My Secret Life

My Secret Life
Bab 61: Diatas langit masih ada langit


__ADS_3

Meninggalkan hasil dari senjata makan tuan, di dalam mansion queen tengah terjadi perdebatan di antara team yang katanya selalu kompak dan perdebatan itu mengusik ketenangan tuan rumah. Hingga membuat gadis itu harus turun tangan sendiri karena pawang dari team itu tengah keluar melakukan urusan lain, suara tegas dengan dingin kini menggema di ruangan yang terbilang cukup luas meskipun itu bukan ruang tamu.


"Hentikan!" seru Asfa dan membuat semua orang menatapnya.


Di pandangi nya wajah satu persatu, dan terlihat wajah kekesalan dan juga ketidakcocokan di antara ke empat makhluk di depannya.


"Tell what happen? " tanya Asfa dengan nada yang diturunkan.


"Ini bukan urusan anda queen, ini masalah team kami." jawab Gabriella dengan tegas.


"Ella!" peringatan Leon yang ntah kenapa dirinya tidak suka dengan sikap sahabat nya itu kali ini.


"Itu benar Le, dia memang queen tapi kita yang lebih tahu tentang pekerjaan kita." jawab Gabriella tidak mau melunak.


"Ayolah sudahi perdebatan kita, pasti Aal akan menemukan solusinya." ucap Andira dengan nada lembut.


"Benar kata Andira, kita tunggu Aal." sambung Askaa dan merangkul Andira.


"Tapi bagaimana jika docter utama datang lebih cepat, sedangkan alat nya masih belum siap." keluh Gabriella dengan frustasi.


Perdebatan yang terlihat lebih lembut membiarkan ke empat manusia itu tidak menyadari apa yang tengah di lakukan oleh Asfa, hingga suara orang yang di tunggu terdengar di telinga ke empat manusia.


"Ada apa? " tanya Alvaro yang melihat wajah ke empat anggota team nya di tekuk.


"Alat pembedahan yang terakhir sulit dipasang, kami tidak bisa meskipun sudah mencoba berbagai metode." ucap Leon yang biasanya bisa mengatasi masalah terberat sekalipun.


Sedangkan Alvaro melirik ke arah alat yang di maksud, dan sebuah senyuman terukir di wajah dewasa itu yang sukses membuat anggota team nya penasaran. Bahkan Andira reflek mendekati Alvaro dan mengecek kening serta leher pria itu, tidak panas sama sekali dan kini pandangan beralih pada arah mata Alvaro terpatri.


SERIOUSLY?


Disaat semua orang sibuk berdebat justru sosok terabaikan melakukan sebuah pekerjaan yang menjadi inti permasalahan, lihatlah tangan mungil itu dengan lincah nya membongkar alat dan merakit nya dengan cara yang profesional. Melihat Andira juga terpaku pada sesuatu, sontak membuat tiga anggota lain nya memandang arah yang sama.


"Amazing girl." batin Leon yang sekali lagi terpesona dengan gadis di depan meja operasi.


"Stop!" seru Gabriella yang langsung mengalihkan semua perhatian tapi tidak perhatian Asfa.

__ADS_1


"What happen Ella? " tanya Askaa.


"Bisakah dia hentikan itu? Bagaimana jika rusak? " ucap Gabriella yang terdengar jelas di telinga semua orang.


"Tunggu dan lihat. Don't judge someone by cover." ucap Alvaro menatap Gabriella dengan tatapan tajam.


"Aal." panggil Andira yang bisa merasakan aura Alvaro menjadi tidak bersahabat.


Semua nya menjadi diam dan hanya menatap gadis di depan selama dua puluh menit, dan terlihat gadis itu melepaskan kacamata satu sisi nya dan alat lainnya ke tempat yang semula. Wajahnya kini beralih menatap team yang di bawa kakaknya, tidak ada senyuman ataupun garis amarah tapi wajahnya dingin tanpa ekspresi meskipun tetap saja terlihat imut.


"Kalian punya mulut untuk bertanya , bukan meremehkan!" ucap Asfa berhenti di depan semua orang dan langkah nya keluar meninggalkan ruangan tanpa kata lagi.


"Jelaskan! " ucap Alvaro membuyarkan pandangan anggota nya.


Karena melihat anggota nya hanya diam, kini tatapan nya beralih pada wanita di depannya. Dengan berat hati Andira menjelaskan apa yang terjadi, dan ekpresi Alvaro membuat nya bergidik ngeri terlebih lagi tatapan tajam nya siap menujuk wanita lain di team nya. Gabriella yang meraja kemarahan Aal tidak seperti biasanya dengan susah menelan saliva nya, tapi pria itu tidak mengucapkan satu kata pun selain tatapan menerkam.


"Aal." panggil Andira.


"Jangan berfikir kalian lebih pintar dari nya! Kalian tidak mengenal boneka ku dengan sempurna. Tinggalkan mansion jika kalian merasa paling jenius. Diatas langit masih ada langit! " ucap Alvaro yang langsung menancap di hati anggota teamnya.


Setelah mengatakan itu, Alvaro meninggalkan ruangan tanpa menengok ke belakang dan lihatlah tubuh anggota nya yang lemas bahkan Gabriella harus di tahan oleh Leon agar tidak jatuh. Apapun yang dikatakan Alvaro memang benar tapi tidak biasanya sikap nya sekeras itu, dan kata boneka ku kini terpatri di dalam memori Leon.


Dalam mansion sebesar ini kemana dirinya harus mencari pemimpin teamnya, akhirnya hanya bisa bertanya beberapa bodyguard yang memberitahu bahwa docter Alvaro pergi ke ruang gym. Dengan langkah cepat Leon menghampiri ruangan seperti arahan bodyguard yang menjawab pertanyaan nya, pintu kaca yang gelap dan tidak menampilkan apa yang terjadi di dalam sana.


Kliiik...


Suara pintu terbuka dan pemandangan yang pertama di lihatnya mampu menghentikan langkah nya di ambang pintu, bisakah jantungnya tetap aman jika setiap saat harus mendapatkan shock terapi. Lihatlah pemandangan di depan sana yang membuat hati nya tertusuk, apa yang terjadi pada hati nya.


"Sebaiknya aku kembali nanti." gumam Leon dan meninggalkan ruangan gym tanpa menyapa.


"Apa adikku marah dengan team kakaknya? " tanya Alvaro mengelus kepala Asfa yang ada di dalam pelukan nya.


"Kakak terlalu berlebihan, mau latihan? " tanya Asfa dan melepaskan pelukan kakaknya.


"Latihan pernafasan? " tanya balik Alvaro.

__ADS_1


"No, ayo bertarung." jawab Asfa dan mengikat rambutnya asal.


"Are you serious queen? " tanya Alvaro dengan alis terangkat.


Bukan nya menjawab tapi Asfa sedikit membuat jarak dan lihatlah kaki dan tangan nya sudah bersiap dengan posisi kuda-kuda, melihat keseriusan adiknya membuat Alvaro hanya melepaskan kemejanya dan melemparkan ke sembarangan arah.


Pertarungan terjadi cukup sengit hingga keringat bercucuran tapi tak membuat keduanya menyerah untuk melakukan penyerangan dan pertahanan, ntah berapa kali pukulan di rasakan oleh Alvaro tapi terlihat hanya luka memar ringan yang di dapat sedangkan Asfa masih aman karena pada kenyataannya Alvaro hanya menjadi samsak untuk adiknya. Meskipun begitu tidak membuat Alvaro merasa di rendahkan karena membantu adiknya melepaskan emosi sisi iblisnya juga tanggungjawab sebagai seorang pelindung adiknya, melihat adiknya berhenti menyerang kini senyuman terbit di wajah tampan dan acak-acakan.


"Thanks always with me." ucap Asfa memeluk Alvaro dan keringat itu akhirnya saling berkenalan.


"Bersihkan dirimu dan temui suami mu, kakak tidak mau memberikan obat bius lagi. Oh iya kakak sengaja membiarkan tuan dan nyonya Mahardika kembali ke kediaman Bagaskara." ucap Alvaro melepaskan pelukan yang sama-sama basah itu.


"Hmm.Berikan pengamanan juga, kakak yang bertindak maka kakak yang bertanggung jawab." jawab Asfa dan meninggalkan Alvaro yang diam dan paham maksud adiknya.


setelah memungut kemeja nya kembali dan menyampirkan di bahu kanannya, terasa ada getaran di saku celana nya dan itu membuat Alvaro segera mengambil benda pipihnya. Sebuah nama tertera di layar dan dengan cepat icon hijau digeser dan menunggu suara dari seberang dengan tidak sabar.


"Selesaikan semua secepatnya, jangan lengah." ucap seseorang dengan suara berat.


"Tenang pa, aku ada bersama putri raja." jawab Alvaro dan panggilan berakhir.


Meninggalkan ruangan gym dan menuju kamar pribadi nya, tapi terlihat wajah pria keturunan Inggris berdiri di samping pintu kamar nya dengan tangan bersedekap. Wajah itu seperti menahan banyak pertanyaan, meskipun wajahnya masih dalam keadaan tenang.


"Aal." panggil pria itu saat melihat Alvaro membuka pintu kamar nya dengan password.


"Masuk dan tunggu! " perintah Alvaro membuka kamar dan membiarkan pria keturunan Inggris itu ikut masuk.


Terlihat kamar yang mewah dan tirai yang terbuka memberikan sinar matahari izin untuk menyinari kamar bernuansa elegan itu, tidak ada satu foto pun selain sebuah lukisan sebuah mansion yang indah di atas tempat tidur. Dan peralatan elektronik yang canggih seperti komputer terbaru yang ada di meja kerja Alvaro, tapi ranjang itu terlihat rapi seperti tidak tersentuh semalaman.


Hanya membutuhkan waktu lima belas menit, akhirnya Alvaro keluar dengan celana olahraga dan koas putih yang menerawang. Di dekati nya sebuah almari mini samping tempat tidur yang ternyata di dalam nya ada kulkas mini, dan tangan nya mengeluarkan dua kaleng soda dingin.


"Minumlah." ucap Alvaro mengulurkan satu soda ke wajah pria keturunan Inggris.


"Thanks Aal." jawab pria itu.


"Apa tujuanmu Le? " tanya Alvaro to the poin.

__ADS_1


"Aku ingin tahu apa maksud ucapan mu tadi? " tanya Leon dengan menikmati soda.


"Hahaha Leon Leon, terkadang kebenaran bisa membuat seseorang hancur. Apa masih ingin tahu hubungan kami? " ucap Alvaro yang langsung berubah lebih dingin, padahal di awal tawa nya terdengar jelas.


__ADS_2