My Secret Life

My Secret Life
Bab 189: Cinta - usapan nyaman


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian,,


Sebuah mobil sport hitam melaju membelah jalanan di kota L dengan kecepatan maksimal. Kegelapan malam tak berbintang. Tak membuat sosok di kursi kemudi menyerah.


Aku tidak akan kalah, kali ini.~batin sosok itu dengan senyuman manis di bibirnya.


Tangannya dengan cekatan mengurangi dan menambah gigi serta memutar setir kemudi dengan begitu lincah nya. Setelah melakukan balapan tiga putaran, dari jarak dua puluh meter terlihat bendera finish. Mobil sport hitam menyalip mobil sport merah yang ada di depannya. Tanpa menunggu lama, mobilnya berhasil melewati garis finish dengan suara riuh dan tepuk tangan para penonton balapan liar.


Begitu banyak muda mudi yang menonton dengan jagoan masing-masing. Mobil sport hitam berputar di harus finish dan berhenti dengan kepulan asap putih. Disusul dengan mobil sport merah dan beberapa menit kemudian. Mobil lain ikut berhenti di depan garis finish. Para penonton menyerbu mobil sport hitam yang berhasil menjadi pemenang. Sayangnya, sosok di dalam mobil enggan keluar.


Tok!


Tok!


Tok!


Kaca mobil diketuk, seorang pria yang menjadi pemenang kedua menghampiri lawannya malam ini. "Hey, turunlah! Ayo kita minum bersama."


Pintu kaca diturunkan. Pria itu menunduk melihat siapa yang menjadi pemenang, dan matanya terpesona. Wajah berkulit putih, rambut sebahu dengan warna coklat kemerahan. Kacamata hitam yang menutupi mata bertengger di atas hidung mancung dan bibir semerah cherry.


"Hello, what you see?(Halo, apa yang kamu lihat?)" tegur ku dengan menjentikkan jari di depan wajah pria itu.


Pria itu gelagapan dan bingung ingin menjawab apa. Aku memilih masa bodo, dan mengambil ponsel di saku jaketku. Begitu layar ponsel ku geser, mataku tak percaya dengan jumlah panggilan yang tertera sebagai notifikasi. "Pasti aku di amuk singa. Aku harus pulang."


Seratus panggilan tak terjawab. Bayangan bagaimana wajah singa memerah dan siap menerkam dirinya. Ku nyalakan mesin mobil dan memundurkan mobil. Teriakan para anak muda menjadi angin lalu bagiku. Kini tujuanku hanyalah pulang ke rumah dan menenangkan singa yang mengamuk.


Mobil melaju dengan kecepatan maksimal, membelah jalanan perkotaan yang tenang dan asri. Komplek villa elite menjadi tujuanku pulang. Setelah perjalanan selama dua puluh menit, akhirnya sebuah bangunan istana dengan deretan pohon buah dan juga taman bunga menyambut ku. Aku memarkirkan mobil di halaman berumput hijau dan keluar dari mobil.


Tanpa melihat keadaanku. Ku susuri setiap jengkal tempatku berpijak. Pintu utama terbuka secara otomatis, dan aroma parfum yang sangat ku kenal, sudah menyusup ke hidungku. Seorang pria berdiri menghadap ke atau pintu utama. Jangankan senyuman, sambutan dengan say hello saja tidak dilakukannya.

__ADS_1


"........"


"Bagaimana balapannya?" tanya pria itu dengan suara dingin.


Aku tersenyum dan menunjukkan binar mata kebahagiaan. Seperti itulah yang kurasakan. Aku bahagia dengan balapan liar, tentu saja karena menang. Meskipun, aku tidak mengambil hadiahku dengan mengambil mobil para lawan yang kalah. Bagiku, balapan seperti nadi di tangan.


"Lihatlah, keadaanmu saat ini?! Atau harus aku ucapkan setiap saat?" Pria itu berjalan mendekati ku.


Aku ikut berjalan maju dan kami berhenti dengan jarak satu meter. Tangannya menyentuh perutku. Usapan dengan perasaan itu, menenangkan dan sangat disukai kehidupan didalam rahim ku.


"Hentikan kebiasaanmu. Sudah hampir tiga bulan, setelah kehamilan mu berusia lima bulan. Kesibukan mu hanyalah balapan liar. Sampai kapan? Kesehatanmu bisa terganggu, peri kecilku." Pria itu menceramahi ku dengan cinta.


Aku tersenyum dan menghentikan usapan tangannya. Kupeluk pria di depanku dengan perasaan nyaman dan aman. "Aku bisa ceroboh, tapi kamu selalu ada untukku. Untuk apa aku khawatir? Bukankah kamu selalu menjadi pelindungku, Ka Vans."


Vans mengacak rambut peri kecilnya. Baik dulu maupun sekarang. Tetap saja tak bisa melawan peri kecilnya dalam perdebatan. "Hmmm. Ayo makan, dan istirahat setelah itu!"


"Jangan bilang, aku harus makan makanan seperti kemarin malam. Aku...."


Asfa menghela nafas dan mengangguk. Barulah tangan Vans menyingkir dari bibirnya. Vans menggandeng tangan Asfa, keduanya berjalan menuju ruangan makan. Satu kursi ditarik, dan Asfa di duduk kan. "Apa kali ini, kamu menang sayang?"


"Pasti ka. Semua berkat kakak. Jika Ka Vans datang seperti biasa ke tempat balapan. Sudah pasti, malam ini pun. Aku akan gagal." Asfa menerima piring kosong yang mulai diisi nasi, sayur dan juga lauk pauk.


Vans hanya mendengarkan, dan melayani Asfa tanpa bertanya pada peri kecilnya itu, ingin makan sebanyak apa. "Makan, dan lanjutkan ceritamu nanti."


Vans memilih pergi ke dapur, membuat susu ibu hamil untuk Asfa. Hanya dalam waktu sepuluh menit, dirinya kembali ke ruangan makan. Tetapi pemandangan di depannya sungguh mengejutkan.


Pyaar...


"Sayaang...." seru Vans dan berlari menghampiri Asfa yang menahan sakit dengan wajah pucat.

__ADS_1


Vans bergegas menggendong Asfa dan membawa peri kecilnya ke atas. Di Dalam kamar utama, dengan membaringkan tubuh Asfa di ranjang king sizenya. Semua persiapan persalinan sudah tersedia. Tapi, kandungan Asfa baru tujuh bulan dan jalan bulan ke delapan. Bahkan prediksi hari persalinan pun diperkirakan satu bulan setengah kedepan.


"Bertahanlah. Biar aku periksa terlebih dahulu." ucap Vans.


Asfa meremas ujung sprei menahan rasa sakit yang tiba-tiba saja melanda. Vans sibuk melakukan pemeriksaan.


Beberapa menit kemudian,


"Kita akan kerumah sakit, kita tidak bisa melakukan persalinan di rumah." ucap Vans dan menyambar telepon rumah.


Beberapa angka ditekan dan panggilan tersambung. "Siapkan ruangan operasi darurat! Aku akan membawa peri ke rumah sakit."


"Ka, sakiit...." Asfa semakin meremas sprei dengan lelehan air mata yang keluar tanpa permisi.


Vans menjatuhkan telepon dan menghampiri Asfa. Kecupan di kening dengan wajah khawatir terlukis jelas di wajah pria itu. "Ayo ke rumah sakit," Vans menggendong Asfa dengan lebih lembut dan hati-hati.


Setiap anak tangga dituruni dengan doa perlindungan. Asfa meremas lengan Vans, bukan jeritan yang menjadi pelampiasan rasa sakitnya. Cengkraman kuat di lengan Vans menjadi bukti, betapa sakitnya teramat sangat. Vans berjalan keluar dari pintu utama dan memasukkan Asfa ke dalam mobil sport hitam yang terparkir di barisan terakhir. Setelah memasang sabuk pengaman, pintu mobil ditutup.


Vans memutari depan mobil dan masuk ke kursi kemudi, memasang sabuk pengaman dan juga menyalakan mesin mobil. "Bertahanlah. Ingat, kehidupan baru akan melengkapi dunia mu."


"Ka, bisa ceramahnya next aja? Aku tidak mau, kita kecelakaan." ujar Asfa, membuat Vans menggelengkan kepala.


Vans mengusap perut buncit bulat Asfa dan melajukan mobil sport hitam dengan fokus tingkat tinggi. Setiap usapan memberikan kenyamanan. Tanpa disadari, perjalanan lima belas menit terasa lebih cepat dari biasanya. Vans memarkirkan mobil di parkiran khusus dan mematikan mesin mobil. "Tunggu, biar aku yang turun...."


Vans menatap Asfa, ucapannya terhenti karena melihat peri kecilnya terlelap dengan dengkuran halus. Senyuman dan helaan nafas lega menjadi rasa syukur tersendiri. Vans melepaskan sabuk pengaman dan mendekati perut buncit peri kecilnya.


Cup...


"Anak baik, pengen jalan-jalan ya? Kasiankan, mommy kalian tidak makan malam. Sebaiknya, kita istirahat di dalam saja. Okay." bisik Vans dan mengusap perut Asfa.

__ADS_1


Vans keluar dari mobil, dan memutari depan mobil. Pintu dibuka, Vans menggendong Asfa dan pintu mobil ditutup dengan satu dorongan kakinya. Banyak mata yang memandang kemesraan keduanya. Akan tetapi, Vans tidak peduli. Langkah kakinya tetap ke depan menuju ruangan yang telah di pesan. Tanpa disadari Vans, ada sepasang mata yang menatap dirinya dengan tangan mengepal dan wajah memerah.


Ternyata, semua benar adanya. Keraguanku terjawab sudah. Tidak ada lagi tempat bagimu di dalam hatiku. Semua sudah berakhir sekarang. ~batin pengawas yang menatap nanar dengan langkah Vans semakin menjauh dan menghilang di balik dinding kaca.


__ADS_2