
Warna hitam pekat dengan aroma harum sangat menggoda, tetapi ada sesuatu yang mengusik pikirannya. Apalagi jika bukan tentang hubungan Vans dan Asfa. Tidak bisa dipungkiri, bagaimana pengorbanan seorang Vans yang memilih menjadi pelindung putrinya. Keheningan memberikan cabang pikiran yang jelas. Hingga helaan nafas panjang mengakhiri semua pergulatan di dalam hati dan pikirannya.
"Mari kita nikahkan mereka!" Ucap Tuan Luxifer.
Tuan Burhan menatap kopi di dalam cangkir. "Pernikahan. Bukankah kita berdua tahu bagaimana hubungan di antara Queen dan Vans? Aku tidak ingin memaksakan sebuah hubungan. Cinta sejati bukan berarti untuk saling memiliki. Merelakan cinta demi kebahagiaan juga salah satu dasar cinta tulus."
"Anda benar, Aku hanya ingin keduanya hidup bahagia. Vans bukan hanya pelindung putriku, tapi dia juga putraku." Jawab tuan Luxifer membenarkan pernyataan kakek Burhan.
Orang terkadang mengatakan *Cinta itu buta. Diantara kisah cinta memiliki banyak tujuan akhir. Ntah itu pengkhianatan atau penyatuan.*
Percakapan keduanya berganti menjadi topik lain seputar dunia bisnis, sedangkan di lantai atas. Tepatnya di dalam sebuah kamar yang gelap, hembusan angin menerbangkan tirai. Rembulan di langit menjadi sinar yang menerangi menerobos masuk ke dalam kamar itu. Langkah kaki pelan dengan ketajaman pendengaran dan penglihatan menjelajahi setiap jengkal lantai.
Senandung nada lembut terdengar semakin dekat. Suara yang sangat familiar siapa pemiliknya. "Elisa! Ngapain kamu diluar?"
Seorang gadis berusia lima belas tahun dengan luka bakar di pipi kirinya melengos ke belakang untuk melihat siapa yang memanggilnya. Sorot mata sendu itu berubah menjadi binar kebahagiaan. Sementara yang dilihat langsung merentangkan kedua tangan agar gadis itu masuk ke dalam pelukan menyalurkan rasa rindu yang terpendam.
__ADS_1
Benar saja, gadis itu langsung berlari menghampiri tamu kamarnya. "Tante Queen. Elisa kangeen....,"
"Tante juga kangen, bagaimana kabarmu, Sayang?" tanya Asfa menggendong Elisa, lalu berjalan menuju ayunan yang ada di balkon sisi kanan.
Asfa mendudukkan Elisa ke dalam pangkuannya seraya merapikan rambut sebahu gadis itu agar tidak menutupi wajahnya. Meskipun rambut digunakan untuk menutupi luka bakar di wajah. Elisa merasa aman ketika di dekat tante cantik yang selalu memberikan kehangatan keluarga. Tetapi perut rata sang tante mengundang tanya. Tatapan mata bingung seakan dipahami, membuat Asfa tersenyum.
"Adik Elisa sudah lahir ke dunia." Ucap Asfa menambah binar kebahagiaan di mata gadis itu.
"Tante, El mau lihat dedek." pinta Elisa dengan menggenggam tangan Asfa. "Ayo pergi, Tante!"
"Tenang, Sayang. Sebelum itu, bukankah Elisa berjanji sesuatu padaku. Coba ingat dulu." Ucap Asfa mengalihkan perhatian gadis itu, "Apa El sudah siap memenuhi janjinya?"
"El, lupakan masa lalu. Tante janji akan mengembalikan masa kecilmu. Ayo berjuang bersama-sama. Setelah operasi wajahmu, identitas dan segalanya tentangmu akan hilang dari dunia ini." Asfa melepaskan pelukan, lalu menangkup wajah oval Elisa. "El percaya tante 'kan?"
"Hiks.... Hiks.... Hiks....,"
__ADS_1
Isakan tangis Elisa, membuat Asfa kembali memeluk gadis itu. Sementara di tempat lain sebuah hukuman telah disiapkan. Tetapi sang penentu hukuman masih belum menampakkan batang hidungnya. Suara ketukan meja terdengar begitu bosan.
Triiing!
Triiing!
Triiing!
Ponsel di atas meja disambar, dan tanpa melihat nama sang penelepon langsung saja dijawab. Baru saja ingin mengeluh. Namun, akhirnya justru dirinya yang mendengar berita terbaru dari seberang. Tak ada lagi ketukan meja. Selain wajah datar dengan kedua alis bertaut.
"Bereskan semuanya, dan laporkan terus perkembangannya padaku!"
...----------------...
Hay readers, mohon maaf ya.
__ADS_1
Othoor blum bisa up rutin, kesehatan masih seringkali drop.
Bismillah semoga bisa baik, dan bisa menamatkan karya ini 🥰🤲