
Kepergian Asfa membuat tuan besar menatap dua orang pria beda usia di depan nya, yang sudah pasti pengalaman kedua nya bagaimana bumi dan langit. Terlihat sebuah koper kecil yang di bawa pria dengan usia muda dan pria tua satu nya hanya bersikap santai dengan setelah jas yang membuat penampilan nya berbeda.
"Berikan itu pada ku! " perintah tuan besar dengan menatap koper kecil di tangan assistant putri nya.
Tanpa membantah pria muda itu memberikan koper nya ke tuan besar, tapi tindakan tuan besar selanjutnya mampu membuat nya tercekat. Ada rasa was-was namun hanya pasrah, hingga perintah tuan besar selanjutnya membuat langkah nya kembali melangkah dengan lesu.
"Pergilah!" perintah tuan besar.
"Bukan kau Justin." cegah tuan besar dan menghentikan langkah pria muda itu yang semakin bingung dengan tindakan dan perintah tuan besar nya.
Langkah pria tua itu dengan santai berjalan melewati Justin dengan menenteng koper kecil di tangan kiri nya, yah tuan besar mengoper koper itu ke assistant pribadinya dan membiarkan bayangan nya untuk menggantikan posisi Justin hingga waktu yang tak di tentukan. Sementara wajah pucat Justin hampir membuat nya jengah, apa segitu buruk nya pemikiran pria muda itu.
"Mulai hari ini, Diego yang akan menjadi assistant dan pengawal putri ku. Dan kamu harus menggantikan Diego selama dia bersama queen, paham." ucap tuan besar dengan tegas.
"Baik tuan." jawan Justin pasrah dan lega, meskipun di dalam hati nya juga khawatir dengan keadaan queen nya terlebih setelah percakapan semalam yang membuat ke dua nya harus menilai satu sama lain tanpa pengenalan.
"Tenang lah, Diego lebih sempurna dari mu." ucap tuan besar yang mengerti kegelisahan Justin.
Dan di dalam sebuah mobil sport hitam hanya ada keheningan, terlebih setelah Asfa harus menyetir sendiri karena pria tua di samping nya mengatakan tidak terbiasa dengan mengendarai mobil sport. Meskipun ada pertanyaan tapi pertanyaan itu akan terjawab seiring waktu dan membiarkan mengalir seperti air akan lebih baik, kecepatan mobil sport itu semakin meningkat setelah memasuki jalan utama dimana gedung pencakar langit mulai berbaris.
"Tell." ucap Asfa setelah menekan earphones di telinga nya.
"Okay, after lunch." jawab Asfa dan membiarkan earphones tetap menyala.
"Apa ada masalah? " tanya Diego dengan santai.
__ADS_1
"No." jawab Asfa dan memasuki pintu gerbang utama dari sebuah gedung pencakar langit yang masih terkena hembusan udara pagi.
"Selamat datang queen." sambut pemimpin staff keamanan yang ternyata sudah stand by di halaman utama gedung.
"Perketat keamanan hari ini, ubah sistem sayap barat dan selatan. Waktu mu hanya satu jam." ucap Asfa dengan memberikan sebuah flash disk ke pemimpin staff keamanan melalui kaca mobil yang terbuka.
"Siap queen." jawab pemimpin staff keamanan dan hormat membiarkan mobil sport itu memasuki parkiran khusus.
Tanpa satu kata pun Asfa keluar dari mobil nya di ikuti Diego yang juga ingin ikut turun, tapi langkah nya terhenti ketika tangan mungil itu menyodorkan sesuatu ke hadapan nya. Tanpa membantah, di ambil nya topeng di tangan Asfa dan di pakai tanpa menunda waktu, terlihat jelas putri tuan besar nya sangat menjaga identitas. Bahkan sebelum keluar dari mansion sudah menggunakan topeng nya dan membiarkan wajah manis nya bersembunyi, sama persis seperti tuan besar yang gemar membuat orang-orang penasaran dengan sosok nya.
Tidak ada kehidupan, yah begitulah keadaan gedung pencakar langit yang kini di tapaki oleh nya, hingga memasuki lift dan memperlihatkan bagaimana desain di dalam gedung pencakar langit itu. Banyak kaca dengan berbagai bentuk dan fungsi, tapi seperti nya tidak banyak bodyguard yang berjaga membuat Diego berfikir keamanan di dalam gedung pencakar langit itu masih kurang.
Tiing...
Suara lift terbuka membuat Asfa melangkah keluar dan di ikuti oleh Diego, tanpa di sadari Diego jas yang di kenakan nya hampir menyentuh sebuah pot bunga yang ada di sisi kiri luar lift. Dengan cekatan Asfa menarik tangan pria tua itu tanpa kata, sesaat Diego merasa terkejut dengan tindakan Asfa namun tanpa mempedulikan itu, justru Asfa mengambil sebuah jepit rambut di tas putih nya dan meleparkan nya ke atas pot itu.
Jepit rambut itu terbelah dan langsung terbakar, tapi pot itu masih terlihat indah di pandang seakan tidak terjadi apa pun. Arti nya jika ada yang sengaja menyentuh bunga virtual itu akan di pastikan mendapatkan hadiah istimewa dari sistem keamanan di gedung pencakar langit itu, Diego kini mulai memahami jika putri tuan besar nya lebih mengutamakan kepintaran bukan nya otot.
Memang sangat mirip dengan tuan besar nya dari segi kepribadiannya tapi berbeda dari cara bertindak nya yang seperti nya dominan dengan just action. Mungkin untuk beberapa waktu ke depan akan banyak pelajaran yang bisa di ambil oleh Diego dan mencoba beberapa kebiasaan dari pemimpin termuda yang kini menjadi nona muda nya.
"Be careful in your every step." ucap Asfa melanjutkan berjalan ke ruangan nya yang jelas ada di depan.
"Interesting queen." gumam Diego dan mengikuti langkah Asfa.
Ruangan yang terbuka menampilkan kemewahan yang elegan dan modern, setelah meletakkan tas putih di atas meja kerja nya. Langkah Asfa menuju ke sebuah lukisan bunga yang ternyata tidak begitu mencolok di sudut dekat dinding kaca yang menghadap ke langit, terlihat warna jingga mulai menampakkan wujudnya.
__ADS_1
Yah waktu masih pagi dengan jarum pendek tepat di angka 5 , memang sangat pagi untuk memulai aktifitas tapi seperti nya itu tidak untuk gadis yang sudah memulai pekerjaan nya di dalam ruangan nya. Setelah lukisan bunga terbalik, dinding itu bergeser dan menampakkan sebuah ruangan rahasia, tanpa kata tapi hanya sebuah lambaian tangan membuat Diego meletakkan koper kecil di atas meja kerja Asfa dan mendekati putri tuan besar nya itu.
"Awasi perubahan sistem keamanan hari ini, apa pun alasan papa, aku tidak akan mengeluh. Tapi kenali dimana anda berada saat ini." perintah Asfa sembari mulai berselancar di papan ketik.
Ruangan rahasia itu adalah ruang kontrol utama dimana itu menjadi pusat, sedangkan ruang kontrol lain nya hanya lah sebuah pengalihan. Dan memperkenalkan sistem keamanan pada pria tua yang kini menjadi assistant nya sangat lah penting karena dirinya tidak ada waktu untuk menjadi seorang guru dadakan.
"Waktu mu hanya dua jam dari sekarang, meeting ku akan di lakukan tiga jam dari sekarang." ucap Asfa dan meninggalkan Diego di ruangan rahasia sendiri an.
Tentu nya ruangan itu tertutup kembali setelah dirinya keluar, tapi sistem akan terbuka dengan pengaturan waktu yang sudah di buat nya. Bagaimana pun dirinya hanya ingin memberikan kepercayaan pada assistant baru nya, di buka nya koper kecil yang ada di atas meja.
Dengan mempelajari setiap berkas tanpa melewatkan satu point pun, hampir satu jam akhirnya semua berkas selesai di pelajari dan tidak ada perubahan yang signifikan membuat nya cukup puas dengan kerja Justin. Dimanapun Justin saat ini sudah pasti papa nya yang akan menjadi dalang nya, di ambil nya benda pipih di dalam tas nya dan sebuah nomer utama menjadi tujuan nya.
Belum mengucapkan sebuah sapaan tapi suara cemas dan tegas sudah memberikan begitu banyak pertanyaan membuat Asfa memijat pangkal hidung nya, migran yah itu yang kini di rasa kan kepala nya. Niat hati ingin memastikan sesuatu justru harus mendapatkan ucapan panjang kali lebar dari orang di seberang telfon, dan setelah tidak lagi mendengar suara kereta api kini giliran nya untuk berbicara.
"Don't many thingking! Just silent and take care of yourself." ucap Asfa dan menutup telfon nya tanpa menunggu jawaban.
Terlihat benda pipih nya berulang kali menyala membuat Asfa memilih mematikan ponsel pribadinya itu dan mengalihkan ke ponsel lain yang memang khusus untuk bekerja, waktu berjalan dengan cepat hingga membuat Asfa menghabiskan dua kaleng soda yang selalu tersedia di kulkas mini di dalam sebuah almari sedang di dalam ruangan kerja nya.
Dua jam berlalu dan pintu ruangan rahasia terbuka dengan Diego yang keluar tanpa topeng nya, terlihat rambut nya acak-acakan seakan baru saja terkena angin ribut. Sedangkan Asfa yang juga tidak menggunakan topeng menautkan ke dua alis nya melihat penampilan Diego yang berantakan.
"Sejak kapan badai ada di ruangan kerja ku? " tanya Asfa dengan menggeleng kan kepala nya.
"Berapa IQ mu? " tanya balik Diego dengan aneh.
Hanya bahu yang terangkat menandakan putri tuan besar itu tidak tahu berapa IQ nya, tapi tidak mungkin seperti itu. Siapa yang membuat sistem keamanan jauh lebih baik dari tuan besar nya itu, hampir saja dirinya tidak bisa membuka access untuk melakukan pekerjaan nya. Tapi untung lah tuan besar nya ber baik hati untuk mengajari nya dengan sambungan telfon yang cukup membuat Diego seperti anak TK saja, tapi wajah manis itu seperti tidak memiliki beban apa pun setelah membuat Diego kelimpungan.
__ADS_1
"Rapikan penampilan anda dan pelajari semua berkas ini. Satu jam." perintah Asfa tanpa memberikan waktu istirahat untuk Diego.
Boleh kan dirinya meminta untuk bermain granat, senjata api dan bertarung saja, kenapa menghadapi putri tuan besar nya seperti lebih buruk di banding kan perang. Tapi akhirnya hanya bisa pasrah dan melakukan perintah gadis manis di depannya, sementara gadis manis itu keluar dari ruangan kerja dengan menggunakan topeng di wajah nya.