
Bagaimana bisa seorang assistant tidak tahu berita sebesar itu, yah memang akhir-akhir ini dirinya justru sibuk mengurus wanita lain di dalam hidup nya. Pantas saja nona muda nya lebih tegas dan bersikap adil dengan menghukum nya, lihat lah tatapan tajam nya yang langsung membungkam bibir assistant nya dan dengan lunglai berjalan meninggalkan ruangan kerja.
"Duduk! " perintah Asfa, dan menggeser map di depannya ke sisi kiri meja.
"Gabriella Angkasa Pratama! " ucap Asfa agar wanita itu cepat sadar dan duduk di kursi seberang meja kerja nya.
Wajah Ella nampak terkejut tapi berusaha di sembunyikan dengan menunduk , meskipun begitu terlihat jelas bahu gadis itu tidak tenang dan duduk di kursi dengan wajah semakin menunduk. Sebelum menerima team kakak nya tinggal di mansion tentu saja Alvaro sudah men jelaskan setiap anggota team ya terlebih dahulu meskipun hanya lah kilas balik dan point terpenting saja.
"Tunjukkan mana yang tidak kamu pahami." ucap Asfa dan menunggu pergerakan Ella.
Gulungan kertas di buka dan diletakkan di atas meja kerja namun terlihat jelas jika gulungan itu penuh coretan yang membuat Asfa menghela nafas, di ambil nya sebuah map di laci teratas. Dan meletakkan map itu di atas gulungan kertas yang sudah lecek dan tidak bisa di ajak bekerja sama, terlihat Ella hanya melihat map di depannya.
"Gunakan ini dan jelaskan apa saja yang kamu pahami dan tidak pahami! " perintah Asfa sembari memberikan satu tablet yang ternyata sudah terpampang berkas kasus suaminya.
"Apa aku boleh? " tanya Ella yang ragu menggunakan tablet di atas meja.
"Ten minutes." ucap Asfa sembari memulai waktu di sebuah stopwatch di dalam tablet.
Awal nya sedikit ragu tapi setelah beberapa kata terdengar Ella men jelaskan apa saja yang di pahami oleh nya dan bagian mana yang membuat kepala nya migran, sedangkan Asfa hanya mendengarkan dan melihat titik-titik yang di tunjukkan Ella. Sekilas mata nya menangkap bayangan orang yang dikenalnya memasuki ruangan, dan dengan isyarat jemari nya membuat orang itu meninggalkan ruangan tanpa kata.
"Sudah itu saja, sisanya membuat kepala berdenyut." ucap Ella mengakhiri presentasi nya.
"Jika kamu berfikir ini rumit, pasti tidak akan melihat solusinya. Lihat lah serat saraf di titik ini, jika di per besar akan kelihatan dimana letak saraf yang ber masalah. Jangan gegabah tapi jangan terlambat juga, carilah titik yang memiliki resiko tertinggi tapi hasil maksimal. Seperti ini." ucap Asfa memberikan satu contoh operasi kecil melalui tablet nya.
"Wow, kenapa aku tidak ter fikirkan itu? " gumam Ella dengan berbinar.
"Ambillah dan pelajari sekali lagi. Sederhana kan bukan di perumit." perintah Asfa yang merasa cukup memberikan ilmu nya.
__ADS_1
"Thanks queen, sekali lagi aku minta maaf atas sikap ku. Aal benar aku tidak boleh menilai seseorang dari cover nya saja." ucap Ella dengan tulus.
"Hmm.Pergilah." ucap Asfa dan kembali menggeser map di meja sisi kiri.
"Permisi queen. " pamit Ella dan keluar dari ruangan kaca dengan memeluk tablet yang di pinjamkan untuk belajar kasus yang membuat nya migran.
Kepergian Ella membuat orang lain memasuki ruangan tanpa mengetuk pintu, terlihat satu tangannya membawa nampan dengan beberapa piring yang tertutup tudung. Aroma parfum yang seperti biasanya tak mengalihkan perhatian Asfa, tapi justru aroma lezat dan sedap sedikit menggelitik perut gadis itu.
Kruuuyuk.. kruuuyuk..
"Wah seperti nya ada yang meronta, ayo makan dulu. Lepaskan semua ini." ucap orang itu dan mengambil paksa map dan menukar nya dengan menu sarapan sehat dan non sehat.
Terlihat ada nasi goreng cabe hijau, udang goreng tepung, burger dan juga sop iga sapi. Makanan yang menggugah selera dan membuat mata gadis itu mengerjap sekali memandang makanan di depannya, terlihat porsi makanan mini namun pasti bisa untuk mengganjal perut kecil nya.
"Ayo makan nasi goreng cabe hijau dan udang goreng tepung nya, setelah itu kita nikmati sop iga sapi nya dan juga burger ini." ajak orang itu dengan memulai suapan pertama nya.
"Apa papa sudah menghubungi kakak? " tanya Asfa sembari mengikuti ajakan Alvaro untuk menikmati sarapan di jam sepuluh pagi.
"Papa masih di negara itu, mungkin lusa baru kembali." jawab Alvaro.
"Bisakah kakak awasi mansion? Aku harus pergi ke perusahaan dan mungkin tidak pulang beberapa hari." pinta Asfa.
"Untuk apa kedua assistant mu? Berikan saja mereka pekerjaan tambahan." jawab Alvaro dengan santai.
"No, Kali ini tidak bisa ka. Ada kontrak yang harus aku pelajari lagi sebelum membuat keputusan." ucap Asfa menghentikan suapan nasi goreng nya.
"Atau kakak saja yang mewakili mu, bagaimana? " tanya Alvaro dan menyodorkan tangannya dengan satu sendok nasi goreng ke arah adiknya.
__ADS_1
"Can't ka. Selama aku masih bisa bekerja, aku akan ber tanggungjawab sendiri." jawab Asfa menerima suapan dari kakak nya.
"Baik lah, tapi jangan pergi untuk hari ini. Perban Abhi akan di buka hari ini dan aku sudah mengabari orang tua nya sebelum membuat sarapan.
Tidak ada jawaban selain suara kunyahan makanan, diam juga berarti setuju. Alvaro tidak pernah mempermasalah kan apapun tentang adiknya, kecuali jika gadis itu menghilang mendadak dan membuat jantung nya berlari an tanpa arah. Setelah tiga puluh menit akhirnya sarapan selesai dan di akhiri dengan menikmati burger bersama, tidak ada lagi bunyi perut yang meronta.
" Ka bisa selidiki seseorang untuk ku? " tanya Asfa dengan ragu.
Ntah apa yang terjadi pada dirinya, satu bayangan melintasi fikiran nya begitu saja dan pertanyaan yang keluar dari mulutnya seperti tidak bisa di hentikan. Alvaro yang menyadari ekspresi adiknya yang memiliki keraguan membuat nya berhenti mengunyah burger mini nya, di letakkan nya burger di atas piring nya.
"What happened? " tanya Alvaro dengan memegang tangan putih Asfa.
"Nothing ka, lupakan saja." ucap Asfa dengan sebuah senyuman.
"Katakan jika itu memang mengganggu mu. I am here for you." ucap Alvaro dan melanjutkan memakan burger nya.
Percakapan itu berakhir karena Asfa tidak memberikan jawaban apapun selain kembali menikmati burger menu sarapan terakhir nya, meskipun fikiran nya masih saja melihat bayangan satu pria yang ntah memiliki kharisma darimana.
Sedangkan di tempat lain di dalam sebuah kamar yang luas dengan berbagai hasil lukisan terdapat satu sosok yang tengah tertidur dengan tubuh tengkurap memeluk satu bantal hitam, dengan pakaian nya yang masih style di luar rumah tetap saja sosok itu tertidur dengan dengkuran halus.
Terdengar sebuah lagu yang mulai mengisi kamar tersebut dengan lembut nya, dan tampak tangan sosok itu berusaha meraba sisi tempat tidur nya untuk menangkap asal suara yang mengusik tidur nya. Setelah mendapatkan dengan lirikan di balik bantal di geser nya icon hijau di genggaman tangannya, dan dengan malas meletakkan benda pipih itu di telinga nya.
"Tuan muda dimana? Cepat lah pulang, tuan besar mengalami serangan jantung." ucap panik dari seberang.
"Apa! Ok aku pulang." seru sosok itu dan segera bangkit dari posisi ternyaman nya.
Dengan membasuh wajah di wastafel dan menarik jaket kulit di sofa, dengan buru-buru sosok itu meninggalkan apartemen pribadinya.
__ADS_1