My Secret Life

My Secret Life
Bab 57: Perkenalan singkat


__ADS_3

Ada kala nya jiwa kepemimpinan seorang Alvaro akan luntur ketika mata tajam elang biru itu siap menerkam mata tajam miliknya, bukan merasa kalah tapi tatapan itu mengingatkan nya pada almarhum mama nya membuat jiwa nya tunduk tanpa penolakan.


"Maaf ka, tolong tinggalkan aku sendiri." pinta Asfa berjalan menghampiri pembatas balkon yang ada di kamarnya.


"No! I will silent but i stills stay here.(Tidak! Aku akan diam tapi tetap di sini.)" ucap Alvaro dan duduk diam di tempat nya.


Tidak ada jawaban lagi selain keheningan, setidaknya adiknya tidak keras kepala dan tetap mengusir nya dan duduk diam dengan menatap punggung adiknya sudah cukup untuknya. Melihat ketajaman mata biru itu sudah pasti terjadi sesuatu yang buruk hari ini, akan lebih baik memberikan waktu daripada memaksa.


Sedangkan mata biru itu telah menjatuhkan cairan bening di kedua sudut mata nya, Tuhan memang adil itulah yang ada difikiran seorang Asfa. Lihatlah harta dan kekuasaan yang ada di tangannya tapi jangan lupakan hati nya yang hampa dan disudut terdalam ada rasa yang tidak pernah di dapatkan olehnya, benda apapun di dunia bisa tertukar dengan harta tapi kasih sayang seorang ibu tidak akan pernah bisa di beli.


Sejauh kenangan masa lalu nya, papa nya menjadi segalanya dengan memenuhi cinta seorang ibu, ayah sekaligus sahabat dan kehadiran Alvaro menambah kehangatan di dalam hidupnya. Tapi tetap ada ruang hampa meskipun itu hanya beberapa persen saja, jalan hidup tidak bisa di pilih yah begitulah kenyataan nya.


Langit malam yang gelap tanpa bintang menyadarkan seorang gadis yang berharap sedikit kemurahan hati sang Maha Kuasa, tapi air mata itu mengatakan semua akan menjadi milik mereka jika itu memang di takdir kan untuk mereka. Helaan nafas dengan usapan lembut menyudahi lelehan air mata tanpa suara isakan, lihatlah lingkungan tempat tinggal nya. Tidak ada kekurangan dari segi apapun, bukankah bersyukur lebih baik daripada mengeluh.


"Kapan perban akan di buka ka? " tanya Asfa tanpa berbalik.


"Setelah satu minggu, karena ada pemeriksaan yang harus di lakukan sebelum itu." jawab Alvaro dengan tenang dan masih setia duduk di kursinya.


"Sebelum itu, persiapkan operasi selanjutnya. Aku siap." ucap Asfa dan kini berbalik.


"Apa sudah kamu fikirkan? Apa ini tidak terlalu cepat?" tanya Alvaro.


"Waktu tidak ada yang tepat jika kita menunggu waktu seperti itu, terkadang waktu pun bisa mengkhianati kita." jawab Asfa dengan lirih namun masih terdengar oleh Alvaro.


"What happen? Katakan jika kamu ingin, jika tidak kakak akan menunggu kesiapanmu." tanya Alvaro dengan suara yang lebih lembut.


"Aku hanya ingin menyelesaikan tanggungjawab yang sudah ku janjikan." jawab Asfa berjalan mendekati Alvaro.


"Queen? " panggil Alvaro berdiri dan merentangkan kedua tangan kekarnya.


Greeb..


Dengan perasaan kacau nya, memang diri nya membutuhkan sebuah pelukan dan kakak nya memberikan kebutuhan nya dengan tulus. Aroma parfum yang sangat menenangkan dan aroma itu selalu membuat dirinya sejenak melepaskan rasa takut di dalam lubuk hati nya, terlebih usapan lembut di kepala nya membuat nya merasakan kasih sayang.


"Ayo kita temui mereka." ajak Asfa setelah melepaskan pelukan.


"Cuci mukamu dulu, mata ini menjadi tidak terlihat jelas. Kakak tunggu di bawah." ucap Alvaro dan berjalan meninggalkan adiknya.


Kepergian Alvaro membuat Asfa sejenak menatap langit di atasnya, kegelisahan itu perlahan menghilang dan kini wajah datar dengan pose imut sudah kembali. Langkah nya menuju wastafel di samping kaca pintu balkon, sebuah kaca menunjukkan seperti apa wajah nya, tidak ada yang berubah signifikan dari wajah mungil itu sejak dirinya lahir.


Hanya dagu nya yang terlihat menonjol dengan mata sipit seterang lautan tenang dengan bulu mata lentiknya, garis ketegasan menambah kesan serius adalah warisan papa nya yang selalu bersikap serius.


"Dia masa lalu dan saat ini masa kini, ingatlah itu Queen Asfa Luxifer. " gumam Asfa dan membasuh wajahnya tiga kali.


Suasana dibawah terlihat sangat tegang padahal ada team yang biasanya berbicara sesuka hati nya, tapi ada juga wajah yang selalu tersenyum karena bisa duduk bersebelahan dengan pemimpin nya. Berbeda dengan wajah lain yang travelling dengan pemikiran masing-masing, hingga waktu berjalan tapi masih hanya ada keheningan.

__ADS_1


"Ekhem." dehem seseorang untuk membuyarkan ketegangan semua orang.


Semua orang yang duduk di meja makan beralih menatap orang yang berdehem, ada yang menatap tanpa berkedip, ada yang melongo dan ada yang bersikap wajar. Sedangkan yang di tatap hanya bersikap santai tanpa meninggalkan wajah dingin nya, langkah nya tak terdengar membuat orang di bangku terdekat melirik ke bawah.


"Aal, siapa gadis ini? Apa tidak ada alas kaki? Aku punya banyak, bisa aku berikan untuknya." ucap spontan gadis dengan rambut yang terikat.


"Ella!" panggil Alvaro dengan isyarat jemari di bibir agar wanita keturunan korea itu terdiam.


"Perkenalkan Queen, dan queen mereka team ku. Gabriella sang peneliti, Leon sang eksekutor, Andira sama seperti ku dan Aska sang ahli senjata tapi semuanya adalah dokter terbaik dengan keahlian masing-masing." ucap Alvaro dengan tegas namun santai.


"Hmm.Nice to meet you guys.(Hmm.Senang bertemu kalian.) " ucap Asfa dengan tersenyum sedetik.


"Oh my god, that you queen? Why so cutee honey.( Ya Tuhan, itukah kau queen? Kenapa sangat imut sayang.) " celoteh Gabriella yang tidak bisa mengontrol perasaan nya.


"Thanks." jawab Asfa dan memberikan isyarat untuk makan malam di mulai.


Alvaro hanya memperhatikan bagaimana reaksi anggota nya yang cukup aneh, Askaa yang biasa nya banyak bicara tapi kali ini hanya menatap adiknya dengan sikap sok imut, Andira terlihat hanya peduli dengan kebahagiaan di samping dirinya, Gabriella yang biasanya pendiam tiba-tiba menjadi energik melihat adiknya dan Leon yang masih bersikap normal. Pria keturunan Inggris itu terlihat hanya menatap sebentar dan kembali fokus pada makanannya, tapi satu wajah yang terlihat ntah ada apa, dokter rambut sebahu itu seperti tidak berselera makan.


"Dokter Bia setelah ini ikut aku." ucap Asfa setelah menyelesaikan makannya.


"Silahkan lanjutkan." ucap nya lagi meninggalkan ruang makan dan dokter Bia menyudahi makan nya dan mengekor pada gadis yang lebih muda dari nya.


"Bagaimana keadaan pria itu?" tanya Asfa sembari berjalan.


"Cukup tragis, apa yang terjadi pada nya queen? Bahkan pria itu harus di operasi untuk penyambungan tulang bahu dan lengan nya, mungkin harus menambah engsel besi." jawab Dokter Bia dengan bergidik.


"Maaf queen." jawab Docter Bia yang masih terkejut dengan hasil pemeriksaan nya.


"Silahkan masuk queen." sambut seorang bodyguard pemilik kamar itu.


"Pergilah dan makan. Biarkan aku yang menjaga." perintah Asfa dengan melambaikan tangan.


Bodyguard itu hanya mengangguk dan meninggalkan kamar, yah begitu lah queen nya akan tetap memperhatikan bawahan nya meskipun itu dengan sebuah pengusiran. Dan kini tinggalan pria yang sudah mendapatkan pertolongan pertama, terlihat dokter Bia ingin memeriksa namun isyarat tangan Asfa membuat nya berhenti.


"Lihat dan pelajari ini." ucap Asfa merentangkan kedua tangan nya.


Dengan tenang mendekati pria yang terlelap, terlihat jemari itu bersiap memeriksa dan seperti terdiam sejenak setelah menemukan apa yang di cari nya. Dengan wajah serius kedua tangan nya bekerja menyelaraskan bahu dan lengan yang patah atau mungkin hanya geser tapi parah.


Kraaaak .... Kraaaak... Aaaarrgghh...


Dua putaran dengan satu tarikan membuat pria itu berteriak sekaligus terbangun dengan keterkejutan rasa sakit yang luar biasa bahkan dokter Bia menahan lengan nya sendiri seakan lengan itu ikut merasakan ngilu karena di tarik dan diputar. Tapi wajah queen nya lebih mengejutkan karena senyuman manis itu kini terlihat menyeramkan, dengan susah payah dokter Bia menelan saliva nya.


"Jangan pernah menjadi pencund@ng jika kamu seorang pria sejati!" ucap Asfa yang membiarkan pria itu merintih kesakitan.


"Lakukan tugas mu dokter Bia, tugasku sudah selesai." perintah Asfa dan menghilangkan senyuman iblis nya.

__ADS_1


Disaat tubuh nya berbalik, pintu itu sudah penuh dengan sosok tamu nya tapi dengan santai langkah tanpa alas kaki itu keluar dari kamar yang tentu saja di berikan jalan tanpa sepatah katapun.


"Dira, tangani pria itu. Dan kau Bia, kembali lah ke kamar." perintah Alvaro yang langsung di terima oleh Andira tapi dokter Bia masih saja mematung memegang lengan nya.


"Ella bisa bawa wanita itu pergi." ucap Alvaro melihat wanita di samping Askaa.


"Ok." jawab Ella dan mendekati dokter dengan rambut sebahu yang masih shock.


"Docter lemah, Leon dan kamu Askaa periksa semua peralatan dan lainnya di ruangan operasi. Operasi akan di lakukan secepatnya, dokter utama sudah siap." perintah Alvaro dengan serius.


"Boleh kami tahu siapa dokter itu? " tanya Leon yang suara nya baru terdengar.


"Lihat saja saat waktunya." jawab Alvaro mendekati Andira yang tengah memeriksa keadaan pria dengan wajah yang sangat memprihatinkan.


"Bukankah seharusnya pria ini melakukan operasi juga, tapi lihatlah. Sekarang hanya butuh di perban dan gips, apa saja keahlian queen? Apa kamu tahu Aal, aku kagum melihat nya." ucap Andira dengan senyuman tulus.


"Melihat langsung bukankah lebih menyenangkan? Jadi nikmati saja prosesnya. Tunggu disini, aku akan ambil peralatan nya." jawab Alvaro meninggalkan kamar.


"Mata tidak bisa berbohong Aal, ada sesuatu yang membuat gadis itu special untukmu. Aku bisa melihat ikatan itu, ku harap aku masih memiliki kesempatan." batin Andira.


"Non, dimana queen? " tanya lirih pria yang terbaring.


"Ntahlah, kau perlu sesuatu? " tanya Andira.


"Aku hanya ingin minta maaf karena mengganggu nya dan berterimakasih karena telah menolong ku." ucap pria itu dengan menahan sakit.


"Apa yang terjadi?" tanya Andira penasaran.


Pria itu menjelaskan kronologi kejadian yang sebenarnya, yang membuat Andira bergidik ngeri karena mendengar sisi pertama gadis yang terlihat sangat imut di mata nya. Namun pria di samping pintu yang masih terdiam hanya membiarkan pria di dalam selesai bercerita, kini dirinya tahu sedikit alasan adiknya kehilangan mood baiknya.


"Ini, obati dan segera istirahat. Aku harus pergi." ucap Alvaro menyerahkan satu koper besar peralatan dokter yang super lengkap.


"Bagaimana dengan coffe?" tanya Andira menahan tangan Alvaro.


"Lain kali, urusan kali ini tidak bisa ku tunda." jawab Alvaro melepaskan tangan Andira.


"Ok, takecare Aal." ucap Andira dan di ajungi jempol oleh Alvaro sebelum menghilang dari kamar.


Dengan telaten Andira mengobati pria di depan nya yang terbaring, sedangkan kini yang menjadi pusat perbincangan tengah menatap layar komputer dengan beberapa layar besar. Hasil pemeriksaan dengan hasil tes darah sudah menjadi pusat penelitiannya, di pandangi nya saraf-saraf yang terpampang jelas di layar.


"Cukup rumit, tapi aku harus bisa." gumam gadis itu dan kini jemari nya mulai membuat jaringan serat yang sama dengan metode penelitian nya sendiri.


Hampir dua jam akhirnya susunan serat di depan nya benar-benar sempurna seperti apa yang terlihat di layar, dan sekali lagi dengan mata tajam nya di amati kedua arah tanpa berkedip agar memastikan itu sempurna tanpa satu kesalahan.


Ceklek...

__ADS_1


Suara pintu terbuka tidak membuat gadis itu kehilangan konsentrasi nya, sedangkan sosok yang baru saja masuk kedalam ruangan penuh cahaya layar itu terpesona dengan desain dan alat-alat yang ada di ruangan itu. Mata nya berakhir pada sosok gadis yang tengah serius memperhatikan layar dan sesuai di depan nya dengan tingkat keseriusan tertinggi, bagaimana wajah serius itu membuat sosok itu tersenyum.


Senyuman yang selama ini ntah terselip kemana, ntah kenapa hati nya enggan untuk berpaling dari gadis itu dan memandang nya dalam diam sungguh menjadi kesenangan tersendiri untuknya, bahkan tujuan nya datang keruangan itu pun terlupakan.


__ADS_2