My Secret Life

My Secret Life
Bab 138: Will you Marry me


__ADS_3

Dengan ketegangan yang hampir melepaskan jantung Abhi, Asfa menggandeng tangan Abhi untuk duduk diatas kab mobil. Dengan tenangnya Asfa membuka softdrink, dan membantu Abhi meminum minumannya. Wajah pucat pasi dengan mata sayu Abhi tampak jelas, tubuh pria kekar itu bergetar hebat.


Greeeb...


Asfa memeluk Abhi dengan tulus, mengusap punggung kekar Abhi dengan lembut. Satu bisikan keluar dari bibir manisnya. "Will you marry me Mr. Abhishek?"


Bukan petir yang menyambar, tapi hujan pelangi turun dari langit. Perasaan tegang Abhi, berganti dengan panas dingin di dalam hatinya. Satu tangan Abhi berusaha mengapai lengan tangan Asfa, melepaskan pelukan ternyamannya. Tatapan mata Abhi menghujam mata tenang Asfa dengan tajam, namun penuh cinta. "Tell again!(Katakan lagi!)"


"Will you Marry me? Mr. ABHISHEK!" ucap Asfa dengan tegas.


Bruuug…


Asfa langsung menangkap tubuh Abhi. Sungguh rasanya ingin tertawa, bagaimana bisa Abhi pingsan hanya karena lamarannya. Apakah lamarannya membuat Abhi serangan jantung? Asfa mengambil softdrink yang sudah terbuka dan mencipratkan minuman itu ke wajah Abhi. Namun pria itu tak kunjung sadar.


Sejak kapan pria pingsan saat dilamar seorang gadis? Sepertinya jiwa kami tertukar. Maafkan aku, aku siap menerimamu. Tapi semua ini karena tujuanku. ~ batin Asfa dengan mengusap lembut pipi Abhi.


Ada rasa yang tersimpan, itu bukan cinta. Tapi ada kenyataan yang membuat Asfa memilih Abhi. Meskipun jujur didalam hatinya hanya ada luka, cinta bagi Asfa hanyalah perasaan semu. Kini tujuan hidupnya hanya untuk bertahan, melindungi dan menyerang.


Puk.. Puk.. Puk..


Bahkan tiga tepukan di pipi pria itu tetap tak membuat Abhi terbangun.


"Kenapa seperti ini. Sudahlah." tukas Asfa memilih memapah tubuh Abhi dan memasukkan pria itu ke kursi penumpang.


Dan Asfa memutar dari depan mobil, memasuki kursi pengemudi. Mobil classic itu meninggalkan tempat Asfa melamar Abhi. Yah Asfa sengaja melamar Abhi setelah melakukan permainan hidup dan mati. Pejaman mata Abhi disaat pelatuk berhasil di tarik, membuat Asfa mengalihkan sasaran peluru ke atas langit.


Tujuan Asfa hanya ingin menguji seberapa jauh mental Abhi untuk memasuki dunia bintangnya. Seperti apa reaksi pria kekar itu ketika melakukan kejahatan terbesar dalam cinta. Tubuh gemetar dengan pejaman mata Abhi, membuat Asfa sadar. Jika Abhi masih membutuhkan perlindungan, seperti yang dikatakan oleh nenek Ara.


Flashback


Tangan Asfa mencengkram kuat map di tangannya. Map yang membuat satu kenyataan pahit terkuak ke permukaan, bukan hanya keluarga Narendra yang menjadi sebab hatinya hancur. Tapi dua orang dibelakang kejadian itu menjadi dalang utama, dan map ditangannya itu menjadi bukti nyata.


"Nak, dengarkan nenek. Berikan satu kesempatan untuk hubungan kalian. Nenek tahu ini tidak benar, tapi bantu nenek memenuhi janji pada sahabat nenek." pinta nenek Ara dengan memelas.

__ADS_1


Asfa tak menggubris, wajahnya memerah menahan amarah. Untuk pertama kali dalam hidupnya. Hatinya menjadi permainan anggota keluarganya sendiri. Rasa sakit karena penghinaan A Narendra ternyata masih secuil. Jika dibandingkan rasa sakit atas pengkhianatan keluarganya sendiri.


Tangan tuan Luxifer bergegas menarik map ditangan Asfa, dengan teliti di baca isi map itu tanpa berkedip. Pantas saja putrinya mengeluarkan aura iblis. Map itu bukan hanya sebuah pengkhianatan tapi konspirasi besar untuk menjebak putri rajanya.


~~


"Apa yang kamu katakan tadi serius?" tanya Abhi yang membuat lamunan Asfa buyar.


Asfa melirik kearah Abhi yang masih memegangi kepalanya sendiri. Wajah pucat itu masih tertinggal. Bukannya menjawab, Asfa kembali fokus ke jalanan hutan dengan deretan pohon besar yang rindang.


"Asfa!" panggil Abhi dengan tekanan.


Ciiit… ..


Dug…


"Apa…"


Wuusss… Cup…


"Ekhem!" dehem Asfa membuyarkan fikiran Abhi yang travelling ntah kemana.


Abhi mengerjapkan mata, berulang kali memandang Asfa dari atas sampai bawah. Asfa risih ketika ada yang menatapnya dengan intens. "Aku tarik…"


"Kita menikah hari ini dan saat ini!" tukas Abhi memotong ucapan Asfa.


"Hmmm."


Abhi menatap Asfa dengan tatapan penuh arti, seketika membuat Asfa mengalihkan pandangan ke arah luar mobil. Satu tangan dingin terasa menyentuh dagu Asfa, tangan itu membuat Asfa kembali terpaku pada mata biru Abhi. "Will you marry me Asfa?"


Hening….


Kedua mata tak henti saling menelisik, mencari kejujuran dan ketulusan masing-masing. Seakan tatapan itu menceritakan kisah hati kedua insan, menumbuhkan bibit cinta dengan tunas baru. Asfa memejamkan mata, menetralkan gemuruh di hatinya. Ada rasa takut dan rasa hampa menerjang hatinya, dengan pelan Asfa melepaskan tangan Abhi dari dagunya. "Ayo kita kembali ke Villa dan bicarakan masalah pernikahan kita."

__ADS_1


"Biar aku yang menyetir." Abhi hendak bergerak, namun tangan Asfa menahan pergerakannya dengan tatapan tajam.


Hanya pasrah yang bisa Abhi lakukan, membiarkan Asfa kembali menyetir. Dan tugasnya hanya memandang gadis termanis nan nakal, yaitu Asfa. Perjalanan yang seharusnya 1 jam menjadi 25 menit. Bayangkan bagaimana Asfa memacu adrenalin Abhi dengan kecepatan mobil melebihi batasnya.


Ciiit…


"Temui nenek Ara! Aku masih ada pekerjaan." tukas Asfa sebelum keluar dari mobil.


Braak…


Abhi hanya menggelengkan kepala, sikap Asfa bisa jumping dengan drastis. Kadang mode imut langsung terjun ke mode garang. Perpaduan yang kompleks tapi menarik seluruh perhatiannya. "Ayo Abhi, minta dukungan nenek Ara. Tapi wajahnya itu, sebelas duabelas dengan Asfa saat marah."


Langkah Asfa menuju ke satu heli yang masih menyala, baling-baling heli itu masih berputar. Dan pintu heli terbuka setengah, menampilkan setengah tubuh orang yang amat dikenali Asfa. "Kenapa papa tidak turun? Apakah papa masih marah."


"Masuk!" titah tuan Luxifer dengan menggeser pintu heli agar terbuka sempurna.


Kaki Asfa melangkah, memasuki heli tanpa bantahan. Duduk di samping sang papa dan kembali menutup pintu heli. "Terbang pak!"


Heli perlahan kembali mengudara, sang pilot hanya melakukan perintah King dan Queen. Asfa menatap sang papa yang terlalu pendiam, dengan lembut Asfa menggenggam tangan tuan Luxifer. "I am okay dad. Calm down. (Aku baik-baik saja ayah. Tenanglah.)"


Sejurus mata tuan Luxifer menatap mata biru Asfa, mata itu terlalu dalam untuk di selami. Mengingatkan dirinya akan Naura istrinya. Helaan nafas terdengar berat, ada beban yang tak bisa diangkat. Putrinya terlalu cepat dewasa, hingga tak lagi bersandar di dada bidangnya. "Apa keputusanmu sudah tepat nak? Papa tidak akan merestui hubungan kalian, jika itu demi janji nenekmu saja!"


"Katakan padaku pa. Apa yang kudapat dari cinta? Lihatlah, aku disini bersama papa. Cinta ku telah padam pa, aku hanya bisa memberikan Abhi satu kesempatan yang nyata."


Asfa diam sesaat…


"Izinkan aku menikah, aku siap menerima Abhi dalam hidupku." pinta Asfa dengan mengecup tangan tuan Luxifer.


Greeeb….


Pelukan dengan kasih sayang. Asfa bisa merasakan betapa besarnya sang papa mencintai dirinya, tak ada keraguan akan cinta seorang ayah. Ketenangan, kebahagiaan, dan amarah sang papa berasal darinya. Asfa membalas pelukan sang papa dan membenamkan tubuh mungilnya ke dalam dekapan cinta seorang ayah.


"Pastikan semua seperti rencanamu nak. Apa tidak ada cara lain? Papa tidak ingin kamu terjebak di tempat itu." bisik tuan Luxifer membuat wajah Asfa menyembul di balik dekapan.

__ADS_1


Mata tuan Luxifer jelas menggambarkan rasa khawatir, padahal selama ini sudah tak terhitung berapa kali nyawa sang putri dipertaruhkan. Asfa hanya tersenyum manis tanpa kata. "Tetaplah tersenyum nak. Senyuman mu kekuatan papa."


Asfa kembali membenamkan wajahnya, menikmati usapan tangan sang papa di atas kepalanya. Sedangkan di dalam villa, Abhi menjadi patung dengan tatapan selidik dari 2 orang beda generasi.


__ADS_2