
"Ka, i hope everything is fine," Asfa kembali menambahkan kecepatan hingga mencapai batas maximal, membuat dedaunan kering di luar sana beterbangan.
(Ka, semoga semua baik-baik saja.)
Mobil melintasi perbatasan wilayah dengan kecepatan penuh. Meskipun begitu tak membuat kedua penghuninya mengalami pusing ataupun cemas. Tatapan mata fokus dengan sikap waspada sudah dalam mode on, hingga mobil mulai memasuki wilayah hutan menerjang rerumputan hijau.
"Queen!" panggil Varo dengan isyarat jari yang mengacungkan dua jari, agar kecepatan mobil mulai dikurangi.
Asfa hanya menurut mengurangi kecepatan dengan satu tangan memasukkan senapan revolver miliknya ke belakang punggung. Keduanya benar-benar sudah siap untuk melakukan pertempuran. Di saat mobil berhenti tepat di depan sebuah pohon besar. Dari arah depan, tepatnya di atas langit ada asap hitam membumbung tinggi.
"Ka, Ayo!" ajak Asfa tak bisa lagi menunggu dan bergegas keluar dari mobil, Varo juga ikut keluar.
Keduanya turun dari mobil dengan penampilan apa adanya. Tanpa baju pelindung ataupun topeng yang selalu menjadi identitas keluarga Phoenix. Langkah berlari menyusuri hutan menuju markas. Hutan adalah jalan alternatif agar keberadaannya tidak terdeteksi dan juga wilayah yang sudah dikuasai baik siang maupun malam.
"Arah jam satu," kata Varo seraya menyibak ilalang setinggi lutut, membuat Asfa langsung mengambil pistolnya.
__ADS_1
Keduanya berlari, mengendap dan sesekali melakukan lompatan hanya untuk menghindari sinar laser. Yah, sorot lampu merah yang bergerak kesana kemari dari markas bukan berasal dari anggota anak buahnya. Tetapi itu anggota lawan yang berhasil membobol keamanan penjara bawah tanah milik mafia Phoenix. Kini semua menjadi lebih buruk. Di dalam markas ada dua tawanan yang bersatu dan kini menguasai markas.
"Queen, berapa lama bantuan datang?" tanya Varo melirik jam di pergelangan tangan kirinya.
Asfa yang bersembunyi di balik pohon sisi lain memejamkan mata, "Sepuluh menit. Selama itu, kita harus menyelesaikan semua kekacauan di markas. Kakak ready?"
"Okay, READY." jawab Varo.
Kesiapan sang kakak, membuat Asfa membuka mata. Kini netra biru itu tak lagi memiliki kelembutan. Wajar dingin dengan senyuman devil mengeluarkan aura intimidasi. Begitu juga dengan Varo. Dimana pria itu tak kalah dinginnya. Langkah kaki keduanya keluar dari balik pohon. Tidak ada rasa takut, apalagi gentar.
"Huft, menyusahkan saja," gumam Varo mengibaskan tangan kirinya.
Asfa yang mendengar itu memberikan lirikan tajam, membuat Varo tersenyum tipis penuh arti.
"Kita hadapi bersama. Jangan gegabah, Ka," ucap Asfa mengingatkan.
__ADS_1
"Bukankah waktunya singkat, Queen?" tanya Varo yang sebenarnya hanya alibi agar diberikan kesempatan menumpas semua preman di depan mata.
"I know, but still don't hurry make decision," Asfa menjawab tanpa harus menjelaskan panjang kali lebar.
(Aku tahu, tapi tetap jangan terburu-buru mengambil keputusan.)
Satu kedipan mata menjadi persetujuan Varo. Sementara itu, para preman yang berdiri membentuk pagar seakan tak bisa digoyahkan menutupi pintu masuk markas. Tanpa mereka sadari, markas itu adalah milik Asfa. Maka apapun yang tersembunyi hanya sang queen yang tahu.
Senyuman devil Asfa semakin terlihat jelas dengan satu jentikan jari. Satu tombol tersembunyi di aktifkan. Getaran tanah yang terasa cukup kuat, tapi tak sampai menghancurkan markas. Hanya saja tempat dimana para preman berdiri. Tanah yang mereka pijak itu, tiba-tiba saja longsor dengan kepulan debu berterbangan.
"Toloong!" seru beberapa preman, sedangkan preman lain memberikan umpatan.
Vans yang melihat jatuhnya para preman tanpa harus mengeluarkan tenaga sedikitpun. Akhirnya dibuat melongo karena sistem keamanan dan jebakan ternyata sudah diubah adiknya. Sementara Asfa memilih berjalan mendekati tempat berlubang dengan kedalaman sepuluh meter.
"Kalian ini bodoh, atau polos?" tanya Asfa dengan sindiran pedas.
__ADS_1