
Bulu yang meremang menyapa naluri Asfa. Tatapan Abhi yang lembut dengan senyuman mengerikan sungguh mengusik rasa nyaman Asfa. Senyuman Abhi bukan senyuman biasa.
Haap.. Greeeb..
Abhi menarik tangan Asfa, membuat tubuh kecil Asfa nyungsep kedalam pelukan Abhi dengan posisi jatuh ke pangkuan Abhi. "Don't move! Leave it like this, just for a moment. I beg you.(Jangan bergerak! Biarkan seperti ini, sebentar saja. Aku mohon padamu.)"
Suara Abhi sangat memelas, membuat Asfa menghela nafas. Sejenak membiarkan Abhi melepaskan beban di pelukannya.
Lima menit berlalu tapi Abhi semakin erat memeluk Asfa. Asfa merasa mulai keluar jalur mencoba melepaskan diri. "Lepas!"
"..."
wuusss... braaak...
"Abhi..." seru Asfa terkejut.
Dengan cekatan Asfa menghemaskan tangan yang menarik tubuhnya dan menghampiri Abhi yang tersungkur akibat kursi rodanya mendapatkan dorongan kuat. "Ayo bangun."
"Aauuw." rintih Abhi memegangi lututnya dengan wajah menahan sakit.
Asfa memeriksa lutut Abhi dan mencoba memastikan keadaan suaminya itu dengan teliti, tapi tanpa alat khusus. "Sebaiknya kita pulang. Zain pulanglah kerumah mu! Don't answers me."
"My sweetheart." cicit Zain menahan gemuruh di hatinya.
"Queen? What happen?(Queen? Apa yang terjadi?)" tanya Justin yang baru datang.
"Antar Zain ke kediaman Tuan Arham!" titah Asfa tanpa menjawab pertanyaan Justin.
__ADS_1
"Okay. Ayo." ucap Justin menatap Zain dengan malas.
"Pergilah! Ini hukuman mu." tukas Asfa tanpa memandang Zain.
Justin merasa risih dengan cara Zain menatap Asfa, terlebih bibir sexy Zain sudah maju sepuluh senti. Bahkan Asfa saja tidak selebay itu, tapi pria dengan tatto full di tangan itu justru seperti remaja yang suka ngambek.
"Lama." sindir Justin menarik tangan Zain dengan susah payah.
Zain masih terpaku menatap Asfa, sikap Asfa membuatnya tak tenang. Terlebih setelah melihat Abhi memeluk erat Asfa dengan aroma panas di hatinya.
Asfa menghela nafas dan berbalik menatap Zain. Lihatlah mata berbinar dan bibir tersenyum sempurna langsung menyambutnya. "Zain! Go home your house! Or I won't forgive you.(Zain! Pulanglah kerumahmu! Atau aku tidak akan memaafkan mu.)"
"My sweat.." cicit Zain tercekat.
Asfa menatap Zain semakin tajam. Ruangan menjadi senyap, oksigen terkuras tanpa ampun. Ucapan Zain tergantung tanpa akhir, Justin kembali menarik tangan Zain. Tubuh Zain seakan pasrah, meskipun matanya masih tak ingin terlepas dari sosok Asfa.
Tanpa jawaban. Asfa membantu Abhi berdiri.
"Auuw. Sakit." keluh Abhi dan memeluk Asfa dengan sengaja.
Asfa membiarkan Abhi melakukan drama sesuka hati. Bukannya tidak tahu jika Abhi tengah bersandiwara, tapi menjadi bodoh terkadang lebih baik. Dengan beban beratnya, Asfa mendudukkan Abhi di salah satu kursi terdekat.
Greeeb...
Sekali lagi Abhi memeluk Asfa dan kali ini tak ada kata selain helaan nafas berat. Ingin rasanya melepaskan diri, tapi dirinya masih sanggup bertahan dan bersabar. "Izinkan aku pergi beberapa hari."
Abhi melepaskan pelukan dan menatap mata Asfa dalam, ucapan lembut itu seperti sebuah alarm peringatan. Mengizinkan Asfa pergi? Padahal baru saja bisa kembali bersama, tentu saja itu hal mustahil. "Tidak!"
__ADS_1
"Aku akan tetap pergi!" tukas Asfa dan membalas tatapan Abhi dengan tajam.
Pandangan lama itu semakin dalam, diam namun menghanyutkan rasa. Ntah dari mana, Abhi kembali menarik pinggang Asfa dengan cepat.
Greeeb.. Cup..
Mata Asfa membola sempurna, ketika bibir kenyalnya bersentuhan dengan bibir Abhi. Gerakan Abhi diluar ekspektasinya. Bukan hanya jatuh kedalam pelukan Abhi, tapi bibirnya mendarat tepat di bibir sexy Abhi.
Sensasi yang berubah secara perlahan. Ada yang mempermainkan naluri Asfa, hisapan yang menyerang mencoba mengambil alih kekuasaan kesadaran Asfa. "Eemmpptt."
Tangan kanan Abhi menahan pinggang Asfa dan tangan kirinya menahan tengkuk Asfa. Ciuman tanpa persiapan tak membuat Abhi mengalami kegagalan. Pemberontakan Asfa tak lagi di rasakan, rasa manis menjalar memenuhi sesapan demi sesapan.
Rasa yang menerbangkan, sesapan manis dengan deruan nafas tertahan. "Maaf dan terimakasih."
Asfa hanya diam tanpa menjawab Abhi, ciuman pertamanya berhasil di curi. Dan anehnya bukan melawan, tapi justru terhanyut dalam permainan lembut Abhi. Bibirnya terasa basah, sekilas mata Asfa melirik kedepan.
Bibir Abhi juga basah dan dibiarkan begitu saja, ada rasa malu yang menyusup, membuat hatinya tergelitik. "Sebaiknya kita pulang."
"Boleh lagi?" tanya Abhi yang langsung membuat Asfa mendengus sebal.
"Asfa! Kamu lupa aku lumpuh?" tukas Abhi dan berhasil menghentikan langkah kaki Asfa.
Tanpa menunda, Asfa membenarkan kursi roda dan membantu Abhi berpindah. Sungguh, sepertinya hari ini Asfa lupa ingatan! Sudah tahu Abhi tidak lumpuh, tapi masih menuruti ucapan tak bertanggungjawab Abhi. Dan semua itu karena satu pencurian yang Abhi lakukan, membuat Asfa tak tahu arah pulang.
Permulaan yang bagus Abhi. Tingkatkan! Tapi, bibir Asfa terlalu manis. Aduuh belum juga semenit, ingin lagi menyesap bibir manis itu. Hadew! Kenapa jadi mesum ya aku? Sudahlah, mesum sama istri sendiri aja kok pusing. ~ batin Abhi dengan mengusap bibir sexynya yang membuat Asfa menahan rasa malu.
Asfa membawa Abhi keluar dari ruangan meeting menuju lift khusus untuk keluarga ABF Company beserta tamu khusus. Membiarkan Abhi terbang tanpa benang, kepergian Abhi dan Asfa membuat seseorang di lobi mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
"Itu benar kamu, tapi bagaimana aku membuktikannya? Apakah kamu masih mencintaiku? Harus! Kamu hanya milikku."