
Angin menerpa wajah semua orang. Asfa mencium aroma buah yang sangat tajam dan harum menggoda. Pandangannya menelisik kesegala penjuru.
"Jaga pandangan mu!" bentak pria yang memaksa membuka pintu heli.
Asfa masa bodo. Tapi tidak dengan tuan Luxifer, yang langsung mencengkram leher pria kurang ajar itu. Berani sekali membentak putri rajanya didepan wajahnya langsung. "Rupanya kau bosan hidup!"
"Tembak saja jika kamu mau!" suara bariton terdengar memecahkan suasana tegang yang sedang berlangsung.
Suara yang hampir terlupakan. Asfa mengalihkan tatapan matanya ke arah sosok yang memberikan papanya kebebasan bertindak. "Ternyata!"
"Apa kabar mu Nana kecil?" tanya sosok yang berhenti tepat di depan Asfa dan membuat Tuan Luxifer memundurkan langkah.
Asfa hanya diam tanpa jawaban. Sosok yang jarang dilihat, tapi selalu mengawasi pergerakannya. "Apa ada yang penting?"
"Ck.ck.ck. Apa pria berkuasa ini, tidak mengajarimu cinta?" sindir sosok itu menatap sinis Tuan Luxifer.
Asfa menghela nafas. Sikap dingin akan membuat jeruji pasung, maka lebih baik mengalah sebelum perang. "Aku baik. Bagaimana dengan nenek?"
"Nah, ini baru Nana kecilku. Ayo masuk. Nenek punya kejutan." ajak wanita paruh baya dengan pakaian muslimah.
Tuan Luxifer hanya bisa mengikuti langkah Asfa dengan ibu mertuanya itu. Meskipun tidak pernah berhubungan, tapi ibunda Naura selalu memberikan dukungan dari belakang. Dukungan tanpa persetujuan dan juga memberikan hak kedua cucunya secara adil.
Semua pengawal dengan pakaian belang hitam putih menunduk. Membiarkan pemilik wilayah kawasan terlarang di perbukitan barat memasuki Villa mewah yang berdiri di atas bukit dengan luas tak tanggung-tanggung.
Pintu utama villa sudah terbuka lebar, langkah kaki Asfa beriringan dengan langkah kaki neneknya. Sedangkan tuan Luxifer memilih menjaga jarak.
"Akhirnya keluarga ku berkumpul. Selamat datang di keluarga Aranda." Nenek Ara menunjuk dua makhluk yang sudah tiba terlebih dahulu.
"Queen." seru Rania dan berlari seperti anak kecil.
__ADS_1
Greeeb...
Untung saja Asfa orang yang sigap. Rania yang memeluk tanpa izin, hampir saja terjatuh. "Ini terlalu erat!"
"Hehehe maaf. Apa sakit?" tanya Rania melepaskan pelukan dan memeriksa seluruh tubuh Asfa dengan panik.
"Ekhem!" dehem Alvaro membuat Rania mendengus sebal dan menghentikan aksi nylenehnya.
"Menginaplah! Bukankah ini permintaan terakhir Nana?" pinta Nenek Ara dengan melirik menantu tunggalnya.
Tuan Luxifer memandang Asfa dan beralih ke Alvaro. Kedua belahan jiwanya memberikan persetujuan. "Okay."
"Baiklah. Ayo kita berbincang di taman, sembari menunggu makan siang." ajak Nenek Ara dan menggandeng tangan Rania di kiri dan Asfa di kanan.
Kelima insan itu menuju halaman tengah Villa. Dimana desain rumah seperti sebuah stadium yang memiliki lapangan di tengah-tengah, hanya saja itu menjadi taman penuh bunga dan pohon buah apel.
"Yah. Asfa putri kami." jawab Tuan Luxifer dengan senyuman.
Pohon apel adalah favorit Naura. Dan itu menurut pada Asfa, gadis pecinta apel. Bahkan Asfa telah menyiapkan lahan khusus untuk menanam berbagai jenis apel di suatu tempat rahasia.
Asfa sibuk memilih buah apel ranum di taman, tanpa mempedulikan orang lain. Bahkan rencana rapat dengan lawanpun terlupakan. Alvaro bergegas mendekati Asfa dan menodongkan kaosnya untuk wadah buah apel pilihan adiknya. "Lihat itu! Besar doll. Mau?"
Asfa mengikuti arah mata Alvaro. Satu buah apel ranum tapi cukup tinggi, tangannya pasti tak sampai. "Tapi, terlalu tinggi."
"Biar aku saja yang ambil." tukas seseorang dari balik satu pohon apel yang lebih rindang.
Asfa mengerjapkan mata. Belum sempat hilang rasa terkejutnya, satu sodoran buah apel ranum dengan ukuran cukup besar sudah di depan mata. "Aku pergi dulu."
"Nak! Berhenti!" panggil Nenek.
__ADS_1
Tapi terlanjur, Asfa tak ingin mendengarkan penjelasan apapun. Ada yang memasuki jalannya tanpa izin! Belum waktunya semua terbongkar. Semua yang terjadi salah! Sangat salah.
"Biarkan aku menyusul. Permisi." pamit Abhi dan mendapatkan persetujuan dari semua orang.
Dengan langkah panjangnya, Abhi mengikuti Asfa yang meninggalkan Villa dan berjalan ke arah tebing. Tebing yang pasti sangatlah dalam jika terjatuh. "Berhenti!"
Asfa menghentikan langkah kakinya dan membiarkan Abhi mendekat. Suara nafas yang memburu semakin terdengar jelas. " What you want? Mr. Abhi!(Apa yang kau inginkan? Mr. Abhi!)"
"I want you! My wife.(Aku ingin kamu! Istriku.)" jawab Abhi tegas.
Bagaimana aku menjelaskan padamu. Aku bukan istrimu! Jika aku jujur, pasti akan memperumit keadaan. Apa yang harus aku lakukan! Kepergian ku tidak bisa tertunda lagi.~ batin Asfa memejamkan mata.
Semilir angin menerbangkan untaian rambut yang terurai. Menyatu dengan alam, Abhi berdiri di depan Asfa. "Don't many thinking. Give me one chance for coming in your life.(Tidak banyak yang berpikir. Beri aku satu kesempatan untuk datang dalam hidupmu.) "
Iris biru yang bernaung dibawah kelopak mata dengan bulu mata lentik. Asfa membuka mata dan menatap Abhi dengan serius. Untuk pertama kalinya, tatapan matanya teduh namun menghanyutkan. Lihatlah mata biru Abhi yang terhanyut kedalam mata biru Asfa.
"Can you do one thing for me?(Apa kamu bisa melakukan satu hal untukku?)" tanya Asfa dengan senyuman tipis penuh arti.
Aura dingin hembusan angin, tak sedingin aura istrinya. Namun tatapan mata Asfa seakan mengharapkan pembuktian. "Tell!(Katakan!)"
"Remember, once stepped then can't come back!(Ingatlah, sekali melangkah maka tidak bisa kembali!)" Asfa mencoba memberikan peringatan agar Abhi memundurkan niat hatinya itu.
Dengan lembut Abhi merengkuh kedua tangan Asfa. Menatap dalamnya lautan biru di mata Asfa, agar menenggelamkan mata biru miliknya. "I love you Asfa. I'm ready to sacrifice.(Aku mencintaimu Asfa. Aku siap untuk berkorban.)"
Niat mu, hanya kamu yang tahu. Jangan salahkan aku menjadi iblis, cinta apa yang membawamu padaku? Kuharap kamu bertahan dalam badai duniaku.~ batin Asfa memberikan senyuman termanisnya.
Senyuman yang mampu melumerkan hati Abhi.
"I want you..... "
__ADS_1