
Jangankan bergerak. Abhi justru sibuk menatap genggaman tangan seperti menatap sebongkah berlian. Melihat itu, Asfa menarik Abhi dan berjalan di depan menyusuri rumput hijau.
Berbeda dengan sikap Abhi yang mendadak seperti anak remaja. Di tempat lain, seorang wanita dengan mata waspada menatap kesana dan kemari keseluruh ruangan. Tatapannya berhenti di meja nomor tujuh. Langkah kaki yang diseret dengan tangan tertutup blazer.
"Ku harap, dia segera datang."
Wanita itu duduk di meja nomor tujuh tanpa memesan apapun. Matanya selalu kesana kemari mencari seseorang yang dinanti. Pintu cafe berulang kali terbuka dan tertutup. Setiap kali pintu terbuka, mata itu harap-harap cemas.
Setengah jam kemudian....
Suara pintu terbuka untuk kesekian kalinya. Harapan wanita itu semakin menipis dan tak lagi menatap pintu masuk. Wajahnya terbenam di dalam lipatan tangan diatas meja. Suara langkah kaki mendekat, namun tetap saja wanita itu stay menahan kegelisahan didalam benaman wajahnya.
"Sudah lama?" tanya seorang wanita paruh baya berhijab dan menarik kursinya.
Wanita itu bangun dan melihat, siapa yang bertanya padanya. "Anda, kukira...."
"Aku datang, seperti janjiku. Apa yang ingin kamu bicarakan, Aliya?" tanya balik wanita berhijab dan melepaskan maskernya.
Aliya ikut melepaskan maskernya. Luka di bibir serta beberapa lebam terlihat jelas di wajah cantik mantan model itu. Wanita berhijab, menyentuh wajah Aliya dan menahan rasa geramnya. "Kenapa bertahan? Aku, sudah peringatkan sejak dulu. Sekarang, apa maumu? Kamu tahu dia seperti apa, bukan?"
Aliya menunduk malu dan sedih. Wanita berhijab bangun dan memeluk Aliya dengan erat. Tanpa sadar, air matanya turun tanpa diminta. Ada rasa sakit, ketika melihat seorang istri di jadikan hewan peliharaan. Bagaimanapun, Aliya tahu seperti apa suaminya dan tetap memilih bertahan. Sekarang, semua sudah terlambat dan banyak kehidupan yang dipertaruhkan.
"Lepaskan dia. Kamu pantas bahagia. Sebaiknya, kamu beritahu Abhi....."
Aliya melepaskan pelukan wanita berhijab dan menggelengkan kepalanya. "Aku.....
"Sampai kapan? Apa kamu nunggu ada korban? Jangan berlagak seperti ibu baik. Jika, kamu membiarkan sumaimu bertindak seperti binatang," Wanita berhijab menangkup wajah Aliya. "Ingat, aku menikahkah cucu ku demi melindungi putramu. Aku penuhi janjiku pada sahabat ku. Sekarang giliranmu. Abhi putramu, tapi Asfa cucu ku."
Penjelasan wanita berhijab, membuat mata Aliya membulat sempurna. Bagaimana bisa, seorang cucu Aranda Company menjadi seorang pelayan di keluarga tingkah bawah. Wajah shock Aliya, membuat wanita berhijab tersenyum.
"Inilah dunia. Yang terlihat tak selalu seperti aslinya. Gadis itu, cucu perempuan ku. Queen Asfa Luxifer. Putri mafia Phoenix sekaligus pemimpin perusahaan RA Company. Suamimu, pasti tahu ini. Apa wajahnya terlihat polos?" Nenek Ara, kembali duduk dan melambaikan tangan pada pelayan.
"Mau pesan apa, Nyonya?" tanya pelayan sambil memberikan menu caffe di atas meja.
Nenek Ara membuka buku menu dan melihat isinya. "Cappucino satu dan jus buah naga satu."
Pelayan mencatat. "Ada lagi, Nyonya?"
"Nak?" tanya Nenek Ara menatap Aliya.
"Tidak, itu saja." jawab Aliya.
"Baik, tunggu sebentar." pelayan pergi meninggalkan meja pelanggannya dan kembali ke bagian pemesanan.
Nenek Ara mengambil ponsel dan menghubungi seseorang. Aliya memilih menunggu percakapan wanita berhijab dan mengetuk meja. Nada yang Aliya buat, membuat nenek Ara terdiam sejenak.
"Okay, aku tunggu," Nenek Ara mematikan panggilan dan meletakkan ponsel di meja.
"Nada itu, siapa yang mengajarkanmu?" tanya Nenek Ara.
Nada ketukan lagu Bunda. Irama ritme yang pas dengan tempo yang tepat. Aliya menghentikan ketukan dan mengambil sesuatu dari balik blazer nya. "Lupakan itu, bisa simpan ini. Aku ingin Abhi menerima ini dari tangan yang tepat."
Aliya menjabat tangan Nenek Ara dan memberikan sesuatu di dalam genggamannya. Nenek Ara, menggenggam tangannya setelah tangan Aliya ditarik. "Terlalu burukkah? Kenapa bukan kamu sendiri?"
Hening....
Pelayan membawa nampan berisi secangkir cappucino dan segelas jus buah naga. Kepergian pelayan, membuat Aliya menatap Nenek Ara serius. "Aku merasa, waktuku tidak lama lagi. Dia datang dengan mata buas. Mata itu sudah kembali...."
Suara gemetar dengan mata ketakutan Aliya, membuat nenek Ara terdiam dan berpikir keras. "Kita akan pikirkan jalan keluarnya. Sekarang lebih baik, kamu keluar dari rumah itu!"
"Siapa yang harus keluar? Dia istriku. Apa hakmu?" Jawab seseorang dari jarak satu meter setengah.
Nenek Ara dan Aliya bangun dan berbalik. Seorang pria dengan pakaian bertudung menatap keduanya seperti mangsanya. Mata itu memerah dan kedua tangannya di dalam saku jaket. Pelanggan Cafe yang terbilang hanya sedikit dan sepi. Seperti sebuah keberuntungan tersendiri bagi pria itu.
"Mas...." cicit Aliya dan beringsut mundur ke belakang nenek Ara.
Nenek Ara merasakan betapa takut dan trauma nya Aliya. Pegangan erat ditangannya seperti seorang anak kecil tak ingin ditinggalkan dan meminta perlindungan. Mahendra mendekat dan berhenti di depan kedua wanita yang menatapnya seperti hewan buas.
Tap!
__ADS_1
Tap!
Tap!
Suara sepatu boots itu terkesan menggema dan menciutkan nyali Aliya. Tapi, tidak dengan nyali nenek Ara. Wanita berhijab itu maju dan berdiri di depan Aliya. Senyuman Mahendra, membuat Aliya semakin menunduk.
"Topengmu sudah terbuka?" sindir nenek Ara.
Mahendra tersenyum sinis dan mencebikkan bibir. "Wanita setua dirimu, untuk apa mengurusi urusan orang lain. Urus saja, urusanmu sendiri!"
"Apa kamu Mahendra, si bocah kecil yang takut dengan darah? Bukan, aku salah memberikan pertanyaan. Seharusnya, aku katakan saja. Siapa kamu sebenarnya...."
"Diam! Tutup mulutmu itu, nenek tua. Siapa kamu? Berani sekali menilai hidupku." Mahendra mengacungkan jari ke arah Nenek Ara.
Pria itu membentak nenek Ara dengan emosi yang meluap. Nenek Ara hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. "Ck, tidak ada sopan santun. Apa suami seperti ini yang kamu pertahankan Aliya?"
Aliya tidak menjawab, membuat nenek Ara menggenggam tangan wanita di belakangnya untuk berpindah ke sampingnya. "Lihat semua luka di wajah wanita ini. Apa ini yang kamu sebut seorang istri?"
Nenek Ara memegang dagu Aliya dan mengangkatnya menghadap Mahendra. Tangan Mahendra mengepal dan ditarik dari hadapan nenek Ara.
Jika seperti ini terlalu lama. Bisa-bisa semakin panjang, dan aku tidak bisa mengulur waktu terlalu lama.~batin Mahendra.
"Kenapa diam? Aku tidak akan membiarkan, kamu membawa Aliya kembali. Sudah cukup penyiksaan mu selama ini." tukas nenek Ara dan mengambil tas di mejanya.
Nenek Ara menggandeng tangan Aliya dan bersiap melangkahkan kaki. Namun, Mahendra menghadangnya. "Aliya, istriku. Hidup dan matinya, hanya milikku. Kamu tidak bisa....."
"Sudah cukup! Aku bukan istrimu, lagi. Aku ingin bebas!" Seru Aliya, membuat para tamu cafe yang hanya dua orang lain di meja sudut terkejut dan mengalihkan pandangan ke mereka bertiga.
Mahendra maju dengan tangan siap menampar Aliya. Jarak hanya tiga puluh senti, dan tangan pria itu ditahan tangan nenek Ara. "Jangan sentuh Aliya!" tangan dihempaskan dengan kasar.
"Kamu, berani sekali...."
Tangan Mahendra kembali terangkat.
Plaak!
Satu tamparan keras dan membakar telinga siapapun yang mendengar kerasnya suara tamparan itu. Mahendra memegang pipi kirinya, tudung jaketnya pun ikut terlepas dari kepala. "KAU! Wanita jal...."
Plaak!
Tangan Aliya gemetaran. Untuk pertama kalinya, tangan itu menampar seseorang. Terlebih orang yang ditampar adalah suaminya sendiri. Pria yang menjadi pendamping hidupnya selama bertahun-tahun. Kenangan demi kenangan penyiksaan Mahendra, bergulir seperti roll film di dalam memori otaknya.
"Berani sekali kamu menampar ku. Sudah punya nyali, HAH?!" geram Mahendra dan mengusap darah di sudut bibirnya.
Situasi sudah tidak kondusif. Perasaan seorang ibu tidak mungkin salah. Nenek Ara menarik Aliya dan bersiap untuk pergi tanpa mempedulikan tingkah emosi Mahendra yang membludak. Mahendra mengambil sesuatu dari saku jaket dan memakai tudungnya kembali. Senyuman iblis terbit dari bibir pria itu. Langkahnya menghadang nenek Ara dan Aliya.
"Kamu ingin membawa istriku? Jangan harap," Mahendra mengayunkan tangan, Aliya melihat kilatan benda tajam.
Nenek Ara juga melihat itu, tapi belum sempat bergerak. Tubuhnya sudah tehuyung kebelakang karena di dorong Aliya.
Bruuug....
Jleb....
"Aliya...." Seru Nenek Ara.
"Aarrrrggghh....." teriakan dua pengunjung cafe dan beberapa pelayan yang lari mencari perlindungan, bukannya membantu.
Mahendra juga terkejut dengan salah penusukan. Namun, hanya sekejap dan pisau terbenam sempurna tepat di jantung Aliya. Nenek Ara bergegas bangun dan menyongsong tubuh Aliya yang merosot ke bawah. "Bertahanlah. Aku akan memanggil ambulans....."
Mahendra melihat dua orang dari luar cafe melalui pantulan cermin. Wajah keduanya tidak asing. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Mahendra bergegas berlari dan meninggalkan TKP menuju toilet.
"Tii daak.... aku... ukhuk... tii daak... saang...."
Pluk....
Pintu Cafe terbuka bersamaan dengan tangan Aliya terjatuh ke lantai. Dua orang yang masuk ke Cafe terkejut dan terdiam di tempat, melihat seorang wanita yang keadaannya sangat tragis. Pisau masih menancap di jantung dan detak jantung tamu baru Cafe terhenti. Semilir angin menghentikan sang waktu.
Satu detik....
__ADS_1
Lima detik....
Satu menit....
"Buundaaaa....."
Suara nyaring dan bergetar terdengar memilukan hati. Nenek Ara mengalihkan pandangan dari Aliya. Pria dewasa dengan wajah tampan mata biru berdiri di depan pintu bersama gadis mungil mata biru. "Abhi, Asfa...."
Tap!
Tap!
Tap!
Tap!
"Sayaaang...." seru seseorang dari arah lain dan pakaian rapi dengan wajah cemas, shock sangat mendominasi.
Asfa membantu Abhi berjalan, mendekati tempat bunda Aliya terbaring bersimbah darah. Mata waspada dan cemas Nenek Ara, membuat Asfa lebih waspada dan menjadi pendengar serta pengamat yang fokus. Pasalnya, kali ini tidak ada satu bodyguard dan senjata ditangannya.
"Apa yang terjadi?" tanya Abhi dan merengkuh tubuh bunda nya.
Asfa membantu nenek Ara berdiri. Sementara Mahendra memulai drama dan ikut menangisi keadaan tragis Aliya. Nenek Ara memberikan isyarat pada Asfa untuk hati-hati. Asfa mengedipkan mata, kedipan mata itu tak sengaja Abhi lihat. Entah setan apa yang merasuki Abhi. "Apa yang anda lakukan? Katakan!"
Sentakan Abhi, mengalihkan perhatian Asfa. "Apa maksudmu?" Asfa menaikkan alis kanannya.
Bagaimana bisa Abhi memberikan pertanyaan yang bersifat seperti menyudutkan neneknya. Abhi menatap nenek Ara penuh selidik. Merasa ada kesempatan baik, Mahendra menggengam tangan Aliya. "Sayang, sudah ku bilang untuk menjauh dari keluarga menantu kita. Tapi, kamu tidak...."
"Pa katakan, apa yang terjadi!" Abhi tak lagi memiliki kesabaran.
Mahendra melirik ke nenek Ara dan tangan kanannya menunjuk wanita berhijab itu. "Bundamu bertemu dengannya, dan baru papa tinggal sebentar ke toilet. Apa ada yang tega melukai bundamu? Kamu tahu seperti apa bunda, sudahlah. Sebaiknya kita bawa bunda ke rumah sakit.
Tanpa meminta persetujuan. Mahendra memegang pisau dan menekannya sesaat sebelum dicabut. Asfa bisa melihat bagaimana Mahendra memanfaatkan situasi. Kini istingnya tidak salah sasaran. Abhi terkejut dengan tindakan papanya. "Pa..."
"Sudah, ayo bawa ke rumah sakit!" Mahendra tak ingin meninggalkan jejak apapun dan melakukan tindakan reflek agar aman.
Nenek Ara maju dan bersiap mengatakan sesuatu. Mahendra melihat gerak gerik wanita berhijab itu dan menatap Abhi yang fokus ke Aliya saja. "Seharusnya, aku saja yang ada di posisimu. Pasti, bukan kamu yang terbaring seperti ini...."
Asfa semakin tidak paham. Kemana arah pembicaraan tuan Mahendra. Abhi menatap sang papa dengan tatapan tanda tanya. Melihat situasi semakin mendukungnya. Mahendra mengeluarkan air mata buaya. "Bunda... meminta perjanjian dibatalkan, dan wanita itu menolak permintaan bundamu..."
"Perjanjian? Apa, maksud papa?"
"Stop! Kamu tidak waras kah? Bunda kondisi sekarat dan kalian masih berdebat. Angkat, bawa kerumah sakit!" titah Asfa dengan suara tegas nada tinggi.
Seruan perintah Asfa, kembali membawa kesadaran Abhi. Perdebatan terhenti dan Abhi menggendong bunda Aliya. Langkah kaki Abhi diikuti Nenek Ara. Tapi, tidak dengan Asfa dan Mahendra. Wajah Mahendra kesal dan melirik sinis ke arah Asfa. Tidak ada ketakutan di wajah Asfa. Justru Asfa mendekati papa mertuanya.
"Siapa anda? Wajah asli, tapi kenapa bertopeng?" bisik Asfa di samping Mahendra.
Mendengar hal itu, darah Mahendra mendidih dan emosi kembali meningkat. Pisau di genggaman tangannya. Sontak ide licik muncul memenuhi otaknya. Satu tarikan tangan Mahendra, membuat tubuh Asfa berbalik dan menghadapinya.
Jleeb....
"Abhiii....."
Suara panggilan itu, menghentikan langkah Abhi. Abhi dan nenek Ara berbalik. Tubuh yang terhuyung dan melemah terjatuh begitu saja. Mata biru Abhi membulat sempurna. Sungguh pemandangan di depannya tidak sanggup dirinya lihat. Tubuh pucat di gendongannya dan tubuh satu lagi tergeletak di lantai depan sana. Nenek Ara berlari kembali ke tempat TKP. Begitu pula dengan Abhi yang berusaha menarik kedua kakinya.
Bukan hanya bibir kelu dan udara menipis. Detak jantungnya ikut mati melihat semua yang terjadi dalam hitungan menit. Hidupnya seperti diguncang sesuka hati oleh Sang Pencipta. Hancur dan terbakar seperti bara api. Mata, bibir dan telinganya seakan tak lepas dari kutukan.
Bruuug....
Tubuh Abhi ikut ambruk dan lelehan air mata meluncur tanpa hambatan. Mata birunya memerah dan bibir itu terkunci rapat. Tidak ada tatapan cinta, apalagi wajah manis dan tampan. Satu tangan terulur dan berniat menyentuh pundak Abhi.
"Jangan sentuh aku! Mulai hari ini, kamu musuhku."
...****************...
Malem, reader's....
*Selamat membaca, maaf jika cerita othoor masih kurang feels'a..
__ADS_1
Jangan lupa kritik dan sarannya, ya.
othoor tunggu, semoga kalian bersedia memberikan masukan. Agar othoor bisa memperbaiki tulisan*.