
Ceklek...
Suara pintu terbuka. Membuat semua orang di dalam ruangan meeting mengalihkan padangan serempak. Hingga mata orang yang baru masuk terlihat serba salah.
"Sorry. Aku salah masuk."
Berbeda dengan Zain. Tatapan mata Zain tak lepas dari orang yang baru masuk. Posisi Zain sangatlah aneh, dengan berdiri di sudut ruangan dan dapat dipastikan seperti patung pajangan.
Ku harap ini hanya perasaanku saja. Semoga.~ batin Zain dan tetap diam di tempat.
"Silahkan keluar!" titah Justin dengan tegas.
"Baik. Sekali lagi maaf."
Orang itu berbalik tanpa melihat dan berakhir dengan...
Bruuug...
Tubuhnya bertabrakan dengan pintu yang terbuka dari luar. "Aduuh. Nasib."
"What you doing here?(Apa yang kamu lakukan disini?)" tanya Asfa menatap Azam dibalik topengnya.
"Queen." gumam Azam.
"Duke!" panggil Asfa dan menatap Justin yang langsung mengangguk paham.
Asfa berjalan tanpa menghiraukan Azam. "Sorry I was late. Let's start the meeting! Mr. Abhi, you lead. (Maaf saya terlambat. Ayo kita mulai rapatnya! Tuan Abhi, anda yang memimpin.)"
Justin telah membawa pergi Azam dari ruangan meeting, sedangkan Asfa membuat Abhi diam tak berdaya. Abhi memulai meeting dengan baik meskipun hanya mengatakan beberapa point dalam bisnis berlian milik ABF Company.
"Sorry Queen! Don't you say if the cooperation contract will be joined by RA Company? Not only with ABF Company.(Maaf Ratu! Bukankah anda mengatakan jika kontrak kerjasama akan di gabung dengan RA Company? Bukan hanya dengan ABF Company saja.)" tukas Mr. Asley menyela dan mendapatkan dukungan dari kedua rekannya.
Asfa tidak memberikan jawaban selain melambaikan tangan pada Zain. Dimana Zain berjalan mendekati Asfa dengan langkah berat dan suara hentakan sepatu yang memecahkan suasana tegang ruangan. "Pergilah dan temui Justin."
"My.." protes Zain.
Tatapan mata biru di balik topeng dengan jari telunjuk terangkat, membuat Zain mengerucutkan bibir dan meninggalkan ruangan meeting dengan perasaan tak nyaman. Asfa membiarkan para tamu delegasi asing berbisik. "Are you ready, to meet the terms and conditions of the RA Company? Because the ABF Company is one of the companies under the auspices of the RA Company.(Apa kalian siap, untuk memenuhi syarat dan ketentuan dari RA Company? Karena ABF Company adalah salah satu perusahaan di bawah naungan dari RA Company.)"
__ADS_1
Miss Riska seakan paham dengan apa maksud Asfa dan menyodorkan tablet miliknya ke tengah meja. "I apologize for your inconvenience and I have fired my representatives who make you angry.(Saya minta maaf atas ketidaknyamanan anda dan saya telah memecat perwakilan ku yang membuat anda marah.)"
Seperti contoh tauladan. Miss Riska membuat Mr. Asley dan Mr. Damond bertukar pandang.
"Trust in doing business is important! But don't forget alert. Not so Mr. Abhi.(Kepercayaan dalam berbisnis itu penting! Tapi jangan lupakan waspada. Bukan begitu Tuan Abhi.)" tukas Asfa dan berjalan mendekati Abhi yang masih menikmati pertunjukan istri kecilnya.
"Mr. Asley, Mr. Damond and Miss Riska. Proposal has been distributed! Please check your email.(Tuan Asley, Tuan Damond dan Nona Riska. Proposal sudah dibagikan! Silahkan periksa email kalian.)" titah Asfa setelah menekan enter di laptop Abhi.
Harum mawar menyusup menyelinap kedalam hidung Abhi. Posisi Asfa yang sangat dekat dan intens membuat jiwa Abhi meronta. Seakan Asfa tidak menyadari perubahan wajah Abhi dan masih saja berdiri di samping Abhi dengan berselancar riya memeriksa laporan didalam laptop.
"Bisakah sedikit menjauh?" bisik Abhi.
Asfa menatap Abhi. Pipi Abhi berubah menjadi tomat dan sangat menggemaskan. Terlebih mata biru Abhi menampakkan puppy eyes yang imut. "Any something wrong?(Ada yang salah?)"
"..."
Kenapa tidak peka sekali! Aku laki-laki normal dan istri berlagak seperti ini. Asfa apa kamu sadar posisi kita sedekat apa? Ada ya wanita tak berperasaan seperti mu? Eeh, Abhi bagaimanapun Asfa. Tetaplah dia istrimu, meskipun istri rasa es batu.~ batin Abhi menahan nafas agar harum mawar dari tubuh Asfa tak membangkitkan sesuatu yang tidak seharusnya.
Melihat muka Abhi yang semakin memerah dan menahan nafas, membuat Asfa menjauhkan tubuhnya yang memang condong berada didepan Abhi. "Can we start?(Bisa kita mulai?)"
Asfa melirik Abhi agar memulai rapat sesungguhnya. Abhi yang masih menetralkan perasaan mengalami gagal fokus. "Mr.Abhi!"
"Ya As..." Abhi langsung merasakan aura dingin.
Tatapan mata Abhi terpaku dengan mata Asfa yang menatapnya tajam dan membuat tamu delegasi asing saling pandang. "Queen and Mr. Abhi all fine? (Queen dan Tuan Abhi semua baik-baik saja?)"
"Good. Are there conditions from your company?(Baik. Apa ada syarat dari perusahaan kalian?)" jawab Abhi dan menatap tamu delegasi asing.
"What's?!" tukas Mr. Asley.
Asfa sungguh rasanya ingin menyiram Abhi. Apa Abhi tidak membaca materi dan juga kontrak yang sudah disiapkan! Pertanyaan macam apa yang terlontar dari Abhi? Sungguh Asfa heran dengan Abhi yang semakin kesini justru bersikap ceroboh. Lalu untuk apa waktu satu jam tadi di gunakan?
Andai Asfa tahu. Abhi hanya terpaku pada tingkah ajaib istrinya. Shock dan skot jantung Abhi berlanjut tanpa mempedulikan waktu, untung saja tidak lupa untuk mandi dan bersiap ke kantor. Kalau lupa! Ntah lah nasibnya seperti apa.
"Ekhem! Sorry, Mr. Abhi is in a poor state. Of course you know, if Mr. Abhi is still in recovery. Let me take over the meeting.( Maaf, Tuan Abhi dalam keadaan kurang sehat. Tentu kalian tahu, jika Tuan Abhi masih dalam pemulihan. Biar saya yang ambil alih rapat.)" sela Asfa dengan mengubah posisi laptop kearahnya.
Sikap cekatan Asfa dengan bahasa tegas nan berwibawa menyita pendengaran Abhi. Ntah apa saja yang di jadikan bahan meeting, tapi suara Asfa sungguh membuat detakan jantung di hati Abhi berdetak kencang. Seperti siulan kereta api ekspres.
__ADS_1
Apa yang terjadi padaku? Kenapa ada petikan gitar di hatiku? Kenapa aku senyum tanpa alasan? Dan kenapa suara Asfa begitu merdu? ~ batin Abhi dengan tatapan mata tak teralihkan dari Asfa.
"Mau pisau? Pulpen? Atau Kuku?" celetuk Asfa tegas berat namun tetap lembut.
"Aku mau kamu." jawab Abhi.
Asfa melepaskan topeng di wajahnya, alis yang terangkat jelas terlihat. Abhi tersenyum, senyuman yang ntah darimana asalnya. "Can?(Dapat?)"
"Are you okay?(Apa kamu baik-baik saja?)" tanya Asfa dengan tatapan selidik.
Bulu yang meremang menyapa naluri Asfa. Tatapan Abhi yang lembut dengan senyuman mengerikan sungguh mengusik rasa nyaman Asfa. Senyuman Abhi bukan senyuman biasa.
Haap.. Greeeb..
Abhi menarik tangan Asfa, membuat tubuh kecil Asfa nyungsep kedalam pelukan Abhi dengan posisi jatuh ke pangkuan Abhi. "Don't move! Leave it like this, just for a moment. I beg you.(Jangan bergerak! Biarkan seperti ini, sebentar saja. Aku mohon padamu.)"
Suara Abhi sangat memelas, membuat Asfa menghela nafas. Sejenak membiarkan Abhi melepaskan beban di pelukannya.
Lima menit berlalu tapi Abhi semakin erat memeluk Asfa. Asfa merasa mulai keluar jalur mencoba melepaskan diri. "Lepas!"
"..."
wuusss... braaak...
"Abhi..." seru Asfa terkejut.
...~~~~~~...
...Terkadang melepaskan adalah jalan terbaik....
...Bukan karena cinta kita palsu!...
...namun,...
...kebahagiaan dia bukan tanggungjawab kita....
...~~~~~~...
__ADS_1