
Setelah menghela nafas, Asfa membenarkan posisi duduknya dan mengambil satu bantal untuk menahan rasa nyeri di perut. "Retas perusahaan RA Company!"
Perintah Asfa, membuat Vans menutup laptop dan menatap tanya pada peri kecilnya. Untuk apa meretas perusahaan sendiri, kan bisa masuk tanpa perlu meretas. Tidak habis pikir dengan jalan pikiran satu anak ini, selalu saja ada hal baru. Asfa sadar dengan tatapan mata Vans, alis terangkat dan bibir merapat.
"Lakukan saja, tidak akan terjadi apapun. Aku ingin tahu seberapa jauh perkembangan Tuan Muda Burhan."
Jawaban Asfa, membuat Vans mengangguk paham. Laptop kembali dibuka dan Vans mulai melakukan pekerjaan yang diminta peri kecilnya. Kedua tangannya bekerja diatas keyboard melakukan peretasan pada laman perusahaan milik Asfa, setiap huruf dan angka yang Vans masukkan hanya diamati oleh Asfa.
Dari awal setiap kode yang dimasukkan oleh Vans seperti langkah dirinya melakukan peretasan, hingga beberapa menit kemudian. Kode berganti dengan rumus baru. "Apa ini perkembangan yang terbaru?"
"Benar, beberapa bulan lalu ada peretasan dan membuat kakek kalang kabut. Jadi…"
Melihat ekspresi wajah Vans. Asfa paham apapun yang membuat kalang kabut kakek rambut putih itu, pastilah ulah cucunya sendiri. "Apa aku harus memberitahu kakek Burhan tentang kejahilan Ka Vans."
"Berani kamu?" tantang Vans dan menekan enter karena proses peretasan telah selesai.
Asfa hanya tersenyum jahil dan mengambil alih laptop. Vans ingin mencegah, tapi Asfa lebih cepat. "Giliran, Ka. Jangan curang ya."
"Baiklah, sepuluh menit. Sebelum virus tersebar." ucap Vans.
Asfa menatap Vans sesaat dan kembali fokus pada laptop di pangkuannya. "Apa Ka Vans siap memberikan apapun keinginan ku?"
"Tanpa tantangan pun, pasti aku turuti kemauanmu. Sudah, fokus dulu. Waktu semakin berjalan." jelas Vans.
Jemari Asfa mulai menari di atas keyboard. Bukan lagi fokus, senyuman manis juga terbit di bibir wanita yang masih pucat. Terlihat keseriusan dan juga senandung kecil keluar dari bibir Asfa. Vans yang melihat keceriaan peri kecilnya ikut tersenyum lega, jika dengan hal sederhana membuat Asfa bahagia. Maka apapun akan dirinya lakukan demi senyuman itu.
Vans yang memilih menikmati keceriaan Asfa, tidak menyadari jika Asfa dengan cepat mengembalikan virus yang melanda sistem perusahaannya. Tanpa menunda, Asfa memindahkan laptop di atas pangkuan Vans. "Lima menit."
Hening….
__ADS_1
Tidak ada jawaban, membuat Asfa menatap Vans. Pantas saja tidak ada jawaban, pria yang diajak ngobrol justru menatap dirinya tanpa berkedip dan pasti itu otak travelling entah kemana. "Door!"
"Eh, copot. Asfa…."
"Ampun, Ka. Habis kakak itu ngapain ngalamun coba? Mau kakek Burhan kalang kabut lagi?" ujar Asfa melirik ke arah laptop.
Vans mengikuti lirikan mata Asfa dan kaget melihat sistem perusahaan miliknya terkena virus. Tanpa menunda lama, Vans bergegas melakukan pencegahan dan berniat membalikkan virus pada si pengirim. Asfa melihat setiap kode di layar laptop, beberapa kode ada yang salah. Mungkin dalam keadaan panik, membuat Vans tidak fokus.
"Kemari!" titah Asfa mengambil alih laptop.
"But…." protes Vans.
"Where your focus?(Dimana fokus mu?)" tanya Asfa dan memulai melakukan penghapus virus yang dirinya kirim.
Vans menggaruk kepala, pasrah saja dan memperhatikan cara Asfa bekerja. Jemari mungil itu masih saja berselancar dengan cepat tanpa hambatan. Setiap kode yang dimasukkan masih terlihat asing, pelajar terakhir bukan kode itu. "Apa tingkatan mu sudah berubah lagi, sejak terakhir kita beradu?"
"What happened?" Tanya Vans.
Asfa memejamkan mata. "Forget it. Ka temani aku besok melakukan survei dadakan, bisa?"
Sejauh apapun hubungannya dengan Vans, tetap saja ada aturan dari Keluarga Burhan yang tidak bisa di langgar. Asfa tahu Vans adalah Tuan Muda Burhan dan menjadi sahabat, sekaligus seperti seorang kakak baginya. Namun, bisnis yang digeluti sewaktu-waktu bisa menjadi masalah tak berujung. Untuk itu, melibatkan Vans tidak bisa setiap saat.
Vans menutup laptop dan meletakkan di atas nakas, kini tatapan Vans tertuju pada Asfa. Melihat situasi, sudah pasti Asfa tidak bisa keluar dari dalam kamar apalagi mansion. Jika ingin keluar, harus memiliki alasan yang tepat.
"Give me reason.(Beri aku alasan.)" pinta Vans.
"I have to do some of the last cooperation before the end of the year.(Aku harus melakukan beberapa kerjasama terakhir sebelum akhir tahun.)" jawab Asfa.
Vans mengambil tangan kanan Asfa, membuat pejaman mata peri kecilnya terbuka dan menatap dirinya.
__ADS_1
"Mau bertemu dengan kakek?" tanya Vans.
"Why not. If that can make me outdoor. (Kenapa tidak. Jika itu bisa membuat saya di luar ruangan.)" jawab Asfa.
Vans mengangguk paham dan mengusap kepala Asfa. "Istirahatlah, efek obatmu sudah lebih baik. Jangan sampai kakakmu memenggal kepala ku. Sweet dream peri kecilku."
Asfa menurut dan mengubah posisi,Vans membantu Asfa merebahkan tubuhnya. Pejaman mata Asfa, membuat Zain turun dari ranjang dan menyambar ponsel di atas nakas. Mencari nomor terakhir dan mendial icon panggilan. Nada tersambung dan langsung terangkat. Wajah Vans berubah memerah dan menjauhkan ponselnya dari telinga.
Niat hati ingin bicara dari hati ke hati, justru sambaran petir yang didapat. Ceramah sang kakek terasa semakin pedas seperti boncabe level 50 Max end. (Hehe othoor mah gak berani coba level ini 😁 dan ternyata ini boncabe level terbaru, bener gak ya? 🤔)
Selama hampir satu jam, Vans dengan setia menjauhkan ponsel dan membiarkan sang kakek berbicara panjang kali lebar. Hampir saja tertidur, untung didepannya ada Asfa yang terlelap dengan senyuman manis.
[Vaaans!]~ panggil Kakek Burhan.
Bergegas Vans mengambil ponsel dan menaruh di telinga. "Kek, inget umur. Bisa bertemu besok, ada yang mau Vans kenalkan."
[Apa peri kecilmu sudah bersedia bertemu kakek?]~tanya Kakek Burhan.
"Anggap saja seperti itu. Bisa?" jawab Vans, tidak mungkin mengatakan jika pertemuan dilakukan demi menuruti permintaan peri kecilnya.
[Ditempat biasa dan waktu bagaimana?]~tanya kakek Burhan.
"Sore saja, tempatnya lumayan jauh dari sini. Selamat istirahat, Kek." jawab Vans.
Percakapan di akhiri, Vans menatap Asfa sejenak sebelum ikut beristirahat. Sementara di tempat lain di tengah kebisingan musik yang menggelegar, membuat dua orang pria berjalan berpindah tempat. Keduanya memilih memesan satu ruangan VVIP dan menyewa beberapa wanita malam untuk melayani dan menemani sepanjang malam.
"Jadi apa yang bisa aku bantu?" tanya pria rambut sebahu, menyibakkan rambut dan membiarkan seorang wanita bergelayut manja di pangkuannya.
Satu gelas di hentakkan ke meja, pria yang menolak disentuh wanita malam itu memilih melepaskan jasnya dan melemparkan ke sembarangan arah. "Ayo bekerjasama."
__ADS_1