
"Apa semua peraturan ini Asfa yang buat?"
Zain dan Leo saling pandang, keduanya sepakat menggelengkan kepala. Kali ini bukan helaan nafas. Akan tetapi wajah polos dan tanda tanya Abhi, sungguh membuat kedua pria di tempat itu gemas.
"Bos tidak usah terlalu dipikirkan, intinya kerjasama kali ini antara ABF Company dan perusahaan milik papanya tuan Zain Arham. Selebihnya, biarkan Queen yang mengurus. Bukan begitu tuan Zain?" Leo meminta Zain untuk mendukungnya, jika tidak panjang kali lebar tidak akan selesai nanti.
"Semua tergantung pada anda, karena suplai berlian dari perusahaan anda. Jadi apakah kerjasama ini bisa berlanjut? Jika iya, semua surat kontrak kerjasama akan dikirim besok pagi." ucap Zain.
Ponsel ditangan Abhi diletakkan di meja, sesaat mengingat sesuatu yang penting. Ingatannya tentang meeting dengan para tamu delegasi asing, saat itu Asfa yang menjadi pusat perhatian. Tentu saja syarat dan ketentuan dibaca olehnya, meskipun meeting berakhir entah seperti apa. Abhi menghela nafas dan menatap Zain. "Mari lakukan kerjasama."
"Deal?" Zain mengulurkan tangan kanannya kearah Abhi.
Abhi menyambut uluran tangan Zain. "Deal."
"Selamat untuk kedua perusahaan, tuan Zain kami tunggu surat resmi kontrak kerjasama dari perusahaan anda. Selamat bos, satu langkah anda untuk lebih dekat dengan Queen." Leo memberikan selamat dan salaman tangan pada kedua bos beda perusahaan itu.
Sebenarnya anak ini bekerja untuk siapa? Aku atau istriku? Semakin kurasakan, Leo semakin fokus pada dunia lain. Bagaimana caraku tahu semua tentang istriku? Seharusnya aku bisa mencoba dari orang terdekatmu. ~batin Abhi.
"Selamat siang. Sampai bertemu besok pagi." pamit Zain dan memakai kacamata hitamnya.
Leo dan Abhi mengangguk tanpa ingin memberikan satu katapun, kepergian Zain membuat Abhi menatap Leo dengan intens. "Sekarang bisa jelaskan?!"
"Apa yang ingin kamu tahu? Bos ini suaminya, dan aku hanya asisten. Jadi mana yang lebih paham?" Leo menjawab dengan santai, tanpa disadari jika jawaban Leo bagaikan sindiran halus.
Pluk!
Satu tepukan di lengan Leo, membuat pria itu meringis. "Bos kenapa tepuk lenganku? Salahku apa?"
"Kamu pikir enak jadi suami polos! Setiap pertanyaan hanya dijawab dengan misteri, tiba-tiba terseret tanpa bisa melawan." ujar Abhi helaan nafas.
__ADS_1
Sepanjang hari entah berapa kali dirinya menghembuskan nafas panjang dan dalam, hanya itu yang mengurangi beban di hatinya. Leo menatap Abhi dan ikut menghela nafas. Bagaimana dirinya akan menjelaskan siapa Asfa? Jika dirinya saja masih terikat janji dan kontrak kerjasama. Sungguh patut diacungi jempol cara kerja para pendukung Queen, Bahkan sikap tegas dan tak kenal takut dirinya juga berasal dari pelatihan selama beberapa waktu bersama Justin dan anggota mansion lainnya.
"Bos, aku tidak bisa mengatakan apapun, apalagi menjelaskan siapa Queen. Akan tetapi, percayalah pada Queen. Hanya itu yang bisa ku katakan." ucap Leo dan menepuk bahu Abhi.
Ucapan Leo cukup menjadi jawaban, sudah jelas tidak seorangpun bisa mendeskripsikan sosok istrinya. "Sudahlah, antar aku ke rumah Bagaskara. Aku ingin bertemu bunda dan papa. Setidaknya mood ku akan membaik."
"Mari bos, mau bawa oleh-oleh apa?" tanya Leo dan bangun dari duduknya.
"Buah kesukaan keduanya saja, di tempat biasa. Bagaimana dengan status para tamu delegasi asing?" Abhi berjalan beriringan dengan Leo berjalan keluar, meninggalkan cafe.
Leo membuka pintu Cafe, membiarkan Abhi keluar terlebih dahulu. "Semua lancar, hanya saja yang melakukan kerjasama langsung pemilik perusahaan dan jaminannya RA company. Para perwakilan sudah di deportasi ke negara antah berantah oleh Queen, sekarang yang tersisa adalah proyek baru. Oh iya bos, ada satu perusahaan ingin bergabung. Namanya perusahan IMB company, sepertinya baru merintis."
"IMB company? Apa kepanjangan dari IMB?" tanya Abhi penasaran.
Leo menggedik kan bahu. "Dari berkas yang dikirim hanya bertuliskan IMB company dan tidak ada penjelasan lain. Hanya saja, yang mereka tawarkan seperti laut Berlin."
Abhi membuka pintu mobil samping, dan masuk ke dalam bersama Leo memutar di depan mobil dan masuk ke kursi kemudi. Keduanya tak lupa memasang sabuk pengaman. "Apa dikirim lewat e-mail?"
Abhi mengambil ponselnya dan membuka email perusahaan, membiarkan Leo fokus menyetir. Begitu banyak pesan yang masuk, beberapa e-mail dilewati hingga pesan bertuliskan IMB company terlihat. Satu klik pesan terbuka, dengan seksama Abhi membaca pengajuan kontrak kerjasama.
Setiap syarat yang diajukan seperti menyodorkan madu terbaik, jika perusahaan menerapkan sistem seperti itu. Bukankah sama saja seperti beramal, bukan menjadi kerjasama tetapi justru masuk ke jurang. Atau bisnis dijadikan tempat beramal? Hanya itu pesan yang bisa ditangkap oleh Abhi setelah membaca semua poin dari IMB company.
"Aneh kan? Sudah kubilang perusahaan itu sangat nyeleneh. Daripada melakukan kerjasama seperti itu, kenapa tidak membangun panti asuhan saja." tukas Leo setelah melihat perubahan ekspresi wajah Abhi.
Ucapan Leo ada benarnya, tapi dibalik pengiriman kontrak kerjasama pastilah ada alasannya. Hanya saja apa alasan dari pemilik IMB company? bahkan nama perusahaan itu terkesan dekat namun asing. "Selidiki perusahaan itu, apakah bisnis mereka legal atau ilegal dan ya, kirim laporan secepatnya. Aku ingin mengurus pekerjaan yang tertunda, termasuk proyek fashion show tahunan."
"Siap bos. Mengenai proyek fashion show tahunan, beberapa perencanaan sudah tersedia. Bos bisa lihat filenya di tempat biasa." jawab Leo dan membelokkan mobil ke arah toko buah langganan.
Ciiiit
__ADS_1
"Tunggu didalam saja, biar aku yang beli bos. Mau nitip buah lainnya?" ucap Leo dan melepaskan sabuk pengaman.
"No, thanks." jawab Abhi singkat dan Leo membuka pintu keluar dari mobil.
Kepergian Leo, membuat Abhi menyandarkan tubuhnya. Memejamkan mata dan membiarkan semua pikiran didalam otaknya menemukan cabang dan titik terang. Kenangan saat dirinya dalam keadaan terburuk, membuat senyuman terbit dari bibir. Bagaimana kebersamaan dirinya dan Asfa sungguh membekas di hati, perasaan nyaman dan tenang selalu hadir disaat tangan lembut Asfa memberikan kekuatan.
Seperti tidak ada jarak diantara keduanya, ternyata semua terjadi mengikuti jalan dari keputusan Asfa. Sesaat bayangan jas putih yang membalut tubuh Asfa, membuat mata Abhi terbuka. "Seorang dokter? Jika Asfa dokter, artinya istriku pernah sekolah di salah satu universitas. Tetapi universitas mana? Di dalam negeri atau di luar negeri? Apa aku harus memulai pencarian dari satu cahaya ini?"
Braak…
"Huft panasnya, kenapa terkejut bos?" tanya Leo yang melihat Abhi mengusap dada.
"Tidak bisakah kamu pelan tutup pintunya? sekeras itu untuk apa?" tegur Abhi.
Tok!
Tok!
Tok!
Suara ketukan kaca mobil, membuat kedua pria di dalam mobil saling pandang. Abhi memberikan isyarat agar Leo menurunkan kaca jendela. Tangan Leo melakukan permintaan Abhi. Perlahan kaca mobil samping Leo turun, wajah yang perlahan terlihat dari rambut beterbangan turun ke alis, mata sendu, hidung mancung dan bibir pucat.
"Tolong aku tuan, aku mohon."
"Ada apa?" tanya Leo dan melihat wanita di depannya ketakutan.
"Masuk! Kita bahas nanti, biarkan dia masuk di belakang." Abhi memberikan kode agar wanita itu masuk ke kursi belakang.
Ketiganya hening di dalam mobil dan Leo melajukan mobil meninggalkan parkiran toko buah, setelah perjalanan selama sepuluh menit. Abhi melirik ke arah spion tengah, dan melihat keadaan wanita di belakang dimana wajah ketakutan dan juga gemetaran mendominasi. "Leo bawa ke apartemen saja, tidak mungkin kita bawa dia ke rumah."
__ADS_1
"Siap bos."