My Secret Life

My Secret Life
Bab 25: Surga dunia seorang Mafia


__ADS_3

"Sambutlah pemimpin baru Mafia Snow! " seru seorang pria kekar dengan pakaian ber merk nya menggandeng tangan seorang gadis yang berpenampilan glamor.


Terlihat jelas senyuman menggoda dari gadis itu yang membuat anak buah mafia snow merinding, bukan karena takut tapi karena jijik. Tapi terlihat gadis itu tidak peduli tatapan orang-orang yang kini menjadi anak buahnya, memang benar gadis itu hanya peduli pada tahta yang kini menjadi miliknya. Dan pria yang kini menjadi wakilnya adalah orang yang menjadi kepercayaan bossnya terdahulu, bagaimana nasib mayat pria buncit itu kini mungkin sudah tak menyisakan apapun karena suara gonggongan anjing di dalam sel sudah berhenti.


Keduanya sepakat untuk memberikan mayat tidak penting itu kepada anjing peliharaan yang selama ini menjadi senjata sang pemilik, tidak ada satupun yang melawan ataupun memberontak dengan perbuatan kedua orang yang kini menguasai tahta kepemimpinan. Meskipun Delia merasa aneh melihat banyak mata yang seperti tunduk para pria di sampingnya tapi tidak membuat Delia peduli terlalu jauh, baginya cukup memuaskan ketika Putra benar-benar memberikan tahta Mafia Snow padanya dengan syarat melayani pria itu seumur hidup tanpa penolakan dalam situasi apapun.


"Silahkan duduk boss, apa perintah mu? " tanya Putra dengan lembut.


"Ceritakan semua tentang seluk beluk Mafia snow dan bagaimana hubungan kita dengan Mafia kelas satu yang ada di kota ini? " ucap Delia dengan serius.


"Mungkin maksud mu, apakah Mafia snow bekerjasama dengan Mafia milik saudara angkat mu?" jawab Putra dengan senyum smirk.


"Jelaskan saja! Apa harus sejelas itu pertanyaannya?! " ucap Delia merenggut.


"Hahaha, tenanglah. Jika ku jawab jujur tidak tapi jika ku jawab bohong iya, karena pemimpin kita yang dulu memang terlalu bodoh. Sudahlah, sejarah tidak penting. Katakan saja apa keinginan mu! " jawab Putra.


"Kehancuran kakak angkat ku!" ucap Delia yang kini wajahnya sudah memerah karena amarah yang sudah terpancar dengan kepalan tangan nya yang sangat kuat hingga terlihat cairan merah kental mengalir.


Putra yang melihat itu hanya membiarkan gadis itu melampiaskan amarahnya dengan genggaman tangannya namun terlihat wajah gadis itu masih saja merah membuat Putra memberikan isyarat pada anak buahnya untuk melakukan sesuatu.


"Ayo ikut dengan ku, ku pastikan amarah mu terlampiaskan." ajak Putra setelah melihat anak buah nya kembali menghadap nya.


Tanpa mengeluh Delia menerima ajakan Putra, perlahan berjalan melewati begitu banyak ruangan hingga berhenti tepat di depan sebuah pintu bertuliskan gudang. Putra memutar knop pintu yang tidak terkunci, membawa masuk Delia ke dalam gudang. Tempat yang sama seperti gudang kebanyakan di setiap rumah dengan barang yang tak terpakai, terlihat pria itu mengeser engsel lemari yang ada di sudut belakang.


Kriiieet... tek.. tek.. tek...


Suara geseran dari beberapa ubin di depan Delia kini terbuka dengan perlahan bersamaan suara seperti benda terlepas, Putra menyodorkan tangannya dan mulai melangkah memasuki lubang yang menjadi tangga rahasia di dalam rumah besar itu. Lorong yang hanya cukup untuk tiga orang itu terlihat memiliki cahaya remang dari arah depan tempat yang di hampiri Putra, hawa dingin dan lembab bahkan tidak menyurutkan gadis bongsor itu.

__ADS_1


"Pilihlah sesuka mu dan itu ruangan cinta, Pilih dan tunggu di dalam sana! " perintah Putra yang sudah berhenti di depan deretan jeruji besi setelah berjalan melewati lorong rahasia tadi.


Terlihat Delia memperhatikan setiap isi dari jeruji besi, sel satu hingga sel kelima barulah langkah kaki nya berhenti. Tatapan nya menjadi buas melihat mangsanya, putra yang melihat itu hanya terkekeh.


Prok.. prok.. prok..


" Biarkan gadis ku menikmati surga dunia. Bawa tahanan sel 5! " seru Putra setelah bertepuk tangan untuk memanggil anak buahnya.


"Have fun baby, i wait you in my bedroom." ucap Putra yang meninggalkan Delia di ruangan cinta.


Cup...


Satu kecupan singkat di bibir gadis itu dan dengan langkah ringan pria itu membiarkan pesta di nikmati oleh Delia sendiri, anggaplah surga dunia itu sebagai hadiah penyambutan nya. Delia yang mendengarkan apa yang di maksud dengan ruangan cinta dari seorang anak buah hanya diam dengan otak yang bekerja keras, namun mata nya tidak lepas dari berbagai alat yang ada di dinding.


"Pergilah! " perintah Delia yang melihat mangsanya sudah tersedia di hadapannya.


"Hhaah, aku tidak tahu harus memilih yang mana! Semuanya menggiurkan, hey pilihlah mana yang bagus untukmu. Ini atau itu, atau yang di ujung kanan sana? " seru Delia menunjukkan sebuah pedang di tangan kiri nya dan satu besi runcing di tangan kanannya, sedangkan di ujung kanan ada sebuah gergaji yang biasa di gunakan untuk memotong pohon besar.


Glek... (mangsanya hanya bisa menelan ludah dengan tatapan memohon ampunan berharap dewi kematian enggan mendekati nya)


"Das@r TULI! Rupanya kau bosan hidup, baiklah... " seru Delia.


"Aaam...puun... " jawab mangsanya dengan sekuat tenaga.


Wuuuss... Jleb... Arrrggghhh....


Sebuah pisau kini telah menghiasi perut mangsanya, terlihat wajah terkejut dengan cairan merah yang mulai membanjiri kaos kumalnya, Delia hanya masa bodo dan dengan santai nya mengambil gunting rumput yang terlihat menarik. Langkahnya terlihat jelas menggetarkan mangsanya yang tengah berusaha melepaskan diri meskipun itu adalah hal mustahil dengan posisinya yaitu tangannya terikat di atas tiang, gadis itu bahkan dengan sengaja memainkan gunting dengan buka tutup secara terus menerus membiarkan rasa takut di mata mangsanya semakin meningkat.

__ADS_1


"Ayolah bahkan mati mu tidak akan ada yang menangisi, jadi seharusnya kamu berterimakasih bukan?! " ucap Delia seenaknya.


"..... "


Crus.. Craak... crus.. Craak...


Dengan penuh semangat Delia menggunting setiap sendi dari mangsa nya, bahkan tidak ada suara teriakan karena mangsanya mati terkena serangan jantung. Apapun itu Delia masih menikmati acara nya, hampir dua puluh menit akhirnya kedua tangannya berhenti menggerakkan gunting dan melemparkan ke sembarang arah.


"Aku harus mendapatkan yang seperti ini lagi, aaah nikmatnya." ucap Delia setelah mencicipi setetes darah mangsanya yang ada di wajahnya.


Sedangkan di kamar Putra tengah menikmati live show yang membuat smirk di bibirnya tercetak jelas, satu pria dengan tato tengkorak berdiri di samping kiri nya menunggu perintah selanjutnya.


"Awasi gadis itu! Biarkan dia melakukan kebiasaan nya itu, bukankah kita harus memberikan gadis itu hadiah? Bagaimana menurut mu?" ucap Putra tanpa memandang lawan bicaranya.


"Benar tuan, seandainya gadis itu tahu siapa mangsanya. Mungkin gadis itu akan lebih memilih tidur dengan pria itu, bukankah begitu tuan? " jawab pria bertato tengkorak dengan lugas.


"Hahaha kau benar, gadis itu sudah tidak waras tapi urusan ranjang dia memang semakin lincah dan panas. Anggap saja kita memiliki pion baru yang memuaskan dari segala sisi, pergilah." ucap Putra dan menutup laptop di depannya.


......................


"Bagaimana ini? Aku tidak bisa membuat rapat itu batal, tapi siapa yang akan menggantikan boss." ucap seorang pria berkaca mata dengan menarik kasar dasinya.


Terlihat jelas betapa frustasi nya pria itu, apalagi delegasi asing tiba-tiba saja memajukan meeting yang seharusnya di lakukan empat bulan lagi. Kepala yang hampir pecah karena masalah yang di hadapinya, terlebih lagi dirinya tidak memiliki waktu lagi. Sebuah jalan terakhir muncul di kepalanya, dengan cepat di sambarnya benda pipih di atas mejanya dan mencari satu nomer jalan terakhirnya.


Tut.. tut.. tut... (terdengar nada panggilan tersambung)


"Matikan telfon mu! Aku sendiri yang akan mengurus masalah delegasi itu! " ucap seseorang yang baru saja masuk tanpa mengetuk pintu.

__ADS_1


__ADS_2