
"Hmmm. Pastikan saja hanya kita berdua yang tahu soal operasi ini!" titah Varo menekankan perintahnya.
Permintaan yang diubah menjadi perintah, membuat Vans sadar. Jika Varo tidak mau mengambil resiko lebih besar lagi. Terlebih jika anggota keluarga yang lain mengetahui rencana operasi yang akan dilakukan keduanya.
"Seperti keinginanmu, Aku akan mempersiapkan operasi ja...."
Ceklek
"Apa yang kalian rencanakan?"
Vans berbalik, lalu melihat siapa yang datang tanpa permisi. Seorang wanita berpakaian suster berdiri di depan pintu dengan membawa beberapa suntikan baru beserta pil kapsul khusus berlogo RA Company.
"Apa kamu tidak tahu cara mengetuk pintu?!" Vans menatap tajam kearah suster itu.
Bukannya minta maaf atau merasa segan. Suster itu justru berjalan maju menghampiri Vans dengan bibir mencebik kesal. Setelah sekian lama, tetap saja pria keluarga Burhan itu masih menempati list pria menyebalkan dalam hidupnya. Suster berhenti di depan Vans kemudian menyodorkan nampan yang dipegangnya.
"Tuan Muda Burhan, Vans guardian adik ipar ku tercinta. Ambillah ini!''
Ucapan suster di depannya sungguh tak masuk akal. Setahu dirinya, peri kecil hanya memiliki satu kakak ipar dan itu istri Varo. Sementara wanita di depannya bukanlah Rania gadis berkelakuan anak kecil.
"Jangan membuat drama! Kamu bukan gadis kecil itu...."
__ADS_1
"Dia Rania istriku, tidak perlu khawatir." sela Varo membungkam Vans.
Rania menjulurkan lidahnya dan memberikan isyarat mata agar Vans mengambil nampan di tangannya. Tak ingin memperpanjang hal kecil, pria itu menerima nampan dengan satu tangan.
"Apa istrimu operasi wajah?" tanya Vans dengan serius.
Varo melepaskan tangannya dari tangan Asfa, kemudian berjalan mendekati Rania. Tatapan pasutri itu saling terpatri. Wanita yang memiliki mata nakal perlahan berubah sendu dengan kesedihan dan kerinduan yang terpancar begitu nyata.
Melihat situasi berubah haluan, membuat Vans mundur perlahan. Tidak perlu ikut campur urusan sepasang suami istri. Kini Vans memilih berdiri di depan nakas dengan tubuh bersandar di rak besi tiga laci di belakangnya.
Dari posisinya, terlihat bagaimana Varo merengkuh tubuh sang istri ke dalam pelukannya. Gadis dengan wajah berbeda yang masih menjadi teka-teki bagi Vans membalas pelukan Varo sangat erat hingga kemeja pria itu berkerut.
Rania tersenyum lebar menunjukkan deretan gigi putihnya. "Fine, how you hubby?"
"Also fine, lepaskan saja wajah ini! Aku ingin istri kelinci ku." tukas Varo menatap Rania penuh arti.
Rania mengangguk, kemudian mengangkat kedua tangannya mendekati wajah. Beberapa saat wanita itu sibuk melepaskan kulit wajah palsu, dan menunjukkan wajah asli setelah sebuah topeng kulit terlepas sempurna.
Melihat bagaimana suster yang selama ini membantu Asfa tanpa pamrih dan selalu stand by duapuluh empat jam ketika Asfa menginap di rumah sakit. Kini semua pertanyaan dan keraguan Vans terjawab sudah. Suster yang tak lain adalah Rania kakak ipar perinya memilih menjadi orang lain demi berada di dekat orang tercintanya.
"Apa Asfa tahu semua ini?" tanya Vans, membuat Varo dan Rania menatap pria itu secara bersamaan.
__ADS_1
Varo mengalihkan tatapan ke arah brankar dimana adiknya masih memejamkan mata karena kondisi yang melemah serta efek obat merah delima. "Apakah kamu lupa? Apa yang doll katakan sebelum pindah keluar negeri bersamamu?"
"Hubby…." cicit Rania dengan memeluk lengan suaminya.
Suara berat Varo jelas terdengar menyesakkan hatinya. Selama beberapa bulan keluarga besarnya hanya bisa menerima kabar dari Vans karena Asfa tak ingin tinggal satu atap dan memilih pergi bersama Vans ke negara L. Hingga dua bulan terakhir, barulah Vans membawa Asfa kembali dengan alasan emergency pekerjaan.
Varo mengusap tangan Rania, agar istrinya tidak khawatir dengan perubahan suasana hati miliknya itu. Sementara Vans masih memilih diam dan mendengarkan. Bagaimanapun, selama beberapa bulan Asfa hanya bersedia tinggal bersamanya serta memilih hidup di dunia baru dengan segala kebebasan yang dirinya berikan.
"Aku hanya meminta satu hal dalam hidupku. Senyuman dan kebahagiaan putri raja ku. Namun, kita semua tahu bagaimana hidup doll selama ini. Terkadang aku merasa menjadi kakak terburuk," ucap Varo.
Rania semakin memegang lengan Varo, tetapi emosi di mata suaminya semakin terlihat nyata. Vans bisa melihat kesedihan, kekecewaan, kasih sayang dan cinta untuk Asfa di mata Varo.
"Biarkan seorang kakak mengungkapkan isi hatinya untuk sang adik! Percayalah ini akan mengurangi beban hatinya." ucap Vans.
Mendengar hal itu, membuat Rania menatap Varo. Sementara yang ditatap tersenyum getir dengan anggukan kepala. Rania melepaskan tangannya dari lengan suaminya.
"Lakukanlah!" ujar Rania.
Vans tersenyum tipis, ternyata waktu mengubah banyak hal dari diri gadis itu. Kini bukan kenakalan dengan raut wajah nakal seperti anak remaja. Akan tetapi sikap gadis itu sudah lebih dewasa. Perlahan tapi pasti. Sikapnya mengingatkan dirinya akan peri kecilnya, meskipun hanya satu persen saja.
Lihatlah peri kecilku, bagaimana sosokmu menjadi inspirasi untuk kakak iparmu. Kuharap kamu berjuang di alam sana, kembalilah pada kami. Baby putri rajamu yang menjadi semangat hidup baru dunia kecilmu menanti mommy terhebatnya. Do'aku akan selalu menyertaimu, disetiap langkah dan perjuangan hidupmu. Peri kecilku.~ batin Vans.
__ADS_1