
Aku harus kuat demi putraku, hingga aku bertemu dia. Hanya dia yang bisa membantu ku, Aliska sudah kabur dan pasti mas Mahendra melampiaskan amarahnya padaku.~batin Aliya membuka lemari dan mengambil pakaian tertutup.
Sepuluh menit kemudian, suara ketukan pintu terdengar dan wajah tampan dengan mata biru menyembul melihat ke dalam kamar. Langkah kaki yang terdengar masuk dan berhenti dibelakang seorang wanita tengah menghadap jendela. Pelukan kerinduan dengan senyuman manis terbit di bibir keduanya. "Ingat bunda, Nak?"
"Maafkan Abhi, bagaimana kabar Bunda?"
"Baik, sudah makan? Bukankah janji makan malam dan ini masih sore." ujar bunda Aliya dan melepaskan pelukan Abhi.
Abhi mengikuti langkah kaki bunda Aliya yang memilih duduk di atas ranjang king sizenya. Wajah cantik dan terawat, namun ada sesuatu mencuri perhatian Abhi. Tangan Abhi menyentuh sudut bibir sang bunda, meskipun tertutup make up. Tetap saja terlihat bekas luka dan itu tertangkap mata. "Bagaimana ini bisa…."
"Bunda baik nak, tadi pagi tidak sengaja jatuh di kamar mandi. Apa istrimu ikut? Kenapa bunda tidak melihat Asfa." ucap bunda Aliya mengalihkan topik pembicaraan.
Abhi menarik satu laci nakas dan mengambil kotak obat. "Asfa masih di luar kota, jangan alihkan pembicaraan bund. Abhi tidak suka melihat luka di mata bunda, apalagi luka di fisik bunda. Sebaiknya Abhi sewa perawat, biar menjaga bunda."
"Hehehe kamu pikir, bunda ini sudah jompo? Ayolah nak, ini hanya luka kecil." jawab bunda Aliya.
Tangan Abhi telaten memberikan salep di bibir pecah sang bunda. Tnpa Abhi sadari, tatapan mata bunda Aliya melemah. Hatinya menjerit ingin mengatakan kenyataan hidup pahit yang selama ini dijalani tanpa keluhan. Meskipun hanya sesaat, namun mengingat kemurkaan sang suami membuat bunda Aliya menahan sekuat tenaga seluruh penderitanya. Menyerah adalah jalan terakhir untuk saat ini.
"Jangan ditahan bunda, jika sakit katakan saja. Dimana papa? Kenapa Abhi tidak melihat papa?" ujar Abhi dan menutup salep setelah selesai mengobati luka dibibir bundanya.
"Papa seperti biasa bekerja, kamu tahu kan jika papamu itu memulai bisnis cafe." jawab bunda Aliya santai.
Abhi mengangguk dan meletakkan kotak obat diatas nakas. "Lebih baik bunda istirahat, Abhi akan siapkan makan malam."
"Nak, bisa temani bunda. Biarkan pelayan yang mengurus makan malam." pinta bunda Aliya dengan mata memohon.
Mata itu mengingatkan Abhi pada sosok istrinya, Abhi menata bantal dan menepuk-nepuk agar lebih nyaman digunakan. "Abhi temani, istirahatlah bunda."
__ADS_1
Bunda Aliya merebahkan tubuhnya dengan memeluk tangan kekar Abhi, Membiarkan rasa yang bergejolak di hari dan pikirannya tenang tanpa harus diungkapkan. Abhi setia menemani sang bunda, sementara di tempat lain tengah terjadi perdebatan sengit.
Penampilan modern yang terbalut jaket kulit hitam, dan wajah yang lebih segar, membuat wanita dengan satu kuncir kuda itu menjadi pusat perhatian. "Apa kalian tidak punya kerjaan?"
"Bukankah kebalik?" cetus pria dengan pakaian casual.
"Yah kebalik, bagaimaa bisa anda melakukan semua ini? Apa kami tidak becus dalam bekerja?" sela pria dengan pakaian serba hitam.
Sementara dua pria lain masih mengatur nafas, bersiap memberikan ultimatum. Tapi wanita yang membuat semua orang cemas justru santai membenarkan jaket. Hingga dua tangan memegang kedua bahu wanita itu dan menghadapkan pada dirinya. "Apa aku harus mengirim mu ke asrama?"
"Asrama? Apa aku masih memerlukan itu?" ucap ulang wanita itu.
Tatapan mata biru tenang, tajam dan penuh arti. Semakin lama ditatap, siapapun akan tenggelam di dalam ketenangan tak berujung. "Kamu ini Queen Asfa Luxifer. Lihatlah para duke, dan aku disini bersamamu. Apa susahnya memberikan perintah, dan kami akan melakukan seperti keinginan mu. Apa itu sulit?"
Asfa tersenyum dan melepaskan tangan di bahunya. "Aku tidak selemah itu, jika itu pemikiran kakak. Biarkan aku menyelesaikan tanggung jawab ku. Ka Varo bisa ikut jika mau, atau biarkan mereka mengawal. Bagaimana?"
"Tetap dirumah!" titah seseorang yang baru saja masuk kamar.
"Baiklah, aku menyerah. Aku tetap di rumah, dokter Vans siapkan makan malamku!" tukas Asfa melepaskan jaket.
Tuan Luxifer menangkup wajah Asfa, terlihat mata Asfa pasrah. Bukan kesedihan yang ingin dilihat olehnya, namun keras kepala Asfa harus dihentikan. Meskipun memang banyak tanggung jawab yang akan terabaikan, dan mungkin mengalami kekacauan. "Biar papa yang urus, kamu hanya perlu istirahat. Varo jaga Asfa, pastikan jangan sampai kecolongan!"
"Siap pa," jawab Varo dan membuat Justin dan Dominic saling pandang.
Tuan Luxifer yang melihat reaksi kedua duke putrinya hanya membiarkan. Saat ini tidak ada waktu untuk menjelaskan. Terlebih dengan diketahui Varo sebagai putranya, maka tanggung jawab perusahaan dan mafia akan mudah dibagi. Sementara memberikan ultimatum pada Asfa adalah yang terbaik.
Asfa melepaskan kedua tangan sang papa dan memilih melemparkan jaket ke sofa, semua rencananya gagal tanpa dimulai. Dunia terasa hampa ketika tidak ada aksi, bukannya istrahat. Asfa mengambil ponsel dan menyalakan musik dengan volume full. Aksi itu, membuat semua orang menutup telinga.
__ADS_1
Bagaikan pengusiran secara halus, Tuan Luxifer memberikan kode pada Justin dan Dominic untuk ikut bersamanya. Varo memilih berjalan menuju sofa dan membiarkan adiknya melakukan sesuka hati.
Huft, inilah rasanya penjara istana. Kenapa aku tiba-tiba mengingat Abhi, sebaiknya aku menghubungi suamiku itu.~ batin Asfa dan mematikan musik dan mencari nomor yang terakhir digunakan.
Sambungan telepon dengan nada dering terdengar, jemari Asfa mengetuk ponsel sembari menunggu panggilannya di jawab. Menunggu beberapa saat, namun panggilan berakhir tanpa ada jawaban. "Sibuk sekali, sudahlah lebih baik aku tidur."
"Ada apa?" tanya Varo.
Hening....
Benar-benar adiknya tengah merajuk, Varo bangun dari sofa dan berjalan mendekati Asfa. Langkah kakinya belum sampai di depan sang adik, seseorang datang dengan berlari dan langsung memeluk Asfa.
"Kenapa kamu di sini?" tanya Varo.
..._____________________...
...~🗡🗡~~...
...Readers, othoor gak akan berhenti ingetin kalian....
...*Stop boom like okay!*...
Apa karya kami sangat buruk? Othoor cuma mau kalian paham, jika boom like menurunkan performa karya para penulis.
Para penulis menuangkan imaginasi mereka bukan hanya menyita waktu, tapi juga tenaga dan fikiran!
Skip aja kalau gak mau baca, itu lebih kami hargai!
__ADS_1
Maaf ya reader's yang setia dan benar-benar membaca karyaku. Maybe, kalian ke ganggu dengan ungkapan hati ku. Tapi jujur saja, aku tidak tahu lagi gimana ingetin sesama penulis dan reader's.
Semoga keluhan para penulis tersampaikan dengan cara ini, apakah kalian tahu? Buluku pun meremang setiap kali menulis novel, terlebih dengan hal sensitif lainnya.