My Secret Life

My Secret Life
Bab 62: Diam terkadang lebih baik


__ADS_3

Meninggalkan ruangan gym dan menuju kamar pribadi nya, tapi terlihat wajah pria keturunan Inggris berdiri di samping pintu kamar nya dengan tangan bersedekap. Wajah itu seperti menahan banyak pertanyaan, meskipun wajahnya masih dalam keadaan tenang.


"Aal." panggil pria itu saat melihat Alvaro membuka pintu kamar nya dengan password.


"Masuk dan tunggu! " perintah Alvaro membuka kamar dan membiarkan pria keturunan Inggris itu ikut masuk.


Terlihat kamar yang mewah dan tirai yang terbuka memberikan sinar matahari izin untuk menyinari kamar bernuansa elegan itu, tidak ada satu foto pun selain sebuah lukisan sebuah mansion yang indah di atas tempat tidur. Dan peralatan elektronik yang canggih seperti komputer terbaru yang ada di meja kerja Alvaro, tapi ranjang itu terlihat rapi seperti tidak tersentuh semalaman.


Hanya membutuhkan waktu lima belas menit, akhirnya Alvaro keluar dengan celana olahraga dan koas putih yang menerawang. Di dekati nya sebuah almari mini samping tempat tidur yang ternyata di dalam nya ada kulkas mini, dan tangan nya mengeluarkan dua kaleng soda dingin.


"Minumlah." ucap Alvaro mengulurkan satu soda ke wajah pria keturunan Inggris.


"Thanks Aal." jawab pria itu.


"Apa tujuanmu Le? " tanya Alvaro to the poin.


"Aku ingin tahu apa maksud ucapan mu tadi? " tanya Leon dengan menikmati soda.


"Hahaha Leon Leon, terkadang kebenaran bisa membuat seseorang hancur. Apa masih ingin tahu hubungan kami? " ucap Alvaro yang langsung berubah lebih dingin, padahal di awal tawa nya terdengar jelas.


"Alvaro Caesar yang ku kenal sangatlah dingin dan tidak berlebihan tapi cara mu terhadap gadis itu, sangatlah berbeda. Dan ucapanmu sangatlah menusuk anggota mu, anggota yang selama ini selalu ada di sisimu. Lalu apa yang kamu harapkan dari semua ini Alvaro? '" ucap Leon yang kali ini juga panjang kali lebar.


Sebenarnya apa bedanya dirinya dan Alvaro, sikap juga sebelas dua belas. Tapi Alvaro lebih suka diam dibandingkan berkomentar, sedangkan Alvaro lebih suka masa bodo. Tapi perlakuan special untuk gadis yang di panggil queen terlihat sangat berbeda, ntah karena hati Leon yang mulai jantungan atau hanya karena membela anggota teamnya.


"Semua adil dalam perang dan cinta, bukan begitu Leon? " sindir Alvaro yang membuat wajah Leon memerah.


Bukan dirinya buta ya meskipun diam, Alvaro bisa melihat sikap pria keturunan Inggris itu kagum pada adiknya tapi seperti nya salah satu anggota team nya itu lupa jika dirinya baru ikut andil dalam operasi suami dari queen. Sebagai seorang kakak sudah kewajiban nya melindungi dan membela adiknya, bukannya pria didepan nya itu tidak baik tapi apapun perasaan yang mulai tumbuh harus di hentikan karena perasaan itu bukan jalur benar.


"Aku sudah mendapatkan jawaban, istirahat lah. Operasi besar telah menanti." ucap Alvaro yang tidak kunjung mendapatkan jawaban.


"Apa docter itu dia Aal? " tanya Leon sebelum menyentuh handle pintu.


"Lihat saja sendiri." jawab Alvaro dan mulai beralih ke meja kerjanya.


Kepergian Leon, sejenak membuat Alvaro memejamkan mata nya, di satu sisi team nya adalah sahabat sekaligus keluarga bagi nya selama ini dan di satu sisi lainnya adalah orang yang menjadi alasannya hidup. Dirinya tidak bisa memilih jika dihadapkan pada keadaan itu, sekuat apapun adiknya dengan kekuasaan yang di miliki tetap membuat seorang kakak khawatir dan bersiaga melindungi adiknya.


Tapi baru kali ini dirinya mengancam anggota nya sendiri ya meskipun itu kesalahan mereka yang meremehkan orang lain tanpa mengenal lebih baik, fikiran yang bercabang membuat Alvaro meninggalkan kamar nya dan memeriksa bagaimana keadaan team nya.


Tok.. tok.. tok..


Ceklek..


Tanpa suara langkah kaki nya dipersilahkan masuk, dan lihat wajah anggota team nya yang terlihat murung seperti makanan tak di hangatkan. Dengan tenang dirinya mendekati satu orang yang tengah duduk berpaling darinya dan menyodorkan tangan nya ke depan orang itu.


"Maaf." ucap Alvaro dengan lembut.


"Untuk apa? Gadis itu lebih penting untukmu kan!" jawab orang itu dengan mengabaikan tangan yang masih di depannya.

__ADS_1


"Gabriella Angkasa Pratama! " ucap Alvaro dengan tegas.


Sontak suara panggilan itu membuat semua menoleh ke Alvaro, siapapun tahu ketika pemimpin mereka sudah menyebutkan nama seseorang dengan lengkap pasti pria itu sedang menahan emosi nya. Pandangan mata tajam nya bisa membius siapapun jika tidak segera memutuskan kontak mata dengan pangeran satu itu, tapi ntah ada apa dengan Gabriella hari ini yang langsung membalas tatapan mata dari Alvaro.


"Aal." panggil Andira yang berharap pujaan nya bisa tenang.


Tapi tangan dengan isyarat diam yang di tunjukkan oleh Alvaro, dan itu membuat Andira diam tanpa bisa berbuat apapun lagi selain melihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Sedangkan Askaa hanya menyedekapkan kedua tangan nya di dada dan membiarkan Alvaro membujuk Gabriella, apapun keadaan nya dirinya tahu jiwa kepemimpinan Alvaro tidaklah timbang ke satu sisi.


"Bukan tentang dia, tapi koreksi sikap mu Ella. Pantaskah kita menilai orang lain tanpa melihat kelebihan mereka? Ingatlah seperti apa kita sebelum menjadi seperti sekarang, hal terkecil pun tidak bisa kita remehkan. Fikirkan baik-baik, apapun keputusan mu akan aku terima." ucap Alvaro dengan menurunkan nada suara nya.


"Seberat apapun kehidupan kita, kehidupan nya lebih berat dan tidak bisa kita bertukar posisi dengan nya." ucap Alvaro dan pergi meninggalkan kamar Gabriella dengan tatapan penuh tanya dari anggota nya.


"El, Alvaro benar. Masih banyak yang tidak kita ketahui, istirahat lah dan fikirkan baik-baik. Bukankah kita tahu bagaimana kepribadian Alvaro, setidaknya kita percaya dengan keputusan nya." nasehat Andira memeluk Gabriella.


"Hiks.. hiks.. " isakan Gabriella dengan membalas pelukan Andira, sedangkan Askaa memilih kembali keluar daripada harus ikut menangis.


Di dalam kamar lain terlihat seseorang terbaring dengan perban di mata nya, masih terlelap akibat obat bius yang sengaja di berikan tiga kali oleh dokter. Melihat wajah yang sebentar lagi akan mendapatkan warna membuat seorang gadis menatap langit di luar sana, dirinya sudah siap ketika waktu bisa mengkhianati atau tetap bersama nya.


"Haauus." suara lirih itu memasuki telinga nya.


"Ayo minum." ucap gadis itu dengan memberikan sedotan ke mulut suaminya.


"Kenapa rasa nya pusing sekali, berapa lama aku tak sadarkan diri?" tanya Abhi dengan pergerakan kecil di jemari nya.


"Bersabarlah, sebentar lagi semua akan membaik. Mau makan? " ucap Asfa dengan lembut.


"Boleh, tapi bubur ayam ya." jawab Abhi dengan lirih.


"Jangan pergi, tetaplah disini." cegah Abhi.


"Hmm. Bunda kirimkan bubur ayam dan juga menu yang sudah aku pesan ke kamar." ucap Asfa dengan menekan tombol interkom di kamar itu.


"Bagaimana perasaan mu setelah operasi?" tanya Asfa dengan memberikan pijatan pada tangan kekar itu.


"Masih gelap tapi rasa nya lebih baik sekarang, bagaimana kabar mu? Maaf aku sangat menyusahkan mu sebagai seorang suami." ucap Abhi dengan tulus.


"Jangan minta maaf ketika itu memang tugasku melayani mu. Fikirkan saja kesembuhan dan segera ambil kembali perusahaan mu." jawab Asfa yang membuat Abhi bingung.


"Jangan fikirkan apapun saat ini. Itu akan membantu ku." ucap Asfa yang paham dengan reaksi minim suaminya.


"Tapi penyembuhan ku masih lama, bagaimana dengan perusahaan." jawab Abhi dengan helaan nafas.


Asfa hanya diam tanpa memberikan jawaban, tidak mungkin dirinya mengatakan jika perusahaan ABF company kini ada di tangannya. Terlebih kedatangan bunda Anya membuat perbincangan harus di selesai kan, yah kini tangan nya beralih mengambil mangkuk bubur ayam yang terlihat masih mengepul.


"Ayo makan." ucap Asfa sembari membantu menyandarkan tubuh Abhi agar bisa duduk dan menikmati makanan pilihannya itu.


"Seberapa kuat tubuh mu itu Asfa? " tanya Abhi nyleneh.

__ADS_1


"Kenapa? " tanya balik Asfa dengan memberikan satu suapan.


"Kamu membantu ku yang memiliki tubuh sebesar ini tapi tanpa bantuan siapapun, rasa nya sedikit... " ucap Abhi menggantung.


"Bagaimana jika kita bertarung setelah kamu sembuh." tawar Asfa dengan nada yang tidak bisa di prediksi tapi masih memberikan suapan bubur ke Abhi.


"Tidak, aku tidak mau kamu terluka." jawab Abhi dengan merinding.


Membayangkan tubuh yang tidak terlihat dewasa dengan wajah mungil nan polos di tambah lagi berdiri untuk bertarung, bahkan di dalam fikiran nya itu, istri nya itu lebih pantas duduk manis dan memberikan perintah dengan lembut. Tapi pasti bayangan di dalam fikiran Abhi akan hilang terbawa angin, jika pria itu melihat aksi istri nya tempo hari.


Seorang diri dengan mobil sport dan senjata api bersama granat berhasil mengalahkan gangster terkenal di kompleks sebelah tanpa terluka sedikit pun dan belum lagi melawan preman gadungan yang kini boss nya harus di gips lengan dan bahunya. Pasti nya tidak akan ada kata merinding lagi di dalam fikiran pria itu, terlebih jika melihat kemarahan sang istri dengan sisi iblisnya.


"Istirahat lah, operasi kedua akan dilakukan malam ini." ucap Asfa setelah selesai menyuapi Abhi dan memberikan segelas jus dengan sedotannya.


"Kenapa terburu-buru? Apa kamu bosan merawat ku? " tanya Abhi.


"Baiklah, aku batalkan saja operasi nya. Tapi jangan salahkan aku jika semua menjadi milikku." jawab Asfa yang terdengar seperti ancaman di telinga Abhi.


"Don't many thinking, i need your healthy good." ucap Asfa.


"Siapa kamu? " tanya Abhi yang sangat jelas mendengar kefasihan istri nya berbahasa Inggris.


Bukannya menjawab justru Asfa membantunya untuk kembali berbaring dengan diam tanpa kata, hanya hembusan nafas dengan aroma buah yang dapat tercium oleh Abhi. Inilah sikap yang membuat Abhi berfikir keras siapa istri nya sebenarnya, indetitas yang tidak terlacak tapi kepribadian nya sangatlah jauh dari kata orang biasa.



Abhishek ( maaf ya reader author ganti tokoh nya 😁)


Perasaan itu semakin kuat ketika dirinya buta dan lumpuh, bagaimana bisa gadis yang terlihat lemah membantu dirinya untuk segala aktifitas hariannya seperti mandi dan lainnya seorang diri. Bahkan tubuh nya bukan tubuh yang ringan karena terbiasa pergi ke gym dan membentuk otot, tapi sekalipun istrinya tidak mengeluh ataupun meminta bantuan orang lain untuk merawatnya.


"Katakan!" ucap Asfa dengan pelan namun jelas.


"Para delegasi asing ingin menemui anda dan mereka sudah dalam perjalanan, apa mau di wakilkan? " lapor dari seberang.


"Tidak! Aku akan datang, bawa mereka ke ruangan meeting jika sudah sampai." perintah Asfa dan menutup earphones nya.


"Mau kemana? " tanya Abhi yang ternyata menajamkan telinga nya.


"Istirahat dan biarkan aku bekerja." jawab Asfa dengan mengirimkan sebuah pesan pada seseorang.


Setelah pintu tertutup Abhi hanya bisa diam dan berusaha untuk terpejam dan melepaskan segala pertanyaan di dalam kepala nya, sedangkan Asfa bergegas kembali ke kamar pribadi nya untuk mengganti pakaiannya yang hanya menggunakan hotpants dan kaos oversize. Hanya butuh waktu sepuluh menit penampilan nya berubah dan dengan langkah cepat kini meninggalkan kamarnya tanpa mempedulikan sepasang mata yang menatap nya tak berkedip.


(Outfit Asfa pergi keluar mansion siang ini)



"Ekhem." dehem seseorang di bawah tangga.

__ADS_1


"Jaga pandangan mu, queen sudah punya suami." sindir orang itu lagi dan berjalan menuju kamar yang di minta untuk di jaga.


Orang yang di sindir hanya menatap nanar dan menepis fikiran dikepalanya dan kembali berjalan ke arah tujuannya.


__ADS_2