
Bersamaan dengan langkah kaki sampai di depan kamar Asfa. Tuan Luxifer, Varo dan Rania baru saja keluar dari kamar Asfa. Sejenak Vans berhenti dan Tuan Luxifer menghampiri pria itu. "Kemana Asfa akan pergi?"
"Cafe HighStar," jawab Vans.
Satu alis terangkat, untuk apa putrinya ke cafe yang cukup jauh dari mansion.
"Pa, apa sebaiknya aku ikut Queen?" tanya Varo cemas.
Tuan Luxifer menggelengkan kepala. Situasi tidak sebaik itu. Sehingga Varo bisa menjadi pendamping Asfa. "Vans, jaga Queen. Pastikan putriku baik-baik saja!"
"Siap, Tuan. Saya akan menjaga Queen dengan sepenuh jiwa dan raga," Vans menjawab dengan serius dan mendapatkan tepukan pundak kiri dari Tuan Luxifer.
"Ayo, kita pergi. Lebih baik semobil dan lakukan rapat dengan cepat," Tuan Luxifer berjalan di depan diikuti Varo dan Rania.
Vans menunggu hingga keluarga Asfa memasuki lift. Setelah beberapa detik menunggu, Vans memutar knop pintu dan masuk ke kamar Asfa. Peri kecilnya tengah berdiri di depan cermin dan menyisir rambut yang basah. Mata Vans melihat sebuah hair dryer di atas meja rias. "Kemari, biar aku keringkan."
"Hmmm. Kita pergi sekarang," Asfa meletakkan sisir nya dan menghampiri ranjang menyambar jacket kesayangannya.
Vans menghela nafas dan menerbitkan senyuman terbaik. "Baiklah. Kemana kita akan pergi?"
"Come on, Ka. Jangan tiba-tiba amnesia. Kita ada janji dengan kakek Burhan, kan?" Asfa memakai jaketnya dan mengeluarkan rambut basah dari dalam jacket.
Vans berjalan di samping Asfa. "Masih mau pake mobil? Bagaimana jika pake motor saja. Cuaca cukup bersahabat."
Tidak ada jawaban. Keduanya berjalan meninggalkan kamar dan menuju Lift. Tak perlu menunggu lama, lift kembali terbuka. Keduanya masuk tanpa melakukan percakapan apapun. Asfa terlihat tenang, tapi diam-diam menghanyutkan. Sementara Vans hanya diam dan memberikan waktu pada peri kecilnya untuk berpikir tenang.
Tiiing
__ADS_1
Lift terbuka. Asfa berjalan terlebih dulu dan diikuti Vans seperti ekornya saja. Para bodyguard menundukkan kepala tanpa sepatah kata. Aura dingin mencekam menyebar di seluruh ruangan. Tidak ada satu bisikan pun yang keluar dari bibir para bodyguard, kecuali sikap hormat yang ditunjukkan.
Pintu utama mansion terbuka dengan sendirinya. Asfa dan Vans keluar dari mansion dan sebuah mobil sport hitam sudah terparkir cantik halaman depan mansion. Vans berlari kecil dan dengan sigap membukakan pintu untuk peri kecilnya. "Silahkan, Queen."
Asfa masuk tanpa mengucapkan terima kasih. Pintu ditutup dan Vans berlari memutar depan mobil, membuka pintu kemudi dan masuk ke dalam. Setelah memasang sabuk pengaman dan melihat Asfa sekilas. "Okay, ready?"
"Always." jawab Asfa.
Kunci diputar, mesin dinyalakan. Kedua tangan Vans sudah bersiap di stir kemudi dan gas dimasukkan. Mobil melaju dengan kecepatan pelan, gerbang terbuka tanpa perlu seorang satpam. Kepergian mobil sport hitam dari mansion, membuat pintu gerbang kembali tertutup secara otomatis.
Asfa memilih memejamkan matanya, membiarkan Vans fokus pada jalanan. Sementara di tempat lain, suara deringan ponsel berulang kali terdengar. Tapi, si pemilik benda pipih itu enggan menjawab. Satu pria masuk tanpa mengetuk pintu dengan membawa sebuah nampan di satu tangannya.
"Kita sarapan di dalam kamar saja. Sandwich keju dengan secangkir kopi," Pria itu melihat bosnya yang masih menatap keluar jendela. "Bos Abhi."
Abhi berbalik dan menatap asistennya. "Apa ada kabar dari rumah sakit?"
Abhi berjalan dan mengambil benda pipih di atas nakas samping tempat tidur. Ponsel dilemparkan ke arah Leo. Beruntung pria itu sigap dan menangkap ponsel dengan dua tangan. Layar ponsel menyala dan satu panggilan masih tertera di layar. "Bos, pihak rumah sakit sejak tadi telpon. Kenapa tidak diangkat?"
"Angkat saja. Tiba-tiba saja, aku ingin berdiam diri," Abhi duduk di sofa dan mengambil satu potong roti sandwich keju.
Melihat betapa magernya si bos. Leo terpaksa mengangkat telepon dari rumah sakit. Percakapan singkat dengan wajah serius Leo, tak membuat Abhi penasaran.
"Bos, pasien masih dalam keadaan tidak sadarkan diri. Tapi, boleh di rujuk ke RSJ...." Leo duduk di sofa depan Abhi.
Abhi menyelesaikan gigitan terakhir sandwich dan menyeruput kopi. Cangkir di letakkan. "Biarkan tetap dirumah sakit. Jangan pindahkan! Aku rasa dia tidak sesakit itu."
"Baiklah. Aku akan urus setelah sarapan. Mau ikut atau?" Leo mengambil roti sandwich bagiannya.
__ADS_1
Abhi duduk bersandar dan membuka beberapa kancing kemejanya. "Aku masih ingin disini."
Melihat sikap dan jawaban Abhi. Leo memilih diam dan membiarkan. Bagaimanapun bosnya itu Abhi. Hanya lima menit, sandwich ditangan Leo habis berpindah ke dalam perutnya. Tak lupa meneguk kopi hangat untuk mengguyur rasa manis keju di dalam lidahnya.
"Aku pergi dan mungkin malem baru balik. Jangan lupa kabari aku. Jika bos mau pindah tempat." Leo mengingatkan sambil berjalan meninggalkan Abhi.
Hening.....
Rasa malas dan ingin menyendiri tiba-tiba saja muncul dan itu tak terduga. Suara pintu terbuka dan tertutup, membuat Abhi memejamkan mata. Ketenangan kamar menjadi sebuah pemicu beberapa kenangan melintas diantara pejaman mata. Ekspresi wajahnya berubah-ubah. Kadang senyum, sedih, datar dan sesekali terdengar kekehan kecil.
Hingga kenangan bingkai foto keluarga di dalam kamarnya yang menjadi alasan Aliska tak terkendali, membuat Abhi membuka mata dengan nafas tercekat. "Aku harus cari tahu siapa itu Aliska dan apa hubungannya dengan keluargaku. Tapi, darimana?"
...****************...
***Hay reader's, maaf kemarin gak up.
Padahal udah nulis 500 kata.
(Othoor malah nabung nulis horror misteri) 🤧ðŸ¤
Othoor up double aja, hari ini ya.
tapi, agak maleman satunya.
Selamat pagi dan selamat beraktivitas, 👌
Semoga semua sehat, (karena othoor masih cakiit)🤧
__ADS_1
Happy Reading, Reader's***