
"Sudah, sudah. Berisik. Pastikan setiap bukti kita dapat." ucap pria berjas hitam melerai anggotanya.
Semua hening dan melanjutkan tugas masing-masing, tidak ada lagi perdebatan. Berbeda di dalam kamar mewah di sebuah mansion. Wajah-wajah tegang terlihat jelas, helaan nafas panjang terdengar.
"Jadi, apa rencana kita?"
Nenek Ara memijat keningnya dan memejamkan mata. Tuan Luxifer kembali duduk di samping Varo. Ketiganya tengah membahas masalah perusahaan dan juga cara menghadapi Asfa. Beberapa masalah yang datang tanpa pemberitaan dan juga kondisi Asfa yang melemah, ketiganya baru menyadari jika selama ini Asfa memiliki tanggung jawab yang begitu besar.
"Begini saja, aku akan urus RA Company. Varo kamu urus Aranda Group dan biarkan Diego yang mengurus perusahaan Luxifer Company. Bagaimana?" usul Tuan Luxifer.
"Apa Papa percaya seratus persen dengan Diego?" tanya Varo menatap sang papa.
Tuan Luxifer mengusap bahu Varo, tatapan sayang terarah untuk putranya itu. "Jika kamu mau, Diego bahkan bisa mati demi melindungi papa. Percayalah, dia lebih dari sekedar kepercayaan."
"Papamu benar, Nak. Diego bukan orang sembarangan. Jika bukan karena Diego, keamanan kalian sudah pasti terlacak. Jangan ragukan orang yang setia, atau kita melukai harga diri mereka. Itu akan berbalik ke kita." sahut nenek Ara.
Varo mengangguk dan paham, selama ini tidak ada kedekatan apapun antara dirinya dan juga orang-orang di bawah naungan Mafia Luxifer. Tentu saja, karena yang berpartisipasi hanyalah sang adik. Semua mengenal siapa Asfa sebagai Queen. Tapi tidak ada yang mengenal Alvaro Caesar. Semua itu atas permintaannya sendiri.
Kini Varo baru sadar jika adiknya mengalah dan mengambil seluruh tanggung jawab tanpa mengeluh. Bagaimana bisa Asfa bertahan dan juga bertarung seorang diri. Apakah itu yang membuat papanya memberikan kebebasan penuh. Jika iya, sudah waktunya untuk memberikan sedikit kebebasan tanggung jawab untuk sang adik.
"Bagaimana dengan Rania, Nek?" tanya Varo.
__ADS_1
Nenek Ara menggelengkan kepala. Melihat itu sudah jelas, istrinya masih belum siap menerima tanggung jawab terlalu berat. Terlebih Rania lebih cocok duduk di depan layar komputer menjadi seorang hackers.
"Kita tidak bisa mengandalkan Rania atau Abhi, kita semua tahu bagaimana Asfa. Lebih baik bekerja sendiri dan semua berjalan lancar. Terlebih, Abhi sendiri harus mengurus perusahaannya. Sedangkan Rania lebih pantas menjadi seorang hacker." tukas Tuan Luxifer.
"Apa nenek keberatan jika aku mengurus perusahaan seorang diri? Tapi, aku masih nol tentang perusahaan." ucap Varo.
Nenek Ara tersenyum dan menatap sang cucu. "Nak, semua orang melewati proses dari nol termasuk adikmu. Nenek masih hidup, kita belajar bersama. Bukan begitu Xifer?"
"Nenek mu benar, belajar dan belajar. Ajari Rania juga, kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan. Paham?" ucap Tuan Luxifer.
Varo mengangguk paham, ketiganya kembali berdiskusi hal yang menjadi poin masalah. Berbeda dengan wajah jenuh seorang pria yang masih setia menatap halaman rumah. Lirikan mata berulang kali tertuju pada jam di pergelangan tangan. Waktu yang sudah larut, tak membuat pria itu berpindah tempat dari depan jendela.
Ada apa dengan putraku? Kenapa jam segini masih di depan jendela, dan wajahnya itu. ~batin orang itu.
Tak lama terdengar suara mobil tak asing memasuki gerbang rumah, dan raut wajah pria di depan jendela terlihat lega. Meskipun ada raut kekecewaan. Untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi, orang itu memilih menepi dan bersembunyi ditempat yang tidak terlihat.
Beberapa saat kemudian…
Ceklek
Langkah kaki yang masuk langsung disambut hangat oleh pria di depan jendela. "Darimana saja pa?"
__ADS_1
"Kamu kenapa belum tidur?" Tanya balik pria di depan pintu.
"Jangan mengalihkan pembicaraan Pa. Aku tahu papa mengantar wanita itu." tukas Abhi.
Papa Mahendra menatap Abhi dengan lembut, dan berjalan mendekati sang putra. "Ada apa, Bhi? Jangan bilang kamu cemburu dengan papa."
"Papa serius? Apa itu yang papa pikirkan? Selama bertahun-tahun, Abhi sangat kagum dengan papa. Tapi hari ini, aku kecewa. Papa mengantar wanita itu, sementara Bunda di dalam sana tengah sakit. Dirumah ini tidak kekurangan pelayan, apalagi sopir. Apa papa tahu jika bunda lebih membutuhkan papa? Bunda tanggung jawab kita." tukas Abhi penuh tekanan.
Papa Mahendra mengubah ekspresi wajahnya dengan sendu dan terkejut. "Maafkan papa, istirahat lah. Biar papa yang mengurus dan menemani bunda malam ini."
Satu pelukan yang hangat, namun terasa hampa. Abhi hanya menghela nafas dan mencoba memaafkan sang papa. Tapi tidak dengan bunda Aliya yang diam menutup mulut dan bersembunyi di balik lemari. Papa Mahendra berjalan meninggalkan Abhi seorang diri di depan jendela.
Terlalu bagus permainan mu, Mas. Aku sampai lupa siapa dirimu, sekarang aku harus bertindak. Bukan hanya demi putraku, tapi demi mereka yang menjadi sasaran mata jahat mu~batin bunda Aliya.
Siapa sangka pria yang terkenal baik memiliki wajah lain dibalik setiap tindakannya. Beruntung sejak awal pernikahan, dirinya tahu seperti apa pria yang menjadi suami itu. Meskipun ingin berlari dari kenyataan. Tapi mengingat pesan dari almarhum Papa Alka, membuat dirinya tetap bertahan.
Triing
Notifikasi pesan masuk, membuat Abhi mengambil ponsel di dalam saku celananya. Satu pesan yang mengubah ekspresi wajah Abhi menjadi cemas dan buru-buru keluar dari rumah tanpa berganti pakaian.
"Nak...." panggil bunda Aliya.
__ADS_1