
"Hidup terlalu singkat, Bunda. Bolehlah kita bersantai sejenak, dan berbincang bersama. Ayo!" ajak Asfa tanpa permisi menggandeng tangan Bunda Anya.
Asfa mengadakan acara dadakan dengan mengundang beberapa chefnya yang bekerja di hotel dengan cara penculikan. Tenang saja, semua yang dibawah naungan keluarga Luxifer terbiasa mendapatkan jadwal emergency sekalipun. Tidak akan ada yang mengeluh. Apalagi jika untuk saling berbagi kasih dan bertemu dengan banyak teman seperti malam ini.
"Duke, apa yang terjadi?" tanya Bunda Anya di saat langkahnya terhenti di samping Justin.
Justin menoleh, tatapan matanya bertemu netra biru yang tenang dengan senyuman tipis. Wajah mungil dengan penampilan casual membiarkan rambut panjangnya tergerai bebas. Sekilas tidak akan terlihat kesedihan selain ekspresi wajahnya yang bahagia. Namun, jika ditengok lebih dalam. Hati wanita itu tengah menikmati rasa sakit yang selalu ia sembunyikan.
"Ka! Jangan pandang aku seperti itu, ayo kita nikmati malam ini dengan kebersamaan." Asfa mengerlingkan matanya dengan nakal.
Senyuman terbit dari bibir Justin. Melihat semua itu, Bunda Anya ikut tersenyum lega. Suara riuh para bodyguard dan pelayan benar-benar menghidupkan suasana mansion. Setelah sekian lama akhirnya ada kehidupan yang menghangatkan mansion. Asfa menikmati hasil masakan Justin seperti keinginannya. Tidak ada jarak di antara mereka semua.
"Queen, bisa kita ke taman?" tanya Justin tanpa menatap Asfa.
"Why not, Aku juga merindukan aroma buah segar. Come," Jawab Asfa seraya memundurkan kursi menggunakan kaki kanannya.
__ADS_1
Bunda Anya melirik Justin. Tetapi yang dilirik sama sekali tak menggubris, dan memilih meninggalkan jamuan makan. Langkahnya mengikuti langkah Asfa yang sudah berjalan di depan. Tak seorang pun berani menghentikan kepergian nona muda bersama asistennya. Langkah demi langkah berpindah tempat. Deretan pohon yang berdiri kokoh mengelilingi sepanjang jalan setapak menuju ke taman.
"Sungguh menenangkan. Seperti diammu, Ka." Ucap Asfa dengan sindiran halus.
Justin tersedak mendengar ucapan Asfa. Apakah dirinya terlalu diam? Entahlah, tetapi setelah memasuki area taman. Memang tidak ada satu patah kata pun keluar dari mulutnya. Langkah kaki Asfa terhenti tepat di persimpangan yang memiliki dua arah pilihan. Satu jalan ke tebing dimana kesayangannya berada, dan satu jalan lagi taman utama yang biasa dijadikan sebagai lapangan heli.
"Duke Justin!" panggil Asfa dengan tegas.
Justin menahan nafasnya, "Queen, sebenarnya aku....,"
(Saya tahu segalanya, tetapi masih diam.)
Pernyataan Asfa, membuat Justin tertegun. Setelah semua yang terjadi. Tetapi sikap yang diambil hanya diam? Apakah benar yang di depannya adalah nona Angel? Putri yang sangat mencintai ayahnya, bahkan siap melakukan apapun demi kebahagiaan sang papa. Namun hari ini hanya memilih diam. Sungguh di luar dugaan. Ekspresi wajah tak percaya Justin, tak mengubah kenyataan.
"Apa kamu Queen?" tanya Justin spontan.
__ADS_1
Asfa mengalihkan tatapan mata ke angkasa. Hamparan luas langit malam dengan awan gelap tanpa sinar rembulan dan bintang. Sungguh kegelapan di atas sana masih bisa menunjukkan keindahan alam.
"Queen Asfa Luxifer! Seorang putri terbaik, dan tidak akan membiarkan air mata jatuh dari orang-orang terkasih nya. Dimana putri raja tuan besar itu, kini berada?" tanya Justin dengan nada kecewa.
Asfa hanya tersenyum tipis, membiarkan semua keluhan Justin dikeluarkan tanpa meninggalkan beban. Ia siap mendengarkan semua tanpa harus ambil hati. Tidak ada batasan untuk hubungan yang ia bangun. Terkadang bukan hanya tentang kepercayaan. Tetapi membiarkan orang terkasih mengeluarkan semua keluh kesah sangatlah penting.
Lima belas menit berlalu. Justin menggelengkan kepala dengan bungkamnya Asfa. Setelah semua yang ia katakan, tetap saja nona mudanya diam dengan tatapan mata terpaku pada langit. Melihat hal yang tidak pernah terjadi, pria itu menghentakkan kaki. Kemudian berbalik dengan langkah kaki berjalan menjauhkan diri.
"Never open a wound by reminiscing about the past. I'm not silent because I don't care. My silence is only to protect a broken heart." Ucap Asfa tegas menghentikan langkah Justin.
(Jangan pernah membuka luka dengan mengenang masa lalu. Aku diam bukan karena aku tidak peduli. Keheninganku hanya untuk melindungi hati yang patah.)
"Queen....," gumam Justin seketika merasa bersalah.
Perbincangan keduanya berakhir dengan pelukan kakak adik. Asfa tak mengeluh apalagi menyalahkan Justin. Baginya kini semua sudah jelas. Tidak ada lagi yang harus dijelaskan atau diperdebatkan. Sementara di tempat lain senyuman smirk hadir menghiasi bibir dua pria yang tak sengaja dipertemukan takdir.
__ADS_1
"Aku setuju dengan semua syarat mu. Jadi apa rencanamu?" tanya pria satu dengan penampilan semrawut.