My Secret Life

My Secret Life
Bab 176: Jadilah dirimu sendiri!


__ADS_3

"Ada apa?" tanya Varo.


Hening....


Benar-benar adiknya tengah merajuk, Varo bangun dari sofa dan berjalan mendekati Asfa. Langkah kakinya belum sampai di depan sang adik, seseorang datang dengan berlari dan langsung memeluk Asfa.


"Kenapa kamu di sini?" tanya Varo.


Asfa mencoba menahan tubuh istri sang kakak. "Rania, aku tidak bisa nafas."


Sontak Rania melepaskan pelukan dan nyengir kuda. "Maaf maaf, apa ada yang sakit? Sini aku…"


"Rania Alvaro Caesar!" panggil Varo dengan nada lebih tegas.


Baru saja ingin istirahat dan melupakan rasa di hatinya, Asfa harus berada ditengah pasangan suami istri beda usia. "Ka…."


"......."


"Nak, bisa keluar!" titah seorang wanita dari depan pintu.


Varo berbalik dan menatap sang nenek. Wanita berhijab itu berdiri di depan pintu dengan tangan menyilang di dada. Belum sempat menjawab adiknya,Varo melihat wajah serius Nenek Ara. "Okay nek."


Varo beralih menatap Rania dan Asfa, Rania masih menunduk dan Asfa mengedipkan mata agar kakaknya tidak perlu khawatir. Tangan Varo mengusap kepala Asfa, dan berjalan meninggalkan kedua wanita di atas ranjang. Nenek Ara berjalan di depan dan diikuti oleh Varo. Pintu kamar tertutup.


"Bernafaslah! Sampai kapan mau tahan nafas?" Asfa bangun dari ranjangnya.

__ADS_1


"Huft, Queen." panggil Rania.


Tidak ada jawaban, langkah kaki Asfa berjalan menuju dinding kaca dan Rania mengikuti dengan racauan tidak jelas.


Sreeek


Pintu kaca terbuka, semilir angin menerpa wajah. Menerbangkan untaian rambut hitam kemerahan yang terikat menjadi satu, penampilan Asfa sangat modis. Rania bahkan terpaku ketika melihat wanita panutan hidupnya memejamkan mata menikmati setiap hembusan angin.


"Apa kamu bahagia menikah dengan ka Varo?" tanya Asfa tanpa memandang Rania.


Rania memejamkan mata, mencoba mengikuti apa yang dilakukan Asfa. "Pilihan anda sangat baik, tapi aku…."


"Kamu tidak pantas untuk ka Varo? Itu maksudmu?" sela Asfa dan membuka mata.


Asfa berhenti dan berbalik menatap Rania yang menghampiri dirinya. Penampilan Rania mengalami banyak perubahan, tidak ada gadis berkaos kelinci dengan dua kuncir kuda atau kepangan rambut. Rambut tergerai dan make up tipis dengan gaun lengan panjang. Cantik dan terkesan dewasa.


Rania berhenti dan mengatur nafas. Jarak hanya satu meter, membuat Asfa maju ke depan. Tangan kanan Asfa mengangkat wajah Rania, dengan tangan kiri menarik satu ikat rambut yang mengikat rambutnya. "Kamu terlalu berlebihan, untuk apa memakai topeng di dalam rumahmu sendiri."


Rania terdiam dan tidak paham apa yang dimaksud oleh Asfa, namun membiarkan tangan Asfa sibuk melakukan sesuatu pada rambutnya. Hanya dalam beberapa detik, hembusan angin terasa lebih segar menerpa leher. Kini rambut Rania terikat menjadi satu, sementara rambut Asfa tergerai bebas berantakan.


"Ini kamu, dan tetaplah jadi dirimu sendiri. Jangan belajar menjadi orang lain, kamu paham Rania?" jelas Asfa menatap Rania.


Greeb


Rania langsung memeluk Asfa, ucapan Asfa sangat mewakili perasaan di hatinya selama beberapa hari. Bagaimana rasanya mencoba menjadi seorang Queen yang harus diam tanpa kata, meskipun berada di keramaian. Isakan tangis Rania, membuat Asfa mengusap kepala gadis labil yang kini menjadi kakak iparnya.

__ADS_1


Lima menit berlalu, isakan tangis Rania mereda. Asfa melepaskan pelukan, dan membawa Rania untuk duduk di ayunan yang tersedia di sudut kanan. Keduanya duduk di ayunan, Asfa menatap langit. "Aku minta maaf, seharusnya hidupmu bahagia dan pernikahan ini menjadi awal hidup barumu. Bisakah bertahan sebentar?"


"Queen, jangan minta maaf. Aku belajar banyak darimu, kamu seperti cahaya di langit malam dan siangku. Hanya saja aku tidak bisa seperti dirimu, aku ingin banyak berbicara bukan diam. Aku ingin bermain dan melakukan kenakalan. Pernikahan ini menjadi kebahagiaan ku, karena aku bisa memelukmu dan mencuri sedikit waktu seorang Queen. Hehehe," tutur Rania dengan wajah sumringah dan memberikan pelukan dari samping, sembari menatap Asfa.


Asfa melirik Rania dan tersenyum, terlihat rapuh dan lemah. Akan tetapi Rania bisa belajar cepat. Mata dan senyuman Rania seperti gula larut dalam air panas, perubahan mood pun seperti cuaca. Tangan kanan Asfa tergerak untuk mengusap kepala Rania, bagaimanapun Rania masih terlalu muda darinya.


"Jadilah dirimu sendiri. Bagaimana rasanya menjadi orang lain?" tanya Asfa.


Rania melepaskan pelukan dengan bibir mengerucut, tiba-tiba saja beberapa kejadian mengubah emosinya. "Kenapa semua orang bertanya seperti apa wajahmu? Kenapa pemimpin baru hanya diam saja? Apa ini pemimpin yang dipilih? Banyak sekali ucapan lain yang ingin aku jawab, tapi bibirku terikat sumpah. Queen tidak bisakah aku menjawab mulut tak berakhlak mereka?! Rasanya pengen melempari mereka dengan batu."


Asfa terkekeh kecil mendengar curhatan Rania, bibir Rania semakin mengerucut. Melihat itu kekehan dihentikan, dan dengan mengubah posisi duduk, kini Asfa menghadap Rania. Posisi duduk menyilangkan kaki di atas ayunan. "Rania Caesar Alvaro, dengarkan aku. Seorang pemimpin itu harus sedikit bicara banyak bertindak. Tidak ada larangan kita menjawab setiap pertanyaan, tapi apakah itu mengubah pandangan mereka? Tidak. Ketika kita memutuskan hal terkecil sekalipun, dampaknya akan besar. Pemimpin adalah contoh nyata. Menjadi bijaksana bukan sebuah pilihan, namun sebuah kepastian. Pemimpin tidak bisa bersikap sesuka hati dan egois. Aku ingin kamu menjadi diri sendiri, apa kamu paham?"


Penjelasan Asfa, membuat Rania menunduk. Padahal belum ada seminggu dirinya menempati posisi seorang pemimpin. Lihatlah tekanan yang didapatkan seperti bola-bola api memenuhi relung hati dan pikirannya. Asfa paham situasi rumit dan berat tengah dirasakan Rania, dengan merengkuh tubuh Rania dan usapan lembut di kepala kakak iparnya itu.


"Bertahanlah, tugasmu adalah mendukung ka Varo. Aku akan kembali dan mengambil tanggung jawabku. Sekarang tenanglah, mau berenang?"


"Tidak ada kolam renang. Waktumu untuk makan dan minum obat!"


Kedatangan pihak ke-tiga dengan suara larangan dan perintah, membuat Rania dan Asfa mengalihkan pandangan ke arah asal suara. Rania langsung bangun dari posisinya, dengan jari menunjuk ke arah pihak ketiga. "Kamu itu siapa? Berani sekali memberikan perintah..."


"Aku akan makan, apa yang kamu buat?'' sela Asfa dan meninggalkan ayunan.


"Queen?"


"Terkadang kita harus paham kapan mengalah dan berjuang, saat ini aku ingin mengalah. Ayo kita makan."

__ADS_1


__ADS_2