
"Ekhem!" dehem Asfa yang membuat Rania menggaruk keningnya sendiri.
"Tidurlah!" perintah Asfa dengan nada yang dingin membuat bibir Rania mengerucut.
Sedangkan di tempat lain, tepatnya di bandara tengah terjadi kericuhan. Banyak pasang mata memandang para pengawal pribadi yang jumlahnya tak tanggung-tanggung, dengan body sixpack dan juga kacamata hitam yang menutupi mata semua pengawal. Tapi bukan itu yang menjadi fokus utama semua orang, melainkan seorang pria dengan pakaian casual yang tengah duduk di atas kursi hasil perampasan dari meja resepsionis.
Pengumuman landing pesawat dari negara tetangga sudah di umumkan dan hanya menunggu para penumpang turun dari pesawat, pria casual masih tetap menikmati tempat duduknya tanpa mempedulikan ratusan mata yang memandangi nya dengan rasa haus dan lapar.
"Bawa mereka ke apartemen Lavender!" perintah pria casual dengan menekan earphones di telinganya.
Para pengawal mulai memblokade jalan kedatangan para penumpang pesawat yang baru saja landing, terlihat lima orang pengawal sudah bersiap untuk mencari target mereka. Pemandangan langka ini bahkan tidak bisa mengalihkan perhatian para penghuni bandara dari pria casual yang masih bersantai.
"Ku tunggu kalian di apartemen Lavender! Bergegaslah." perintah pria casual dari earphonesnya dan memilih meninggalkan ratusan mata yang mulai membuatnya jengah.
Tiga orang asing dengan pakaian santai kini di kawal oleh para pengawal sang pria casual dan meninggalkan bandara dengan mengendarai satu mobil van hitam dengan berikade motor sport di depan dan belakang mobil van hitam.
Ketiga orang asing itu adalah dua pria dewasa dan satu wanita paruh baya, mereka adalah tamu delegasi asing yang telah mendapatkan undangan dari Asfa. Mister Asley, Mister Damond and Miss Riska, ketiga nya akan menghadiri rapat yang sudah di jadwalkan oleh Asfa.
"Mr. Damond, are you ready to meet queen? (Tuan Damond, apa anda siap bertemu queen?)" tanya Miss Riska dengan antusias.
"Little.(Sedikit)" jawab Mr. Damond seadanya.
"Miss Riska, i hear Queen always made a cooperation contract with a special point.( Nona Riska, aku dengar queen selalu membuat kontrak kerjasama dengan point yang special.)" Mr. Asley tampak melihat tablet dengan laporan tentang perusahaan RA Company.
"We see tomorrow, how is the meeting.(Kita lihat esok saja, bagaimana rapatnya.)" Miss Riska memilih menyandarkan punggungnya dan memejamkan matanya.
Mendengar jawaban miss Riska yang tampak enggan membuat Mr. Asley menghela nafas, sedangkan Mr. Damond memilih mengalihkan perhatiannya dengan memandang lampu kerlap-kerlip di kota.
Waktu berlalu dengan cepat, bergantinya rembulan dengan sinar mentari membuat seorang gadis mengucek kedua matanya. Suara bising yang menyerbu berebutan memasuki gendang telinganya sungguh mengusik mimpi indahnya.
__ADS_1
"Eeeuuumm." lenguh gadis itu dan menyesuaikan cahaya yang memasuki matanya.
"Bersihkan dirimu!" perintah Asfa dengan memberikan handuk bersih untuk calon mempelai wanita termuda di dalam keluarganya itu.
"Queen." cicit Rania setelah tersadar siapa yang ada di dalam kamarnya.
"Tiga puluh menit!" tegas Asfa dan menarik tangan Rania agar bergegas.
Tidak peduli gadis muda itu cemberut ataupun menangis, waktu tidak bisa di ulur. Dan semua sudah disiapkan, kali ini Asfa akan bertugas menjadi seorang Mua dan penata busana untuk calon kakak iparnya.
Dua puluh lima menit kemudian...
"Duduk!" perintah Asfa dan menunjuk ke kursi meja rias di depan almari kaca.
"Queen, boleh aku tanya?" Rania menundukkan kepalanya dan meremas ujung handuk yang membalut tubuhnya.
"Hmm."
Tangan Asfa yang sibuk mengeringkan rambut basah Rania terhenti dan mengalihkan tangannya memegang dagu Rania, diangkatnya wajah Rania untuk menatap kedepan dimana cermin ada di depan keduanya.
"Apa kamu memiliki niat buruk? Apa kamu gadis lemah? Katakan padaku, apa kekuranganmu?" cecar Asfa dengan lembut dan jelas.
"Aku.." cicit Rania dengan menatap mata biru Asfa yang tenang namun menenggelamkan.
"Keluarga adalah rumah utama. Jadikan kami rumahmu, tempatmu berpulang dan berbagi semua suka duka mu. Ingatlah kami akan melindungi mu dengan nyawa kami, jangan ragukan keluarga ku. Bagiku keluarga adalah nyawaku! Jangan pernah berkhianat meskipun itu hanya terlintas di dalam fikiranmu, bukan papa atau ka Varo yang akan membakar mu tapi AKU." jelas Asfa dan memusatkan tatapan matanya
"Aku paham queen, aku siap menghadapi suami dadakan ku dan menerima kalian menjadi keluarga ku. Bisakah aku belajar tentangnya dari anda queen?" tukas Rania dengan menetralkan perasaannya.
"Dia ada untukmu, percayalah." ucap Asfa dan kembali mengeringkan rambut Rania agar bisa di sanggul.
__ADS_1
Sedangkan di kamar Alvaro, Tuan Besar tengah memandang putranya yang masih diam dengan tatapan mata menerjang keluar jendela. Tubuh kekar Alvaro terlihat jelas membelakanginya, di hampirinya dengan langkah tegas.
"Nak, ayo bersiap." ajak Tuan besar dengan memegang pundak Alvaro.
"Apa papa percaya gadis labil itu?" tanya Alvaro dan membalikkan tubuhnya menghadap tuan besar yang sudah berpakaian rapi.
"Dia pilihan terbaik nak, mungkin papa terlihat jahat. Tapi percayalah, tidak semua gadis bisa menerima tekanan musuh keluarga kita. Tapi papa akan membatalkan pernikahan ini, jika kamu memiliki pilihan sendiri." tutur Tuan Besar.
"Apa Asfa yang menyarankan gadis itu untukku?" Alvaro melihat mata papanya yang selalu jujur di hadapan kedua anaknya.
"Sekarang bersiaplah." ucap tuan besar setelah menganggukkan kepala sebagai jawaban untuk membernarkan pertanyaan putranya.
"Baik, aku akan bersiap." Alvaro menerima keputusan papa dan adik tercintanya.
Kepergian Alvaro untuk bersiap-siap membuat tuan besar menghela nafas dalam, ada rasa yang tidak bisa di jelaskan namun tetap saja membuat sesak di hatinya.
Naura doakan putra kita, semoga pernikahannya menuju jalan kedamaian dan kebahagiaan. Ku harap keputusanku sudah benar dan tepat, semoga kedua anak kita selalu menemukan jalan pulang.~ batin tuan besar.
Mansion yang biasanya hanya dipenuhi oleh bodyguard dengan seragam hitam kini berubah menjadi bodyguard berpenampilan cool meskipun tetap berjaga di posisi masing-masing. Pemandangan para pria dengan jas rapi ala orang kantoran menjadi suasana yang unik, hiasan bunga yang bertebaran dimana-mana semakin menambah kesan mewah dan manis.
Sebuah meja dan kursi telah di atur sedemikian rupa menempati tengah pilar tinggi untuk menjadi tempat pengucapan janji sakral, dengan bunga lili yang menghiasi pilar dengan tirai merah hitam menggoda terjuntai kelantai.
Dua jam berlalu dan terlihat Alvaro turun dari tangga bersama dengan tuan besar, membuat para tamu mansion menatap kagum dan tak berkedip. Team Alvaro dan tamu mansion lainnya akan menjadi saksi pernikahan dan duduk rapi di barisan kursi yang melingkari pilar altar pernikahan di luar area sakral.
"Siapa yang akan menjadi wali nikah mempelai wanitanya?" tanya pak penghulu dengan serius setelah Alvaro duduk di depannya.
"Saya sendiri wali nikah mempelai wanita." ucap Tuan Besar dengan tenang dan mantap membuat Alvaro terdiam dan menerima apapun yang akan terjadi.
"Panggilkan mempelai wanitanya!" perintah pak penghulu dan membuat seorang wanita paruh baya meninggalkan tempatnya berdiri.
__ADS_1