My Secret Life

My Secret Life
Bab 186: Senyuman-Taman Cinta


__ADS_3

Rasa malas dan ingin menyendiri tiba-tiba saja muncul dan itu tak terduga. Suara pintu terbuka dan tertutup, membuat Abhi memejamkan mata. Ketenangan kamar menjadi sebuah pemicu beberapa kenangan melintas diantara pejaman mata. Ekspresi wajahnya berubah-ubah. Kadang senyum, sedih, datar dan sesekali terdengar kekehan kecil.


Hingga kenangan bingkai foto keluarga di dalam kamarnya yang menjadi alasan Aliska tak terkendali, membuat Abhi membuka mata dengan nafas tercekat. "Aku harus cari tahu siapa itu Aliska dan apa hubungannya dengan keluargaku. Tapi, dari mana?"


Abhi mengambil ponsel di atas meja dan mencari nomor seorang detektif yang biasa melakukan tugas rahasianya. Satu dial nomor dengan nama unik menghubungkan Abhi dengan seseorang di tempat tersembunyi. Panggilan terjawab. "Aku ada tugas untukmu!"


Beberapa menit kemudian, panggilan berakhir. Abhi bangun dan berjalan menuju pintu kamar hotel. Langkah kakinya menyusuri lorong demi lorong hingga sampai ke lift para pengunjung hotel. Bersamaan dengan orang lain, Abhi masuk ke dalam lift menuju lantai dasar.


Jalanan begitu padat, membuat mata biru di dalam mobil memperhatikan keadaan di luar melalui jendela gelap yang tertutup rapat. "Ka, dunia ini sangat indah. Apa, aku terlalu sibuk dengan duniaku sendiri?"


Pria yang duduk di kursi kemudi mengalihkan perhatian ke arah peri kecilnya. "Apa yang terjadi? Dimana Asfa yang tangguh dan siap bertempur?"


Hening….


Keheningan peri kecilnya, membuat Vans kembali fokus ke jalanan. Saat ini, membiarkan adalah solusi terbaik. Asfa masih menatap jalanan dengan pikiran melayang.


Sekali saja, biarkan aku hilang. Menghilang dari dunia ini. Aku ingin terbang seperti kupu-kupu. Bebas menjelajahi dunia dengan sayapku.~batin Asfa menatap awan di langit.


Perjalanan panjang kali ini, hanya ada keheningan di antara Vans dan Asfa. Vans memilih memutar haluan dan memasuki sebuah taman bunga dengan air mancur cinta. Taman Cinta. Itulah nama tamannya. Mobil memasuki area parkir, dan berhenti di posisi yang benar. "Ayo kita bermain," Vans melepas sabuk pengaman dan membuka pintu sambil mematikan mesin mobil.


Tidak ada bantahan, Asfa hanya diam dan melepaskan sabuk pengaman. Vans lega ketika Asfa ikut keluar dan menghampirinya.


"Ayo," Vans mengulurkan tangan kiri nya.


Asfa menyambut uluran tangan Vans dan keduanya mulai berjalan bersama menyusuri jalanan setapak berpagar tumbuhan hijau memanjang. Setelah berjalan selama beberapa menit. Akhirnya taman bunga terlihat dengan beberapa permainan untuk semua usia dan sebuah air mancur di tengah taman berbentuk hati.


Untuk wahana pertama. Vans memilih sebuah ayunan. "Duduk. Seperti biasa, aku yang akan mengayunkan ayunan."

__ADS_1


"Tidak. Kali ini, aku ingin bertukar posisi." tukas Asfa.


Mendengar itu, membuat Vans memiliki ide yang lebih baik. "Baiklah, tapi ada syaratnya."


Asfa menaikkan satu alisnya, tatapan kedua insan itu saling bertemu. Melihat keseriusan di wajah Asfa. Vans tersenyum dan mengusap kepala peri kecilnya. "Tersenyumlah. Itu syaratnya."


Bibir mungil tipis semerah cherry itu melengkung. Senyuman tipis terbit, Vans menggelengkan kepala. "Bukan begitu, itu terlihat dipaksa. Tapi, seperti ini," Vans tersenyum dengan aura dingin dan wajah datar.


Melihat tingkah konyol Vans. Senyuman asli Asfa terbit meskipun hanya sesaat. "Pertahankan senyumanmu. Seorang Queen harus melebur kelemahan menjadi kekuatan. Bukan begitu?"


Asfa memilih duduk di atas ayunan. "Dorong!"


"Tidak jadi bertukar tempat?" tanya Vans dan mulai mendorong ayunan dari belakang.


Mata terpejam sambil merentangkan kedua tangan. Rambut hitam bersurai merah terbang mengikuti arah ayunan dan hembusan angin. Ada rasa dingin menerpa wajahnya. Semakin lama, semakin cepat ayunan berayun. Kebersamaan kedua sahabat itu seperti pasangan serasi. Banyak tatapan mata yang terpukau dengan kecantikan dan ketampanan sejoli itu.


Beberapa jepretan kamera diam-diam terarah pada keduanya. Vans berhenti mendorong ayunan dan menahan dua tali gantung agar Asfa tidak jatuh. "Kita cari tempat lain. Disini hawa sudah tidak kondusif."


Vans mengacak rambut Asfa dengan gemas. "Aku sudah punya kamu. Tidak membutuhkan fans lain."


"Tunggu dulu, aku bukan fans mu loh. Wah, kita harus ke dokter. Ayo." Asfa turun dari ayunan.


Belum sempat melangkahkan kaki. Tangannya sudah di tarik Vans, dan alhasil masuk ke dalam pelukan pria itu. Seperti momen penting para artis. Beberapa jepretan kamera sekali lagi terarah pada keduanya. Tanpa disadari Asfa, tindakan Vans membuat tangan seorang pria mengepal dengan tatapan tajam dan dada bergemuruh.


Langkahnya tak tinggal diam. Pria itu berjalan menghampiri Vans dan Asfa. Hingga jarak tiga meter. Vans melepaskan pelukan dan mengusap kepala Asfa. "......"


"Apa kabar, istriku?" Abhi menekan setiap ucapannya, membuat banyak mata melongo.

__ADS_1


Asfa membalikkan tubuh, dan wajah marah Abhi menyambutnya. Bukan khawatir atau tegang, Asfa tersenyum tipis dan menatap mata Abhi. "Ka, pulanglah ke mansion!"


"Queen...... "


"Not now. Him my husband, i will fine.(Tidak sekarang. Dia suamiku, aku akan baik-baik saja.)" Sela Asfa dan berjalan mendekati Abhi.


Situasi yang rumit, membuat Vans ingin bertahan di tempat itu. Akan tetapi, permintaan kecil Asfa tidak mungkin di abaikan. Terlebih mood peri kecilnya sangat tidak baik. Vans masih terpaku di tempat. Hingga Asfa berhenti di depan Abhi dengan jarak satu meter.


"Aku baik. Bagaimana kabarmu?" Asfa menatap mata Abhi lebih dalam, membuat pria bermata biru itu salah tingkah.


Melihat gerak gerik Abhi tidak seperti para pria di mansion. Barulah Vans melangkah mundur dan meninggalkan Asfa.


Aku tahu, kamu bisa menghadapi banyak orang. Sedekat apapun kita, jarak itu tetap ada. Biarlah aku menjadi penjaga mu. Meskipun tak mungkin memilikimu.~batin Vans.


"Ekhem!" Asfa berdehem, membuat Abhi menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.


Warna merah di pipi Abhi masih nampak, Asfa mengulurkan tangan dan mengusap pipi suaminya. "Kemarahan, apa emosi ini tertahan lama? Jika ingin marah, marah saja. Kenapa di tahan."


Bukan menghilang, pipi Abhi justru semakin bersemu merah. Tapi, kali ini karena tersipu malu. Asfa terkekeh kecil melihat reaksi Abhi seperti gadis remaja. Tanpa menunggu reaksi lanjutan, Asfa mengalihkan tangan dan menggandeng tangan Abhi. "Dimana mobilmu?"


"Diparkiran." jawab Abhi.


"Kamu di depan, aku tidak tahu dimana mobilmu."


Seperti tontonan gratis saja, Abhi dan Asfa melakukan drama suami istri bercitarasa terbalik. Mata Abhi menatap tangan Asfa yang menggenggam tangannya. Mau marah karena kejadian tadi, tapi kemarahannya lenyap dengan sikap manis sang istri.


Jangankan bergerak. Abhi justru sibuk menatap genggaman tangan seperti menatap sebongkah berlian. Melihat itu, Asfa menarik Abhi dan berjalan di depan menyusuri rumput hijau.

__ADS_1


Berbeda dengan sikap Abhi yang mendadak seperti anak remaja. Di tempat lain, seorang wanita dengan mata waspada menatap kesana dan kemari keseluruh ruangan. Tatapannya berhenti di meja nomor tujuh. Langkah kaki yang diseret dengan tangan tertutup blazer.


"Ku harap, dia segera datang."


__ADS_2