My Secret Life

My Secret Life
Bab 162: Riwayat kesehatan Queen


__ADS_3

Vans tidak peduli dengan celotehan Rania dan mengambil tas ransel nya. Tanpa bertanya, Vans masuk ke kamar mandi. Rania ingin protes, tapi tenaganya sudah lelah untuk acara malam ini. "Untuk malam ini kamu bebas, esok jangan harap.''


Vans menatap cermin. Pikirannya terbagi, jika dirinya stay demi peri kecilnya. Bagaimana dengan keluarga Burhan? Pasti semua orang gempar dan mencari dirinya. Dengan cekatan tangannya menarik resleting tas dan merogoh kedalam tas, cukup dalam tangannya masuk. " Hmm. Aku harus melakukan ini."


Setelah mendapatkan ponsel pintarnya, Vans mendial sebuah nomor. Nada panggilan sambungan terdengar, suara sapaan dari seberang dengan kecemasan. Vans hanya mendengarkan tanpa memotong curahan hati orang tercintanya. "Tenanglah kek. Vans hanya ingin menyendiri. Bisakah cuti selama satu bulan? Vans janji setelah ini, tidak akan cuti lagi setahun ke depan."


Panggilan diakhiri, ketika jawaban dari seberang sudah di kantongi Vans. Kini dirinya bisa fokus dengan peri kecilnya. Meskipun, sesekali harus memeriksa pekerjaan. Izin dari kakeknya sudah cukup. "Sebaiknya aku melakukan penelitian, jika ini terjadi terus menerus. Bagaimana peri kecilku hidup bahagia? Vans semangat, kini giliranmu menjadi penyelamat."


Tok!


Tok!


Tok!


"Apa kamu masih lama didalam?" tanya seorang pria dari luar kamar mandi.


"Setengah jam lagi, maaf lama." jawab Vans dan bergegas membuka kancing kemejanya.


Di dada yang kini terbuka, ada beberapa luka sayatan. Luka lama yang masih berbekas, hidupnya tak setenang dulu. Perjuangannya bagaimana berjalan diatas bara api dan duri. "Cukup aku yang menerima semua duka dan derita. Takkan kubiarkan hidupmu sama seperti hidupku."


Vans sibuk membersihkan diri dan Rania sudah terlelap di sofa, Alvaro memilih melakukan pemeriksaan sembari menunggu dokter baru pilihan dokter Orlando.


Tiga puluh menit berlalu, Vans keluar dengan penampilan santai namun sopan. Varo hanya melirik dan kembali fokus dengan layar komputer. Vans meletakkan tasnya di sudut ruangan dan berjalan menghampiri Varo. "Boleh aku tahu riwayat kesehatan Queen?"

__ADS_1


"Buka laci nomor 3 kanan tempat tidur." jawab Varo.


Vans mengikuti petunjuk Varo dan membuka laci nomor 3, dimana deretan file map hitam berjejer rapi. Dengan mengambil semua file, Vans mencari tempat duduk. Tapi melihat situasi, tidak ada tempat yang tepat. "Boleh aku baca di balkon? Aku ingin fokus mempelajari kasus Queen."


Varo mengalihkan perhatiannya, menatap Vans yang memeluk lima file map hitam di dada bidangnya. "Hmm. Satu jam."


"Okay." Vans berjalan menuju pintu kaca dan membukanya dengan tangan satu.


Kepergian Vans ke balkon, membuat Varo menatap Rania. Istrinya terlihat kelelahan, bahkan dirinya belum sempat meminta maaf. Langkah kaki Varo mendekati Rania, dengan sigap Varo menggendong Rania dan berjalan meninggalkan kamar Asfa. Sedangkan Vans tengah mencerna setiap kasus kesehatan milik peri kecilnya.


"Semua penderitaan mu berawal sejak kamu dilahirkan. Kenapa hidupmu sesulit ini peri ku? Sekuat apa hati dan jiwamu? Apakah itu yang membuatmu istimewa. Aku ingin sekali kamu bahagia dan selalu tersenyum manis." gumam Vans setelah membaca satu file pertama.


Dimana file itu riwayat Asfa saat bayi, setelah kasus kebakaran di mansion. Asfa harus menginap di rumah sakit dan menjalani perawatan intensif selama satu bulan. Bahkan sempat dinyatakan mengalami koma, tapi takdir memberikan kesempatan hidup. Vans melanjutkan file kedua, dimana jelas itu berasal dari rumah sakit utama.


Vans bergegas membuka file ketiga, namun itu file baru. Dimana riwayat kesehatan dengan kasus peluru beracun yang terjadi beberapa minggu lalu, tapi dari hasil pemeriksaan. Racun mendapatkan obat penawarnya. Hanya saja sedikit terlambat dan Asfa harus menetralisir racun yang tersisa. Sedangkan file terakhir bukan file milik Asfa, tapi file itu menjelaskan kasus sama meskipun berbeda hasil.


"Saat aku bertemu peri ku, umurnya masih terlalu dini. Tapi kemampuan dan ketangkasan peri ku patut dipuji. Itu artinya perawatan setelah kasus kedua ada di negara ku. Peri ku berada di pengasingan, apakah semua ini ada kaitannya dengan si penguntit?" Vans berfikir menyatukan setiap memori yang ada di dalam kepalanya.


Setiap kali melakukan pertemuan, maka Asfa yang akan menentukan tempat dan waktunya. Tak jarang dirinya harus meninggalkan latihan pedang atau senjata api demi menemui peri kecilnya. Pertemuan selalu ditempat dan waktu yang berbeda, hanya satu tempat yang selalu sama dan itu seperti tempat tersembunyi dari seluruh mata dunia.


Tempat persembunyian itu, kini sudah dibangun sebuah rumah pohon dengan sedemikian rupa. Agar Asfa bisa nyaman ketika mengunjungi tempat bersejarah itu. Vans membaca file riwayat kesehatan Asfa dan membandingkan dengan contoh kasus yang sama. Tangan kanan Vans menopang dagu, seluruh pikiran dikerahkan untuk menemukan titik terang.


Keseriusan Vans, membuat pria itu tidak menyadari seseorang tengah memperhatikan dirinya dalam diam. Lewat sudut matanya, orang itu hanya mengerjapkan mata tanpa bersuara. Suara langkah kaki mendekati kamar terdengar, membuat kerjapan mata terhenti.

__ADS_1


Ceklek…..


Langkah kaki semakin mendekati ranjang dan sebuah tangan terasa lembut mengusap kepala. "Cepatlah bangun. Maafkan papa yang masih gagal menjagamu."


Tuan Luxifer memilih duduk di lantai dengan menyandarkan tubuhnya. Membelakangi Asfa dan menatap nanar tembok di depannya. "Naura aku sangat merindukanmu. Rindu akan sentuhan kasih sayangmu. Apakah aku suami dan ayah terburuk? Kenapa menjaga kalian saja aku selalu gagal."


Curahan hati tuan Luxifer cukup menusuk hati yang mendengarnya, termasuk pria yang membawa file di dalam pelukannya. Dengan inisiatif, pria itu ikut duduk di samping tuan Luxifer. Menyandarkan tubuhnya dan kaki berselonjor. "Obat terbaik adalah curhat. Dan anggap aku sebagai patung. Anda bisa bercerita apapun, saya bisa menjadi pendengar yang baik."


Tuan Luxifer menatap sekilas pria di sampingnya. Dokter baru yang dipilih dokter Orlando. "Apa kamu sudah menikah?"


"Belum tuan." jawab Vans dengan santai.


"Bagaimana dengan kekasih atau tunangan mungkin?" tanya lagi tuan Luxifer.


Vans tersenyum, meskipun tidak ada yang menatapnya. Lirikan mata Vans ada di atas ranjang. "Aku mencintai peri kecilku. Mungkin takdir berkata lain, dia milik orang lain."


"Carilah yang lain. Masih banyak wanita diluar sana. Jika benar, umurmu mungkin sama seperti Varo." ujar tuan Luxifer.


"Bagaimana aku mencari yang lain? Jika hatiku ingin melihat kebahagiaannya. Hidupku adalah hidupnya. Senyumannya adalah kebahagiaan ku. Sungguh dia pantas dicintai." ucap Vans dengan tulus.


"Siapa pemilik hatimu?" tanya tuan Luxifer menatap Vans.


Setiap kata dari Vans, sama seperti ucapannya bertahun-tahun lalu. Seperti dirinya saat jatuh cinta pada Naura, dan semua menjadi indah tanpa memiliki. Vans tersenyum dan memeluk erat file di pelukannya. "Dia jantung dari orang-orang terkasihnya. Semua orang akan jatuh cinta dengan kenakalan dan kebaikannya. Memilikinya adalah sebuah anugrah."

__ADS_1


"Jika ada wanita seperti itu, maka wanita itu adalah Asfa." sahut seseorang yang membuat Vans dan tuan Luxifer mengalihkan pandangan ke arah pintu masuk.


__ADS_2