
Di sebuah kamar yang dapat melihat ruangan makan dengan jelas, terdapat sepasang mata yang membuat cairan bening mengalir begitu saja. Ada rasa sesak di dalam hati nya dan itu tidak bisa di atasi oleh nya, meskipun fikiran nya berusaha positive tapi hati nya tetap tertusuk jarum berulang kali.
"Hey apa yang terjadi? " tanya orang di belakang nya yang melihat kelakuan sepasang mata dengan pintu terbuka lima centimeter.
Brak...
"Bukan apa-apa." jawab nya dan menutup pintu.
"Andira? Katakan apa yang terjadi? Bukannya tadi kamu mau ke dapur untuk mengambil minum? " tanya Gabriella dengan melihat ekspresi sahabat nya yang terlihat sendu.
"Tidak jadi haus, aku tidur dulu ya." jawab Andira berbaring di tempat tidur dan menyelimuti tubuh nya.
Meskipun Ella penasaran tapi bukan waktu nya untuk mencecar sahabat nya dengan pertanyaan, maka lebih baik membiarkan wanita itu ber istirahat dengan tenang. Sementara dirinya masih mau mempelajari kasus terakhir, masih ada rasa yang tertinggal, sembari mencocokkan kasus itu dengan ingatan operasi besar beberapa jam lalu.
"Kenapa begini sih! Haduh kepala ku sakit lagi, apa sebaiknya aku bertanya saja ya? Udahlah tidur aja mendingan." gumam Gabriella dan meletakkan kertas beserta pensil khusus nya di atas meja setelah berusaha selama satu jam.
Keesokan hari nya menjadi hari tenang dengan pergantian bodyguard yang sudah semalaman berjaga dan para pelayan sudah memulai pekerjaan mereka sejak pagi buta, meskipun mansion itu di isi dengan orang asing tapi tetap peraturan harus di taati. Seperti waktu makan yang harus di meja kecuali mereka yang masih bertugas, bahkan tidak ada perbedaan baik tamu ataupun para pekerja di mansion itu.
"Tiga puluh menit lagi sarapan siap." semua interkom di dalam kamar menyiarkan suara seorang wanita yang bertugas mengawasi semua nya.
Triing... triiing...
Suara dering ponsel berulang kali terdengar namun tuannya masih enggan mendengarkan panggilan benda pipih nya, gadis itu masih menikmati menari di dalam mimpi. Dengan bantal bulu super lembut miliknya, bantal berbentuk coklat itu menjadi teman tidur nya.
Berbeda dengan pria yang tinggal di sebelah kamar nya, pria itu sudah rapi dan bersiap memeriksa pasien nya. Tentu saja pasien istimewa adalah tanggungjawab nya bukan dokter lain dan apapun akan di lakukan oleh nya untuk mendapatkan hasil terbaik.
Langkah kaki nya menuruni tangga dengan sepatu sneakers yang tersedia di lemari sepatu kamar nya, jangan di tanya siapa yang menyiapkan karena sudah pasti gadis nya. Jas putih yang menutupi kaos tipis nya membuat pria itu seperti seorang model, di liriknya ruangan meja makan. Terlihat hanya ada Leon yang tengah menikmati kopi kesukaannya, tapi team yang lain masih belum terlihat.
"Kamu kemari." panggil Alvaro yang melihat docter rambut sebahu lewat di depannya.
"Saya? " tanya Bia menunjuk dirinya.
__ADS_1
"Hmm.Panggilkan yang lain untuk sarapan." perintah Alvaro dan beranjak melanjutkan langkah kaki nya.
"Huft ada yang begitu ya? Main perintah trus nyelonong pergi." gumam Bia dengan memanyunkan bibir nya.
"Awas gak bisa balik lagi itu bibir." sindir seseorang dari samping nya.
"Astaga duke, bikin kaget aja. Gak ada kerjaan ya? " ucap Bia dengan sinis.
"Lah trus ini kenapa masih manyun? " ucap Justin dengan mengabaikan pertanyaan dokter wanita itu.
"Udah ya duke yang tampan, aku mau panggil tamu yang lain. Nanti tuh macan ngamuk lagi." ucap Bia dan meninggalkan Justin.
"Astaga tuh kenapa muka gak dibenerin." gumam Justin menggelengkan kepala nya.
Setelah di tinggal kan Bia, Justin melangkahkan kaki nya ke tujuan awal nya dengan koper sedang di tangan kiri nya. Tanpa di sadari Justin jika ada ekor mata seseorang yang tertuju pada nya mengikuti setiap langkah kaki nya, hingga tubuhnya menghilang di balik lorong. Tidak menunggu lama terdengar suara langkah kaki dan kali ini juga ada percakapan yang terdengar samar, tapi percakapan itu semakin terdengar hingga terlihat dua lawan jenis menuruni tangga beriringan.
"Mau sarapan dulu queen? Biar aku buatkan." tawar Justin yang sebenarnya masih dalam masa rayuan untuk meluluhkan hati nona muda nya.
"No, I have many works today. How with meeting tomorrow? " ucap Asfa dengan mengacak rambut panjang nya agar lebih rapi.
"Queen." panggil seseorang dari bawah tangga.
Bukannya menjawab tapi langkah Asfa berhenti begitu juga dengan Justin, satu alis terangkat begitu melihat siapa yang memanggil nya. Justin yang melihat reaksi nona muda seperti enggan di ganggu bersiap untuk bertindak namun tangan yang di arah kan nona muda nya menghentikan niatnya, dengan santai nona muda nya kembali menuruni tangga.
"Follow me." ucap Asfa setelah berdiri di samping orang yang memanggil nya.
Tanpa menjawab orang itu mengekor di belakang Asfa dan Justin hanya bisa menjadi ekor di belakang dua wanita sekaligus. Sebuah ruangan kaca yang ternyata hanya tampak seperti dinding akhirnya terbuka, Asfa masuk ke dalam ruangan kerja di ikuti satu wanita dan assistant nya.
Sedangkan di meja makan Leon menahan rasa penasaran nya dan juga detak jantung nya setelah melihat gadis imut itu menata rambut nya dengan mengacak rambut nya sembarangan, meskipun peringatan sudah di dengar dari pemimpin nya. Tapi hati dan fikirannya tidak bisa di bohongi, ada debaran jantung yang mulai mengukir nama gadis imut itu di dalam relung hati nya.
*Hhaah berapa banyak pria tampan di samping mu queen, adakah kesempatan untuk ku sedekat itu dengan mu. * batin Leon dan menatap ampas kopi di cangkirnya setelah melihat kepergian tiga orang ke ruangan kaca.
__ADS_1
Dengan santai nya gadis itu duduk di kursi kebesarannya dan memberikan isyarat pada Justin untuk melakukan pekerjaan, sedangkan satu wanita terlihat canggung dan diam tanpa kata. Asfa sengaja membiarkan wanita itu yang memulai perbincangan terlebih dulu, karena percuma memulai percakapan jika tidak tahu apa niat lawan bicara nya.
"Queen ini berkas RA company dan beberapa kontrak kerjasama yang bulan ini berakhir, apa mau di perpanjang atau? " lapor Justin meletakkan lima map hitam dengan logo perusahaan nona muda nya ke meja.
"Waktu cepat berlalu, seperti nya berlari bukan berjalan di dalam bisnis." gumam Asfa dan mulai memeriksa pekerjaan Justin.
*Anda bukan berlari tapi terbang, tapi wajah imut mu itu tidak menggambarkan kepribadian mu nona muda.* batin Justin dan menunggu hasil pemeriksaan data.
"Gaji mu aku potong mau? " tanya Asfa tanpa menatap assistant nya.
"Hehe jangan queen. Apartemen ku masih membutuhkan uang." jawab Justin menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
"Berhenti bicara di hati!" perintah Asfa dan menutup satu map pertama.
"Queen." panggil wanita yang mungkin sudah bosan diam.
"Hmm.Tell." ucap Asfa dan memandang wanita yang berdiri di seberang meja kerja nya.
Lebih tempat nya tidak dibiarkan duduk sebelum queen memberikan perintah, tapi wanita itu terlihat meremas gulungan kertas yang menjadi tempat pelampian emosi nya. Mungkin setelah terdiam selama sepuluh menit membuat wanita itu mulai jenuh dan akhirnya memutuskan ber bicara, melihat reaksi queen membuat wanita itu menetralkan detak jantung nya.
"Bisakah ajari aku menyelesaikan kasus tuan Abhi? Maaf atas sikap ku beberapa waktu terakhir." ucap wanita itu dengan sungguh-sungguh.
"Apa imbalannya? " tanya Asfa menaruh tangan kanan nya untuk menopang dagu lancip nya.
"Apapun yang anda ingin kan, tapi ajari aku menyelesaikan kasus yang sulit itu." jawab wanita itu dengan menunduk.
"Queen? Apa maksud ucap an nya? " tanya Justin yang masih loading.
"Mas Abhi sudah selesai melakukan operasi mata dan saraf, pergilah makan bersama yang lain dan tinggal kan kami berdua." jawab Asfa tanpa memandang Justin.
"What? Bagaimana... " ucap Justin yang sedikit terkejut.
__ADS_1
Bagaimana bisa seorang assistant tidak tahu berita sebesar itu, yah memang akhir-akhir ini dirinya justru sibuk mengurus wanita lain di dalam hidup nya. Pantas saja nona muda nya lebih tegas dan bersikap adil dengan menghukum nya, lihat lah tatapan tajam nya yang langsung membungkam bibir assistant nya dan dengan lunglai berjalan meninggalkan ruangan kerja.
"Duduk! " perintah Asfa, dan menggeser map di depannya ke sisi kiri meja.