My Secret Life

My Secret Life
Bab 73: Kembali melihat


__ADS_3

Sekali lagi di buka amplop coklat yang masih ada di genggaman tangan nya, sebuah surat penyerahan perusahan yang akan resmi menjadi milik nya setelah dirinya bisa membuat kontrak kerjasama dengan sebuah perusahan. Tapi dirinya masih tidak tahu apa pun tentang perusahan yang akan menjadi kunci penyerahan perusahan papa nya, dengan tekad yang kuat membuat hati lelah nya kembali bangkit.


"Come on Rei, you can do it." ucap Rei dengan menepuk dada nya sendiri.


Tanpa berganti pakaian, di ambilnya laptop di atas meja kaca nya dan memasuki halaman pencariaan yaitu goggle yang bisa memberikan segala informasi dalam waktu singkat. Dengan menekan satu persatu huruf yang ada di dalam kepala nya, kini sebuah tulisan yang menjadi fokus pencarian telah memasuki kolom pencarian dan dengan menekan enter beberapa yang cukup membuat pusing muncul satu persatu.


"Oh my gosh, what is this." gumam Rei dengan mengerjapkan mata nya beberapa kali.


Tok.. Tok.. Tok..


"Masuk." ucap Rei sembari menatap layar laptop nya.


Ceklek..


"Tuan muda ini ada beberapa berkas yang harus anda pelajari dan apa pun yang anda ingin tahu silah kan tanya kan pada saya." ucap seorang wanita dengan penampilan sexy namun tetap memiliki sopan santun.


"Terimakasih tante Yesi, mohon bimbingan nya." jawan Rei dan menerima berkas.


"Tuan muda, percuma saja mencari profil perusahan RA Company di dalam google, yang ada hanya berita hoaks dan tidak bermutu. Baca berkas yang saya berikan saja. Itu lebih konkrit." ucap tante Yesi yang tak sengaja melihat sekilas tulisan di laman pencarian tuan muda nya.


Di lama itu tertulis, asal-usul perusahan RA company. Kalau boleh tertawa sudah pasti wanita dengan umur kepala empat itu akan tertawa keras, tuan muda nya seperti seorang pelajar yang tengah mencari referensi tapi salah sasaran. Tapi sesuai pesan tuan besar seminggu yang lalu jika dirinya ditugaskan untuk menjadi sekretaris tuan muda selama posisi pemimpin di alih kan ke putra tunggal tuan besar nya, dan dokter yang memberikan kabar keadaan tuan besar siang ini menjadi kan nya mendatangi mansion dengan berkas yang memang sudah di siapkan tuan besar nya satu bulan lalu itu.


"Tante Yesi? " panggil Rei yang tidak mendapatkan respon atas pertanyaan nya.


"Ya tuan muda, ada apa? " tanya tante Yesi dengan menggaruk kepala nya yang tidak gatal.


"Bisa jelas kan seperti apa perusahan RA company itu dan apa saja yang harus aku hindari jika ingin membuat kerjasama dengan perusahan itu? " tanya Rei sekali lagi.


Sebelum menjawab tante Yesi memilih menarik sebuah kursi dan duduk di sebelah tuan muda nya, di ambilnya sebuah berkas yang penting. Setelah membaca semua point dan peraturan yang ada di dalam proposal itu, terlihat garis halus muncul di wajah yang masih terlihat segar itu.

__ADS_1


"Menurut proposal ini, tante hanya bisa menyimpulkan jika perusahan itu tidak menerima pengkhianatan dan bertindak sesuka hati. Yang tante tahu selama ini perusahan itu salah satu perusahan terhebat dari yang terbaik, rumah sakit utama juga milik pendiri perusahan itu. Tapi sosok pemilik perusahan itu yang tidak bisa di toleransi, tante juga pengen lihat seperti apa pemilik perusahan itu tapi sayang." ucap tante Yesi dengan wajah kecewa.


"What happened? " tanya Rei.


"Queen tidak pernah menunjuk kan wajah nya di public, hanya assistant pribadinya yang sangat terkenal bahkan perusahan tuan Vicento pun masih kalah pamor dengan pria bertopeng itu." jawan tante Yesi dengan tatapan penuh harap.


"Jadi pemilik perusahan itu seorang wanita? Bagaimana dengan umur nya, siapa tahu kita bisa memberikan hadiah yang istimewa." ucap Rei dengan fikiran terlogis nya.


"Tidak nak, tidak ada yang tahu berapa umur queen. Semua hanya tahu RA company milik seorang queen dan assistant pribadinya duke Justin yang selalu menjadi wakil untuk semua urusan di dalam perusahan. Tapi ada yang mengatakan jika queen memiliki wajah yang mungkin tidak cantik maka nya menggunakan topeng tapi tante tidak percaya itu dan jangan remehkan soal keamanan karena perusahan itu memiliki lima gedung pencakar langit dengan tingkat keamanan melebihi keamanan seorang presiden." ucap tante Yesi dengan panjang kali lebar.


"Seperti nya papa memilih perusahan yang sulit untuk di jangkau, baiklah biarkan Rei mempelajari berkas nya. Tante Yesi kabari aku apa pun yang menyangkut perusahan papa." ucap Rei dan mulai mengambil berkas yang di berikan oleh tante Yesi.


"Tentu tuan muda, tante pamit." ucap tante Yesi dan berjalan meninggalkan kamar Rei.


Di dalam kamar Rei mulai berusaha yang terbaik untuk memulai debut karier nya sebagai wakil papa nya selama papa nya menjalani perawatan, sedangkan di tempat lain di sebuah ruangan dengan peralatan medis kini kesadaran seseorang telah kembali setelah menjalani operasi besar. Dari layar monitor terdeteksi pergerakan pasien membuat seseorang yang sedari tadi duduk menunggu bangkit dari sofa single yang sengaja di letakkan di sudut, langkah kaki nya terdengar lirih namun tetap membuat sebuah suara di dalam ruangan itu.


"Semua normal dan sebentar lagi perban di kepala mu akan di buka, tunggulah dia datang." ucap orang itu lagi dengan melepaskan stetoskop di lehernya.


Pintu ruangan yang terbuka tanpa suara namun tetap mengalihkan perhatian orang yang baru saja selesai melakukan pemeriksaan, gadis yang baru memasuki ruangan dengan penampilan yang cukup mengejutkan. Rasa nya ingin komplen namun melihat keadaan membuat niat komplen nya di urungkan dan membiarkan gadis itu melakukan seperti keinginan nya, dengan satu isyarat jemari lentik itu kini pekerjaan nya baru di mulai.


"Apa kamu siap dengan pembukaan perban? " tanya orang itu dengan serius.


"Siap dok." jawab pasien itu lirih tapi masih bisa terdengar.


Dengan hati-hati di gunting nya perban terluar dan perlahan lembaran perban itu mulai di lepaskan hingga menyisakan dua kapas penutup ke dua mata pasien nya, setelah melepaskan semua nya. Pasien itu masih menunggu instruksi selanjutnya dari dokter, tapi bukan suara dokter yang di memasuki telinga nya, suara lembut namun tegas dengan aroma mawar yang mulai memasuki lubang hidung nya.


"Buka lah mata mu perlahan, jangan di paksakan." ucap gadis itu dengan menggenggam tangan pasien.


Dengan perlahan kelopak mata nya terbuka, pelan dan sedikit sinar memasuki mata nya tapi pandangan nya terlihat buram. Setelah terpejam dan kembali terbuka untuk ke tiga kali nya, akhirnya mata nya bisa melihat sekitar dengan jelas meskipun masih meninggalkan rasa pusing di kepala nya.

__ADS_1


Di pandangi nya seorang gadis yang menggenggam tangan kanan nya, terlihat gadis yang selama beberapa waktu terakhir hanya terdengar suara nya dan hari ini diri nya kembali bisa melihat wajah manis nan mungil itu. Tapi ada satu beban yang membuat tatapan nya berubah tapi mengingat bagaimana perawatan gadis itu membuat hati nya ragu, mungkin kan apa yang dirinya ketahui adalah kenyataan atau hanya ada yang berniat menghancurkan rumah tangga nya.


"Selamat datang Mas Abhi, papa dan bunda akan datang sebentar lagi. Jadi istirahat lah dulu, dok bisa kah jaga suami saya." ucap gadis itu dengan senyuman manis.


"Tentu, itu tanggung jawab saya." jawab dokter dengan senyuman juga.


"Asfa tetap lah di sini." pinta Abhi dengan tulus.


"Baiklah, tapi tutup mata mu dan istirahat lah." ucap Asfa dengan mengusap wajah Abhi agar terpejam.


Hampir setengah jam akhirnya suara dengkuran halus terdengar dan dengan perlahan tangan itu di lepaskan dari genggaman tangan Asfa, satu kedipan mata membuat dokter mengikuti kepergian Asfa yang meninggalkan ruangan rawat. Begitu pintu tertutup terlihat tatapan dengan sebuah pertanyaan yang di arahkan oleh dokter, tapi kehadiran dua orang dari satu lorong membuat pertanyaan itu tertunda dan menetap di dalam kepala sang dokter.


"Nak bagaimana keadaan Abhi? Apa semua baik? " tanya bunda Aliya dengan tidak sabar.


"Mas Abhi sudah bisa melihat dan saat ini tengah ber istirahat, bunda dan papa bisa masuk tapi tunggulah sampai mas Abhi bangun jika ingin berbincang." jawab Asfa dengan tenang.


"Baiklah kami akan melihat Abhi terlebih dahulu." ucap Papa Mahardika yang menggandeng tangan istri nya untuk membuka pintu ruangan rawat.


"Ingat lah perjanjian kita, ku harap Papa dan bunda bisa memegang teguh itu." ucap Asfa dengan suara tekanan yang mampu menghentikan ke dua mertua nya untuk membuka pintu.


"Seorang pembisnis akan selalu memegang teguh janji mereka." jawab Papa Mahardika dan terlihat ada rasa terkejut dari mata nya setelah memperhatikan bagaimana penampilan menantunya.


"Bunda tidak akan mengatakan apa pun, bukan karena perjanjian tapi karena itu hak yang kamu miliki nak. Kamu istri putra ku dan menjadi putri ku, maka aku akan bersikap adil untuk kalian berdua." ucap bunda Aliya dengan senyuman.


"Silah kan masuk dan tunggu di dalam, saya akan memanggil kan dokter lainnya." ucap dokter itu dan membuka kan pintu ruangan rawat.


Setelah kedua orang tua itu memasuki ruangan dan pintu tertutup kembali, di tarik nya tangan gadis di samping nya. Gadis nya tidak melakukan perlawanan selain hanya mengikuti langkah kaki nya, langkah itu berhenti tepat setelah memasuki sebuah ruangan di dekat kolam renang. Di tarik nya sebuah kursi utama dan mendudukkan gadis nya di kursi tersebut, sedangkan dirinya memilih untuk duduk bersimpuh dengan satu tumpuan kaki kanan nya.


"Why like this? Tell me clearly! " tanya dokter itu dengan mengusap kedua tangan gadis di hadapan nya.

__ADS_1


__ADS_2