
"Leo? kenapa kamu ada disini nak?" tanya tuan Mahendra yang tengah menikmati pemandangan di sekitar tempatnya berkemah.
Kedua orang tua Abhi memang sedang mengasingkan diri, menikmati keindahan alam yang sudah lama di rencanakan. Setelah melihat putra tunggal mereka memiliki pasangan, membuat keduanya menyingkir menikmati hari tua dengan suasana yang berbeda. Namun, melihat kedatangan dua heli yang tidak jauh dari tempat mereka berkemah. Keduanya was-was, bagaimana pun banyak musuh yang mengincar keluarga Bagaskara. Tapi rasa was-was itu hilang, ketika melihat Leo dan beberapa bodyguard yang datang. Meskipun orang tua Abhi tahu, mereka bukan bodyguard keluarga Bagaskara.
"Maat Tuan, nyonya, Tuan Abhi mengalami kecelakaan dan sekarang di rawat di rumah sakit... " ucap Leo menunduk.
BRUUGG....
"Maa... Bangun sayang." seru Tuan Mahardika yang menangkap tubuh sang istri akibat shock dan hampir terjatuh ke tanah.
Puk....
Puk....
Puk....
Di tepuknya pelan pipi sang istri agar sadar, dan Leo segera berlari ke dalam tenda mencari air minum.
"Ini tuan," ucap Leo menyodorkan botol air mineral yang sudah di buka.
Dengan cepat Tuan Mahendra menyambar botol dan mencipratkan air sedikit demi sedikit, berharap istrinya segera sadar. Benar saja,mata itu mulai bergerak dengan racauan bibir yang tidak bisa terdengar jelas. Tapi, dari gerak bibirnya sudah jelas tengah mengkhawatirkan putra tunggal mereka. Ternyata benar firasat seorang ibu tidak pernah salah. Sebelum kedatangan Leo. Bunda Aliya sudah meminta untuk pulang sejak kemarin malam karena perasaan yang gelisah. Seakan akan terjadi sesuatu yang membuat nafasnya tak terkendali.
"Tenanglah ma, Abhi pasti kuat dan akan baik-baik saja. Leo ayo kita pulang!" titah Tuan Mahendra dan membopong tubuh sang istri yang masih setengah sadar.
"Baik Tuan, tunggu sebentar." jawab Leo yang menghampiri para bodyguard dan mendiskusikan sesuatu.
Setelah diskusi mencapai titik kesepakatan. Akhirnya Leo beserta orang tua Abhi meninggalkan tempat perkemahan terlebih dahulu. Sedangkan para bodyguard, hanya pasrah membereskan semua barang yang digunakan Tuan dan nyonya Mahendra untuk menikmati masa tua mereka, serta pergi menggunakan mobil yang terparkir tidak terlalu jauh dari tempat perkemahan. Satu heli lagi sengaja di gunakan untuk dua bodyguard yang memiliki wewenang menjaga keluarga Bagaskara. Di sisi lain, kini Justin tengah mengumpulkan seluruh bodyguard dan pelayan yang ada di rumah besar sebagai tempat tinggal Delia.
Terlihat jelas raut singa yang siap menerkam dengan taring yang terpancar dari sinar matanya yang menusuk. Tidak satu pun terlewat menjadi sasaran intimidasi kekuatannya yang membuat rumah terang benderang itu, menjadi dingin sedingin kulkas lima pintu. Di antara semua orang hanya satu yang tidak berkumpul, karena harus melakukan tugasnya untuk menyelidiki kemungkinan terkecil sekalipun dari kejadian malam ini. Dialah Hanna sang psikiater yang tengah melihat dan menyusuri setiap inci kamar nona Delia.
Dengan teliti beberapa barang di pisahkan sesuai dengan istingnya. Sesekali wajahnya tampak tegang dengan tautan alis yang menunjukkan keseriusan saat bekerja.
__ADS_1
"Dilihat dari bentuknya, pasti ada sebuah poster yang tertempel di sini. Tapi poster apa? Jika tidak penting, kenapa seperti di ambil secara paksa?" ucap Hanna meraba pintu bagian belakang, di dalam kamar mandi yang masih menyisakan sedikit kertas mengkilap di sudut bagian atas. Seperti di tarik dengan paksa, membuat kertas itu tidak terlepas dengan sempurna.
Tap...
Tap...
Tap...
Suara langkah kaki memasuki kamar yang terlihat berantakan dengan beberapa tumpukan barang yang terpisah. Namun, sosok yang di carinya tidak ada. Seketika pandangannya melihat kamar mandi yang tidak tertutup dengan rapat. Langkah kaki berjalan mendekat dengan suara sepatu yang tegas.
"Apa yang kau lakukan Han?" tanyanya setelah memperhatikan wanita berumur 25 tahun itu menatap serius belakang pintu.
"Hanna!" Serunya sekali lagi dengan lebih keras.
Plak...
"Auuw, kau ini kenapa HAH! Sakit tau," ucapnya dengan mengelus lengan yang di pukul Hanna.
"Makanya, jangan usil! Siapa suruh berteriak?" jawab Hanna tanpa mempedulikan ringisan pria di sebelahnya.
"Of course not!(Tentu saja tidak?)Mr. Justin yang terhormat, sudahlah. Lihatlah ini, bagaimana menurut mu?" jawab Hanna dengan memberikan sepotong sobekan kertas mengkilap dan menunjukkan rekatan lem di 4 titik yang ada di belakang pintu kamar mandi.
"Ini seperti poster, tapi kenapa hanya sepotong kecil yang tersisa?" tanya Justin seperti pria lugu.
"Heh Tuan, kau ini kan pria otak 95 persen! Masa tanya aku, itu tugas mu loh." Tukas Hanna beranjak meninggalkan kamar mandi.
"Dasar wanita jadi-jadian!" gumam Justin yang masih terdengar oleh Hanna.
Byuur... (Dengan cepat Hanna kembali ke kamar mandi mengambil segayung air dan menyiramkannya ke Justin)
"Hannaaaaaa...'' teriak Justin yang membuat para bodyguard dan pelayan di bawah sana merinding disco.
__ADS_1
"Apa, Tuan! Tetangga bangun semua kalau kau teriak mulu! Sudahlah, aku akan menjelaskan beberapa hal yang harus anda ketahui," jawab Hanna dengan santai sesekali melirik Justin yang sudah seperti bebek habis nyilem.
Hahaha rasain, makan tuh hasil karya wanita jadi-jadian. ~batin Hanna dengan menahan tawanya.
Namun, lirikan dengan senyuman tertahan seakan tertangkap basah oleh Justin yang membuat pria itu melotot dengan sumpah serapah di dalam hatinya.
Sudah hampir dua jam, Justin mendengarkan semua klarifikasi dengan berbagai sisi tentang setiap hasil penyelidikan seorang psikiater tentang Delia. Tidak ada emosi yang tercampur di saat bekerja. Keduanya nampak kompak saling memberikan pendapat dengan berbagai kritik dan saran. Bahkan sampai kemeja yang tadinya basah kini sudah mulai mengering.
"Baiklah, apa sudah semuanya?" tanya Justin yang melihat psikiater itu mengambil nafas dalam seakan baru saja diburu anjing jalanan.
"Ya tuan, apa tuan sudah memeriksa CCTV?" tanya balik Hanna.
"Sudah! Turunlah dan mintalah semua orang di bawah sana untuk beristirahat. Setelah itu kamu kembali ke kamar ini dan bereskan semua nya!" ucap Justin meninggalkan kamar Delia menuju ke salah satu kamar yang sudah di siapkan untuknya oleh queen.
"Hey tuan, aku juga lelah!" seru Hanna yang tidak di gubris oleh Justin.
"Huft kenapa nasibku malang sekali, ouh mata bersabar lah. Tuan mu sangatlah kejam." keluh Hanna meninggalkan kamar Delia dan turun kebawah.
Benar matanya langsung kembali terbuka ketika melihat semua penghuni rumah mewah ini tidak berani beranjak dari posisi mereka sedikitpun. Memang di akui Hanna, jika semua yang bekerja di bawah Justin memiliki loyalitas yang sangat tinggi. Karena pada dasarnya Justin mendidik semua orang dengan baik dan penuh kepercayaan. Pria satu itu memang langka, meskipun baginya menyebalkan. Namun, melihat queen yang seakan bergantung pada Justin. Tentu saja, membuat Hanna semakin terpesona hehehe meskipun hanya dirinya sendiri yang tahu seberapa senangnya bisa sering bertemu Justin.
"Kalian istirahat lah. Tuan Justin sudah mengizinkan kalian bergerak, dan ya satu lagi. Tolong pastikan kalian memiliki senam jantung yang terbaik. Singa mesir sudah kembali," ucap Hanna yang membuat beberapa bodyguard saling pandang bingung, beberapa menahan senyum dan para pelayan hanya merinding.
Semua berlari meninggalkan ruang utama agar tidak perlu menahan tekanan batin lebih lama. Sedangkan di dalam kamar dengan dua komputer yang di desain lebih canggih. Justin tersenyum jahil setelah mendengar dan melihat apa yang psikiater itu lakukan.
"Lihat saja apa hukuman mu wanita jadi-jadian! Ku pastikan, kau akan bertekuk lutut di hadapanku, ah ya aku harus melihat CCTV-nya lebih rinci." gumam Justin mengetik beberapa angka dan huruf secara bersamaan untuk membuka CCTV yang tersembunyi.
Sementara dirumah sakit, Asfa tengah tertidur setelah memeriksa setiap sendi dan syaraf milik Abhi. Gadis itu bahkan masih menjadi Asfa putri bintang, bukan Asfa istri Abhi. Rasa lelah dan kantuk tidak bisa tertahan lagi, hingga tubuhnya memilih untuk berbaring di sofa yang tersedia di ruangan rawat itu.
......................
Praaang...
__ADS_1
Praaang....
Suara pecahan barang yang terlempar, menjadi melodi di dalam kamar bernuansa putih tanpa motif apapun. Di pandangnya pria dengan perut buncit di tempat tidur dengan ketajaman mata tingkat tertinggi. Semua amarahnya kini memuncak, membuat semua guci dan berbagai furnitur lainnya menjadi pecahan berserakan kemana-mana. Hingga sebuah fikiran yang begitu buta menghampiri otak kecilnya.