
Ceklek...
Suara pintu terbuka tidak membuat gadis itu kehilangan konsentrasi nya, sedangkan sosok yang baru saja masuk kedalam ruangan penuh cahaya layar itu terpesona dengan desain dan alat-alat yang ada di ruangan itu. Mata nya berakhir pada sosok gadis yang tengah serius memperhatikan layar dan sesuatu di depan nya dengan tingkat keseriusan tertinggi, bagaimana wajah serius itu membuat sosok itu tersenyum.
Senyuman yang selama ini ntah terselip kemana, ntah kenapa hati nya enggan untuk berpaling dari gadis itu dan memandang nya dalam diam sungguh menjadi kesenangan tersendiri untuknya, bahkan tujuan nya datang keruangan itu pun terlupakan.
"Berhenti menatapku! " suara tegas itu menyadarkan fikiran seseorang yang terpaksa menyudahi pandangan nya.
"Saya fikir anda sangat serius tapi anda menyadari kehadiran ku." ucap sosok itu mendekati gadis yang masih enggan berpaling ke arah nya.
"Apa yang kamu butuhkan? " tanya Asfa tanpa mengalihkan perhatian.
"Beberapa alat ini, dimana aku akan menemukan nya? Aal mengatakan aku harus kesini." ucap sosok itu memberikan catatan di kertas ukuran sepuluh cm.
Melepaskan kacamata satu di sisi wajah nya yang ternyata luput dari pandangan sosok itu, di ambil nya kertas tak seberapa itu. Beberapa alat yang dibutuhkan untuk operasi esok, dan harus di persiapkan sehari sebelum operasi.
Langkah Asfa meninggalkan meja tempat nya bekerja menuju deretan almari besar yang memenuhi dari satu ujung ke ujung lainnya, langkah nya berhenti pada almari deretan ketiga. Di buka nya lemari itu dengan password yang rumit namun tidak untuk pemilik nya, benar alat-alat yang di butuhkan ada di almari itu dan lihatlah semua alat yang masih tersegel dengan bau baru itu.
"Ambil yang kamu butuhkan, dan keluarlah! " perintah Asfa membiarkan almari itu terbuka.
Mata sosok itu kembali menunjukkan rasa kagum, ayolah siapa yang menyediakan alat-alat rumah sakit semahal itu dan masih tersegel pula. Seberapa besar kekayaan gadis di depannya itu, lihatlah layar virtual yang merupakan salah satu hasil karya terbaru seorang ilmuwan.
"Ekhem!" dehem Asfa yang kembali membuat sosok itu tersenyum tapi seorang Asfa tidak peduli dengan senyuman semanis apapun itu.
Membiarkan sosok itu memilih dan mengambil peralatan yang di butuhkan untuk operasi sedangkan jemari Asfa tengah melakukan skema yang sudah di rancang nya, satu kaca mata sebelah yang terpasang di mata nya lebih membuat pekerjaan nya mudah. Terlihat serat-serat itu membentuk sempurna seperti saraf-saraf yang ada di tubuh suami nya, yah Asfa sedang melakukan demo dengan percobaan nyata namun dengan keahlian nya dan hanya seorang diri.
Sedangkan sosok itu masih terpaku menatap gadis yang terlihat melakukan sebuah operasi seperti di saat dirinya melakukan eksekusi pada pasiennya, tapi ketenangan dengan wajah serius itu melebihi dirinya saat bekerja. Tanpa berkedip mata nya menatap setiap pergerakan jemari mungil itu meskipun alat yang dibutuhkan oleh nya sudah di dapatkan.
__ADS_1
Terlihat beberapa serat terpotong dan membuat serat lain melakukan penggabungan dan tangan mungil itu terlihat cermat dengan ketajaman mata nya, sesekali lirikan mata nya menatap pada layar virtual dan tidak ada keraguan sedikit pun dari aksinya. Melihat demo seperti saat melihat seminar membuat sosok itu mendapatkan pelajaran baru, dan itu membuat nya semakin mengagumi gadis yang di panggil queen.
"Five percent again.(Lima persen lagi.) " gumam Asfa dan melepaskan kacamata dan meletakkan nya ke atas meja.
Jemari nya kembali berselancar di atas mesin ketik dengan anggun nya, tanpa menatap layar dan sosok itu menatap layar membuat nya berdecak kagum. Deretan angka dengan rumus itu sangat di hafal nya namun barisan terakhir rumus itu tidak pernah di lihat olehnya, sebagai seorang Docter dirinya juga menyukai penelitian tapi menciptakan rumus bukan keahliannya.
"Apa yang anda gunakan? Rumus apa itu? " ucap sosok itu dan sukses menghentikan jemari Asfa berselancar.
"Perhatikan dan diam! Atau keluar." jawab Asfa kembali menikmati angka dengan rumus miliknya.
Sosok itu hanya bisa terdiam kembali dengan mencoba mencermati rumus yang di gunakan oleh queen, namun fokus nya teralihkan ketika sosok lain memasuki ruangan dengan wajah dinginnya.
"Leon apa yang kamu lakukan? " tanya sosok yang baru masuk.
"Mengambil alat-alat ini. Bagaimana dengan mu Aal? " jawab Leon menunjukkan keranjang troli yang ada di samping nya.
(Alvaro Caesar)
"Giliran mu ka, silahkan." jawab Asfa menurunkan jemari nya tanpa turun dari kursi kerjanya.
Alvaro mendekati Asfa dan berdiri di samping gadis itu, sejenak memperhatikan layar virtual didepannya dan terlihat rumus yang dirinya tahu bagaimana cara kerja nya. Dengan santai jemari nya mulai mengabsen setiap angka dan huruf hingga satu menit kemudian terdengar suara Succes dari layar virtual dan terlihat senyuman penuh arti menghiasi kedua makhluk di depan Leon.
"Good job, one is best but two is perfect.(Pekerjaan bagus, satu adalah terbaik tapi dua adalah sempurna.) " ucap Asfa dan menyalin data melalui sebuah flashdisk.
"Always right my doll. Now you need sleep.( Selalu benar boneka ku. Sekarang kamu butuh tidur.) " ucap Alvaro mengelus rambut adiknya.
__ADS_1
"Ekhem." dehem Leon yang ntah kenapa tubuhnya merasa panas melihat kedekatan dua lawan jenis di depannya.
"Urus dia, good night Singa ku." ucap Asfa sembari melirik ke arah Leon sesaat dan langkah nya meninggalkan ruangan kerja nya.
"Pergilah istirahat, aku yang akan mempersiapkan alat-alat itu." perintah Alvaro.
"Aal, apa kalian memiliki hubungan special? " tanya Leon tanpa berfikir.
"Simpan pertanyaan mu boy, ada waktu untuk segala nya.Pergilah." ucap Alvaro dan kini duduk di tempat Asfa.
Melihat hanya jawaban terabaikan maka langkah Leon pasrah meninggalkan pemimpin nya di dalam ruangan itu sendiri meskipun rasa penasaran menggerogoti hati nya, tapi sifat Alvaro sangatlah unik dan tegas. Seberapapun dirinya kuat tetap tidak akan bisa menandingi pria otot besi itu.
Meninggalkan kemelut dari berbagai pihak yang sudah memiliki jalan penasaran masing-masing, tapi berbeda dengan keadaan di sebuah hotel berbintang yang ada di negara lain. Terlihat persiapan sudah sempurna dan tinggal menunggu beberapa jam lagi akan di adalah sebuah rapat akbar, dan tentu tamu nya orang-orang kelas kakap.
Tapi kondisi dua pria yang tinggal bersama selama hampir dua hari terlihat bugar meskipun wajah mereka seperti tidak terawat, tapi tetap saja tidak mengurangi kadar ketampanan keduanya. Lelehan keringat setelah melakukan pertarungan singkat semakin membuat hot daddy itu memancarkan aura sexy, bahkan para seragam hitam yang melihat itu hanya bisa melongo melihat tubuh sixpack para hot daddy itu.
"Apa tuan serius dengan rencana tuan? " tanya seorang pria dengan rambut uban.
"Hmm." jawab pria satu nya yang merentangkan kedua tangannya.
"Hhah kapan bayangan ini harus beraksi? Dunia ku tunggulah aku kembali." ucap lebay pria dengan rambut uban.
"Come on, world waiting your action.(Ayo, dunia menunggu aksi mu.) " ledek pria satu nya dengan mimik wajah konyol.
"Baiklah baginda, your shadow comeback.( Baiklah baginda, bayanganmu kembali.) " ucap pria dengan rambut uban.
Keakraban keduanya terlihat sangat kental dan tidak menunjukkan atasan dan bawahan, yah di luar pekerjaan keduanya adalah satu paket perjuangan yang menjelajahi dunia gelap sejak usia muda.
__ADS_1