
Bukan hanya bibir kelu dan udara menipis. Detak jantungnya ikut mati melihat semua yang terjadi dalam hitungan menit. Hidupnya seperti diguncang sesuka hati oleh Sang Pencipta. Hancur dan terbakar seperti bara api. Mata, bibir dan telinganya seakan tak lepas dari kutukan.
Bruuug....
Tubuh Abhi ikut ambruk dan lelehan air mata meluncur tanpa hambatan. Mata birunya memerah dan bibir itu terkunci rapat. Tidak ada tatapan cinta, apalagi wajah manis dan tampan. Satu tangan terulur dan berniat menyentuh pundak Abhi.
"Jangan sentuh aku! Mulai hari ini, kamu musuhku."
Asfa menarik tangannya dan mundur. Ucapan Abhi seperti sebuah keputusan mutlak. Saat ini bukan waktunya untuk berdebat. Apalagi menjelaskan siapa yang salah dan siapa yang berdebat. Nenek Ara memeluk Asfa. Cucunya memang tenang dan masih bisa berdiri di kakinya sendiri. Akan tetapi, mata biru itu juga hancur dengan sikap Abhi.
"Kamu boleh membenciku, sebanyak yang kamu mau. Kenyataan tidak akan berubah. Pergilah! Bawa kedua orang tuamu. Mobil sudah di depan," Asfa memundurkan langkah kakinya lebih jauh.
Para karyawan dan tamu cafe tak berani mendekat. Mereka seperti terpaku dan menikmati tontonan gratis. Abhi mengusap air matanya dan menatap Asfa sejenak. Wajah tenang, dingin dan bibir terkunci rapat, membuat Abhi semakin berpikir jauh tentang istrinya itu. "Jangan pernah muncul di hadapanku! Aku....."
"Hentikan! Jangan teruskan. Ucapanmu tidak akan bisa ditarik lagi. Jangan sampai, kamu menyesal seumur hidup. Pergilah, bawa kedua orang tuamu!" Nenek Ara menyela, dengan menangkup kan kedua tangannya.
Ucapan Nenek Ara mengusik keraguan di hati Abhi, namun tubuh lemah sang bunda dan papa menjadi amarah yang menggebu-gebu. Abhi menggendong sang bunda dan kembali berdiri dengan kekuatan yang tersisa. Asfa dan nenek Ara hanya melihat tanpa mendekat. Apalagi membantu. Langkah Abhi menjauh dan keluar dari Cafe.
Ceklek
Asfa berjalan maju dan berdiri di belakang tuan Mahendra, berjongkok dan menatap wajah pria paruh baya di bawahnya. Kelopak mata pria itu masih bergerak. Artinya pria itu hanya pura-pura pingsan. Luka tusukan juga di tempat yang tidak berbahaya dan bukan luka dalam.
'Aktingmu sangat bagus. Seorang aktor pun kalah. Anda berhasil menjadi daftar blacklist dalam kehidupan ku. Selamat datang Mahendra musuhku.' -bisik Asfa tepat di telinga papa mertuanya.
Bisikan Asfa dengan suara serak, dingin dengan intimidasi menerobos masuk gendang telinga dan terpatri di memori Mahendra. Bulunya pun meremang. Tekanan dari aura yang menantunya keluarkan. Sama persis seperti aura intimidasi xifer musuh bebuyutannya. Asfa bangun dan kembali ke tempat semula. Abhi masuk dengan wajah datar.
Jangankan memandang Asfa, melirik saja pria itu tak sudi. Abhi mengangkat papanya dan memapah pria itu dalam kebisuan. Melihat itu, Asfa tersenyum tipis. "Buka mata, telinga dan hatimu. Jangan sampai cahaya menyilaukan jalanmu. Ingat dimana rumahmu!"
Abhi berhenti dan berbalik menatap Asfa. Senyuman di wajah Asfa sangat manis dan tulus, tapi senyuman itu menusuk hatinya. Ingatan Asfa menusuk sang papa, membuat darahnya mendidih. Mata biru Abhi di penuhi amarah dan kebencian. "Queen Asfa Luxifer binti Luxifer, mulai detik ini AKU TALAK KAMU."
"Nak....." seru nenek Ara membungkam bibirnya sendiri.
Asfa masih tersenyum tanpa memberikan reaksi lain. Abhi berbalik tanpa menunggu lebih lama. Tanpa Abhi sadari, tuan Mahendra memberikan senyuman puas ke arah Asfa setelah mendengar kata talak dari putranya. Nenek Ara berniat menyusul, namun tangannya ditahan Asfa.
"Biarkan, dia pergi." ucap Asfa.
Nenek Ara tak bisa menyusul Abhi dan menjelaskan semua masalahnya. Tidak mungkin Asfa melakukan aksi tanpa ada alasan yang jelas. Pikiran bercabang, membuatnya tidak fokus dengan situasi yang masih tegang. Asfa memejamkan mata sesaat dan menarik nafas dalam.
Prook!
Prook!
Prook!
Tiga tepuk tangan Asfa, membuat para karyawan dan tamu yang tersisa keluar dari tempat persembunyian. Asfa memutar tubuh dan melihat seluruh sudut. "Apa kalian PATUNG? Sikap kalian tak ubahnya pecundang. Dimana hati kalian? Mati...."
"Nona kami....."
Seorang pelayan maju dengan tubuh gemetar. Cafe yang terkenal elite dan aman. Ternyata tak ubahnya sebuah tempat kumpulan pecundang. Asfa maju dan mendekati pelayan itu.
Tak!
Langkah Asfa terhenti di depan wanita pelayan dewasa itu dan menangkup dagunya. "Apa bibirmu kelu? Mau kubantu....."
"Nak?" panggil Nenek Ara.
Asfa tahu, semua orang di dalam cafe HighStar shock dan tak punya nyali. Belum sempat menjawab. Sebuah sinar merah terarah pada karyawan itu, tepat di kepalanya. Asfa langsung mendorong pelayan itu. "Alls Merunduk!"
Seruan Asfa bersamaan tubuh pelayan itu terhuyung ke belakang dan menabrak salah satu meja.
Bruug!
Door!
Door!
Door!
__ADS_1
Asfa merunduk dan merayap mendekati sang nenek. Nenek Ara bergegas mengoperkan tasnya ke Asfa. "Ambil itu, dan jangan cemaskan aku."
Asfa memahami gumaman sang nenek dan membuka tas jinjing sang nenek. Satu senjata Abhi tersedia di dalam tas neneknya. Jika sang nenek bersiap dengan senjata. Maka, pertemuan dengan orang tua Abhi sudah direncanakan. Satu ingatan tentang alasan pernikahannya dengan Abhi kembali terlintas. "Shiiit. Aku kecolongan."
Semua yang terjadi seakan baru terkoneksi. Awalnya di dalam pikirannya. Abhi terancam karena dunia bisnis dan banyak musuh yang mengincar pria itu. Ternyata musuh terbesar Abhi adalah tuan Mahendra. Tapi, apa hubungan pertemuan ini dengan peristiwa yang tengah terjadi?
Door!
"Arrrggghhh...." Jeritan beberapa pelayan mengembalikan kesadaran Asfa.
Asfa mengecek isi peluru dan hanya ada enam biji. "Kalian merayap lah dan keluar dari pintu belakang. Sekarang!"
"Tapi, bagaimana jika tembakan...." protes salah satu karyawan.
"Berlarilah, saat aku bilang lari!" titah Asfa dan merapat ke salah satu meja.
Banyak sinar laser betebaran ke seluruh penjuru cafe. Dari balik tempatnya, Asfa menghitung berapa sniper diluar sana. Sementara nenek Ara sudah menguhungi seseorang untuk segera menyusul ke cafe. Karyawan mengikuti tindakan Asfa dengan berlindung di balik meja dan juga mengintip. Asfa mengambil satu botol minuman di atas meja, berdiri dan melemparkan botol itu keatas sembari membidik botol itu.
Door!
Satu tembakan dari Asfa, membuat botol itu pecah dan menyebar ke berbagai arah. Asfa langsung menunduk secepatnya. Satu isyarat jemari Asfa, membuat para karyawan mulai bergeser mundur ke belakang. Beberapa laser terarah ke karyawan yang paling belakang. Asfa melihat seorang sniper dari arah parkiran dengan kedok seorang pemulung.
"Nak, mereka sampai satu menit lagi." ucap Nenek Ara.
"Satu menit. Tetaplah berlindung!" titah Asfa dan membidik pemulung di luar sana.
Kaca cafe memang tebal, tapi bukan kaca anti peluru. Terlebih desain cafe terkesan humble dengan banyak lubang ventilasi. Ntah siapa yang mendesain cafe, terlalu memikirkan keindahan tanpa keamanan. Asfa fokus, satu tarikan dan...
Door!
Door!
Bruuug!
Door!
Di tengah kekacauan, dari arah luar parkiran suara mobil dan motor terdengar seperti lebah. Kelegaan terpancar di wajah Asfa. Begitu pula sang nenek yang berlindung di antara meja penerimaan tamu. Bising deru senapan saling beradu terdengar dari luar. Asfa bangun dari tempatnya bersembunyi, begitu pula sang nenek. Sedangkan, para karyawan sudah aman dengan memasuki wilayah belakang cafe.
Wajah beberapa bodyguard dengan satu sosok pria yang memimpin terlihat jelas dari kaca di dalam cafe. Asfa mengulurkan tangannya di depan nenek Ara. Senyuman wanita berhijab terkembang sempurna. Satu sinar laser, ntah dari mana terarah ke dada wanita berjilbab. Asfa melihat itu langsung memeluk sang nenek dan memutar tubuhnya.
Dooor.....
"Naaak...."
"Queeen......" seru seorang pria yang baru membuka pintu. "Hancurkan pelakunya!"
"Siap, Tuan." jawab para bodyguard dan mencari pelaku penembakan.
Pria yang dipanggil tuan berlari menghampiri Asfa yang tertembak tepat di kepala belakang. Nenek Ara tak kuat menahan bobot tubuh cucunya yang lebih berat dari seorang pria. Tubuhnya ikut merosot. Beruntung tubuh Asfa di tangkap sebelum jatuh ke lantai, oleh pria yang datang dengan wajah pucat pasi.
Puk!
Puk!
Puk!
"Bangunlah. Ayo ke rumah sakit. Aku tidak akan biarkan, kamu pergi sebelum aku." Pria itu menggendong Asfa dengan air mata menetes.
Nenek Ara hanya bisa mengikuti langkah pria itu dengan degup jantung marathon. Bagaimana bisa situasi menjadi kacau dan hancur. Semua kejadian terjadi begitu cepat. Bahkan berpikir puk tak sempat. Pria itu berlari sekuat tenaga dan keluar dari Cafe menuju mobil van nya. Bodyguard sudah menangkap pelakunya. Nenek Ara berhenti dan menatap siapa pelaku penembakan cucunya.
"Jangan bunuh dia! Bawa ke markas, siksa dia sampai mengakui siapa bosnya!" titah nenek Ara.
Pria di dalam van, mengangguk kepada anak buahnya. "Nek, ayo."
Nenek Ara berlari dan ikut masuk ke dalam mobil. Mobil itu meninggalkan cafe, begitu pula para bodyguard dengan tawanan. Baru beberapa menit meninggalkan Cafe sebuah suara dentuman keras terdengar.
Duuaaarrr.....
__ADS_1
Mobil yang melaju pun ikut oleng akibat ledakan itu. Beruntung sang sopir siaga dan dengan cepat menstabilkan laju mobil. Nenek Ara menatap kebelakang dimana Asfa terbaring di pangkuan seorang pria. Pria yang memancarkan cinta dan rasa takut nyata. Takdir seakan mengambil sesuatu dan memberikan hal lainnya.
"Apa kamu sungguh mencintai cucuku?" tanya nenek Ara dengan suara gemetar.
Bibirnya tak tahan dan pertanyaan itu keluar begitu saja. Cinta pria itu menarik sebuah harapan nyata. Lengan kekar itu mampu menjadi pelindung cucunya. Itulah yang ada dipikiran nenek Ara.
"Aku sangat mencintai peri kecilku. Tapi, dia bukan milikku." jawab Vans mengusap air matanya.
"Bawalah Asfa pergi. Sejauh yang kamu bisa. Berikan sayap untuknya. Terbanglah dan jaga putri raja kami dari kekejaman dunia ini." Nenek Ara mengambil sesuatu dari dalam jilbabnya.
"Ambillah. Simpan ini, kamu pantas mendapatkan ini." ucap Nenek Ara.
Vans menerima sebuah kalung liontin bermata biru dengan bulan bintang didalam liontin. Indah, dan unik. Tapi, apa maksud dari nenek Ara? Dirinya tidak paham. Terlebih saat ini fokusnya hanyalah Asfa yang bersimbah darah dan harus segera mendapatkan pertolongan. Mobil melaju dengan kecepatan diluar batas. Semua peraturan lalu lintas tak lagi di indahkan.
Hari panjang dengan tragedi yang tak terduga, membuat dua keluarga kehilangan kebahagiaan dan juga kepercayaan. Satu sisi Abhi berjuang dengan pengobatan sang papa dan bersiap melakukan pemakaman sang bunda.
Di sisi lainnya. Operasi besar tengah dijalani Asfa. Wajah seluruh keluarga tak ubahnya zombi. Di tengah dua duka, satu senyuman terbit dari bibir seseorang. Senyuman kemenangan, dengan puluhan botol wine berjejer rapi di atas meja.
"**Selamat menikmati kehancuranmu. Door! Fiuuh. Satu tembak, dua sasaran terselesaikan. Good job Mahendra. Aku tidak perlu mengotori tanganku. Hahahaha." celoteh pria itu.
Di rumah sakit utama, lampu ruangan operasi masih menyala. Sementara di pemakaman, Abhi menaburkan bunga di atas makam bunda Aliya. Leo yang ikut membantu proses pemakaman, tidak memberikan satu pertanyaan pun. Wajah dingin dan datar Abhi, menjelaskan betapa buruk keadaannya. Terlebih setelah dirinya mendapatkan satu informasi yang penting. Namun, tidak mungkin bicara di situasi panas.
"Urus surat perpisahan ku!" perintah Abhi, membuat Leo menghela nafas.
"Apa kamu dengar aku? Jika tidak, keluar saja dari hidupku." seru Abhi murka.
Leo menatap Abhi tanpa ragu. "Tanyakan pada hatimu. Disini, apa ini benar atau salah?" Leo menunjuk dada bidang Abhi.
"Jangan....."
"Akan ku urus perpisahan Tuan. Tapi, ingatlah. Jangan menyesal." Leo berbalik dan berjalan meninggalkan Abhi**.
Ingin rasanya berteriak tentang beberapa kebenaran hidup bosnya. Tapi permintaan seseorang, membuat dirinya membisu untuk sementara. Tubuh Abhi ambuk dengan tumpuan kaki. Tanah merah tertutup bunga mawar putih dan merah, membuat jantung Abhi terhenti sesaat. Kenangan kebahagiaan dan tragedi cafe saling berebut memenuhi otaknya.
Jika kamu tidak bersalah. Lalu, siapa yang bersalah? Tidak mungkin papaku. Bahkan, kamu tidak datang ke pemakaman bunda. Apalagi yang membuat diriku bertahan, dengan hubungan palsu ini. Atau sejak awal, kamu memang ingin menghancurkan keluargaku. ~batin Abhi.
Tangan Abhi mengepal dengan tanah merah di genggamannya. Satu tangan terasa menyentuh pundaknya dan aroma parfum menyengat menusuk hidung Abhi. "Sabarlah. Aku ada di sampingmu."
Abhi membiarkan tangan wanita itu tetap di pundaknya. Andai dunia berpihak padanya. Tentu hanya tangan Asfa yang di izinkan menyentuh dirinya. Wanita itu tersenyum, dan mengambil kesempatan itu untuk masuk ke dalam hidup sang pujaan hati.
Di rumah sakit utama. Lampu ruangan operasi padam, dokter keluar dan melepaskan topi serta kacamata. Disusul dengan pria berjas putih wajah pucat. Nenek Ara, Tuan Luxifer, Varo, Rania menghampiri para dokter.
"Operasi berhasil. Beruntung peluru tidak merusak jaringan syaraf otak. Akan tetapi,..."
"Tapi, apa?" tanya Luxifer.
Vans mengusap papa Asfa. "Kemungkinan besar, Asfa akan mengalami amnesia...." Vans menjelaskan secara detail dan lengkap.
Luxifer tertunduk lemas, dengan sigap Vans menahan tubuh Luxifer. Rania memeluk Varo dengan lelehan air mata. Nenek Ara memejamkan mata mengatur nafasnya yang memburu. Semua mata terlihat hancur.
"Kita harus positif thinking. Asfa selamat. Sebaiknya, kita pindahkan ke rumah sakit di luar. Rumah sakit keluargaku memiliki beberapa alat terbaru dan kita bisa melakukan pengobatan lebih baik lagi." Ucap Vans.
"Nak, kita harus biarkan Asfa pergi bersama Vans." Nenek Ara mendekati pintu ruangan operasi melihat tubuh lemah Asfa di meja operasi.
"Apa maksud ibu?" tanya Luxifer.
"Abhi sudah memberikan talak. Ini salahku, aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Lepaskan Asfa dari dunia kita. Biarkan Queen menjalani hidupnya bebas!" jelas nenek Ara.
Hening.....
...****************...
Beberapa bulan kemudian,,
Sebuah mobil sport hitam melaju membelah jalanan di kota L dengan kecepatan maksimal. Kegelapan malam tak berbintang. Tak membuat sosok di kursi kemudi menyerah.
Aku tidak akan kalah, kali ini.~batin sosok itu dengan senyuman manis di bibirnya.
__ADS_1