
Menunggu penghuni nya kembali, langkah kaki nya menghampiri jendela yang tertutup tirai. Dengan satu dorongan jendela itu terbuka membawa kesegaran alam, dengan pemandangan langit yang cerah, di bawah sana terdapat taman bunga yang memang di rancangnya.
*Cepatlah datang boneka tersayangku.* batin nya memandang jejeran bunga di bawah sana.
Menunggu cukup lama hingga langit menjadi mendung di atas cakrawala, di liriknya jam hitam yang terlihat mewah melingkar di pergelangan tangannya. Hampir 1 jam dari waktu pertama kali dirinya memasuki kamar tapi sang pemilik kamar masih belum keluar dari kamar mandi, meskipun dirinya tahu kebiasaan gadis itu tapi setelah mendengar apa yang terjadi sedikit membuat nya cemas.
Dengan berbalik berniat untuk kembali memasuki kamar, namun langkah yang belum di mulai terhenti ketika melihat sosok yang amat di rindukan dengan santai nya berjalan memakai handuk menutupi tubuhnya dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang telah tersedia diatas tempat tidur nya.
Dilihat nya gadis itu melirik ke setiap sisi hingga mata biru dengan ketenangan itu memancarkan binar kebahagiaan dengan kerinduan ketika bertemu pandang dengan mata yang di cari nya, terlihat langkah kaki nya berlari menerjang udara untuk segera merengkuh sosok yang ada di depan sana.
Greeeb...
"Kakaaak" seru gadis itu dengan semangat sembari memeluk seorang pria yang sudah merentangkan kedua tangannya dengan senyuman termanis di bibirnya.
"Boneka ku, kakak merindukanmu." bisik pria itu dengan lembut sembari mengelus kepala Asfa.
"Me too, kenapa kakak tidak bilang jika hari ini datang? " tanya Asfa melepaskan pelukan nya.
"Bukankah papa sudah bilang? " balik tanya pria itu dengan santai.
"Baru pagi ini, apa papa... " tanya Asfa berhenti melihat kakaknya.
"Tenanglah, keadaan mu sudah baik. Tapi kita harus memastikan tetap baik, hanya kamu dunia kami. Kamu paham Queen Asfa Luxifer? " ucap pria itu menopang wajah Asfa dengan kedua telapak tangannya.
"I know." jawab Asfa dengan tersenyum.
Keduanya menikmati waktu bersama dengan penuh cinta tanpa menyadari seorang pria paruh baya telah berdiri di belakang kedua nya dengan perasaan hangat, benar keputusan nya untuk memanggil anak tiri nya kembali. Yah sosok yang selalu di sebut dengan Dia adalah putra tiri namun tidak pernah sedetik pun di anggap sebagai anak tiri, karena dalam waktu singkat kehadiran pria itu dapat di terima putri nya, terlebih berkat tangan pria muda itu pula kini putri nya bisa hidup lagi.
Sebuah kenangan yang membuat nya menjadi seorang ayah tidak memiliki keadilan untuk kedua anak nya, bukan karena dirinya tak mampu tapi karena penolakan yang dilakukan putra nya itu. Memang benar pemuda tampan dengan jarak usia lima tahun dari putri nya itu bukan anak kandung nya melainkan anak pertama dari mendiang istri nya dimana dulu putra nya memilih untuk di sekolah kan di sebuah asrama di luar negeri dan hidup mandiri.
__ADS_1
Sesuai kesepakatan dimana putra nya itu tidak ingin di kenal oleh siapapun selain keluarga nya sendiri, hingga hari dimana dirinya membawa putri nya ke sebuah mansion di tengah hutan di luar negeri untuk pengobatan. Mansion yang menjadi tempat tinggal putra nya selama beberapa tahun terakhir setelah pendidikan nya berakhir, disanalah akhirnya putri nya terbangun dari koma dan menjalani berbagai terapi alam dan pelatihan fisik dari kedua ahli senjata, IT dan kedokteran.
"Apa papa tidak merindukan ku?" tanya pria muda itu yang menangkap siluet tuan besar.
"Alvaro Caesar. Nama yang bagus bukan? " ucap tuan besar dan menghampiri putra beserta putri nya.
"Itu benar pa, tapi nama ku lebih bagus. Iya kan ka? " jawab Asfa dengan mengedipkan satu mata nya pada kakaknya.
"Apapun yang membuat mu tersenyum boneka ku." ucap Alvaro dengan mengangguk.
"Apa kabar mu nak? Bagaimana dengan masalah disana? " tanya tuan besar mengalihkan topic yang lebih serius.
"Semua baik pa, tidak ada masalah." jawab Alvaro sembari memberikan isyarat dengan menggerakkan bahu ke papa nya untuk tidak melanjutkan obrolan itu.
"Seperti nya tercium bau tidak sedap! Apa yang kedua pria tampan ini sembunyikan? " sindir Asfa yang melihat gelagat mencurigakan.
"Tidak ada nak, papa hanya dengar ada nyamuk yang mau mencuri darah kakakmu." jawab tuan besar dengan ekspresi yang sudah tidak serius.
"Lain kali saja ka, Asfa pergi dulu ok. Jaga diri papa dan kakak juga, see you(sampai jumpa)." jawab Asfa dengan seribu langkah meninggalkan tempat nya berdiri dan mengambil benda pipih di atas meja dengan satu tas yang selalu tersedia di tempat biasa.
Panggilan kedua pria tampan tak lagi di hiraukan nya, karena ada hal yang harus di selidiki sebelum terjun ke medan perang. Pasti ada yang bisa membantu nya dan tidak akan pernah menolak apapun yang di inginkan seorang Asfa, dengan sebuah kunci motor baru nya kini balutan dress di tubuhnya mengikuti setiap hembusan angin yang menerpa.
Perjalanan cukup jauh hingga membuat tangannya sedikit mati rasa setelah sekian lama tidak mengendarai moge, terlebih jalan yang di lalui nya cukup lah terjal dan harus menggunakan skill yang sudah lama tak terpakai. Hampir tiga jam di lalui nya hingga nampak barisan pohon pinus yang ada di depan sana dengan rapi menjadi jalan masuk ke sebuah pondok nan classic yang sudah lama tak di kunjungi nya, semakin dekat pondok itu terlihat sangat terjaga dan masih dengan penampilan yang sama.
Brreeem.. Ciiit...
"Non?" panggil seseorang yang terlihat terburu-buru keluar dari dalam pondok itu.
Dengan elegan Asfa turun dari motornya membiarkan helm nya tetap di kepala, dengan langkah yang cepat menghampiri pondok mendatangi sosok yang telah menunggu nya di depan pintu. Tanpa salam atau permisi langkahnya memasuki pondok dan menyabotase segala jenis peralatan elektronik yang mampu di gunakan penghuni pondok untuk menghubungi papa nya, terlihat sosok itu hanya diam memperhatikan tanpa mengeluh ataupun bertanya dengan apapun yang di lakukan oleh nona muda nya.
__ADS_1
"Kumpul kan semua orang! Hanya 15 menit." perintah Asfa dengan melepaskan helm nya membiarkan rambutnya tergerai bebas.
"Siap non." jawab sosok itu dan berjalan ke belakang untuk melakukan perintah nona muda nya.
Sembari menunggu, di ambilnya benda pipih yang ada di dalam tas nya dengan sesekali memeriksa pekerjaan yang tertunda. Hanya lima belas menit tapi terasa sangat lama, hingga membuat nya bosan. Namun beberapa kiriman berita terkini dari setiap anak buah nya mampu mengobati kebosanan nya.
Hingga terdengar suara derap langkah kaki yang menghampiri nya, mungkin tidak begitu banyak ataupun tidak sedikit. Satu persatu muncul di hadapan nya dengan wajah yang menunduk seakan telah melakukan kesalahan, melihat itu membuat mata jengah karena hanya satu sosok di awal yang tidak menunduk.
"Sejak kapan mereka disini? " tanya Asfa memandangi satu persatu wajah asing di hadapan nya.
"Mereka baru non, dan merupakan anak terlantar yang di asuh tuan besar dengan diberikan tempat tinggal serta pendidikan di tempat ini." jawab sosok itu dengan tenang.
"Hmm.Akses kalian untuk sementara aku putus, kembalilah ke kamar dan istirahat. Jangan keluar tanpa izinku!" ucap Asfa dan memberikan isyarat pada satu sosok yang mengenalnya untuk menyita semua ponsel milik penghuni pondok.
Hanya memakan waktu sepuluh menit untuk melakukan perintah nya, hingga sosok itu kembali dengan membawa lima ponsel di tangannya. Tapi ada yang aneh dengan wajah sosok itu seakan memar di satu pipinya, membuat tangan Asfa gatal dan mengusap pipi merah itu.
"Jelaskan! " suara serak dengan aura dingin Asfa membuat sosok itu menunduk.
"Apa aku har... " ucap Asfa dengan penuh tekanan.
"Maafkan mereka non, mereka masih anak-anak." jawab sosok itu dengan wajah yang semakin menunduk.
Mendengar hal itu membuat jiwa iblis seorang Asfa bangun, bagi nya siapapun yang bersalah harus mendapatkan hukuman. Namun pengendalian amarahnya masih bisa terlihat cantik tanpa kecurigaan, dengan tenang di elus nya bahu salah satu orang kepercayaan papa nya. Di ambil nya kelima ponsel di tangan sosok itu , satu persatu diperiksa dengan teliti.
Dua ponsel aman terkendali, namun tiga ponsel dengan sandi mengharuskan dirinya untuk melakukan peretasan. Setelah meminta sosok itu untuk istirahat, Asfa memilih untuk memasuki kamar pribadinya dimana tidak seorang pun di izinkan masuk kecuali satu kali pembersihan setiap hari nya.
Kamar yang sama dengan banyaknya dreamcatcher berbagai warna dan ukuran, dreamcatcher cristal putih dan biru yang tergantung di depan jendela akan berbunyi ketika angin menerpa di saat jendela itu terbuka. Satu set computer memenuhi meja belajar nya dengan kasur ukuran besar meskipun bukan king size seperti di mansion nya, satu ruangan yang langsung terhubung dengan kamar mandi dan ruangan ganti menyatu menambahkan kesan kamarnya adalah kamar utama di dalam pondok itu.
..........................
__ADS_1
Plaaak... Plaaak... Plaaak...
Suara tamparan keras itu menggema di antara rimbunnya pepohonan membuat beberapa tubuh gemetar dengan pemandangan di depan mereka, ingin berlari namun kaki tak memiliki tulang, ingin berteriak tapi pita suara terputus. Shock yang berat menghampiri otak kecil para anak yang baru saja lupa kerasnya hidup di jalanan, namun kilatan amarah dari gadis muda seumuran mereka membuat nyali mereka menciut jika ingin melakukan pemberontakan.