
"Siapa yang bertanggung jawab untuk hal ini?! Katakan." tanya seorang gadis dengan dress putih memperlihatkan sesuatu dari benda pipih yang ada di tangannya.
Dihadapan gadis itu ada dua pria yang tengah memperdebatkan sesuatu namun hal menjadi perdebatan justru teralihkan setelah keduanya menyadari sebab perdebatan kini ada di dalam tangan orang yang paling di hindari keduanya. Keduanya saling pandang seakan saling memberikan pembicaraan dengan bahasa isyarat , melihat hal itu membuat gadis itu memeriksa benda pipih di genggamannya sekali lagi.
Terdengar jelas suara minta tolong dengan berbagai frekuensi jeritan dan rintihan orang kesakitan atau lebih tepat nya tersiksa, keempat pria yang tengah memegang sebuah pengait dengan tali tambang dengan satu wanita paruh baya yang sangat di kenali nya tengah sibuk melakukan sesuatu di ujung tebing itu. Tebing yang sangat familiar untuk nya karena disanalah dirinya sering memberikan makan pada hewan kesayangannya dan untuk berlatih berbagai jenis senjata, jika ada yang mendatangi tebing tempat favorit nya dengan tali tambang yang terlihat sudah di kaitkan pada sebuah tiang besi pasti nya ada hal yang tidak beres.
"Apa kalian bosan hidup HAh! " bentak gadis itu karena kesal.
Greeb..(seseorang melingkarkan kedua tangannya di perut gadis yang di landa kekesalan, suara nafas dengan bau mint yang sangat familiar bagi gadis itu)
"Papa." ucap gadis itu sejenak melepaskan emosi nya demi rasa rindu di hati nya.
"Calm down queen, my queen not miss me hmm? (Tenang queen, queen ku tidak merindukanku hmm)." ucap lembut tuan besar menenangkan putri tunggalnya.
"I am okay dad, want coffe?(Aku baik-baik saja ayah, ingin kopi?)." tanya Asfa tanpa bergerak sedikit pun selain mengelus tangan kekar yang sedikit memiliki garis keriput.
"Very but you have meeting before 10 minute, so meeting first than we make quality time together. Agree? (Sangat tapi kamu memiliki pertemuan sebelum 10 menit jadi pertemuan dulu lalu kita membuat waktu berkualitas bersama. Setuju?)." jawab tuan besar mengelus kepala putrinya dengan penuh kasih sayang.
"Agree Boss. My pleasure.(Setuju boss.Dengan senang hati.)." ucap gadis itu dan membiarkan kebersamaan berakhir.
"Justin! " ucap gadis itu yang langsung di sambut dengan tubuh kekar pria di belakang nya.
"Ayo queen, ini proposal nya." ucap Justin menyerahkan satu map hitam dengan simbol matahari perak di atasnya.
Cup.. (satu kecupan pipi di berikan untuk papa nya)
"See you dad.(Sampai jumpa ayah)." pamit Asfa dengan meninggalkan kamar assisten nya.
"See you too baby.(Sampai jumpa juga sayang)." jawab tuan besar dan ikut meninggalkan kamar assisten nya dengan beralih ke kamar pribadinya.
Memutari beberapa tangga pasti akan melelahkan alhasil kedua nya memilih menggunakan lift khusus agar sampai ke tempat meeting, terdengar jelas suara tidak sabaran dengan berbagai keluhan yang membuat telinga Asfa panas. Yah dengan kedua earphones bluetooth di telinga nya maka semua yang terjadi di ruangan meeting bisa di dengarnya karena earphones nya sudah tersambung dengan ponsel milik salah satu bodyguard yang menjaga setiap pintu.
Terlihat lima perwakilan dari delegasi asing dengan satu pria muda, dua pria paruh baya dan dua wanita yang memasuki usia kepala empat. Kelima nya memiliki karakter dengan pembawaan jiwa kepemimpinan yang berbeda-beda, namun hanya satu pria muda yang terlihat masih santai menikmati seduhan kopi hitam di depannya dengan tatapan bosan nya menunggu karena drama yang ada di depannya.
"Pergilah! Tinggalkan kami semua." perintah Asfa pada setiap pelayan dengan bodyguard yang mendiami ruangan meeting.
Empat bodyguard dengan dua pelayan mundur tanpa meninggalkan suara, membuat ruangan meeting menjadi sedikit horor karena tatapan asing dari berbagai sisi. Tanpa mempedulikan itu Asfa berjalan mendekati tempat duduk nya di mana terletak di antara satu pria muda dengan satu wanita dewasa, sedangkan Justin hanya berjaga di dekat pintu selayaknya bodyguard dengan pandangan bak elang untuk menjaga queennya.
__ADS_1
"Apakah kalian sudah memahami proposal masing-masing?" tanya Asfa to the poin.
"Maaf bukankah seharusnya saya yang bertanya seperti itu? " balik tanya seorang wanita yang di apit dua pria paruh baya dengan posisi menghadap tepat ke arah Asfa.
"Leo! Apa kau lupa menyerahkan proposal yang ku kirim? " tanya Asfa tanpa menjawab wanita dewasa itu yang memerah karena malu terabaikan.
"Eh.... " jawab Leo dengan wajah bingungnya.
"Maafkan kesalahan saya, baiklah saya akan kirimkan proposal saat ini juga dan silahkan pelajari selama sepuluh menit." ucap Asfa mengambil ponsel canggihnya dan mengirimkan sebuah proposal ke e-mail masing-masing makhluk di depannya.
Sudah lelah memikirkan masalah yang ada di luar sana kini bertambah dengan keberadaan assisten suami nya yang cukup teledor, keluhan saja tidak akan mengubah apapun. Membuat Asfa secara kilat sudah membuat keputusan hukuman apa yang akan di berikan pada pria berkacamata itu, Justin yang menyadari nona muda nya tengah membuat rencana hanya tersenyum simpul.
*Selamat datang di neraka makhluk kacamata, hehehe aku tunggu tanggal mainnya queen.* batin Justin dengan riang gembira.
Sepuluh menit berlalu dan terlihat dari kelima makhluk terlihat tiga bersemangat dan satu gelisah sedangkan satu nya lagi tanpa ekspresi, Asfa hanya menopang dagu nya dengan satu tangan seakan bosan menunggu meskipun hanya sepuluh menit.
"Baiklah, silahkan sampaikan pendapat kalian! " perintah Asfa dengan suara dinginnya.
"Saya setuju. " ucap wanita dewasa di samping nya.
"Kami juga setuju." jawab kedua pria paruh baya.
"Bagaimana dengan anda? " tanya Asfa mengarah ke pria muda terakhir.
"Ku terima." jawab pria muda itu dengan menyesap kopi tetesan terakhir nya.
"Justin antarkan nona Alsya sampai ke luar mansion dan pastikan satu jam dari sekarang pesawat nya lepas landas." perintah Asfa dengan lantang yang cukup membuat bulu meremang.
"Ah ya satu lagi, sampai berjumpa sepuluh tahun lagi nona Alsya." ucap Asfa yang terdengar aneh untuk semua orang.
Meninggalkan ucapan tidak masuk akal gadis dengan dress putih yang mengirimkan sebuah proposal dengan keuntungan poin yang berbeda dari pengusaha lainnya, gadis itu terlihat sangat santai dengan aura kepemimpinan yang sudah menjiwa. Satu helaan nafas nya saja sudah menegaskan betapa gadis itu tidak menerima kekalahan, satu pasang mata yang kini melirik Asfa setelah apa yang di ucapkan gadis itu.
*Interesting.* batin pria muda itu dengan wajah datarnya.
"Baiklah mari lanjutkan, Leo siapkan jamuan makan siang bersama!" perintah Asfa yang membuat pria berkacamata mata itu menganggukkan kepala dengan langkah seribu.
Sebuah map hitam dengan simbol matahari perak diatasnya kini terbuka menampilkan lembaran kertas berwarna emas yang sedikit menyilaukan karena ruangan meeting di adakan di samping kolam renang, satu persatu mendapatkan satu lembar kertas emas yang di atasnya tertulis tinta perak yang menjadi sangat kontras karena perpaduan kedua warna itu sangat melekat.
"Satu lembar kontrak dengan emas asli untuk setiap perwakilan, kalian bisa memastikan keasliannya jika ragu. Tapi kali ini tidak ada tanda tangan di atas materai, fikirkan sekali lagi. Mundurlah jika ragu!" peringatan Asfa untuk menyadarkan makhluk meeting untuk terakhir kalinya sebelum memberikan kontak darah di atas selembar kertas emas bertinta perak.
__ADS_1
"Katakan apa yang harus aku lakukan? " tanya pria muda itu memandang Asfa.
"Gunakan ini dan sempurnakan nama di bawah kontrak." ucap Asfa mengambil satu bros matahari yang ada di sudut map hitam nya.
Hanya satu tusukan kecil agar mendapatkan satu tetesan darah yang harus di gunakan untuk mewarnai nama nya di dalam kontrak kali ini, apapun itu tidak lah menyakitkan. Satu kontrak telah di setujui, sementara yang lainnya menyusul setelah mengerti apa yang harus di lakukan.
Lembar demi lembar kontrak kembali ke tangan Asfa yang di biar akan berjejer di meja untuk melakukan tugas terakhir nya, satu tangannya mengambil satu bros lainnya yang ternyata tersimpan di dalam bros matahari. Terlihat bros itu hanya seperti sebuah jarum kecil dengan ujung lingkaran, dengan santai satu bros jarum di tancapkan ke satu jari nya.
Tes... Tes... Tes.. Tes...
Empat jari berbeda dengan satu tetesan di atas nama nya, kini kontrak telah sah maka ke empat makhluk itu siap untuk mengikuti peraturan nya. Satu poin yang membuat mereka bahagia adalah poin terlemah untuk mereka, mungkin makhluk meeting kali ini bukan orang-orang dari pemimpin sejati dimana tidak memahami apa akibat dari perjanjian kontrak mereka.
"Silahkan pergi ke ruang makan, assisten Leo sudah menunggu di sana dan bodyguard di luar pintu siap mengantar kalian." ucap Asfa membiarkan ke empat jari nya masih mengeluarkan darah.
"Katakan?" ucap Asfa yang menyadari seseorang menatap nya dan masih stay di tempat duduknya.
"Apakah kita pernah bertemu? " tanya pria muda itu dengan tenang.
"Hmm, Apa ada lagi? " ucap Asfa.
"Tunjukkan wajahmu!" perintah pria muda itu dengan tegas.
Memang dalam meeting kali ini pun Asfa masih setia menggunakan identitasnya dengan sebuah topeng yang sama, karena bagi nya wajah bisa berubah tapi bukan jiwa kepemimpinan seseorang. Baik usia atau sebuah tragedi bisa menghilangkan wajah khas dari setiap makhluk tapi bukan kepribadian seseorang yang telah mendarah daging, maka dari itu selama hidupnya tidak seorang pun mengenal siapa dirinya sesungguhnya.
"You are not mine! Don't disturbing my rules!(Kamu bukan milik ku! Jangan ganggu aturanku!)." jawab Asfa yang duduk dengan santai tanpa memandang lawan bicaranya.
"Tuan... " Ucap Leo yang baru saja memasuki ruangan meeting karena tamu delegasi nya ketinggalan satu.
"Aku tidak tahu siapa dirimu, tapi akan ku pastikan secepatnya semua tentangmu ada di tanganku." ucap pria muda itu sebelum mengikuti Leo untuk jamuan makan siang.
*Sejauh apapun langkah kaki mu berusaha, semua sudah berakhir dan tidak tersisa. Kamu sudah mati bagi ku Vano Raymond." batin Asfa memejamkan mata nya.
....................
"Apa kau yaqin masih stay di tempat ini? " tanya seorang wanita berhijab yang tengah menikmati boba ukuran jumbo.
"Hmm.Apakah dosa ku akan terampuni?" jawab pria muda yang mengaduk cangkir kopi hitam nya tanpa henti.
"Ayolah boy, Allah saja maha pemaaf apalagi kita yang manusia. Berdoa saja semoga semua menjadi baik." ucap wanita berhijab itu dengan menggenggam tangan pria di depannya.
__ADS_1