuka dan sepatu mengkilap keluar dari dalam heli. Tubuh yang tegap terbalut pakaian formal kemeja hitam dengan jas biru navi, dasi putih melekat di leher dan kacamata hitam, penampilannya seperti seorang CEO.
__ADS_1
"Selamat datang, selamat bekerja."