
Sedangkan di luar pintu utama mansion terparkir sebuah mobil yang jangan di bahas lagi, mobil itu hampir seperti rongsokan. Cat yang sudah terkelupas dengan body mobil penyok di beberapa bagian yang dibiarkan begitu saja tanpa perbaikan dan ntah bagaimana mobil itu bisa sampai dengan selamat ke mansion mewah , empat orang dengan dua pria dan dua wanita yang umurnya berbeda-beda sudah duduk ber selonjoran di atas jalan setapak depan mansion seakan baru menjelajahi dunia tanpa batas.
"Pantas saja wanita itu mengatakan ada rombongan sirkus, lihatlah penampilan kalian." sapa Alvaro menghampiri ke empat orang yang langsung mendongakkan kepala mereka.
"Aaaal... " seru ke empat orang itu bersamaan dan memeluk satu pria kekar yang berdiri di depan mereka dengan penampilan wow meleleh.
Untung saja tubuh nya bisa menahan beban empat orang sekaligus yang sudah sebesar hewan kurban, jika tidak maka sudah pasti satu tubuh kekar nya akan nyungsep ke belakang.
"Ekhem! Lepas." ucap Alvaro dan seketika membuat ke empat orang itu menampilkan wajah cengegesan tanpa rasa bersalah.
"Astaga Aal, bajuku ikutan basah. Apa tidak ada atap sampai kamu basah kuyup begitu? " seru seorang wanita yang rambut nya selalu tergerai dengan indahnya.
"Hmm.Ayo masuk." jawab Alvaro tanpa mempedulikan gerutuan satu anggota nya itu.
"Aaal." seru wanita itu dengan menghentakkan kaki nya.
"Come on baby Andira (Ayo lah Andira sayang),jangan cemberut nanti cantik nya hilang." goda seorang pemuda yang wajah nya sangat Indonesia.
"Au ah gelap." jawab Andira dan mengikuti langkah Alvaro yang sudah berdiri di depan pintu.
"Ayo Al tinggalkan yang lain saja." ucap Andira lagi dengan menggandeng tangan Alvaro dan memasuki mansion.
Ketiga orang yang di belakang hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah satu gadis ajaib itu, yah setiap ada pemimpin mereka Alvaro sudah pasti Andira tidak akan jauh-jauh dari pria kekar itu. Bagaikan prangko kantor pos saja tapi sikap manja gadis itu akan jauh dari kata imut saat menyangkut pekerjaan, bahkan sosok Andira bisa seratus delapan puluh derajat terbalik dari sikap manja nya dan Alvaro tidak mempermasalahkan kekurangan dan kelebihan anggota nya.
"Tuan kamar sudah siap, silahkan pilih sendiri itu pesan queen." ucap bunda Anya yang ternyata masih berdiri di depan tangga.
"Terimakasih.Kalian istirahat lah, satu jam lagi kita harus bekerja." ucap Alvaro yang sangat tegas dan jelas.
"Aal kenapa kita tidak satu kamar saja seperti biasanya? " tanya Andira dengan manja.
"Ini mansion queen bukan rumah kalian, hormati keputusan queen kami. " ucap bunda Anya dengan nada tidak suka nya.
__ADS_1
"Istirahat lah, hanya queen yang bisa memutuskan segalanya dan ingatlah satu hal kalian. Jangan membantah ucapan queen, tapi tetaplah menjadi diri kalian sendiri." ucap Alvaro melepaskan pegangan tangan Andira dan menunjukkan deretan kamar yang ada di sisi tangga seperti isyarat mata bunda Anya.
"Maafkan mereka, jangan terlalu tegas karena mereka tidak memiliki rumah." ucap Alvaro lembut yang membuat bunda Anya tersedak dan mengerjapkan mata.
Alvaro meninggalkan bunda Anya yang masih termenung dengan kerjapan mata, bagi nya wajah bunda Anya lucu tapi tidak mungkin menertawakan orang tua. Bagaimana jika kualat nanti pasti dirinya tidak mau mendapatkan sumpah orang tua, langkahnya menuju kamar nya untuk segera membersihkan diri karena pakaian nya saja hampir setengah kering.
Sedangkan di sudut lain seorang wanita rambut sebahu terlihat menatap nanar pria yang berjalan menaiki tangga, terlihat jelas di mata nya pria itu berubah drastis di hadapan orang-orang yang baru saja memasuki mansion. Tapi selintas kenangan amarah dan bentak kan pria itu membuat nya kembali melihat kenyataan pahit hidupnya, dirinya seorang dokter senior dirumah sakit utama tapi di dalam mansion terlebih dibawah pria kekar itu, dirinya hanyalah seorang assisten yang status sebagai suster di rumah sakit saja masih lebih baik.
"Kapan semua akan berakhir, baru sesaat saja rasa nya sudah sangat sesak. Sanggupkan aku menanggung emosi nya yang tidak stabil." ucap wanita rambut sebahu itu dan menatap gelas kosong di depannya.
"Setiap langkah pasti ada hal baru untuk kita pelajari, hasilnya tergantung diri kita sendiri. Mampukah kita menyerap ilmu baru itu atau kita memilih untuk menyerah." ucap seseorang dengan menuangkan air putih ke dalam gelas kosong di depan wanita rambut sebahu.
"Queen." ucap wanita rambut sebahu yang melihat ke sampung nya.
"Docter Alvaro bukan orang jahat, hanya saja dia seorang perfeksionis dan bagi nya kecerobohan adalah kesalahan terbesar. Sebagai seorang dokter sudah pasti tidak boleh ceroboh karena satu kecerobohan sekecil apapun bisa menghilangkan nyawa pasien. Bukankah begitu dokter Bia?" ucap Asfa dan meminun air putih nya.
"Anda benar, maaf saya sudah mengeluh." jawab Docter Bia menunduk.
"Aku akan semangat, bagaimanapun aku harus bertahan. Kepercayaan queen tidak pernah salah." ucap Docter Bia menyemangi dirinya sendiri.
Sedangkan Asfa kembali memasuki kamar suami nya setelah melakukan ritual mandi di kamar pribadi nya, terlihat suaminya masih memejamkan mata. Di pandangi nya wajah tenang tanpa beban itu, apakah dirinya sudah menjadi istri yang baik ataupun dirinya menjadi seorang atasan selama ini.
Bukan rasa takut kehilangan tapi ada rasa yang mengusik hati nya saat ini, bagaimana jika pria di depannya itu akan memandang nya berbeda setelah mata nya kembali melihat dunia. Keadaan yang membuat dirinya harus menjadi dirinya sendiri bukan menjadi gadis polos seperti awal pernikahan nya, ada kala nya hati nya menjerit karena kepalsuan wajah dan identitasnya.
"Ku harap hati mu cukup lapang untuk menerima kenyataan tentang dunia ku, cepatlah sembuh karena disini ada cinta yang menunggu dunia mu kembali." ucap Asfa mengusap wajah tanpa sehelai rambut itu.
Usapan lembut di wajah nya terasa menyentuh hati nya meskipun dirinya sengaja menahan nafasnya untuk menunjukkan lelap nya dirinya tertidur tapi entah kenapa hati nya merasakan rasa takut mendengar ucapan gadis yang kini menjadi istrinya. Secuil hati nya ingin bertahan pada kegelapan yang kini membuat nya bertambah dekat dengan gadis yang belum genap satu bulan di nikahinya itu, tapi mengingat tanggung jawab dengan banyak nyawa membuat dirinya menepis keegoisan hatinya.
"Aku tahu kamu tidak tidur, tapi istirahat lah. Satu jam lagi operasi mu akan di lakukan." ucap Asfa menarik tangannya.
"Tetap lah seperti ini, jangan pergi." ucap Abhi menahan kepergian tangan mungil di pipinya.
__ADS_1
Tanpa menjawab, Asfa hanya melakukan permintaan suaminya. Usapan nya mampu membuat wajah pria itu lebih tenang, dan sebuah senyuman terbit di wajah mungil yang tak lepas memandang wajah suaminya.
Tanpa di sadari waktu berlalu dengan cepat dan suara panggilan melalui earphones di telinga nya menandakan waktu telah berhenti untuk tugas selanjutnya, tanpa menjawab panggilan itu kini Asfa pergi meninggalkan kamar suaminya yang terlelap karena sentuhan tangannya.
"Lakukan yang terbaik, aku harus mengurus pekerjaan ku." ucap Asfa melalui earphones nya dan meninggalkan mansion dengan mobil sport yang sudah di janjikan oleh kakaknya.
.....................
"Apa? Bagaimana bisa. Aaaarggh si@l, si@l." teriak seorang gadis dengan melemparkan benda pipih di tangannya.
Braaak...
Benda pipih itu hancur tanpa bentuk setelah menghantam dinding dengan keras, seorang pria yang baru saja keluar dari kamar mandi bingung mendengar teriakan gadis nya. Jujur saja dirinya lelah melihat sikap gadis dengan temperamen yang tinggi tapi gadis itu masih berguna untuknya, dengan santai nya pria itu memeluk tubuh gadis yang terlihat seperti wanita dewasa dan itu terbukti dengan bentuk tubuhnya yang sangat menggoda.
"Apa yang terjadi? " tanya pria itu setelah merasakan gadis nya tidak lagi menggebu-gebu amarahnya.
...Team Alvaro...
(Leon)
(Gabriella)
(Askaa)
__ADS_1
(Andira)