My Secret Life

My Secret Life
Bab 154: Melow


__ADS_3

Meninggalkan kegeraman sang istri dengan tangan mengepal, karena tindakan sang suami. Di dalam sebuah heli tengah terjadi perdebatan. Perdebatan yang berawal dari satu pertanyaan.


"Shut up! Never doubt my master!(Jangan pernah meragukan tuanku!)"


"You forget who i'am?(Kamu lupa siapa aku?)" Alvaro menaikan satu alis menatap pria beruban di depannya.


Diego menghela nafas, bukannya lupa. Tapi Alvaro terlalu ngotot ingin membawa Rania, alhasil Diego menggunakan cara kekerasan agar Alvaro masuk ke dalam heli dan pergi bersamanya. "Queen masuk UGD."


Gleek….


Tangan Alvaro spontan mencengkram lengan Diego dengan erat, tatapan matanya begitu tajam siap menerkam Diego. "Don't joking with me, about my doll! ( Jangan bercanda dengan saya, tentang boneka saya!)"


"Silahkan hubungi tuan besar atau Justin. Atau biarkan pilot menerbangkan heli, agar kita sampai ke mansion sebelum tuan besar." Diego memberikan pilihan pada Alvaro.


Alvaro melepaskan cengkraman tangannya, dan memberikan kode pada pilot untuk menerbangkan heli. "What happen?(Apa yang terjadi?)"


"Semalam queen melakukan rapat dengan beberapa client di hotel dekat gedung bioskop lama. Ada seseorang yang menghubungi Justin, dan Justin datang ke hotel itu untuk menggantikan Queen mengenai rapat yang tertunda. Sayangnya, saat Justin memeriksa kamar hotel. Queen dalam keadaan demam tinggi, Justin membawa Queen ke rumah sakit utama dan sisanya, biarkan tuan besar yang menjelaskan. Sekarang apa ada pertanyaan lagi?" jelas Diego panjang kali lebar.


Alvaro menyandarkan tubuhnya dengan pejaman mata, rasa panas di dalam matanya sungguh mencerminkan rasa perih yang mencabik tubuhnya. Sekali lagi gagal, sampai berulang kali. Dan untuk kesekian kalinya, sebagai seorang kakak tidak bisa melindungi satu cahaya hidupnya. Didalam pertarungan batinnya, ada tangan yang mengusap pundak Alvaro.


Tapi matanya enggan untuk melihat indahnya dunia, sekali lagi berita terburuk hadir ditengah kebahagiaannya. "Apa aku pantas menjadi seorang kakak? Kenapa selalu seperti ini? "


"Jangan menyalahkan diri sendiri. Adikmu tidak selemah itu, apa kamu lupa bagaimana pelatihan yang kalian berikan? Semua itu menjadikan Asfa sekuat sekarang. Percayalah, Asfa adalah perpaduan Xifer dan Naura. So relax boy." Diego menepuk-nepuk pundak Alvaro pelan.

__ADS_1


Hening….


Perjalanan dalam waktu lima belas menit, hingga heli turun di landasan terbang di sisi mansion dekat lautan. Sang pilot mematikan mesin mobil. "Tuan sudah sampai."


"Ayo turun!" ajak Diego dan membuka pintu heli.


Alvaro hanya mengikuti langkah Diego dalam diam dan wajah dingin, langkah keduanya menyusuri taman yang cukup luas dengan harum bunga dan buah-buahan matang. Terlihat satu sosok telah menunggu, berdiri di atas balkon dengan tangan bersedekap. Pria yang menampakkan wajah dingin dan tegas penuh aura intimidasi, Diego berjalan di depan dan Alvaro memilih berjalan di belakang.


Keduanya memasuki mansion melewati pintu samping, dan menaiki tangga setelah melewati ruangan pelatihan. Kamar teratas dengan balkon menghadap ke taman menjadi tujuan keduanya, kamar itu menjadi kamar impian Asfa.


Ceklek…..


Diego membuka pintu, mempersilahkan Alvaro masuk dan dirinya ikut masuk. Pintu tertutup, dan sejurus tatapan keduanya tertuju pada sosok di atas kasur king size berselimut hitam. "Silahkan periksa Queen, disana semua alat-alat milikmu. Aku akan menemui tuan besar."


Selang infus di tangan dan juga alat bantu pernafasan yang menutupi hidung dan mulut Asfa, sungguh menusuk jantungnya. Di tengah terpuruknya keadaan Asfa, justru dirinya sibuk bermesraan dengan sang istri. Lebih parahnya lagi, dirinya tak mau mendengarkan permintaan sederhana bayangan sang papa. Dan lebih mementingkan keinginan hatinya, kenapa dirinya menjadi egois.


Tangan Alvaro mengusap pipi Asfa dan bibir pria itu mengecup kening sang adik dengan penyesalan. "Maafkan aku, aku selalu gagal menjagamu. Bukan hanya janji pada mom yang ku ingkari, tapi janji pada diriku sendiri juga ternoda. Apakah aku pantas disebut kakak? Kamu memberikan pasangan untuk ku demi kebahagiaan ku, akan tetapi aku mengabaikan tanggungjawab ku terhadapmu. Maafkan kakak, doll."


"Bangun! Jangan buat adikmu tersiksa, papa memanggilmu bukan untuk melihat tangisanmu. Alvaro Caesar!" hardik tuan besar dan menatap sang putra dengan serius.


Alvaro melepaskan tangannya dari pipi Asfa, bangun dan menghampiri tuan Luxifer. Bukan sebuah kata yang keluar dari bibir Varo, hanya saja Alvaro langsung memeluk sang papa dengan erat. Bahu Varo bergetar, menahan sesak di dada. Tuan besar mengusap punggung sang putra, kehancuran terlihat jelas dengan isak tangis seorang pria besi.


Alvaro yang selalu memiliki emosi lebih namun acuh dan dingin, hari ini menjadi pria termelow sedunia. Air mata menjadi bukti seberapa terlukanya sang putra, karena sekali lagi gagal menjalankan tanggungjawab sebagai seorang kakak.

__ADS_1


Tuan Luxifer membiarkan Alvaro menangis selama lima menit, hingga kedua tangannya mencengkram lengan Alvaro. Menegakkan tubuh tanpa semangat sang putra untuk berdiri tegak. "Stop! Now let's work together, Queen needs us.(Hentikan! Sekarang mari kita bekerjasama, Queen membutuhkan kita.)"


"Apa kita bawa Queen ke luar negeri lagi?" tanya Alvaro lirih.


"No. Cukup disini, sekarang periksa adikmu dan papa akan menghubungi beberapa dokter terbaik." jawab tuan besar dan memeluk Alvaro sesaat sebelum pergi berjalan meninggalkan kamar sang putri.


Alvaro berjalan mendekati alat-alat medis yang ada di meja khusus, dari pengamatannya sudah pasti semua di siapkan secara dadakan. Meskipun semua sudah ada di dalam mansion, bukan berarti ada di kamar sang adik. Dengan cekatan tangan Alvaro mengambil stetoskop dan memulai memasang beberapa alat ketubuh Asfa, selama setengah jam Alvaro berkutat memberikan penanganan terbaik untuk Asfa.


Ceklek……


"Silahkan masuk, saya permisi." ucap seseorang dan membiarkan pintu terbuka.


Alvaro menatap sosok yang berdiri tanpa senyuman sedikitpun di wajahnya itu, sosok dengan balutan gamis elegant. Langkah kakinya pelan tapi tidak ada keraguan, matanya menyorot tajam tanpa kedipan. Bibir Alvaro terasa kelu, melihat singa betina dalam mode merah padam. "........ "


Belum sempat Alvaro menyapa, pintu kembali terbuka. Dan lebih mengejutkan lagi kemunculan sosok yang tak seharusnya ikut datang, untuk melihat situasi sang adik. Bersamaan itu wajah sang papa juga terlihat, tidak ada raut tegang apalagi marah. Wajah tuan Luxifer terkesan datar tanpa ekspresi.


"Diego!"


Suara dengan nada bariton, membuat pria beruban yang tengah duduk sejenak menikmati pemandangan terlonjak kaget dan hampir saja jatuh dari balkon. Dengan langkah seribu Diego berjalan kembali ke kamar Asfa, untuk menghadap si pemilik suara bariton.


Dalam satu menit kurang. Wajah Diego muncul dan melewati pintu kaca terbuka, yang menjadi pembatas kamar dan balkon. Wajah-wajah dengan muka tegang dan dingin, sesaat membuat bulu kuduk Diego meremang. Hanya wajah tuan besar yang masih berekspresi santai setenang duduk dipinggir pantai.


Sepertinya aku harus pindah haluan, next kehidupan aku hanya ingin menjadi penjual bakso saja. Daripada menjadi bayangan tapi rasa hidupku seperti rujak. ~ batin Diego.

__ADS_1


__ADS_2