My Secret Life

My Secret Life
Bab 249: RENCANA? - DITAHAN


__ADS_3

Perbincangan keduanya berakhir dengan pelukan kakak adik. Asfa tak mengeluh apalagi menyalahkan Justin. Baginya kini semua sudah jelas. Tidak ada lagi yang harus dijelaskan atau diperdebatkan. Sementara di tempat lain senyuman smirk hadir menghiasi bibir dua pria yang tak sengaja dipertemukan takdir.


"Aku setuju dengan semua syarat mu. Jadi apa rencanamu?" tanya pria satu dengan penampilan semrawut.


"Sistem keamanan di dalam tempat kita disekap cukup canggih. Satu langkah saja bisa langsung memotong tubuh kita menjadi delapan bagian. Kamu lihat lubang yang ada di atas itu? Yah, itu bisa memiliki dua fungsi. Fungsi pertama menjadi pengalir air dan fungsi kedua menjadi hujan peluru."


"Sementara itu, di depan pintu ada setidaknya empat penjaga. Ntah berapa penjaga di seluruh bangunan ini, tapi satu hal pasti. Semua sesuai jadwal. Seperti pengiriman makanan, dan juga pengecekan tahanan. Kotak di bawah yang biasa digunakan untuk mengoper makanan. Itu jalan keluar kita....,"


Pria semrawut mengernyit tak paham dengan penjelasan panjang kali lebar pria rambut pitak di depannya.


"Apa kotak sebesar dua tangan muat untuk tubuh sebesar ini? Ayolah jangan konyol seperti itu." Pria semrawut menyibakkan pakaian koyaknya, "Akan lebih baik pura-pura berkelahi disaat pengantar makanan datang. Suara keributan pasti membuat penjaga terpaksa masuk ke ruangan ini....,"


"Memang itu rencananya. Bisa gak dengerin dulu! Jangan main potong kaya puding aja," Ucap pria rambut pitak geram.


Kerjasama kedua pria itu masih berlanjut. Sistem suara yang mode nonaktif, membuat para penjaga tidak mendengarkan percakapan kedua tahanan di ruangan khusus. Mereka terlalu sibuk serius berjaga, hingga melupakan hal penting. Waktu berlalu begitu saja. Hawa dingin malam berganti kesegaran udara pagi. Dingin yang terasa menyehatkan raga.


Pergantian penjaga sebentar lagi akan terjadi. Dimana penjaga shift malam kembali ke kamar untuk beristirahat, dan penjaga shift pagi bertugas menjaga keamanan. Hilir mudik para pria dengan seragam hitam terlihat teratur. Tentu saja semua selalu siap siaga untuk menghadapi apapun selama menjalankan tanggung jawab mereka.


Sementara itu, di rumah sakit utama. Asfa baru saja sampai dan berlari kecil memasuki pintu utama tanpa menunggu Justin yang masih memarkirkan mobil di parkiran. Langkah terburu-buru, membuat wanita itu tak menengok kanan dan kiri sebelum berbelok menuju ruangan putrinya berada.

__ADS_1


Tiba-tiba saja tubuhnya menghantam bahu seseorang. Sontak sebuah tangan merengkuh pinggangnya tanpa permisi. Tatapan mata memancarkan kerinduan, penyesalan dan cinta. Netra biru yang selalu menjadi bagian masa lalu, sekali lagi datang menghampiri. Tatapan mata terpatri. Sorot mata sendu itu jelas menyentil hati.


"Ekhem! Bisa lepaskan?" tanya Asfa dengan tegas.


Teguran Asfa, membuat abhi melepaskan tangannya dari pinggang ramping sang mantan istri. Meskipun begitu, ia tak mau menyudahi kontak matanya. Wajah mungil yang selalu menemani kesendirian dikala malam tiba. Sungguh rasa rindu tak bisa lagi disembunyikan. Sementara itu, Asfa tak ingin bertahan di tempat yang sama dengan sang mantan suami lebih lama lagi.


Asfa melangkahkan kaki meninggalkan Abhi. Namun, ada tangan yang menahan tangannya. Tanpa menoleh ia tahu siapa yang menghalangi tujuannya.


"Bhi, lepaskan!" titah Asfa.


"Mari kita bicara. Sekali lagi....," pinta Abhi dengan suara parau.


"Bhi, sekali lagi ku minta. Lepaskan tanganku!" Asfa menegaskan perintahnya berharap Abhi mau mengerti, tetapi bukan itu yang terjadi.


Tubuh Asfa terhuyung ke belakang. Seketika terkunci ke dalam dekapan tubuh kekar Abhi. Netra biru yang menuntut jelas memberikan tantangan. Bukannya melepaskan. Justru pria itu melakukan pemaksaan, sedangkan kondisi kesehatannya sungguh tidak dalam keadaan baik.


"Tell, what you want?" tanya Asfa menyerah.


(Katakan, apa maumu?)

__ADS_1


"Kita bicarakan semuanya. Berdua, tanpa pihak ketiga dan tidak boleh seorangpun mencampuri urusan kita." Jawab Abhi tegas.


"Okay, deal, tapi biarkan aku melakukan pekerjaanku. Just one hours, how?" tanya Asfa dengan tenang.


Abhi menatap mantan istrinya dengan tatapan menyelidik hingga akhirnya melepaskan kuncian tangannya, membuat Asfa bisa bernafas lega.


"Aku tunggu disini. Sekarang jam enam pagi, tepat jam tujuh. Kamu harus....,"


"Don't worry, Queen never break promise." Asfa melanjutkan perjalanannya, membuat Abhi duduk menunggu di bangku panjang seorang diri.


(Jangan khawatir, Ratu tidak pernah mengingkari janji.)


...----------------...


*Hay reader's, othoor bersyukur atas semua dukungan kalian semua. Sampai tak terasa karya ini mencapai ratusan bab. Sungguh rasanya aku sendiri tidak percaya 😌


Terimakasih untuk setiap waktu, dukungan dan berkat kalian. Othoor memiliki semangat lagi dan lagi. 🔛🔥


Stay tuned, semoga karya ku bisa memberikan hiburan dan juga pelajaran yang baik untuk kita semua, ya. 😊

__ADS_1


Love you all 🥰*


__ADS_2