My Secret Life

My Secret Life
Bab 208: Queen - Emosi


__ADS_3

Ceklek!


"Susul saja, Ka." ucap Asfa menatap Varo dengan tatapan menenggelamkan.


Varo melangkah maju, dan berhenti di depan Asfa. Tangannya terangkat dan menangkup wajah mungil dengan mata biru yang selalu menjadi kelemahan sekaligus kekuatan di dalam hidupnya itu.


"What do you want, my doll?" tanya Varo dengan tatapan serius. (Apa yang kamu inginkan, bonekaku?)


"Pertanyaan itu? Apa harus ditanyakan?" tanya balik Asfa menyingkirkan tangan Varo dari wajahnya.


Varo menarik satu kursi, lalu duduk di hadapan Asfa. Tangannya meraih tangan adiknya itu, "Semua baik, hanya ada beberapa masalah kecil di perbatasan. Sejak kepergianmu. Aku dan papa serta semua orang-orang kepercayaan mu mencoba menghandle semuanya, baik itu perusahaan ataupun mafia Phoenix."


"Kerjasama kami bahkan sudah maksimal, tapi hasilnya masih saja ada kekurangan. Aku akui bahwa diriku saja tidak bisa memimpin seperti caramu, Doll. Papa bukan membutuhkan aku sebagai putranya, beliau membutuhkan Queen putri rajanya."


''Hentikan! Apa yang kakak katakan? Kakak itu putra papa, tentu semua akan berjalan baik....,"


Varo tersenyum tipis menatap adiknya yang menatap dirinya dengan kepercayaan. "Kakak tidak pernah menyangka jika tanggung jawab di pundak adikku selama bertahun-tahun ini ternyata sangat berat. Kakak memang mengajari banyak hal, baik pelatihan fisik, mental dan juga ilmu pengetahuan. Namun, jiwa seorang pemimpin tidak bisa berbohong. Kamulah yang pantas menjadi pewaris tahta mafia Phoenix."


"Ka, aku ingin hidup sederhana." ucap Asfa.


Mata biru itu tak bisa memungkiri, jika tanggung jawab di dalam hidupnya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Akan tetapi, jika dirinya kembali pada dunia lama. Bukan tidak mungkin, kehidupan mempertemukan garis takdir yang saat ini terpisah.


"Kakak tidak akan memaksa, tapi bagaimana dengan putrimu? Mau tidak mau, princess memiliki kehidupan sama sepertimu. Dunia yang dikelilingi tipu muslihat....,"


"Aku tahu itu, Ka. Berikan aku waktu! Jika operasi berjalan lancar, kumpulkan semua orang kepercayaan ku! Hanya itu pintaku saat ini." sela Asfa yang diakhiri senyuman manis.


Varo mengangguk, lalu berdiri dan kaki kirinya mendorong kursi agar menjauh. "Ayo, kita pulang!" ajak Varo mengulurkan tangan kanannya.

__ADS_1


Asfa menyambut tangan kakaknya, dan turun dari brankar. Keduanya berjalan meninggalkan ruangan dokter Yuna.


Ceklek!


"Sudah selesai?" tanya serempak dua orang yang duduk di kursi tunggu, dengan tatapan tertuju pada pintu di depannya.


Asfa melepaskan genggaman tangan Varo, dan menghampiri Vans. Sedangkan Rania menghampiri suaminya, "Hubby?"


"My Doll, Vans, kami pergi dulu. Kabari aku secepatnya!" pamit Varo seraya merengkuh pinggang Rania agar berdiri di sampingnya.


Asfa mengedipkan satu matanya, sontak Vans, Varo dan Rania tersenyum. Itulah Queen, gadis penuh misteri yang memiliki pesona memikat.


Vans menatap Asfa dari samping, tatapan mata biru itu sangat tenang. Artinya perbincangan bersama kakaknya dapat dipastikan lancar dan tidak ada masalah.


"Sudah bosankah dengan matamu, Ka?" sindir Asfa dan berjalan meninggalkan Vans, setelah Varo dan Rania menghilang di balik lorong depan sana.


Pyaar!


Asfa mengangkat tangannya, membuat Vans berhenti dan membiarkan perinya berjalan mendekati satu ruangan yang pintunya terbuka sedikit.


"Bhi, kamu apa-apaan sih?! Ini anakmu, apa kamu tidak percaya aku?" seru Kanza dengan menggenggam tangan kanan Abhi.


Abhi melepaskan tangan wanita itu, "Bagaimana itu mungkin? Tidak!"


Kanza mengusap air mata buayanya, lalu menghampiri dokter yang memeriksa dirinya. "Dok, tolong jelaskan padanya! Kandungan ku masih dalam hitungan minggu, dan....,"


Abhi berjalan meninggalkan ruangan dokter, membuat Asfa mundur, lalu berlari dan bergegas menjauh dari tempatnya. Apapun yang baru saja dirinya dengar benar-benar seperti petir menyambar.

__ADS_1


Vans berlari mengikuti arah tujuan perinya. Langkah kaki yang terlalu cepat menghilang di dalam keramaian, membuatnya kehilangan jejak Asfa. "Ouh, **!!*!" Umpat Vans seraya menarik rambutnya.


Vans hilir mudik mencari keberadaan Asfa, bahkan dirinya harus menghindari Abhi yang melewati salah satu lorong rumah sakit.


Emosi yang membara dengan penyesalan yang begitu dalam di rasakan Abhi, membuat pria itu berjalan tanpa arah meninggalkan rumah sakit. Langkahnya menyusuri jalan raya tanpa tujuan yang jelas.


Tanpa Abhi sadari dari arah berlawanan. Sebuah mobil pick up melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi, sedangkan langkah pria itu justru berjalan menyebrang jalan raya dengan pandangan mata kosong.


Jarak semakin dekat, tapi Abhi masih saja berjalan tanpa peduli sekelilingnya.


Tiiin!


Tiiin!


Tiiin!


Abhi terhuyung karena satu tarikan tangan seseorang, tubuhnya berguling-guling di aspal dengan tatapan mata tak berkedip. Rambut bersurai merah dengan mata biru di dalam pelukannya itu memberikan sengatan listrik yang mengalir di dalam jantungnya.


Ciiit!


Braak!


"Woy, gila ya? Bunuh diri jangan di tengah jalan, sono di rel kereta!" seru sopir pick up dengan sungut yang tak nampak.


Abhi menahan gerakan, membuat tubuh keduanya berhenti dengan posisi dirinya di atas. Tanpa peduli teriakan orang di seberang sana. Rasa haus selama beberapa bulan perlahan sirna, tatapan mata itu sangat dirindukan.


"....,"

__ADS_1


"Bangun!"


__ADS_2