
"Pernahkah kamu memandangku dengan penuh cinta selama ini? Tidak. Pernahkah kamu memberikan senyuman tulus selain sandiwara? Tidak. Semua melihat pernikahan kita baik dan harmonis. Tapi siapa yang melihat luka didalam kamar ini dan hatiku? Aku menerima semua perlakuanmu selama ini. Tapi tidak dengan obsesi cintamu."
Dengan sadar wanita itu merobek lingerie merah terang yang menutupi tubuhnya. Kini terlihat beberapa bekas luka didada dan juga beberapa tempat tersembunyi. Setiap luka di tubuhnya memiliki cerita pahit. Dan selama bertahun-tahun, dirinya bertahan demi keutuhan keluarganya.
"Aku akan menghubungi seseorang. Dia yang bisa memahami deritaku."
Penampilan yang sangat kacau, dengan mengganti satu pakaian tidur lainnya. Tangan wanita itu menyambar ponsel di atas nakas. Sebuah nomor yang masih tanpa nama di dial. Tidak ada nada tersambung, beberapa kali dirinya mencoba. Akan tetapi tidak ada nada tersambung. Wajahnya khawatir, rasa sesak dan khawatir menelusup ke dalam hatinya. Dengan mencoba nomor lainnya, helaan nafas terdengar. "Halo. Dimana Abhi? Kenapa aku susah sekali menghubungi putraku? Leo! Kamu dengar aku?"
[Maaf nyonya, bos Abhi masih melakukan perjalanan bisnis. Tempatnya memang terpencil, apa ada semua baik-baik saja?]
"Minta Abhi segera pulang! Ada yang penting."
[Siap nyonya. Apa ada lagi?]
"Apa Asfa bersama Abhi? Atau Asfa ada dirumah?"
[Queen masih melakukan pekerjaan emergency. Sementara waktu keduanya berpisah karena pekerjaan. Hanya itu yang bisa saya sampaikan.]
"Baiklah.Terimakasih."
[Sama-sama nyonya.]
Panggilan berakhir dan wanita yang berdiri di depan jendela dengan menggenggam ponsel pintarnya, menitikkan air mata. Andaikan Tuhan memberikan dirinya kesempatan, pasti dirinya memilih hidup bersama Abhi tanpa seorang suami. Semua sudah terjadi, dan tidak mungkin terulang kembali. "Bunda merindukanmu nak, apakah kamu sanggup menerima kenyataan hidupmu? Apa aku harus jujur dengan Abhi? Bagaimana jika kenyataan pahit menjadi bumerang untuk putraku? Kuatkan aku Tuhan, agar aku sanggup melihat suamiku mencintai wanita lain."
Bunda Aliya memeluk lengannya, membiarkan semilir angin malam menembus relung hatinya. Malam tanpa rembulan menjadi saksi kesendiriannya. Kenangan akan masa lalunya bermain di awan seperti layar tancap di pedesaan.
__ADS_1
Beberapa tahun yang lalu, seorang model dengan kesederhanaannya tengah naik daun. Kecantikan Aliya sungguh alami, siapa sangka. Jika wajahnya menjadi bumerang untuk kehidupan normal miliknya. Model itu adalah Aliya. Banyak pengagum dan juga rekan kerja yang tertarik dengan penampilan dan kebaikan hatinya. Namun, semua berakhir ketika malam naas itu terjadi.
Malam saat dirinya tidak sengaja menolong seorang pria di tengah jalan. Wajah tampan dengan paras bule. Terlihat dewasa dan juga tegas, hanya saja keadaannya saat itu tidak baik. Pria tampan itu tengah masuk dengan beberapa luka di wajah, hati Aliya tergugah untuk menolong dan membawa pria itu ke rumah minimalisnya
Tidak ada angin ataupun hujan. Malam kelam menjadi saksi pria bule dengan kesadaran setengah memaksakan dirinya untuk melayani pria itu.
"Tuan istirahatlah. Luka anda sudah saya obati." ucap Aliya dengan lembut dan mengambil mangkuk berisi air yang dicampur antiseptik.
Pergerakan Aliya ditahan tangan kekar pria yang terbaring di sofa, Aliya kembali duduk. "Ada apa tuan?"
"Bantu aku ke kamar mandi." jawab pria itu dengan suara berat.
"Baik, mari." Aliya membantu pria itu dengan memapahnya ke dalam kamar, satu rumah kecil yang memiliki satu kamar mandi dan itu hasil jerih payah pertamanya selama menjadi model beberapa bulan.
Dengan sabar Aliya menunggu pria itu di luar pintu kamar mandi, hatinya cemas dan takut jika terjadi sesuatu.
Pintu terbuka dan pria itu keluar dari dalam kamar mandi, dengan sigap Aliya kembali memapah pria itu. Namun, tangan pria itu merengkuh pinggang Aliya dengan erat. Aliya mencoba melepaskan tangan pria itu, akan tetapi sia-sia. "Tuan, apa yang anda lakukan?"
"Apa salahku? Kenapa kamu menolak ku? Lihatlah aku bisa seperti pria brengsek itu. Aku mampu membuatmu bahagia, Iska aku sangat mencintaimu. Kamu milikku. Hanya milikku!" tutur pria itu dengan memeluk Aliya semakin erat.
"Tuan sadarlah. Empt…"
Bungkaman di bibir Aliya semakin membuat dada Aliya bergemuruh, pemberontakan dirinya tak sebanding dengan kekuatan pria di depannya. Semakin lama sentuhan pria itu menjalar keseluruh area, tangan Aliya terkunci setelah melakukan pemberontakan. Tenaganya sungguh tak sebanding, hingga dengan kasar pria itu membanting tubuh Aliya ke kasur.
"Hiks.. Hiks.. Hiks.. Tuan jangan. Aku mohon." ucap Aliya dan merambat mundur ke belakang.
__ADS_1
"Arrgghh. Jangaan tuan…" seru Aliya akibat kakinya ditarik dan langsung ditindih tubuh kekar pria itu.
"Menurut lah! Aku akan pelan sayang. Dengan ini, kamu menjadi milikku seutuhnya. Sssttt, jangan teriak. Aku hanya mencintaimu bukan lainnya." bisikan pria itu membuat Aliya bungkam.
Tubuhnya ternoda tanpa sentuhan, pria itu mabuk dan tengah putus asa. Bahkan dengan tega pria itu mengikat tangan dan kaki Aliya. Setelah melucuti pakaian Aliya, dan tubuhnya sendiri. Dengan hasrat yang menggebu, pria itu menjelajahi setiap inci tubuh Aliya. Memberikan stempel kepemilikan dan menikmati jeritan Aliya yang histeris. Hingga mahkota seorang wanita milik Aliya hancur terenggut oleh pria yang di bantunya dengan tulus.
Jeritan Aliya seakan menjadi musik pengiring kegilaan pria yang menguasai tubuh polosnya. Malam penuh air mata dan luka membekas di jiwa, malam itu terlewatkan dengan rasa remuk redam seluruh jiwa dan raga. Entah beruntung atau petaka, keesokan paginya. Pria yang mengaku sebagai putra seorang pembisnis ternama siap bertanggungjawab, dan Aliya memutuskan menerima tanpa mencari tahu siapa dan seperti apa pria yang merebut paksa kehormatannya.
Andai malam itu aku tidak menolong seorang monster seperti mu Mahendra, mungkin hidupku berbeda. Akan tetapi, jika bukan karena malam itu. Aku tidak memiliki putra seperti Abhi. Selama ini aku bertahan demi putraku, mampukah aku bertahan lebih lama? Rasa sakit ini tak sebanding dengan kebahagiaan putraku. Bertahanlah sebentar lagi Aliya. ~ batin Aliya dan berpindah tempat, membaringkan tubuh lelahnya di atas tempat tidur nan dingin.
Tok!
Tok!
Tok!
Suara ketukan pintu, membuat Aliya mengambil satu bantal dan menutupi telinganya. Malam ini dirinya ingin sendiri, raga dan jiwanya terlalu lelah untuk berdebat apalagi melayani seorang monster. Sedangkan diluar pintu, seorang wanita dengan nampan ditangan merasa cemas. Langkah kakinya menjauh dari kamar utama, tanpa disadari olehnya rumah tempatnya bekerja memiliki rahasia dibalik rahasia.
"Ekhem! Kenapa kembali? Dimana nyonya?" tanya Mahendra dengan lembut.
Bibi yang mendengar teguran tuan besarnya berhenti dan menghadap ke tuan Mahendra. "Nyonya sepertinya istirahat tuan. Permisi tuan."
Tanpa menjawab, tuan Mahendra kembali ke ruang kerjanya. Baginya saat ini bukan wanita dikamar utama yang penting, tetapi wanita di dalam ruangan rahasia yang menjadi prioritasnya. Kegilaan dan obsesi cintanya telah mendarah daging. Dengan memutar patung liberty mini diatas meja, pintu rahasia bawah terbuka dan langkahnya kembali memasuki ruangan dimana Iska berada.
"Mimpi indah sayang. Aku akan membawa mu ke sebuah tempat, dan aku jamin kamu pasti suka. Selamat malam Iska." bisik tuan Mahendra ditelinga Iska.
__ADS_1
Setelah pergulatan panas dengan teknik pemaksaan, Iska terlelap karena kelelahan dan obat bius yang dirinya suntik kan. Kini tatapan matanya teralihkan pada layar komputer, beberapa usaha di balik layar terus melejit, membuat kekayaannya bertambah dan semakin banyak. Senyuman kepuasan terbit dan kini rencana selanjutnya bisa dimulai.
Aku rasa sudah waktunya untuk membuat guncangan. Cinta sudah ditanganku dan harta ku sudah lebih dari cukup. Akhirnya semua impianku akan tercapai. Dan target utama ku adalah kamu pria brengsek! Luxifer.~ batin Mahendra dengan mengepalkan tangan hingga kukunya memutih.